"Maafkan ini kesalahan ku, aku tidak seharusnya terlalu dekat saat penyihir sedang berlatih" ucap anak laki laki itu
"Tidak, tidak apa apa, maafkan aku juga telah membuatmu silau
"Iya, tapi… berapa lama kamu akan terus menyinari diri ku, aku cukup kesusahan untuk melihat mu, walaupun tak sesilau yang tadi cahaya dari jari mu tetap mengganggu pandangan ku"
Lalu Melisa mematikan sihirnya, yang membuatnya melihat sosok anak laki laki itu kembali menjadi bayangan hitam.
"Maafkan aku"
"Sebelumnya aku sudah bertemu denganmu, saat itu kamu sedang pingsan ada di tempurung tuan Kuro"
Melisa merasa malu, pria tampan ini mengatakannya seakan mengejek dirinya, dan dia bersyukur karena mematikan sihir cahayanya "aku berterima kasih untuk hari itu" ucap Melisa
"Aku tidak membantu apa pun, itu semua murni keberuntungan mu "ucap anak laki laki itu "omong omong siapa namamu?"
Baru kali ini Melisa merasa bisa memperkenalkan dirinya dengan benar, ia kadang kadang merasa perkenalan nya dengan penyihir ungu dan tuan Kuro selalu tidak normal bahkan kepada Jo
"Aku Melisa murid dari penyihir ungu" Melisa sempat bingung untuk memperkenalkan dirinya, karena identitasnya sebagai anak SMP mungkin tak berguna di sini
"Kalau begitu aku Alexander Abbey"
"Hanya itu?" Tanya Melisa, karena pikir Melisa Alex mungkin akan mengungkapkan kerajaannya, bahkan mungkin sampai nama nama leluhurnya
"Identitasku rahasia saat ini, jadi kamu boleh memanggilku Alex"
"Baiklah"
"Karena aku tak ingin mengganggumu lagi aku akan pergi, jika ada tali takdir kita pasti akan bertemu lagi suatu hari nanti"
Ucap Alex yang lalu mundur perlahan dan membalikan badannya lalu menghilang, mungkin sebenarnya ia tak menghilang hanya karena penglihatan Melisa ia jadi seakan menghilang
Saat itu Melisa ingin sekali membaca mantra cahaya dan menerangi punggung dari pemuda itu, tapi ia urungkan dan menurunkan lagi lengannya.
&&&
“apa guru tau soal anak lelaki yang bernama Alexander Abbey?”tanya Melisa, percakapan ini terjadi di meja makan saat makan malam dan Melisa gelisa dengan anak laki laki itu entah kenapa ia tak bisa keluar dari kepalanya
Penyihir ungu terlihat terkejut dan terheran heran ia kira mereka memang sudah bertemu sebelumnya “aku tak menduga, pangeran itu baru menghampirimu saat ini padahal sudah lewat setahun lamanya” Penyihir ungu terlihat tertawa kepada Alex karena itu tak biasanya untuknya
“apa guru tau identitasnya?” tanya Melisa, yang membuat kesimpulan dari ekspresi gurunya bahwa ia mengetahui identitas asli sang pangeran
“anak laki laki yang kau temui sore tadi adalah sang pangeran dari kerajaan yang saat ini mengelilingi hutan kegelapan, walaupun bukan dia satu satunya tapi bisa di bilang ia juga calon pewaris yang menjanjikan, dan keberadaan nya di sini adalah untuk merekrut ku membantunya merebut tahta” Melisa memang mengetahui bahawa di dunia ini tak hanya ada hutan, dan iya juga diberitahu oleh penyihir ungu bahwa terkadang orang punya pandangan buruk soal penyihir. jadi setelah di beri tahu penyihir ungu Melisa memutuskan untuk menguasai sihir dengan layak dulu baru keluar dari hutan ini.
“jadi apa guru akan pergi keluar?” tanya Melisa
“tentu tidak, aku menolaknya dan dia juga tak bisa memaksamu karena jika aku pergi siapa yang akan memastikan hutan ini baik baik saja. malahhan sejak ia tahu kalau aku menerima seorang murid ia meminta ku untuk menyuruhku membantunya merebutkan tahta”
“jadi aku harus membantunya?”
“itu terserah padamu, dan aku tak akan menghalangimu jika kamu ingin melihat dunia” ucap penyihir ungu sembaring tersenyum “lagian dulu saat seumur denganmu aku juga sering menjelajah
“aku ingin menjelajah” ucap melisah dengan bersemangat
“bagus jika kamu sudah memutuskan, tapi ingat kamu harus mengasah sihir mu terlebih dahulu” tegas Penyihir ungu
dan Melisa sangat paham akan maksud dari penyihir ungu, dunia yang tak ia tahu akan sangat berbahaya untuk ia jelajahi, makanya itu ia memutuskan untuk menjadi kuat sebelum itu
&&&
Sudah dua tahun berlalu dan tak ada tanda tanda dari pangeran setelah pertemuan aneh itu, entah kenapa sosok Pangeran itu selalu muncul di kepalanya dan ia bertanya tanya bagaimana sosok pangeran saat ini? ia tak bisa lepas dari wajah tampan itu. di sisi lain Melisa semakin ahli dengan sihirnya, ia sudah bisa membuat bola cahaya dari elemen cahaya yang biasanya begitu rumit, ia juga mempelajari sihir lainnya seperti api, air, udara, tanah dan energi gelap. Penyihir ungu yang telah melihat usaha dari Melisa dan bakatnya merasa sudah cukup dengan apa yang ia ajarkan, selain mempelajari sihir ia juga memberi tahu melisa siapa dewa dari setiap elemen sihir yang ada, dan melisa benar benar sudah memahami budaya dari kerajaan yang akan ia singgahi pertama kali.
Melisa terbangun dari tidurnya menguap dan segera bergegas untuk membantu gurunya memasak sarapan pagi, tapi hari itu rasanya sepi sekali tak ada tanda tanda dari penyihir ungu, hanya suara Jo yang memotong kayu selalu terdengar setiap pagi
“aneh, kemana guru pergi?” ucap Melisa
lalu Elisa melihat sebuah kertas di atas meja yang biasanya tertulis pesan dari gurunya, tapi hal ini jarang terjadi di pagi hari, di pesan itu tertulis
“untuk Melisa,
hari ini guru memutuskan bahwa hari ini adalah hari yang indah, hari di mana tak ada lagi yang bisa aku ajarkan kepada mu, dan mungkin kamu telah melampaui guru mu ini hehe. Melisa ku saya untuk merayakan kelulusanmu aku memberikan sebuah tongkat kayu yang biasanya aku gunakan untuk mu, tongkat itu akan sangat membantu mu dalam segala hal ambillah itu di ruangan ku dan juga ambil beberapa batu berwarna itu yang mungkin akan kamu butuhkan di saat saat tentu. dan bukalah kotak yang ada nama Kenangan itu tersimpan penjelasan soal lukisan nona asia yang ada di lukisan yang kamu bawa hari itu. Melisa jangan lupa jaga kesehatanmu… aku harus pergi, jika kamu beruntung kita akan bertemu suatu hari nanti, anak didik tercinta ku”
dari gurumu tercinta, Penyihir ungu yang misterius
pesan tambahan ; Jika pangeran bertanya soal diri ku, bilang kalau aku sudah pergi dengan begitu dia akan mengerti, berikan surat ini juga padanya.
pesan itu membuat Melisa terdiam, ia tak menduga keputusannya berpetualang membuatnya tidak akan menemui gurunya lagi, ia juga bertanya tanya apa maksud gurunya tentang lukisan Nona asia itu? Melisa tak pernah mengingat ia membawa lukisan apa pun, ia merasa sedih dengan keputusan nya dan saat itu air matanya jatuh dan ia tak bisa menahan air mata itu, sampai ia menemukan surat kecil yang terjatuh
“untuk melisa yang mungkin sedang menangis,
Melisa aku turut senang dengan keputusanmu, dan jangan bersedih soal itu, karena ketika kamu memutuskan hal itu kamu menjadi anak paling manis yang pernah ku temui
dari gurumu yang bawel ini, guru dari anak termanis