Eps 5

1271 Words
Liliana tersenyum ketika membalas jabatan tangan Margaret, ia mengucapkan terima kasih pada pemilik rumah itu karena telah memberinya kesempatan. Margaret bilang jika ia mau maka Liliana bisa mulai bekerja hari ini. Namun, gadis itu memutuskan untuk pulang karena pakaian yang ia kenakan telah rusak akibat insiden pagi tadi. Baginya sangat tidak sopan jika bekerja mengenakan pakaian yang sudah tidak layak, seolah ia tidak menghargai atasan. Liliana tidak ingin memberikan kesan yang buruk ketika pertama kali bertemu dengan anak yang akan dirinya asuh nantinya. Ia pikir merawat seorang anak adalah hal yang cukup mudah karena sejak ibunya sakit ia yang mengurus kedua adiknya sendirian karena ayahnya sibuk mengurus sang istri. Liliana yang penasaran pada calon anak yang akan ia asuh pun bertanya, "Maaf, Nyonya. Bolehkah saya bertemu dengan anak yang akan saya asuh besok? Agar kami bisa berkenalan terlebih dahulu." Margaret tersenyum, lalu ia menjawab pertanyaan Lily. Jawaban yang keluar dari mulut wanita itu membuat Liliana tercengang. "Aーapa?" kaget, Liliana. "Jadi yang akan saya asuh bukan anak kecil, melainkan orang dewasa?" tanya Liliana memastikan. Margaret tersenyum maklum melihat ekspresi keterkejutan Liliana, karena memang sejak awal di brosur lowongan pekerjaan itu tidak diberitahukan siapa yang akan diasuh. Hanya bertuliskan tentang apa pekerjaan yang dicari dan berapa gaji selama satu bulan bekerja, serta persayaratannya saja. Margaret akhirnya mulai menceritakan siapa yang akan Liliana asuh. "Putraku bernama Wilson, karena pekerjaanku dan suami yang cukup sibuk kami tidak bisa merawatnya di rumah, karena itu kami membuka lowongan pekerjaan ini." Liliana masih mendengarkan dengan serius. "Wilson mengalami kelumpuhan permanen akibat kecelakaan beberapa tahun yang lalu, kuharap kau bisa sabar dalam menghadapinya, Liliana." Margaret tersenyum setelahnya. Liliana kembali mengangguk sebagai respons. "Panggil saja saya Ane, Nyonya." Margaret menerawang jauh, mengingat kembali masa lalunya yang cukup suram bagi seluruh keluarga Axton. "Wilson berubah sejak ia lumpuh, dia menjadi pribadi yang tertutup dan tidak tersentuh, apalagi sejak kekasihnya memilih untuk meninggalkan Wilson yang cacat." Terdengar embusan napas kasar dari bibir Margaret. "Setelah melihatmu, aku yakin kau bisa mengubah Wilson menjadi pribadi yang dulu, Ane. Aku yakin kau bisa memberikan secercah harapan untuk Wilson kembali bangkit." Margaret menggenggam tangan Liliana, membuat gadis itu salah tingkah. Ia mencoba menyunggingkan seulas senyum yang paling tulus yang ia bisa. "Saya akan berusaha, Nyonya. Semoga saja Tuan Wilson mau bekerja sama dengan saya." Ia mencoba menghibur Margaret yang kini tampak sedih. Wanita tua itu memanggil salah satu wanita yang tampaknya sebaya dengan dirinya. Menyuruh wanita yang mengenakan gaun pelayan namun berwarna peach itu datang. "Ini adalah kepala pelayan di sini, Ane." Margaret memperkenalkan. "Tolong bawa Ane ke kamar Wilson agar mereka bisa berkenalan sebelum Ane bekerja di sini, besok," pintanya. Wanita itu mengangguk mengerti lalu menuntun Liliana pergi dari ruang tamu. Kedua wanita berbeda usia tersebut berjalan ke arah tangga marmer, naik ke tangga spiral itu. Liliana terpukau melihat dekorasi lorong yang cukup memanjakan mata menurutnya. Temboknya juga dipenuhi ukiran rumit sama seperti di lantai bawah tadi. Terdapat vas bunga yang tingginya mencapai lutut gadis itu, vas tersebut diletakkan di samping kanan setiap pintu. "Sebelum aku memperkenalkanmu pada Wil, aku akan mengajakmu mempelajari obat yang dikonsumsi oleh Wil dan apa saja yang dilarang kau lakukan selama menjadi pengasuhnya," jelas wanita itu. Liliana menatap sang wanita dengan sedikit takut, namun ia hanya menunduk menjawabnya. Sang wanita membuka salah satu pintu kamar yang terletak samping kanan tubuhnya. Ruangan itu kecil, lebih mirip seperti ruang santai, terdapat area perapian yang tertempel di dinding dengan single sofa di tengah ruangan yang mengarah ke perapian. Karpet bulu yang tebal menghiasi tengah lantai. Di sisi ruangan terdapat beberapa rak buku yang berjajar rapi dan terdapat sofa panjang namun kecil yang sepertinya biasa digunakan untuk membaca buku. Pelayan wanita tadi menggiring Liliana untuk mendekat ke arah lemari yang tertempel di dinding ruangan. Membuka laci paling kanan dan mengambil beberapa botol yang sepertinya berisi obat-obatan yang dikonsumsi oleh Wilson. Ia mulai menjelaskan tentang jenis dan kegunaan obat tersebut pada Liliana. Ia juga menceritakan penyakit Wilson yang ternyata cukup parah. Sebuah cedera di tulang belakang akibat kecelakaan yang membuatnya lumpuh total di bagian aktremitas bawah dan karena tubuhnya yang mati rasa, Wilson bahkan tidak bisa mengatur ekspresi tubuhnya. Liliana yang mendengar hal itu sedikit bersimpati pada calon majikannya tersebut. Ia jadi teringat kecelakaan yang menimpanya tiga tahun lalu. Saat itu ia juga merasa putus asa dan kehilangan tujuan hidup. Namun, Tuhan masih berbaik hati padanya, sebuah keajaiban terjadi hingga kini dirinya dapat menjalani kehidupan normalnya kembali. Ia sangat paham apa yang dirasakan oleh Wilson. "Jangan buat Wilson marah jika kau tidak ingin kehilangan pekerjaan ini, sudah ada empat pengasuh yang memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan ini sebelumnya," kata kepala pelayan memperingati. Liliana terkejut, kedua matanya membola mendengar hal itu. Baiklah, ia akan berusaha berhati-hati dengan Wilson. Liliana mengangguk patuh. Setelah selesai dengan semuanya, kini Liliana dibawa masuk ke kamar yang ada di sebelah ruangan tadi. Sang kepala pelayan mengentuk lalu membuka pintunya. Mereka berdua masuk ke dalam kamar yang bernuansa coklat gelap. Di dalam ruangan, terdapat seorang lelaki yang duduk di kursi roda miliknya, menghadap ke belakang hingga hanya rambut yang dapat dilihat oleh Liliana. Lelaki itu menekan tombol yang sepertinya berfungsi untuk mengatur kursi roda miliknya, ia berbalik dan menatap kepala pelayan yang bersama seorang gadis asing. Lelaki itu menatap Liliana dengan lekat. Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki gadis itu, tanpa melewatkan satu celah pun. "Maaf, mengganggumu, Wil. Ini adalah pengasuh baru yang disewa Mrs. Axton untuk merawatmu," kata kepala pelayan tersebut. Ia memang sudah terbiasa memanggil Wilson tanpa embel-embel karena perintah langsung dari Wilson, kepala pelayan itu sudah seperti ibunya sendiri. Ia adalah orang yang merawat Wilson dari kecil hingga sekarang. Wilson berdeham beberapa kali, lalu kembali menatap Liliana. Gadis itu sedikit risih karena Wilson memandanginya seperti itu. "Bukankah rokmu sobek? Kenapa kau memakainya?" tanya Wilson dengan nada mengejek. Liliana yang mendengar itu langsung panik. Ia buru-buru memegang robekan pada roknya dan meremas kain berwarna hitam itu karena malu. Belum sempat ia menjelaskan, Wilson kembali berujar, "Kau bahkan mengenakan sepatu yang rusak untuk datang melamar pekerjaan di sini? Lihatlah warna spidol yang bahkan terlihat tidak menyatu dengan warna asli sepatumu!" Wilson menunjuk ke arah sepatu hitam milik Liliana. Jantung gadis itu berdebar karena malu. Ia merasa dipermalukan oleh Wilson padahal ia belum mulai bekerja di sini. Liliana menahan air mata yang kini sudah menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya memburam dan mata terasa perih. "Bagaimana mungkin Ibu mempercayakan aku pada seseorang seperti dia? Apa Ibu tidak salah memilih pengasuh untukku?" tanya Wilson pada kepala pelayan. Liliana hanya bisa diam sambil meremat samping rok miliknya. Harga dirinya telah dicoreng oleh Wilson. "Maaf penampilan saya mungkin tidak layak, namun saya memiliki alasan. Sebelum datang kemari terjadi sedikit masalah hingga membuat pakaian saya rusak. Saya tidak biー" Liliana menggantungkan ucapannya ketika melihat Wilson mengangkat tangan kanan. Menyuruh gadis itu diam. Wilson kembali menekan tombol yang ada di kursi roda miliknya. Mendekat ke arah Liliana. Ia berhenti tepat di depan gadis itu, hanya berjarak beberapa puluh sentimeter. Lelaki itu mengangkat salah satu sudut bibirnya, membentuk sebuah seringaian yang tergambar dengan jelas di wajah tampannya. "Aku paham, memang banyak orang yang sengaja datang kemari untuk meminta belas kasihan keluargaku, mungkin kau salah satu dari mereka yang beruntung," sindirnya. Liliana menatap Wilson dengan tatapan terkejut. Jujur saja bukan itu alasannya datang kemari, ia hanya membutuhkan uang untuk menghidupi keluarganya. Mendengar cemooh dari Wilson, Liliana sudah tidak sanggup lagi, ia memilih untuk berlari keluar. Menutup wajahnya yang kini banjir dengan liquid bening, pertahanan yang ia buat hancur sudah. Hatinya bagai tergores ketika mengingat hinaan Wilson untuknya. Dengan langkah gontai, ia memilih untuk pulang ke rumah sambil mencari pekerjaan lain yang sekiranya lebih cocok untuknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD