Eps 4

1456 Words
Liliana memperhatikan bayangan dirinya di cermin, mengamati penampilannya sekali lagi sebelum berangkat. Kini ia mengenakan blouse berwarna putih polos dengan panjang lengan tiga per empat lalu dibalutnya lagi dengan jaket bermotif kotak-kotak berwarn hitam putih dan dipadukan dengan rok berwarna hitam yang panjangnya di atas lutut. Tak lupa pula ia mengenakan stocking berwarna hitam tipis dan juga mantel bulu tebal berwarna coklat. Liliana nampak gugup, ia sesekali merapikan pakaian agar tidak kusut. Gadis itu menggelung rambut coklatnya yang panjang agar terlihat lebih rapi. Liliana beranjak dari depan cermin yang tertempel di pintu lemarinya. Duduk di atas kasur lalu mengambil sepatu hak tinggi berwarna hitam dan memakainya. Namun, gadis itu melihat jika warna sepatunya mulai mengelupas. Liliana mencari spidol berwarna hitam, setelah mendapatkannya ia membuka tutup spidol tersebut dan mulai mewarnai sepatu miliknya yang terkelupas. "Selesai." Liliana menepuk tangannya sendiri dan meletakkan spidol tadi di tempat semula, bergegas keluar dari kamar untuk berangkat. Di meja makan sudah ada ayah dan kedua adiknya yang tengah sarapan bersama. Liliana yang tidak ingin terlambat langsung berpamitan pada sang ayah. "Ayah, aku pergi dulu. Doakan aku." Liliana mengecup pipi ayahnya singkat. "Kamu tidak ingin sarapan terlebih dahulu?" Liliana hanya menggeleng. "Aku tidak ingin terlambat, kuharap tidak banyak yang melamar pekerjaan itu di sana," jawab Liliana. Marquis hanya menganggukkan kepalanya. "Hati-hati di jalan, Sayang." Luciana dan adik bungsunya yang tengah makan turut menyemangati kakak mereka. "Semoga beruntung, Ane!!" Secara serempak. Liliana mengamati kertas yang ia bawa, mengeja alamat rumah yang akan ia tuju. Sedikit jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki memang, namun tidak masalah karena Liliana harus berhemat sampai bulan depan. Setelah mengetahui alamat yang ia tuju, ia melipat kertas itu lagi dan menaruhnya ke dalam sling bag yang ia bawa. Cuaca hari ini cukup cerah meski tentu saja suhu masih dingin karena salju akan segera tiba pada musim ini. "Good morning, Ane," sapa seorang wanita tua yang merupakan tetangga Liliana. "Good morning," balas Liliana tersenyum. Wanita rimpuh itu tengah membawa dua kardus yang sepertinya berat. Liliana mendekatinya. "May i help you, Mrs. Thompson?" Belum sempat wanita itu memberikan jawaban, Liliana mengambil alih kardus itu dari tangannya. Kedua wanita yang berbeda usia itu kini berjalan bersama ke arah rumah, sesekali bercanda gurau bersama. Liliana masuk setelah pemilik rumah membuka pintu dan meletakkan kotak kardus itu di meja ruang tamu. Liliana pergi setelahnya, Mrs. Thompson berterima kasih pada gadis itu karena telah membantunya. Liliana kembali melanjutkan langkahnya, namun namun ia mendengar suara gonggongan anjing tak jauh dari jaraknya. Liliana menoleh ke samping, di samping kirinya terdapat rumah besar dengan pagar yang menjulang tinggi. Pintu pagar itu terbuka meski tidak lebar, dapat ia lihat seekor anjing yang lumayan besar berlari ke arahnya. Mendadak perasaan Liliana tidak enak. "Kenapa aku merasa anjing itu mengarah padaku?" batinnya gamang. Dan benar saja, anjing berwarna hitam itu melompat dan hendak menerjang ke arah Liliana. Gadis itu buru-buru berlari kencang, menghindari anjing kini juga berlari mengejarnya di belakang. "Sial, ada apa dengan anjing itu? Lagipula sejak kapan rumah itu memelihara anjing?" Liliana menggerutu kesal dalam hatinya. Liliana sedikit kesulitan mengimbangi kejaran si anjing karena ia mengenakan sepatu hak tinggi sekarang. Ia terus menengok ke belakang melihat apakah anjing itu masih mengejarnya atau tidak, hingga ia tidak memperhatikan jalan dan tersandung. Liliana jatuh dan mencium aspal yang keras. Gadis itu menatap ke arah sepatu hak yang dikenakannya. Sol di hak sepatunya terlepas. Liliana segera melepas sepatu dan menentengnya lalu kembali berlari. Gadis itu memilih jalanan yang ramai, terus berlari dengan kaki telanjangnya. Ia kembali menoleh dan anjing itu sudah tidak mengejarnya. "Syukurlah, aku selamat," gumamnya pada diri sendiri. Liliana melangkah pelan dan duduk di salah satu halte bus yang ada di dekatnya. Ia meluruskan kakinya yang terasa sakit karena ototnya dipaksa untuk bekerja keras secara mendadak. Deru napasnya masih memburu karena kejaran anjing tadi. Dadanya bergemuruh, detak jantungnya kacau, berpacu lebih cepat dari biasanya. Liliana menatap kakinya yang kini lecet karena berlari tanpa alas kaki. Ia menyentuhnya dan merasakan perih. Untunglah gadis itu selalu membawa perlengkapan miliknya ke dalam tas. Liliana mengambil salep yang biasa ia gunakan untuk mengeringkan luka, mulai mengoleskan salep itu perlahan sambil menahan rasa perih. Ia menatap satu-satunya sepatu hak yang ia miliki. Kini sudah rusak, apa yang harus ia kenakan untuk wawancara sekarang? Bahkan pakaiannya kini kotor karena terkena debu dan kusut. Rok yang ia kenakan sedikit robek di bagian jahitan samping. "Sial sekali aku hari ini, apakah aku harus pulang dan berganti pakaian?" Liliana menggeleng pelan, itu akan memakan waktu yang cukup lama. Dengan terpaksa ia mematahkan hak di sepatunya yang lain lalu memakainya. Meski sedikit tidak nyaman dan menyakiti kakinya yang lecet. Namun, gadis itu tak memiliki pilihan lain. Liliana mengambil kaca kecil yang ada di dalam tas, membersihkan pakaian yang kotor dan merapikan riasannya sebentar. Rok yang sobek sudah tidak ia pedulikan, toh tidak terlalu terlihat karena warnanya yang gelap. Dengan tertatih-tatih ia melanjutkan perjalanannya, setelah sampai di salah satu rumah, Liliana menatap nomor rumah tersebut yang tertempel di samping pagar. Rumah yang ada di hadapannya kini sangatlah besar, bahkan bangunan berwarna putih itu masih terlihat meski terhalang oleh pagar yang menjulang tinggi. "Benar ini rumahnya," kata Liliana sambil menatap kertas yang ada di tangannya. Liliana mendekat dan menekan bel yang ada di samping pagar. Tak lama seorang satpam membuka pintu gerbang dan mendekat ke arah Liliana. Setelah gadis itu menjelaskan apa tujuannya datang, lelaki yang berseragam serba hitam itu menuntun Liliana untuk masuk. "Wah, ini seperti istana dalam negeri dongeng yang dulu sering diceritakan oleh Ibu ketika aku masih kecil," batin Liliana yang kagum pada bangunan di depannya. Seorang wanita dengan pakaian khas pelayan membuka pintu rumah setelah satpam mengetuknya. "Nona ini ingin melamar pekerjaan sebagai pengasuh di sini." Setelah mengatakannya, pelayan tadi mempersilakan Liliana masuk. Satpam berlalu dari sana, meninggalkan Liliana dan kembali ke pos jaga. Setelahnya gadis itu dituntun oleh seorang wanita tadi dan menyuruhnya untuk duduk di sofa ruang tamu. Wanita tadi meninggalkan Liliana di sana, sementara gadis itu memandangi interior rumah dengan kedua mata. Rumah dengan gaya yang khas Eropa itu terlihat indah dan mewah bagi Liliana. Lampu gantung kristal yang menghiasi langit-langit rumah tampak mengkilau meski tak dinyalakan. Sofa panjang yang berwarna putih di letakkan di tengah ruangan membentuk huruf U besar, di tengah sofa, terdapat meja kecil yang di tengahnya terdapat vas bunga yang tampak cantik. Dinding ruang tamu rumah itu berwarna keemasan dengan banyak ukiran rumit, namun indah. Di langit-langit rumah juga dilukis dengan indah, lukisan yang menggambarkan wajah dewa dan dewi pada kepercayaan yunani kuno. Sepertinya pemilik rumah menyukai gaya klasik. Fokus Liliana teralihkan ketika ia mendengar suara sepatu hak tinggi yang menapak di atas lantai marmer berwarna kecoklatan. Terlihat seorang wanita menuruni anak tangga spiral dengan langkah anggun. Wanita itu masih terlihat cantik meski beberapa keriput mulai terlihat di sudut bibir dan bawah matanya. Wanita itu adalah Margaret Axton, sang pemilik rumah. Ia mengenakan gaun yang panjangnya di bawah lulut, gaun berwarna merah itu sangat pas di badan sang wanita hingga membentuk lekuk tubuh yang menurut Liliana masih sangat sempurna meski telah termakan usia. Dengan senyum yang mengembang di wajahnya hingga keriput itu kembali terlihat, ia menghampiri Liliana. "Selamat pagi, Nyonya," sapa Liliana ramah, ia membungkukkan badannya sebentar sebagai tanda penghormatan. "Duduklah," titah sang wanita. Ia mendudukkan diri di sofa yang ada di seberang Liliana. "Jadi kau yang ingin melamar pekerjaan di sini?" tanya Margaret pada Liliana. Gadis itu hanya mengangguk. Tak lama, pelayan yang menuntunnya masuk ke dalam rumah kembali dengan membawa nampan di atasnya. Meletakkan minuman untuk Liliana dan Margaret lalu pamit pergi dari sana. "Silakan diminum," ujar Margaret ramah. Liliana kembali mengangguk, ia mengambil salah satu cangkir dan menyesap minuman itu perlahan. Gadis itu memberikan map yang dibawa dan menyerahkannya pada Margaret. Wanita paruh baya itu membuka dan membaca curriculum vitae dan berkas lain milik Liliana. Ia meletakkan berkas itu di atas meja. "Kamu belum memiliki pengalaman menjadi pengasuh?" Liliana kembali menggeleng. "Lalu apa yang membuatmu berpikir saya akan menerimamu sebagai pengasuh di antara kandidat lain?" tanya Margaret lagi. Liliana diam, sejujurnya ia sangat gugup. "Saya bisa belajar dengan cepat, Nyonya. Saya butuh pekerjaan ini, saya mohon." Margaret kembali mengajukan pertanyaan untuk mewawancarai Liliana. Ia tampak puas dengan jawaban-jawaban yang dilontarkan oleh Liliana. Meski tak bisa ia tampik bahwa Liliana sedikit cerewet ketika menjawab semua pertanyaannya. "Mungkin gadis ini dapat membantu Wilson kembali menemukan tujuan hidupnya," batin Margaret. Ia berdiri setelahnya, mengulurkan tangan pada Liliana, gadis itu menjabat tangan Margaret. "Selamat, kamu diterima. Meski tidak memiliki pengalaman, saya rasa kamu cocok untuk pekerjaan ini," kata Margaret. Liliana tersenyum mendengarnya, ia tampak lega karena berhasil diterima. "Terima kasih, Nyonya." Liliana penasaran dengan anak yang akan diasuhnya, jadi ia pun bertanya pada Margaret, namun jawaban wanita itu sangat mencengangkan baginya. Matanya melotot karena terkejut. "Apa?" kaget Liliana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD