" Tom menelepon ke kantor berulang kali, surat yang di kirimkan pun tidak sedikit. Hampir setahun seperti ini. Apa kita akhiri saja? Sepertinya dia sudah cukup menderita." Wanita itu duduk menutupi payudaranya yang tersingkap dengan selimut.
" Sebentar lagi baby, menunggu instruksi dari Nyonya." Kemudian pria bersuara berat itu menjelaskan bagaimana ia akan mengakhiri semua penderitaan Cecile dan Tom.
" Bagaimana menurut mu?" Sambil menyeringai, memperlihatkan giginya yang tertata rapih.
" Sungguh hebat skenario mu." Dengan mata berbinar wanita tersebut menatap pasangannya.
" Aku bukan hanya hebat membuat cerita bukan, tapi aku juga hebat memuaskan mu baby."
Dengan lincah tangan nya membuka selimut yang menutupi tubuh wanita tersebut. Memainkan jarinya di area sensitif.
Kepalanya tenggelam menikmati bagian bawah.
" Memang benar dia tau cara memuaskan ku."
Tubuhnya di balik membelakangi si pria.
Tangan kirinya menarik rambut yang terurai panjang dan yang kanan memainkan p******a.
Gerakan kedepan dan kebelakang membuat si wanita merasa tidak kuat, perasaan geli yang akan memuncah membuat ia melolong bagaikan serigala begitu pula si pria.
Mereka mengakhiri malam itu dengan kecupan mesra, Pulang ke rumah masing masing.
*****
" Bagaimana persiapan mu? bagaimana kabar Steave?"
" Tumben kaka menelepon, semenjak pertunanganku kakak sangat cuek. Jarang menanyakan kabar ku dan Bunda" Suara Clara di ujung sana yang sepertinya sedang sibuk.
" Aku sibuk. Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?" Cecile bertanya lagi.
" Kakak tenggelam dengan pekerjaan, entah apa yang kau kejar, hingga Bunda kau lupakan kak. Sudah dulu aku sedang sibuk. Sebaiknya kau tidak lupa datang ke pernikahanku." Clara menutup telepon .
Tidak biasa nya Clara bersikap seperti itu tapi saat ini mungkin dia berpikir bahwa kakaknya sudah keterlaluan.
"Aku rindu.. Rindu ibu dan adikku, sedikit aku juga merasa rindu pada ayah. sabar.. semua akan ada waktunya aku bersama kalian. Biar ku selesaikan misiku" Air mata berlinang di pipi Cecile.
Cecile sibuk menyusun strategi, bagaimana ia nanti akan bertemu Tom.
Bait perkalimatnya pun sudah di susun amat rapih.
Ia harus terlihat berkuasa, Tom harus tunduk dan sujud meminta maaf kepada Cecile dan ibunya.
Cecile memang berencana mengundang Tom di pernikahan Clara. Setelah tamu sepi mereka akan duduk bertiga.
" Laura segera ke ruangkanku." Perintah Cecile. " Silahkan duduk."
" Apakah semua berkas peralihan PT. Global ke PT. Baja Industri sudah siap?" Tanya Cecile.
" Sudah bu" Laura menyerahkan beberapa tumpukan kertas.
" Berapa kali ku katakan jangan memanggil ibu kalau kita berdua, bagaimana anak mu?" Bertanya dengan raut muka yang sungguh tidak bisa di tebak!
" Leon baik baik saja dan sehat, tahun depan sudah masuk sekolah bu."
" Bu??" Cecile menatap Laura.
" Maaf Cecile, aku sudah tidak bisa membedakan dirimu yang dulu dan sekarang. Aku seperti sudah tidak mengenal mu lagi." Matanya berkaca kaca.
" Cengeng, berapa kali ku ajarkan kau bahwa air mata itu mahal harganya."
Laura pamit keluar ruangan.
Cecile terdiam.
" Aku masih sama seperti yang dulu hanya saja aku lebih bahagia sekarang." Dia bergumam sendiri.
Benarkah?
*****
Cecile mengenakan gaun hitam beludru dengan potongan rendah di bagian d**a yang sangat menggoda. Tubuhnya semampai dengan lekukan di bagian pinggul. Rambutnya di gulung keatas memperlihatkan tengkuk yang di hiasi kalung permata.
Gaun panjangnya membelah sampai ke atas, paha mulus dengan kulit eksotis mengintip di balik potongan kain beludru.
Cecile memang tahu benar cara merawat tubuh dan kebugarannya.
Ia berdandan bukan hanya karena pernikahan Clara. Tapi ia ingin tampil mempesona saat Tom berlutut di hadapannya.
" Ini adalah momen yang ku tunggu" Batinnya.
Pernikahan Clara dan Steave diadakan di hotel bintang lima.
" Jangan sampai kita terlambat Diego, aku tidak mau mengecewakan mereka." Perintah Cecile.
" Baik bu." Diego mempercepat laju sedan mewah berwarna hitam.
" Bagaimana hidupku tanpa Diego dan Laura. Mereka sangat patuh terhadapku."
" Maafkan aku yang terlalu sibuk hingga jarang menghubungi bunda." Sambil memeluk.
" Aku tahu nak, bagaiman kabarmu? semoga kamu selalu sehat." Membelai pipi anaknya dengan lembut.
Cecile menahan tangis, dia benar benar rindu ibunya.
" Kakak terlihat cantik sekali, seharusnya hanya aku yang boleh cantik hari ini!" Mukanya cemberut manja.
" Selamat sayang atas pernikahanmu, ku doakan semoga kau selalu bahagia" Ada perasaan hangat saat Cecile memeluk adiknya.
" Kak, jangan pernah jauh dari aku dan bunda. Hanya kami keluargamu." Clara menangis.
" Jangan menangis sayang, aku akan selalu ada untuk kalian walaupun jarang terlihat." Cecile menghapus air mata adiknya dan mengecup pipinya.
" Selamat atas pernikahan kalian. Jaga adikku baik baik Steave." Ucapan pernikahan yang penuh makna.
*****
Jam menunjukan pukul 10 malam. Tamu undangan dan mempelai sudah meninggalkan ballroom hotel.
Cecile menatap wajah bunda. Masih terlihat ayu walaupun sudah tua.
Sesekali bunda menyuapi putri sulungnya.
Dari kejauhan terlihat pria menggunakan tuxedo hitam menghampiri dirinya.
Tom masih sama seperti yang dulu, wajah tampan blasteran sepertinya tidak termakan usia.
" Selamat malam Bunda, Cecile" Tom menyapa.
" Silahkan duduk Tom." Bunda mempersilahkan.
Tom tidak dapat mengalihkan pandangan dari Cecile, mengapa ia selalu terlihat cantik. Dadanya berdegup kencang tidak tahan ingin memeluknya.
Tapi di balas tatapan kebencian yang terlihat jelas dari mata Cecile.
Cecile dengan gencar menceritakan semua kejadian yang membuat ia melakukan gencatan senjata terhadap Tom dan keluarganya. bagaimana ayahnya berselingkuh selama bertahun tahun dengan ibunya Tom dan ayahnya juga meninggalkan warisan yang begitu besar untuk Cecile.
Ia pun menceritakan betapa hancur keluarganya akibat perbuatan Tom.
Dadanya terasa sesak saat menggambarkan secara detail hal kelam yang dia alami.
Kata kata yang tersusun rapih kini buyar akibat Cecile tidak dapat menahan amarah dan dendam selama bertahun tahun.
Air matanya sudah tidak terbendung, Suaranya semakin tidak jelas, tangisnya menjadi raungan. Ia sudah tidak perduli dengan semua strategi yang sudah di siapkan secara matang.
Malam itu Cecile berbeda. Cecile yang bak seperti gunung es kini meledak bagai bom waktu.
" Keluarkan semua yang kamu pendam nak. Akan bunda jelaskan semuanya."
Cecile dan Tom tercengang mendengar ucapan Bunda.
Tangisnya mereda, Cecile masih terisak.
" Hubungan ayahmu dengan Donna tidak di restui, karena ayahmu hanya orang biasa. sedangkan Donna dari keluarga terpandang."
" Donna sudah di jodohkan dengan ayahnya Tom, sedangkan ayahmu di jodohkan dengan bunda. Tetapi cinta terlarang mereka tetap berlanjut sampai kami menikah."
Hening sesaat..
" Aku tau bagaimana Donna menyiapkan segalanya untuk ayahmu supaya terlihat layak di mata orang tuanya. Ayah meninggalkan Donna saat kamu berusia 4 Bulan di kandunganku, sama dengan usia kandungan Donna. Kita pun pindah ke kota. Tidak lama kamu lahir perusahaan itu sudah resmi atas nama ayah. Ayah merasa hidupnya sudah penuh dengan dosa dan skandal, maka ia menebusnya dengan mencantumkan namamu sebagai pewaris di perusahaan."
Bunda menangis. Sepertinya ia pun menahan perasaan selama bertahun tahun, bagaimana bisa?.
" Apakah aku anak om Bram juga Bunda?" tanya Tom. matanya berkaca kaca.
Tatapan Cecile berubah menjadi iba.
" Kamu anak ayahmu Tom, ibu mu hanya mengarang cerita. Akal sehatnya mulai hilang semenjak tahu kamu berhubungan dengan Cecile. Hidupnya semakin hancur pada saat Bram sudah mewariskan segalanya untuk Cecile. Ayahmu meninggal setelah mendengar cerita karangan Donna. Ayahmu orang baik Tom."
Kini semua semakin jelas bagi Cecile, mengapa Tom meninggalkannya tanpa alasan dan menikah dengan orang lain.
" Bagaimana bunda mengetahui semua ini? bagaimana bunda kuat menyimpan rahasia ini dariku?" Cecile kembali menangis meraung.
" Diego dan Laura lah yang selama ini membantu bunda."
" APA??!! bagaimana bisa? Cecile semakin bingung.
" Laura orang yang bunda percaya untuk mengawasi mu, ia sudah menjadi sahabatmu sejak kuliah sedangkan Diego adalah anak dari bawahan ayahmu dulu, ayah membantu seluruh biaya sekolah Diego sampai selesai. Diego berjanji akan selalu berada di sisi Bunda sebagai bentuk balas jasa terhadap ayahmu. Dan dia orang yang bunda percaya untuk menjaga mu sayang."
" Kenapa Bunda baru menceritakan ini sekarang?" Suaranya hampir habis karena menangis.
" Memang terlalu lama bunda menyimpan ini semua, Bunda membiarkan mu lama tenggelam dengan kebencian. Seharusnya ini menjadi dendamku nak..tapi aku semakin tua dan tidak berdaya. Maafkan Bunda yang menjadikan mu boneka dalam permainan ini." Bunda menangis sejadi jadi nya, Raganya yang renta bersimpuh di hadapan Cecile.
Tom dan Cecile terpaku mendengar semua penjelasan bunda. Seperti mimpi tidak percaya bahwa semua kerusakan dalam hidup mereka di akibatkan oleh Cinta terlarang dan dendam yang tidak ada habisnya.
Ingin rasa nya ia membenci Bunda tapi semua perasaan dendam dan amarah hilang seketika. Hati nya yang seperti es mencair sedikit demi sedikit.
Cecile memeluk bundanya, memaafkan apa yang sudah terjadi, memaafkan ayahnya, memaafkan tante Donna..
ia sadar bahwa dirinya bisa kuat dan sukses seperti ini karena mereka.
*****
Bunda meninggalkan Cecile dan Tom untuk menyelesaikan masalah mereka.
Duduk termenung di balkon kamar hotel, mencoba mencerna semua pengakuan bunda.
Mereka kehabisan kata kata..
" Maafkan aku karena meninggalkan mu tanpa pesan." Tom membuka percakapan.
Cecile tidak menjawab permintaan maaf tapi tangannya menggenggam erat jari Tom. Dia sudah tidak berselera untuk berbicara. Tom mencium kening nya.
Cecile memejamkan mata, saat Tom mencium seluruh wajahnya dan melumat habis bibirnya. Dia pasrah sekaligus merindukan sentuhan dan kasih sayang Tom. Air matanya kembali berlinang.
Tom melepaskan pakaian Cecile secara perlahan, gairahnya tak tertahankan melihat tubuh Cecile yang tidak berubah sedikitpun. p******a dan bulat yang menggoda Tom untuk bermain disitu.
" Kau tidak berubah sedikitpun sayang, sangat sangat sexy."
Cecile hanya mengerang menikmati.
Tom siap melepaskan serangan ke tubuh Cecile.
"Aarrrgghh Tom, aku.. aku merindukanmu" suaranya terbata bata. Nafasnya tidak beraturan, melepaskan meleburkan semua yang ia pendam.
Mereka bercinta di bawah sinar rembulan beralaskan bumi tempat mereka berpijak.
Tom berbaring di samping Cecile. Memeluknya dengan erat dan tak akan melepaskannya.
Cecile tersenyum lepas untuk pertama kalinya. Baru kali ini hidupnya terasa aman dan nyaman.
Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka berdua.
*****
Dari kejauhan ada dua pasang mata sedang mengawasi mereka.
" Tugas kita sudah selesai baby. Saatnya bagi kita untuk berbulan madu yang sudah tertunda" Diego menggendong Laura dengan mesra sembari mengecup kening istrinya.
" Putri Gunung Es telah mencair." Bisik Laura.
Tamat ^*^