5. Damian-Waktu

636 Words
Waktu tak bisa dihitung... Waktu akan berjalan dengan sendirinya... -Damian-    Baru saja selesai mandi, Damian langsung menuju dapurnya dengan handuk kecil menggantung di leher. Membuka kulkas. Mengeluarkan ayam yang sudah diberi bumbu dan siap dipanggang.    Sementara menunggu matang, Damian membersihkan pantri, lalu menyiapkan saus yang ia buat sendiri. Memasak air panas untuk menyedu kopi. Ia tidak suka menyedu kopi dengan mesin kopi, lebih nikmat menyedu seperti yang dilakukan ibunya dulu. Kecuali jika sedang minum kopi di luar.    Semua sudah siap, hanya tinggal menunggu beberapa menit lagi sampai oven memberi tanda bahwa ayam sudah matang.    Menghirup aroma ayam membawa waktu berputar. Menautkan jemarinya mengingat seseorang yang telah membuatnya selalu ingin menyiapkan ayam di kulkas. Setiap kali makan bersama gadis itu, selalu ada menu ayamnya. Membuatnya mengingat, selalu mengingat saat makan bersamanya.    Oven berbunyi, Damian segera mengeluarkan, memindahkan ke piring, dan membawanya ke meja. Menyesap kopinya sembari menunggu ayam sedikit dingin.    "Semoga kau baik-baik saja princess."    Damian tak tahu persis apa yang terjadi pada dirinya, meninggalkan gadis itu tapi tak ingin melupakannya, tak ingin menghubungi tapi selalu ingin tahu kabarnya. Bahkan ia sangat ingin tahu apakah gadis itu sudah tersenyum, makan dengan baik, atau bahkan tidurnya nyenyak. Ya, tidur adalah hal yang paling ia khawatirkan, mengingat gadis itu sering bermimpi buruk.    "Bagaimana tidurmu semalam?" membuka ponselnya. Ia melihat postingan terbaru pada i********: gadis itu, terlihat ia makan pizza bersama tiga sahabatnya. Tampaknya ia bahagia. Baik-baik saja.    "Semoga kau selalu tersenyum. Jaga dirimu meski tanpa aku, princess."    Untuk sejenak Damian menikmati makan siangnya. Mengunyah pelan, tatapan terjurus ke depan, yang jelas-jelas tak ada siapapun di kursi depan. Senyum itu hadir, ia tersenyum sambil mengunyah, membuat Damian otomatis tersenyum juga.    "Kamu liat apa?"    "Liat bidadari, selama ini ... aku pikir makan apa, ternyata... makan ayam."    Mengingat itu Damian tertawa miris lalu menunduk dalam.    Minum.    Membuka lagi ponselnya tanpa mengangkat. Ia tahu apa yang ia tuju. Istagram: Aurist_atmadiraja  waktu hanya terus berputar ulang pada lingkaran yang sama. Tidak pada cerita yang sama. ___    Damian menautkan jemari lalu mengusap pelan wajahnya.    "Kamu benar princess. Kamu benar. Waktu hanya terus berputar namun tidak kembali, tidak akan ada cerita yang sama."    "Aku harap ceritamu berakhir bahagia, selalu bahagia. Tanpa aku. Tak perlu ada aku. Tidak princess. Kau berhak mendapatkan yang jauh lebih baik dariku."    Damian tahu ia telah membuat lorong waktu. Lorong yang kosong tanpa cerita untuk mereka. Namun semua cerita yang telah tersimpan oleh waktu terus berputar meski tak akan ada lagi cerita yang sama. Meski tak ada kisah selanjutnya.    Damian menjauh demi untuk melihat tuan putrinya itu bersama pria yang lebih pantas mendampinginya. Membiarkan waktu bergerak tanpa saling dekat demi untuk menguatkan cinta yang mungkin hanya perasaan sesaat di antara kebersamaan mereka yang terlalu singkat. Damian tak ingin membuat tuan putrinya itu hanya merasakan perasaan sesaat. Ia menjauh untuk memberinya waktu menemukan cinta yang mungkin lebih kuat. Bukan hanya sesaat. Ia tak ingin membawa tuan putri jatuh pada perasaan salah. Perasaan yang lemah tak akan bertahan lama. Ia tak mau menyakiti tuan putri jika kisah mereka akan patah di tengah.    "Jangan pernah mengejar waktu, karena ia akan tiba pada saatnya. Tidak bisa lebih cepat, tidak juga melambat. Seperti jarum jam yang terus berputar pada detiknya."    Ucapan mendiang Ayahnya terbayang persis di hadapannya saat mengucapkan itu.    "Kau akan jatuh cinta pada waktunya. Kau akan semakin mencintai seiring waktu. Kau akan menikah kemudian pada saatnya. Akan punya anak--begitu seterusnya. Akan berjalan sesuai waktu. Semua berjalan karena takdir. Tuhan sudah menuliskan semuanya, dan akan tepat pada perhitungan-Nya."    Mengingat itu, Damian merasa tindakannya sudah benar. Semua akan tiba pada saatnya.    "... Kau akan jatuh cinta, dan menikah pada waktunya dengan orang yang tepat. Bersabarlah, princess." Ia terus bicara sementara matanya tak lepas memandangi foto gadis itu pada akun i********:.    Ada kecemasan, ada ketakutan, ada keyakinan bahwa gadis itu akan lebih bahagia tanpanya. ___Bodyguard Series II___ Dian
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD