CHAPTER 2

1485 Words
Dimalam harinya dikamar Agatha tengah mengerjakan tugas kuliah, ditemani secangkir teh hangat dengan udara begitu dingin menusuk tulang. Untuk sesaat ia mengingat kembali prilakunya pada Erik. Memang sedikit keterlaluan. Tapi.. Mau bagaimana lagi, dia sensitive jika tentang bisnis milik ayahnya. "Agatha!!" Mendadak teriakkan itu membuat Agatha seaman diteror sahabatnya sendiri. Ah.. siapa lagi yang berani berteriak dirumahnya selain Yessy. Pandangan Agatha melotot kearah Yessi yang berdiri didepan pintunya. Yang membuat perempuan itu kaget, pakaian Yessi sangat terbuka seperti kekurangan Bahan menutut Agatha. "Ya Tuhan.. Lo enggak ada Baju yang pantas dipakai selain ini." Cerca Agatha pada Yessi seraya memutar tubuh sahabatnya kekanan dan kekiri. "Agatha! Lo apaan?" Yessi menepis tangan Agatha dengan muka kesalnya. "Lo enggak nyadar pakaian ini kurang Bahan b**o!" Yessy menghempaskan nafas kasarnya. "Lo yang norak! Ini trend agatha. Makanya jangan baca buku doang, majalah juga." Yessi pun mulai geram, ia membongkar isi lemari perempuan itu. Yessi menggeleng sekilas, ketika melihat pakaian Agatha tidak ada satu pun yang terlihat menarik. Dari blouse, dress, maupan pakaian lainnya. "Benar-benar lo ya, tha. Gw heran sama lo deh! Lo enggak punya palauan lebih bagus dari ini." Seru Yessi santai. Agatha terkesiap melihat kelakuan Yessi yang membongkar semua pakaiannya. Bisa-bisanya sahabatnya itu membuat kamarnya yang rapih menjadi sangat berantakan. "Yes, lo ngapain? Jangan berantakan gw." Gerutu Agatha menarik lengan Yessi sembari terpacu menatap heran pada Yessi. Dari semua Baju akhirnya Yessi menemukan yang terbuka dan pantas untuk Agatha kenakan. "Sekarang juga lo pakai ini." Pinta Yessi seraya memetik jarinya dua kali. "Oh my God!! No..no.. lo Gila! Lo suruh gw pakai ini. Lo tahu kan gw enggak Suka pakai ginian. Baju Ini juga Karena Erik waktu itu kasih gw." Tolak Agatha melempar bajunya ke atas kasur. "Agatha.. Lo harus pakai ini, kalau enggak gw beritahu lo ya tentang Abby." Gertak Yessi tersenyum djahil dari bibirnya. "Om---" Teriak Yessi yang untungnya dengan cepat Agatha menghentikannya. "Ok! Gw pakai, dan lo jangan berisik." Agatha berkata sambil menarik pelan rambut Yessi tergerai panjang. Yessy tersenyum puas, Karena dia telah berhasil membuat Agatha menuruti keinginannya yang konyol. Bukan saja itu, Yessi ternyata berniat melewati balkon untuk pergi dari Rumah Agatha. Tidak mungkin juga meminta ijin pada Ayah Agatha yang cukup galak bagi Yessi. "Yes, Lo benar-benar ya. Tadi lo minta gw pakai ini. Dan sekarang lo nyuruh gw turun lewat balkon. Sinting Lo ya!" Ngedumel Agatha dengan nada yang jengkel. "Jangan banyak lo ah. Turun sekarang!" Kata Yessi memaksanya turin dari balkon yang sudah ia siapkan tangga. Setelah berhasil membuat Agatha turun, dia justru keluar melewati pintu utama. Yang sebelumnya dia berpamitan pada Ayah Agatha super Seram tersebut. Yessi merengkuh cepat tangan Agatha ke mobilnya. Dia senang sekali membuat Agatha jantung seakan mau lepas. "Yes, Lo bisa enggak jangan ngebut. Gw masih mau hidup. Lagian mau kemana?" "Berisik lo! Lo duduk manis Aja bisakan." Agatha menjadi pucat ketika mobil Yessi bukan pelan, justru melaju. Perempuan itu memegang self beat sangat kuat dengan tubuhnya yang gemetaran kaku. *** Sekarang Agatha berada ditempat asing untuknya. Sekeliling yang telisik, banyak orang berlalu lalang dan tentunya pakaian perempuan Sama seperti dirinya. "Yes.. Lo bawa gw kemana? Ini tempat apaan?" Ucap Agatha polos. Karena kepolosannya itulah membuat Yessi menahan tawa. Sungguh Yessi berpikir Agatha tidak pernah ke klub hingga dia tidak tahu tempat seperti apa mereka datangi."Daripada lo banyak tanya, lebih baik sekarang lo turun dan Lo akan tahu tempat seperti apa ini." Seru Yessi. Betapa terkejutnya Agatha ketika masuk keruangan yang sangat menganggu pendengarannya. Bagaimana tidak musik keras membuat gendang telinga Agatha seakan pecah. "Astaga.. tempat seperti apa ini Yessi. Lo jebak gw!" Teriak Agatha. "Gw enggak jebak lo. Ya.. Karena lo enggak pernah kesini. Jadi gw pikir enggak ada salahnya bawa lo sini. Biar enggak norak." Balas Yessi dengan suaranya yang keras. Agatha melihat begitu banyak lampu yang membuat matanya sakit. Ia merasa tidak sama sekali nyaman berada ditempat seperti ini. Bukan itu saja, ia bisa lihat banyak pasangan berciuman dengan bebas membuatnya jijik. 'Oh my God. Sumpah gw mau pulang.' Rungutnya dalam hati. Jangan Tanya lagi Yessi kemana. Tentu dia sudah menari dengan alunan musik. Seorang tender menawarkannya minuman. Yang ia pikir hanya sebuah air putih. Dan ternyata sebuah wine yang membuatnya pusing. "Minuman apa ini?" Ucap Agatha sambil memijit kepalanya yang terasa sakit. *** Ditempat yang sama Abbi baru saja memasuki klub malam tersebut. Dia bisa lihat pandangan menarik untuk para pria tapi tidak untuk dirinya. "Bi, Lihat pemandangan disini lebih Indah." Wandi Sama sekali tak berkedip menatap para perempuan yang cantik dan tentunya seksi. "Ah.. taik! Bodoh amat. Gw ini type Pacar setia. Gw enggak tertarik." "Buaya lo! Cinta aja kagak." "Setidaknya gw tertarik Sama dia." "Tertarik aja enggak cukup! Lo harus cinta dan Sayang Sama dia. Lo jadiin Agatha Pacar Karena dia pintar dan anak orang kayakan." Penuturan Wandi Sama sekali tidak ada yang salah. Niat awal lelaki itu memang memacari Agatha memang sekedar kepintaran. Karena dia tidak perlu susah payah memikirkan tugas. "Diam lo! Cinta akan tumbuh berjalannya waktu." "Puitis banget lo!" "Gw belajar dari Agatha." Jawab laki-laki itu polos. Wandi terjenggit menatap perempuan yang menari dengan pakaian seksinya. Mulutnya terbuka lebar, ia seperti tak percaya apa yang dilihatnya. "Agatha.." Wandi berlirih pelan. Wandi dengan berburu menepuk pundak Abbi. "Bi.. Abbi, itu Agatha Pacar lo bukan." Abbi bukannya melihat dia justru tertawa. "Lo waras! Pacar gw Agatha mana mungkin kesini. Gw tahu Agatha, dia lebih hobby ditoko buku daripada tempat kayak gini." "Lo enggak percaya. Lihat!" Wandi menunjuk kearah Agatha berdiri dengan tarian memukau para lelaki berada disana. Agatha semakin gila, ia menaiki meja sembari menari dengan pakaian seksinya. Wandy melihat pacar sahabatnya yang berbeda dari biasa. Abbi menatap tak percaya. Ini pertama kali dia melihat Agatha berpakaian seperti itu. Sekujur tubuhnya mendadak mendapat hasrat tersendiri. " "Percaya lo sekarang. Pacar lo.. sumpah cantik banget. Kalau lo bosan buat gw aja." "b*****t lo! Mau gw hajar." Ancam Abbi sudah menggepal tangannya kearah Abbi. Abbi mulai menggeram saat Wandi melotot memandang kekasih penuh seringai memangsa. Siapapun melihat Agatha akan seperti itu, termasuk dengan dirinya. "Tutup mata lo kalau enggak mau rasain bohemian gw." "Posessive lo Sama Agatha." "Anjrit diam lo!' Abbi menghampiri Agatha. Ia melihat Agatha yang semakin membuat kedasyatan pada Abbi sendiri. Ia terteguk menelan salivanya kasar. Abbi menghembuskan nafas panjangnya sejenak. "Agatha." Abbi meneriaki Agatha yang tengah menari, bahkan para pria mulai mendekati kekasihnya. Tak terima Hal itu, Abbi langsung menghajar satu persatu pria tersebut. "Dia Pacar gw jangan coba dekati dia." Rahang mengeras dengan tatapan yang tajam. "Sayang.." Agatha yang ketika itu mabuk berat, dan kontan memeluk Abbi. "I Love You." Astaga Abbi bisa mencium minuman dari aroma tubuh Agatha. "Ayo pulang." Abbi berkata sambil mencoba menarik tangan Agatha. "Enggak mau." Agatha tertahan, dia menampilkan Muka masamnya seolah ingin tetap disana. "Agatha Kita pulang." Ucap Abbi penuh penekanan. Sepertinya Abbi tahu jika Agatha mabuk berat, ia bisa mencium dari aroma tubuh Agatha. "Aku enggak mau pulang. Aku mau disini Sama kamu." Sahut Agatha dengan nada tergulai manja. "Kamu mabuk. Ikut aku." Karena sikap Agatha yang keras kepala. Abbi pun terpaksa menggendong Agatha pergi dari sana. Daripada dia Manas sendiri karena tak tahan Agatha digoda lelaki lain. Entah rasanya seperti dirinya yang terkecamuk. Hatinya tak terima begitu saja. Ia pun membawa Agatha Masuk kedalam mobilnya. *** Malam ini Abbi merasa Agatha begitu berbeda. Kecantikannya seakan terpancar, jantung leaking itu seakan bergemuruh menahan godaan yang menerpa dihadapannya. "Agatha.. kamu sangat menggoda." Seru Abbi pada Agatha. Oh tidak! Agatha seakan membuat Abbi semakin tergoda padanya. Dia menyentuh bibir Abbi dengan bibirnya. Lelaki mana pun akan tergoda dengan hal sensitive seperti ini. Perlahan Abbi mulai beraksi dengan menyesap bibir Agatha terasa hangat dan lembut. Ini pertama kalinya untuk Abbi mencium Agatha sejak mereka berpacaran 3 tahun. Ciuman Abbi semakin berhasrat, seakan lelaki itu meminta lebih kekasihnya. Sementara Agatha mulai merasakan ada suatu nikmat menghinggap dibibirnya. Ia membalas dengan lembut ciuman Abbi berikan. Semua waktu seakan terhenti ketika Abbi mendarat bibirnya dileher Agatha sembari tangannya bermain dipayudara Agatha. Agatha merasa seluruh organ tubuhnya melemah seketika. Dia dapat merasakan suatu menyentuh begitu lembut. Tapi.. Apa daya dia mabuk, untuk membuka matanya saja kesulitan. Abbi seketika sadar apa yang dia lakukan sangat salah. Apalagi saat ini Agatha tengah mabuk. Bisa-bisa dia dibunuh Agatha jika tahu dia berani menyentuh bagian yang tidak pernah disentuh orang lain. Tok... Tok... Tok... Abbi terkesiap mendengar suara ketukan. Dan syukurnya dia menghentikan beradu nafsu dengan Agatha. "Apa." Abbi membuka kaca mobilnya setengah yang ternyata Yessi. "Lo bawa Agatha pulang. Awas lo enggak bawa dia pulang." Ucap Yessi seakan mengancam lelaki itu. "Apa! Yessy tapi--" Belum saja Abbi melanjutkan katanya, Yessir justru sudan pergi begitu saja. Membawa Agatha pulang sama saja, memasuki kandang macan kelaparan. Dia pun berpikir membawa Agatha ke hotel terdekat. Mungkin lebih baik daripada harus mengantarnya pulang, apalagi dengan keadaan mabuk seperti ini. Nafas Abbi tertahan saat ingat kembali apa yang terjadi diantaranya dan Agatha. Seandainya Agatha tahu, Abbi bisa digantung Pacar sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD