Erlin berjalan dengan pandangan lurus ke depan, ia sudah memasuki wilayah hutan dan juga perbatasan. Tangannya masih menyeret koper kecil yang berisi keperluan pribadinya, ia hanya sendiri, semua kenangan tertinggal di Crismoon. Menghela napas panjang, kembali lagi pada takdir yang harus ia jalani. Erlin mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru, suasana perbatasan tampak sepi dan tenang. Bukan bermaksud untuk mengharapkan hal yang tak mungkin, hanya saja ia berpikir kalau Black akan menjemputnya di sini. “Ini adalah saatnya.” Gumam Erlin pada dirinya sendiri, kehidupan yang baru akan segera ia mulai. Garis perbatasan sudah di depan mata, perlahan-lahan Erlin kembali melangkahkan kakinya untuk melewati perbatasan itu. Suara langkah kaki terdengar, Erlin merasa de javu. Seketika itu

