BAB IV

1167 Words
Kamu itu bagian dari aku, jadi seberapa jauh kamu pergi tetap aja bakal balik lagi.." - Uknown - *****     SEMUA mulai berhambur keluar kelas masing-masing saat bel pulang berbunyi. Azel yang sibuk memasukan bukunya kini harus terhenti saat Sherren menghampirinya. "Eh waketos, lo langsung balik kaga?" Tanya Sherren merangkul bahu Azel. "Ga tau nih, gue masih mau ke lapangan. Liat panitia yang bikin tiket masuk, emang kenapa?" Tanya Azel. "Yaelah gue mau nebeng ama lo nih, yang lain pada diantar semua. Si Argha ada latihan buat pensi juga." jelas Sherren membuat Azel menatapnya sekilas. "Nih bawa mobil gue, entar gue ambil di rumah lo."Azel melemparkan kunci mobilnya kearah Sherren yang segera ditangkap Azel. "Buset, lo bawa mobil ke sekolah? Gue kira lo naik motor." ucap Sherren tak percaya "Tadinya maunya gitu, tapi ya ga tau lah. Udah gue duluan." ucap Azel membawa tasnya dan berjalan keluar kelas disusul Sherren. Sherren berjalan di koridor sekolah dan sesekali membuat gelembung permen karet yang dikunyahnya. "Sherren.." panggilan seseorang menghentikan langkah kakinya membuat Sherren menoleh ke belakang. "Kamu mau pulang?" Tanya Argha yang berdiri tepat di depan Sherren, Argha sedikit menunduk untuk menatap Sherren yang hanya sedagunya. "Iya nih, kenapa?" Tanya Sherren menatap polos kearah Argha. "Naik apa? Ga ada acara keluyuran ya, ga usah nongki-nongki." pesan Argha membuat Sherren hanya mengangguk lucu. "Naik mobilnya Azel, Azel nyuruh sendiri si." jelas Sherren. Argha hanya terkekeh pelan dan mengusap kepala Sherren. Sesekali mengusap keringat di dahi Sherren dan mencium keningnya. "Yaudah hati-hati, ga usah ngebut bawanya. Awas ae ampe ngebut, tampol entar." kekeh Argha membuat Sherren memeletkan lidahnya lalu segera pergi tanpa pamit. Argha hanya menggelengkan kepalanya perlahan lalu segera menuju ruang musik untuk latihan pensinya. *****      "Daffa, bawain dah. Kasian nih gue bawa banyak barang." keluh Clara yang membawa beberapa paper bag. "Aduh yang, lo mau borong nih mall hah? Semegah apasih acaranya ampe banyak banget yang di beli." tanya Daffa mengambil alih barang-barang yang di bawa Clara. "Kaga tau gue, gue cuman disuruh beli yang ada di list. Si Mitchell mana pula tuh anak, kabur ae." gerutu Clara. "Bukannya dia bareng Gaga tadi, kan misah biar cepet. Beli apalagi nih?" Tanya Daffa. "Mau beli kertas kado sama balon huruf, ayo!" Ajak Clara dengan semangatnya. Pengunjung Mall hari ini lumayan padat entah karena ada apa, hampir keseluruhan penuh pengunjung membuat Clara harus berjalan cepat untuk segera keluar dari mall ini. "Pelan-pelan ra, itu tokonya kaga bakal lari juga." ucap Daffa memperingati Clara. "Bukan masalah lari apa enggaknya, biar cepet selese. Mau pulang, disini panas banget." keluh Clara. "Yaudah pelan-pelan aja, entar jatuh nangis lagi." ucap Daffa. "Kaga elah, percaya ama gue." Clara segera membeli barang yang dibutuhkannya sedangkan Daffa hanya mampu mengekori dari belakang dan sesekali tersenyum menatap perempuan yang mengagumi ketampanannya membuat Clara mendelik kesal. Dilain tempat, Mitchell dan Gaga sedang berdebat tentang kertas karton yang dipegang keduanya. "Ga, warna tosca lebih bagus tau. Biar ga keliatan mati warnanya." ucap Mitchell kukuh dengankertas karton yang berada di genggamannya. "Apaan, warna biru aja. Lo tuh ga ngerti warna yang bagus, yang lo ngerti kan cuman gue." ucap Gaga tanpa beban. "Apaan sih lo kampang, ngalus kaga tau tempat sama situasi." decak Mitchell. "Pede lo, siapa yang ngalusin lo. Enaknya lo tuh dikasarin aja." ucap Gaga membuat Mitchell menjambak rambutnya. "Aa---aduh yang sakit, heh Cina lepasin, sakit gila anjing!" Teriak Gaga pelan. "Lo jangan nyebelin napa hah?! Tensi gue udah naik nih gara-gara lo." maki Mitchell kesal lalu melepaskan jambakannya secara kasar. Gaga hanya tertawa melihat Mitchell yang menggerutu sebal kearahnya. Dengan sekali tarikan, Mitchell sudah berada di pelukan Gaga. Gaga dengan gemas mencium puncak kepala Mitchell dengan senyumnya. "Anjirr Ga, umum nih umum. Jangan bikin malu." ucap Mitchell memberontak dalam pelukan Gaga. "Bodo amat, lo ngegemesin kalo lagi ngambek." kekeh Gaga lalu melepas pelukannya. "Jangan marah-marah mulu lo ama gue, entar makin sayang bahaya." "Apaan sih ga!" Mitchell segera pergi meninggalkan Gaga yang hanya tertawa melihat tingkahnya. Terkadang mereka terlihat pasangan yang serasi namun terkadang terlihat sedikit aneh. *****      Azel terlihat berjalan cepat kearah lapangan, keringatnya sudah mengalir dengan deras. Ditangannya terlihat beberapa kertas yang dibawanya. "Zel, lo mau kemana?" Tanya Stella yang memperhatikan Azel. "Gue mau ngasih nih kertas ke Justin buat bikin tiket, kenapa?" Tanya Azel. "Lah emang pake tiket ya? Bukannya acaranya cuman disini aja, ga dibuka buat umum." tanya Stella heran karena menurutnya acara sekolah biasanya tidak dibuka untuk umum. "Gue mana tau, mereka bilang tahun ini dibuka untuk umum." jelas Azel. "Gila sih kalo dibuka buat umum, bakalan rame dah sekolah kita. Dan gue yakin fans Devan bakal lebih banyak dah." ucap Stella membuat Azel menatap datar. "Perasaan gue dia ga ganteng-ganteng amat, kenapa malah banyak fans nya. Aneh banget." ucap Azel membuat Stella terkekeh pelan. "Dia ganteng nyet, makanya banyak yang suka. Lo tuh yang aneh." ucap Stella tertawa membuat Azel menoyor kepalanya pelanm "Dia iri." suara berat seseorang membuat Stella dan Azel sontak menoleh ke samping, dan menemukan Devan berdiri disana bersama Justin. "Lo gue tunggu malah ngobrol disini, lelah cogan nunggu anjir." gerutu Justin kesal dan mengambil kertas ditangan Azel "Ya maap, ini nih si Stella ngajak gue ngobrol." ucap Azel membuat Stella menatapnya tajam. "Eh apaan jadi gue." bela Stella. "Stel, lo mending bantu gue dah di ruang OSIS. Ayo!" Ajak Justin menarik Stella cepar meninggalkan Azel dan Devan. Azel hanya terkekeh pelan melihat Stella yang meronta di tangan Justin sedangkan Devan matanya tak berhenti memandang kearah Azel yang membuat Azel menghentikan tawanya. "Apa lo liat-liat!" Sengit Azel tak bersahabat. "Serah gue lah." ucap Devan datar membuat Azel mencebikkan bibirnya. "Halah, bilang ae lo terpesona ama gue. Tau gue mah gue cantik makanya lo kesemsem ama gue." ucap Azel membuat Devan menoyor kepala gadis itu dengan kesal. "Anjing! Sakit monyet." ucap Azel mengusap kepalanya. "Ngegas aja lo." ucap Devan santai dan menyenderkan tubuhnya ke dinding sambil menatap Azel, dan satu tangan yang dia masukan ke dalam saku celana. "Serah gue lah, gue ini yang punya mulut. Kenapa lo repot banget." ucap Azel tak suka. "Bacot ya lo, diem dah." "Bwodo amat, btw gue mau nanya. Ini serius dibuka buat umum? Penampilan sekolah kita kan banyak, yakin lo mereka kaga bakal bosen?" Tanya Azel menatap Devan meminta jawaban. "Yakin." jawab Devan datar. "Yaudah sih, udah ah gue mau ke panggung." ucap Azel ingin segera pergi namun tangannya ditahan oleh Devan . "Apa lagi? Bibir lo sakit lagi? Gigi lo patah? Atau apa." tanya Azel menatap Devan dengan malas. "Sini aja." ucap Devan membuat Azel menautkan alisnya dengan bingung. "Hah apaan sih? Ga jelas lo." ucap Azel mencoba melepaskan tangannya namun nihil. "Gue bilang disini aja!" "Gue ga mau!" "Bisa ga sih ga usah keras kepala lo!" Azel terdiam mendengar suara Devan dan menatap manik hitam milik Devan yang menatapnya dengan aneh. "Lepas Devan." ucap Azel pelan tapi Devan hanya diam dan menarik tangan Azel membawanya ke suatu tempat. Azel lagi-lagi hanya bisa diam menuruti apa kemauan Devan. Daripada dia harus menghabiskan suaranya untuk beradu mulut dengan Devan yang tak akan ada habisnya. Selesai
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD