Realita berbanding terbalik dengan ekspektasi.
Kira kira seperti itu yang terjadi padaku sekarang. Merencanakan ke Jogja untuk memberikan kejutan padanya ternyata malah aku sendiri yang surprise dengan sebuah kenyataan ia dalam pelukan wanita lain.
Diandra, mantan Mas Satya.
Terbesit dalam fikiranku saja tidak pernah sosok itu akan muncul dalam hubungan kami.
Ingin ku lupakan kejadian Mas Satya dalam pelukan Diandra namun bayangan itu selalu muncul mencoba mengusikku.
Sh*t memang! Mengetahui laki laki yang sedang menjalin ikatan pertunangan denganku namun ia bekhianat dengan kembali bersama mantannya.
Mungkin kamuflase dengan beralasan kesibukan kuliah namun dibalik itu semua ada satu fakta yang membuatku mantap untuk memilih opsi mengakhiri hubungan ini.
Jogja yang terkenal dengan sebutan istimewa kini meninggalkan luka untuk kedua kalinya.
Sesampainya di Surabaya saat hari menjelang petang kemudian segera menuju apartemen.
"malam ini juga harus segera meninggalkan apartemen karene firasatku Mas Satya akan segera menyusulku begitu ia mengetahui kabar tentang kedatanganku ke Yogya dari Mas Aji" lirihku
Membawa satu buah koper berukuran besar dan sebuah sling bag untuk meninggalkan apartemen yang telah kutinggali selama beberapa bulan terakhir.
Selesai packing tepat pada pukul sembilan malam dan mencari hotel untuk tempat tinggal sementara melalui macbook yang terhubung dengan jaringan wifi, karena hari semakin larut rasanya sedikit sulit untuk menemukan penginapan/indekos.
Pilihanku pada sebuah hotel bintang tiga didaerah pandegiling Surabaya. Jaraknya cukup jauh dari tempat tinggal dan kantorku.
Karena Jatah liburku masih tersisa dua hari dan rasanya ingin menyendiri sebelum bersiap untuk menemui Mas Satya dengan segala alibinya.
Hari kedua pada cuti kerja.
Jam menunjukkan pukul tujuh pagi, membuat teh hangat yang tersedia pada mini bar setelah sebelumnya memanaskan air dengan hitter.
Membuka gorden yang menutup jendela hingga menyuguhkan pemandangan kota Surabaya yang mulai macet karena memasuki jam kantoran.
Duduk disofa panjang yang terletak disamping jendela besar dengan menikmati seduhan teh.
Tiga puluh menit berlalu dengan posisi duduk yang sama. Perut mulai minta diisi karena terakhir makan kemarin sore saat sebelum pesawat take off menyempatkan membeli satu bungkus roti varian kopi.
Memakai kaos lengan panjang dan mengganti celana pendekku dengan trining kemudian bersiap untuk sarapan.
Jam menunjukkan pukul delapan pagi, setelah turun dengan menggunakan lift kemudian berjalan menuju restoran hotel.
"permisi, dengan Ibu kamar nomor berapa?" tanya salah satu pegawai hotel tepat di depan pintu masuk restoran
"1011" jawabku singkat dengan menyerahkan voucher breakfast padanya
Memutari meja saji yang terletak ditengah ruangan dengan berbagai variasi menu dan pilihanku pada menu nasi goreng dan ayam fillet, sepertinya aku butuh banyak karbo.
Setelah menyelesaikan sarapan kemudian kembali ke kamar. Menghabiskan waktu di kamar hotel sambil menonton berbagai jenis film dengan sesekali melihat berita online melalui ipad yang terhubung dengan jaringan Wifi hotel.
Baru dua hari namun sudah merasa bosan luar biasa. Menghabiskan waktu menyendiri ternyata semakin mudah untuk mengingatkanku pada kejadian kemarin yang cukup membuatku shock.
Keesokan harinya.
Jam tujuh sudah bersiap dengan setelan untuk bekerja. Memutuskan masuk kantor meskipun hari ini masih terhitung cuti.
Setelah siap dengan membawa sling bag ukuran besar kemudian menuju restoran untuk sarapan dan berangkat menuju kantor.
"wuih, yang habis liburan nih?" kata Mas Eko saat melihatku baru saja tiba di kubikelku.
"eh, bukannya hari ini masih cuti?" Mbak Laras menambahi.
"something happened mbak, nanti makan siang kita rumpi cantik" kataku pada mbak Laras dengan sedikit berbisik.
Mbak Laras menautkan jempol dan telunjuknya pertanda ia mengerti kode dariku.
"ngomong apaan sih kalian?" Mas Eko dengan kepo mode on
"masalah kewanitaan" jawab mbak Laras yang kubalas dengan delikan tajam padanya.
Harus banget pakai alasan itu.
"oh... Ehhh... Yaudah" Mas Eko sedikit canggung dan terbata.
Kulihat mbak Laras cekikikan saat kembali menuju kubikelnya.
"Selama Pagi semua" suara berat menginterupsi pada penjuru ruangan
"Pagi Pak" satu persatu penghuni ruangan staf accounting membalasa sapaannya, termasuk aku.
Kulihat Pak Tama terhenti tepat beberapa langkah disampingku.
"Wilda?" panggilnya dengan sedikit raut kaget.
"Iya, saya Pak?" tanyaku sopan
"ini masih hari rabu kan?" katanya yang sudah mengarah pada pokok pertanyaan
"Iya Pak"
"bukannya kamu masih ambil cuti sampai hari ini?" tanya Pak Satya
"ada satu hal hingga saya kembali lebih cepat Pak"
Pak Tama menjawab dengan berohria
"Ohya, 15menit lagi tolong keruangan saya sebentar"
"baik Pak"
Pak Tama berlalu menuju ruangannya. Dan kami para staf segera menyibukkan diri dengan urusan masing masing.
"Wil..." panggil mbak Laras
Melihat mbak Laras tanpa membalas panggilannya
"ponsel Lo rusak? Atau hilang gitu?"
"kenapa emangnya mbak?"
"kemarin susah banget dihubungi. Pak Bos sempat marah marah karena mencari file berkas yang kemarin Lo kerjain gak ada, satu ruangan kena semprot semua"
"lho kok bisa? Padahal udah aku siapin dimejanya Pak Tama dihari sebelum aku ambil cuti"
"mana Gue tahu" katan Mbak Laras dengan mengendikkan bahu
"eh, jangan jangan mau dipanggil ke ruangannya Pak Tama mau bahas itu lagi" tiba tiba hawa dingin menyeruak, takut jika Pak Tama akan memarahiku di ruangannya.
"bisa jadi"
Tuh kan, mbak Laras tambah menakuti...
Jam menunjukkan pukul sembilan pagi, itu berati sudah melebihi waktu yang diminta Pak Tamu untukku agar memasuki ruangannya.
'aduh, Gue gak berani masuk' bathinku
"Wil, diminta ke ruangannya Pak Tama tuh" panggil Sari dengan judesnya yang makin gak ketulungan.
Sari ini adalah sekretaris Pak Tama yang baru bekerja satu bulan yang lalu. Ia menggantikan sekretaris lama karena masih ada hubungan saudara yang mengklaim sudah memahami pekerjaan Pak Tama dari kakaknya.
Ia selalu bersikap ramah pada semua karyawan yang berada dalam staf accounting kecuali aku, catet! Kecuali aku.
Sari selalu memanggilku dengan nada cuek dan terkesan meremehkan. Whatever, tanpa kuambil pusing aku biarkan saja sesuka hatinya.
Tok tok tok,
Mengetuk sebuah pintu kaca kemudian membukanya.
Kulihat Pak Tama sedang sibuk dengan berkas ditangan kiri sedangkan sebuah pulpen ditautkan pada jari kanannya.
"permisi Pak?"
"silahkan duduk" pintanya kemudian
"ada yang ingin Bapak sampaikan?" tanyaku pmdengan hati hati.
"dari kemarin saya susah hubungin kamu"
Deg, benar kan dugaanku?
"maaf Pak"
"bukan permintaan maaf yang ingin saya dengar dari kamu. Ponsel kamu kenapa?"
Haduh, gimana jawabnya coba? Masa harus terus terang kan sama saja merendahkan harga diri.
'Wilda diselingkuhin tunangannya dan memblok semua komunikasi selama tiga hari'
Kan gak lucu...
No! Big No!
"ponsel saya rusak Pak" mulutku dengan lancar mengatakan
Oke, satu keebohongan... Cukup satu aja...
Kulihat Pak Tama menautkan keningnya.
"rusak?" tanya Pak Tama menegaskan yang kujawab dengam anggukan.
"nanti siang bisa ikut saya?"
"ikut Bapak?"
Terlalu banyak pertanyaan difikiranku sekarang, antara Pak Tama akan memarahiku namun sikapnya terlalu manis untuk mengajakku makan siang bersama.
Tanpa berfikir panjang, menyetujui ajakan Pak Tama.
Untuk sementara fikiranku akan 'dia' sedikit teralihkan dengan pekerjaan.
Rencana hari ini harus gagal untuk kesekian kalinya.
Pertama, makan siang dengan mbak Laras karena Pak Tama yang notabenya Pak Bos mengajakku makan siang bersama.
Kedua, saat pulang kerja akan mencari indekos dengan mbak Laras juga gagal. Kenapa?
Pak Tama menawarkan untuk mengantarkanku pulang ketika ia melihatku tidak membawa mobil sendiri.
Disini kami sekarang, didalam mobil BWM sedang dalam perjalanan pulang.
"tempat tinggal kamu dimana?"
"beberapa hari ini saya tinggal di Santika Pandegiling Pak"
Sedetik kemudian Pak Tama menolehkan pandangannya kearahku
"kamu tinggal di hotel?"
"belum menemukan tempat tinggal yang baru Pak" jawabku sambil terkekeh kemudian melihat kearah luar jendela
Sesampainya di depan loby hotel.
"buat kamu" kata Pak Tama sambil memberikan paper bag.
"ini apa Pak?" tanyaku sambil menerimanya
"katanya ponsel kamu rusak, belum beli kan?"
Mataku membulat saat melihat ponsel keluaran terbaru yang sejak kemari dibahas dipenjuru kantor dan baru akan dirilis minggu depan yang harganya belasan juta.
"Pak?" panggilku lirih padanya.
"sekali kali pakai brand dari kantor sendiri"
Ini sindiran gak sih? Karena selama aku bekerja di perusahaan ponsel brand korea namun ponselku sendiri masih menggunakan logo bites apple?
Aku terdiam beberapa saat, sebelum kata kata Pak Tama mengintruksi.
"mau saya antar kedalam?" katanye dengan nada menggoda
Oh No...
"saya permisi dulu Pak, terimakasih untuk ini" ucapku sambil menunjukkan paper bag kemudian membuka pintu mobil dan berjalan memasuku loby hotel.
Ketika baru saja memasuki kamar, tiba tiba suara bel berbunyi.
"Pak Tama?" panggilku ketika melihatnya berdiri di depan kamarku.
"saya ada hadiah kecil buat kamu" katanya dengan memberikan sebuah kotak dengan brand cokelat ternama
"cokelat? Buat saya?"
"kalau boleh menebak, suasana hati kamu saat ini sedang tidak baik. Biasanya cokelat dapat sedikit menetralisir itu"
"oh... Ehh... Makasih banyak Pak" kataku kemudian menerima kotak tersebut dan Pak Tama permisi pulang.
Meletakkan kotak cokelat tersebut diatas minibar kemudian terdengar kembali bel kamar berbunyi.
'apa lagi ini?' bathinku kemudian membuka pintu kamar.
"Ada lagi Pak Ta-" kataku terputus, lidahku rasanya kelu untuk melanjutkan kata kata berikutnya.
"Wilda..." panggilnya lirih.
"Mas?"
With Love
-Ayaya-