Long Distance is Killing me

1247 Words
Special part dari Pak Dosen buat pembaca yang rajin vote komen... Hayuk, tim vote sebelum dibaca... -Satya Point of View- Jika dulu aku selalu memprioritaskan pendidikan melebihi segalanya, rasanya kini mulai bergeser sejak ada Wilda yang  menjadi salah satu fokusku selain melanjutkan S2. Long distance relationsh*t yang kami agungkan ternyata menjadi boomerang. Kesibukanku sebagai mahasiswa semester akhir semakin merenggangkan intensitas komunikasi kami. Meskipun mulai jarang namun Wilda tetap rutin menyempatkan mengirim pesan ketika pagi hari sebelum ia berangkat kerja. Pesan itu kubiarkan saja hingga larut malam tanpa kubalas, ingin rasanya memaki diriku yang kini hampir memilikinya secara utuh namun kini sering kuabaikan. Aku bersumpah, setelah membereskan tesis akan segera meminangnya tanpa menunggu wisuda. Long distance is killing me... Rasanya beban dipundak mulai berkurang setelah menyelesaikan seminar proposal dengan hasil disetujui oleh penguji dan dapat dilanjutkan untuk mengerjakan bab berikutnya. Mencari keberadaan Aji, teman satu kontrakanku. Ia bilang akan menungguku sampai selesai seminar namun keberadaanya tidak kutemui. Ketika baru saja akan menghubungi Aji tiba tiba seseorang memelukku dari depan dengan keras. Reflek aku memegang pinggangnya karena ia hampir terjatuh. "Diandra?" panggilku dengan kaget setelah melihat sosok wanita dalam pelukanku. "Selamat atas seminarnya Sat" katanya sambil tersenyum. "terimakasih" jawabku sambil membalas senyum padanya. Diandra, wanita yang pernah bersinggah dihatiku. Namun itu sudah lama sekali, ketika masih sebagai Mahasiswa strata satu. Ia menjadi wanita pertama yang mencuri perhatianku dengan sifat agresifnya. Wajahnya cantik khas orang Jawa. Kulitnya sawo matang sesuai dengan kepribadiannya yang suka dengan travelling belum lagi kegiatannya sebagai pecinta alam. Hubungan kami berakhir setelah hampir dua tahun menjalani sebagai sepasang kekasih. Alasan putus kami cukup klise, She's make a love with another guy. Setelah itu tidak lagi mencari kekasih, hanya fokus pada kuliah hingga melanjutkan strata 2. Hingga dipertemukan dengan Wilda ketika kami bertemu tanpa sengaja, perempuan yang berhasil mencuri perhatianku kembali. Mencintainya dalam diam hingga kuputuskan untuk menyampaikan perasaanku, dan sekarang kami berstatus sebagai tunangan setelah terjadi pembicaraan antar kedua keluarga. Back "kamu ngapain kesini Di?" tanyaku sambil melepaskan pelukannya karena risih, belum lagi sekarang kami berada di area kampus. "mau ngucapin yang habis seminar dong! Traktir apa gitu?" pintanya dengan sedikit merengek. Tck, kekanak kanakan sekali. "aku gak janji. Sekarang aku butuh istirahat" tolakku halus Satu bulan yang lalu dipertemukan kembali dengan Diandra ketika sedang makan siang di sebuah rumah makan dengan ditemani Aji. Sejak saat itu Diandra minta bertukar nomor dan ia kembali intens menghubungiku walaupun sering ku acuhkan. Beberapa kali kami bertemu tanpa sengaja dan pernah sesekali bertemu untuk mengobrol dengannya. Seminggu terakhir ia mengeluh karena aku jarang membalas pesannya, Diandra sering spam chat hingga membuatku sedikit terganggu. Hingga kukatakan padanya untuk berhenti menghubungiku karena sedang fokus pada seminar proposalku tesisku. Diluar dugaan ia berhenti mengirim pesan setelah aku menjawab pertanyaan darinya tentang tanggal pelaksanaan seminarku. Dan sekarang, aku menyesal telah memberi tahunya setelah keberadaannya didepanku sekarang. "besok traktiran ya Sat" kembali ia merengek drngan sedikit memaksa setelah memberikan sebuah kado berbentuk kotak kepadaku. "Iya, bawel banget. Udah, mau balik dulu" pungkasku kemudian memcari keberadaan Aji namun tidak menemukannya. "nih anak kemana sih?" batinku Mencoba meneleponnya berkali kali namun tidak diangkat. Setelahnya kuputuskan untuk kembali ke Kontrakan. Aji Prayoga, kami dipertemukan ketika sama sama menjadi dosen penerima beasiswa lanjutan di program pasca sarjana. Pertemuan pertama merasa langsung klop dan kami mencari tempat untuk ditinggali selama pelaksanaan program beasiswa. Sesampainya dikontrakan tidak menemui sosoknya, tidak biasanya ia ingkar janji apalagi diacara penting seminar proposalku. Setelah membersihkan diri dan berganti baju santai kemudian membuka macbook di ruang depan sambil menunggu Aji pulang. Tidak lama mendengar suara sepeda motornya kemudian pintu terbuka. "darimana aja Lo? Gue tungguin katanya mau dateng diacara seminar" tanyaku tanpa basa basi. Tanpa ada jawaban, Aji hanya duduk disebuah kursi kayu yang berada diruang tamu sambil melepaskan sepatunya. Kalau diam seperti ini kayak perempuan lagi PMS. Tck, bukan sifatnya Aji sekali karena ia selalu pandai menghidupkan suasana. "itu kotak isinya apaan Ji?" tanyaku ketika melihat Aji sempat menaruh sebuah kotak diatas meja sebelum ia duduk. "mau? Nih" katanya dengan menggeser kotak tersebut agar lebih dekat denganku. "Gue buka ya?" "Silahkan" jawabnya kemudian berlalu menuju kamarnya Mendapat persetujuannya kemudian membuka penutup kardus. Kue tart dengan siraman cokelat dan terdapat sebuah tulisan disana 'Happy 2nd Anniversary -SW-' Membaca berkali kali berusaha mencerna tulisan tersebut karena tidak asing, pun dengan inisialnya. "kenapa gak dimakan?" tanya Aji dengan sudah berganti kaos santai "Lo ngerayain anniv? Sama siapa?" Kutanyakan demikian karena Aji sedang berstatus single terhormat, katanya. "Ternyata mahasiswa kesayangan profesor Arman bisa lemot juga ya?" jelas Aji sedang menyindirku. Mencoba membaca tulisan pada kue tart didepanku dan pada detik berikutnya terfokus pada inisial yang tertera disana -SW- "SW?" bacaku kembali "mungkin Story w******p apa Story w*****d?" potong Aji "tanggal berapa ini?" tanyaku pada Aji, namun ia hanya mengendikkan bahu Mataku terpejam, fokusku akhir akhir ini kacau karena persiapan seminar. -SW- Satya Wilda dan hari ini tepat anniversary kami yang kedua. Otak cerdikku menginstruksikan. Bego! Fixed Gue b**o gak bisa mengenali tulisan dan inisial yang berada pada kue tepat didepanku. Tapi bagaimana bisa? Mendadak fikiranku tertuju pada Wilda... "kue ini dari mana Ji?" tanyaku tegas padanya "menurut Lo dari mana?" "Ji, Gue tanya serius" "emang bisa itu kue jalan sendiri dari Surabaya kesini?" "Wilda kesini, di Yogyakarta? Mana dia?" tanyaku excited Kulihat Aji melihat jam di pergelangan tangan kirinya. "dia udah take off, kembali ke Surabaya" "makdsud Lo? Jangan bercanda Ji. Wilda mana?" "Gue serius" katanya dengan tegas tanpa "kalian janjian buat ngerjain Gue? Iya kan? Gak usah main tebak tebakan Ji. Lagi capek Gue" "lebih capek Wilda. Udah nyempetin kesini malah dapat kejutan, buat Wilda sih dobel capeknya. Capek badan sama capek hati" "maksud Lo apaan Ji, langsung ke inti yang mau Lo sampaikan. Gue cuma pingen ketemu Wilda, tunangan Gue" "Tck, tunangan? Masih berani nyebutin Wilda tunangan Lo?" "maksud Lo apa?" tanyaku sambil meremas kerahnya karena ucapannya benar benar tidak dapat ditolelir. "setelah pelukan sama cewek lain, dengan enaknya masih nyebut Wilda tunangan Lo?" katanya dengan melepas tanganku kasar. "apa Lo Bilang?" "gue akui Lo cerdas Sat, tapi Gue kecewa sama sikap Lo tadi siang. Kurang apa Wilda jauh jauh nyempetin kesini buat ketemu Lo, tapi apa? Lihat Lo pelukan sama sang mantan, Diandra" "Wilda melihat gue sama Diandra?" "bukan cuma Wilda, tapi gue juga melihatnya" Mengacak rambutku dengan frustasi "itu gak seperti yang kalian kira Ji, sumpah!" lirihku penuh penyesalan "whatever... yang gue lihat, Lo sama bahagianya dengan Diandra" selancar itu Aji menyindirku dan membuatku semakin geram. "pertama, Gue gak janjian sama Diandra. Dia datang gitu aja. Kedua, pelukan itu dia yang mulai saat gue gak siap ketika nyariin Lo. Ketiga, gue hanya tersenyum membalas saat dia mengucapkan selamat kepada Gue" jelasku dengan menggebu "Wilda sekarang dimana?" tanya kembali meminta penjelasan "lima belas menit yang lalu ia take off ke Surabaya" "kok bisa?" "menurut Lo, setelah Wilda lihat Lo pelukan sama Diandra?" "ini salah faham Ji" "cek ponsel Lo, tapi kemungkinan Wilda offline selama perjalanan" Mengambil kasar ponselku kemudian membuka room chat, terdapat sebuah pesan dari Wilda. My Wilda ❤ : Mari Berpisah. Dengan lirih membaca berulang dua kata yang membuatku shock. Mengusap kasar wajahku yang memanas setelah membaca pesan dari Wilda. "kenapa Sat?" "Wilda ngajak pisah" kataku lirih "apa?" "pesenin gue tiket ke Surabaya Ji, cari penerbangan paling cepat"  titahku padanya "Lo mau ke Surabaya?" "Gue harus jelasin kesalahpahaman ini sama Wilda. Gue siap siap dulu" kataku sambil menuju kamar untuk bersiap siap "revisi proposal Lo gimana Sat?" "ada yang lebih penting demi hubungan Gue. Habis ini anterin Gue ke Bandara" With Love -Ayaya-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD