Jam satu siang berada disebuah restoran western untuk menyantap makan dibarengi meeting dengan salah satu perwakilan kantor dari Jakarta untuk membahas launch produk baru.
Meeting yang awalnya tadi pagi diubah jamnya menjadi siang hari. Disitu aku menjadi sebal luar biasa, tau begitu kan bisa mengantarkan Mas Satya menuju bandara terlebih dahulu.
Tck, junior fresh graduate seperti aku bisa apa?
"kamu kenapa Wilda?" tanya Pak Tama setelah mengembalikan buku menu pada pramusaji
"gak apa apa Pak" kujawab dengan singkat
"sepertinya kurang nyaman buat kamu?"
"enggak Pak"
Memasang muka seramah mungkin guna menutupi rasa kesalku.
Setelah menu yang kami pesan datang kemudian menyantap pesanan masing masing diselingi dengan obrolan dengan fokus produk baru yang akan segera launching.
Sore harinya...
Pulang dari kantor lebih awal karena Pak Tama melihatku sedang kurang sehat, padahal hanya suasana hatiku pada posisi unmood karena tidak dapat mengantarkan Mas Satya ke Bandara. Tapi lumayan bisa istirahat lebih awal tanpa harus terjebak macet ketika pulang kerja.
Menikmati secangkir teh dengan pemandangan kota Surabaya menjelang petang. Semburat warna jingga melengkapi keindahan langit sore hari.
Kembali mengecek aplikasi chatting namun nihil untuk mendapatkan balasan pesan dari Mas Satya.
Kembali ke Jogja pertanda ia kembali pada kesibukannya, terlebih kemarin Mas Satya sudah konfirmasi bawa ia akan disibukkan tugas akhirnya yaitu tesis.
Terakhir menerima pesan ketika Mas Satya mengabarkan bahwa ia sudah sampai di Bandar Udara Adi Sucipto Yogyakarta, kemudian kubalas dengan menanyakan sudah makankah dia dan apa agendanya hari ini. Namun pesanku hanya dilihat tanpa dibalas meskipun statusnya online.
Dua bulan berlalu, pertanda selama itu pula belum bertemu kembali dengannya. Pun komunikasi kami semakin jarang, aku tidak mau menjadi wanita yang protektif meski sisi posesifku terkadang lebih mendominasi.
Kadang aku capek dengan hubungan seperti ini.
Namun adalah pilihan lain selain menunggunya?
Aku sumpahi ini terakhir kalinya menjalani hubungan jarak jauh. Sungguh sangat menyiksa.
Drrr drrr...
Satu notifikasi masuk
Mas Satyaku ❤ : satu minggu lagi Mas seminar proposal sayang. Minta doanya ya...
Sudut bibirku terangkat membentuk senyuman setelah membaca pesannya.
Me : Iya Mas, semoga dimudahkan dan lancarkan... Amin...
Jemariku berhenti setelah menekan tombol send. Teringat sesuatu kemudian membuka kalender dalam ponsel, senyumku kembali merekah bahwa tepat satu minggu lagi juga merupakan anniversary kami yang kedua.
Tiba tiba ingin memberikan kejutan untuk Mas Satya di Yogjakarta.
Hari ini tiba, satu hari sebelum Mas Satya seminar proposal yang bertanda esok juga merupakan tanggal dan bulan yang sama kami resmi menjadi sepasang kekasih ditahun kedua.
Sesampainya dibandara kemudian menuju hotel tempatku menginap setelah terbang selama 40 menit dari bandar udara Juanda Surabaya menuju bandara Adi Sucipto Yogyakarta.
Memasuki kamar hotel yang telah kupesan beberapa hari yang lalu kemudian bersih bersih karena perjalanan yang cukup melelahkan setelah delay beberapa jam.
Memilih opsi istirahat agar kondisi badan lebih segar untuk memberikan kejutan pada Mas Satya besok.
Flashback, a week before
"Pak, saya bisa mengajukan izin tahunan?"
Peraturan di kantorku setiap karyawan dapat mengajukan cuti tahunan yang hanya dapat diklaim sekali selama tiga hari diluar tanggal merah tentunya.
Ini terlalu beresiko karena harusnya pengajuan dua minggu sebelum hari H, itupun belum tentu disetujui. Terlebih aku karyawan baru dan mengajukan cuti satu minggu sebelum hari H.
Namun kuberanikan untuk memberikan kejutan pada Mas Satya.
"kamu sudah tau peraturan untuk mengambil cuti tahunan kan Wilda?"
"iya Pak, saya mohon Bapak dapat menyetujui"
"sepertinya sangat urgen?"
Kujawab dengan anggukan
"baik, saya setujui" katanya kemudian membubuhkan tanda tangan pada sebuah kertas pengajuan cuti yang kubuat.
Senyumku merekah dan segera mengucapkan terimakasih padanya.
Flashback Off
Keesokan harinya
Menunggu Mas Aji, teman satu kontrakan Mas Satya yang akan menjemputku di hotel sekalian mengantarkanku menuju lokasi seminar proposalnya Mas Satya.
Jangan tanya aku dapat mengenalnya darimana. Itu semua hasil kegabutan ditambah kekepoanku pada akun i********: Mas Satya.
Dapat mengenal Mas Aji ketika ada salah satu foto mereka berdua di instagramnya Mas Satya beberapa hari yang lalu dengan caption 'house matte'. Langsung DM Mas Aji dan mengobrol banyak tentang rencanaku akan membuat kejutan untuk Mas Satya untuk perayaan anniversary kami yang kedua. Diluar dugaan ia sangat ramah dan bersedia membantuku.
"Wilda ya?" tanya seseorang yang kupastikan itu Mas Aji.
"Iya, saya Wilda" kami bersalaman kemudian segera meninggalkan lobi hotel.
Kami diantarkan oleh mobik grab dengan sebelumnya mampir ke toko kue kemudian bertolak menuju lokasi.
Sesampainya di kompleks kampus pasca sarjana UGM.
"ya ampun Mas, kuenya ketinggalan di mobil grab" langkahku terhenti setelah menyadari kue tart ketinggalan.
Cerobohku benar benar tidak lihat situasi.
Sedikit panik karena salah satu persiapanku gagal.
"yaudah, kamu tunggu di taman sebentar. Saya hubungi mobil grab lagi, kemungkinan belum jauh" katanya sambil menunjukkan arah sebuah taman ditengah bangunan kampus.
"oke, Maaf ya Mas Aji" cicitku kemudian dibalas dengan jempol kiri Mas Aji
"sipp"
Ia meninggalkanku dengan berjalan setengah berlari menuju lokasi terakhir kami turun.
Berjalan menuju taman dan mencari tempat duduk di salah satu gazebo yang ada disana.
Menurut info yang diberikan Mas Aji saat kami dalam perjalanan tadi, seminar proposal Mas Satya sudah berlangsung tiga puluh menit yang lalu.
Jadi tidak akan menunggunya lebih lama sampai selesai seminar.
Sampai detik ini aku dan Mas Aji bersepakat merahasiakan rencanaku untuk datang ke Jogja untuk menemui Mas Satya.
Kata Mas Aji, Mas Satya semakin sibuk terutama menjelang seminar hingga semakin jarang menghubungiku. Jadi aku dapat memakluminya.
Ketika melihat setiap sudut tempat yang dapat kujangkau. Netraku menangkap sosoknya yang baru saja keluar dari sebuah ruangan, memakai baju slim fit putih dengan celana bahan berwarna hitam. Tas ransel dipunggungnya yang tegap dan jas almamater ditenteng di tangan sebelah kiri.
Senyumku terbit setelah memastikan itu Mas Satya.
Bangkit dari tempat dudukku dan berjalan menuju Mas Satya, namun harus tertahan ketika baru beberapa melangkahkan kaki.
Senyum yang sejak tadi tersungging harus pudar dan shock dengan pemandangan yang baru saja kulihat.
Mataku mengerjap menahan perih setelah memastikan itu Mas Satya dengan...
Seorang wanita memeluk Mas Satya erat dan pelukan itu berbalas.
Ya, Mas Satya melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu. Mereka saling berpandangan dan tersenyum.
Kejutan apa ini?
Siapa wanita itu?
Sebutir air mataku lolos begitu saja.
"Wilda, kok masih di-" panggil Mas Aji dari arah belakang dengan kata tertahan
Sepertinya ia melihat pada fokus yang sama denganku
"Diandra? Ngapain tuh cewe kesini?" kata Mas aji
Sebentar, Diandra? Bukankah itu nama yang sama dengan mantannya Mas Satya yang pernah diceritakan kepadaku dulu?
Jangan jangan...
"aku panggilkan Satya ya Wil?"
"gak usah Mas" kataku menahan lengannya ketika baru saja akan melangkah.
"ini gak bisa dibiarin" tolaknya namun tetap kutahan.
"Bisa saya minta tolong sama Mas Aji?"
Mas Aji mengangguk dan mendengarkan permintaanku berikutnya.
"Kamu yakin langsung balik ke Surabaya sekarang juga?"
Kujawab dengan anggukan meyakinkan.
"aku pastikan akan memberikan perhitungan sama Satya Wil, percaya deh" katanya berusaha menguatkanku
"terimakasih Mas, kayaknya gak usah. Toh semuanya sudah jelas setelah mendengarkan cerita Mas Aji tentang Diandra"
"paling tidak Satya harus tau kamu ada disini Wil"
"nanti Mas, sebelum take off akan aku kabarin sama kamu. Selanjutnya terserah kamu mau bilang apa sama Mas Satya"
"mau aku buat babak belur wajahnya?" katanya dengan menyeringai melihatkan giginya yang rapat
"malah memperburuk keadaan. Ceritakan apa yang perlu Mas Aji sampaikan"
"Tck, terlalu baik kamu tuh."
"Yaudah, aku balik dulu. Terimakasih untuk semuanya"
"oke, hati hati di jalan Wil"
Kami berpisah di depan hotel kemudian memasuki taksi yang akan membawaku menuju bandara.
Rencana yang dirancang seminggu terakhir yang hampir membuatku frustasi berakhir dengan sia sia. Semua yang kukorbankan sampai disini harus hancur tanpa sisa.
Melihat Mas Satya dalam pelukan wanita itu merupakan mimpi buruk yang tidak pernah terduga sebelumnya.
Sebutir air mataku kembali lolos berbarengan dengan panggilan untuk check in dari pengeras suara.
To : Mas Aji
Aku balik ke Surabaya dulu Mas, terimakasih atas bantuannya.
Setelah mengirim pesan kepada Mas Aji kemudian hal yang sama kulakukan pada tokoh utama pada hari ini yang menjadi alasanku harus kembali ke Surabaya lebih cepat.
Langkah selanjutnya me nonaktifkan ponselku sebelum beranjak menuju pesawat yang akan membawaku meninggalkan Yogyakarta.
Tck, harus Yogja banget mendapati kenyataan pahit untuk kedua kalinya.
To : Mas Satyaku ❤
Mari Berpisah.
With Love
-Ayaya-