6. TIDAK SUKA WARNA LIPSTIKMU

1921 Words
** Matteo telah menyelesaikan beberapa urusannya di markas besar Fercgrey, dan ia merasa tenang setelah semua urusan itu bisa diselesaikan hari ini. Setelah menyelesaikan urusannya, kini tujuannya adalah kediaman Roseti, tepat seperti yang ia janjikan pada Sofia. Ia akan menjemput gadis yang sebentar lagi menjadi istrinya. Dengan sedikit keraguan yang menekan daadanya, pria itu menekan pedal gas. Mobil meluncur perlahan di antara deretan bangunan yang seolah menonton setiap gerakannya. Sorot matanya tetap fokus ke depan, tak sedikit pun lengah. Sore yang beranjak menuju malam menghadirkan suasana sunyi yang menekan. Cahaya senja meredup, memberi rasa waspada yang tenang namun mencek4m, seakan ada sesuatu yang menanti di hadapannya. Mobil yang dikendarainya menembus gerbang kediaman Damien. Ia mengurangi kecepatan perlahan, hingga akhirnya berhenti di depan rumah yang selama ini hanya ia dengar lewat cerita keluarganya. Matteo menarik napas sejenak. Nama wanita itu kembali terlintas di benaknya nama yang begitu sering disebut, nama yang sebentar lagi akan terikat dengannya. Di tengah keheningan sore yang mulai turun, perasaan asing bercampur enggan mengalir pelan, mengiringi langkahnya menuju rumah itu. Pintu utama tampak terbuka setengah, seolah menjadi tanda bahwa kedatangannya memang telah dinanti. Pria itu melangkah maju, siap memasuki rumah, namun langkahnya seketika terhenti. Di teras, Gavin dan Damien telah muncul lebih dulu, menyambutnya dengan senyum hangat Matteo memperhatikan sikap ramah dua pria yang masih asing baginya. Senyuman hangat mereka menghadirkan kontras jelas dengan kegelisahan yang bersemayam di daadanya. Sambutan sederhana itu membuat pertemuan terasa tenang, hampir terlalu tenang bagi Matteo. Dalam benaknya, rasa penasaran membuncah saat matanya menangkap sosok pria muda di samping Damien. Ia menebak dengan pasti itulah Gavin, kakak laki-laki Mira. "Halo nak, lama tidak bertemu. Sekarang kau tampak sangat berbeda," sambut Damien, dengan tawa kecil yang hangat. "Senang bisa kembali bertemu denganmu, tuan Damien," ucap Matteo, suaranya terdengar kaku, hampir menahan rasa canggung. Panggilan itu terasa asing di telinganya, menandai jarak yang masih ada di antara mereka, sekaligus rasa hormat yang tak bisa diabaikan. Gavin, yang berdiri di antara dua pria itu, merasakan ada yang janggal, apalagi setelah mendengar ucapan ayahnya tadi. Lama tidak bertemu? Apakah mereka benar-benar pernah bertemu sebelumnya…? gumamnya dalam hati. Matteo menoleh ke pria di samping Damien. Napasnya sedikit tertahan, meski wajahnya berusaha tetap tenang. Ia melangkah perlahan, tangan sedikit menggenggam setir imajiner di udara, dan berkata, "Salam kenal, aku Matteo." Suara baritonnya tetap terdengar penuh percaya diri. Gavin menatapnya dengan mata yang taj4m namun hangat. Ia mengangguk perlahan, senyumnya tersungging tipis, menimbulkan rasa penasaran. "Aku Gavin, kakaknya Mira," jawabnya, nada suaranya ramah tapi tetap menjaga jarak yang sopan. Damien tersenyum, menyadari ketegangan itu, lalu membuka pintu dengan gerakan santai. "Ngomongnya, mari kita lanjutkan di dalam," serunya, suara hangatnya memenuhi teras. Matteo melangkah masuk, mata sesekali mencuri pandang ke Gavin, merasakan campuran rasa hormat, canggung, dan penasaran yang seakan membeku di udara. Derap langkah mereka dan suara pintu yang tertutup menandai awal dari pertemuan yang penuh arti ini. Langkah mereka serempak memasuki kediaman Damien. Suara sepatu mereka di lantai keramik terdengar lembut, berpadu dengan percakapan ringan yang membuat Damien tersenyum kecil, menikmati momen hangat yang tengah berlangsung. Matteo memperhatikan setiap gerak tubuh dan ekspresi Damien, merasakan aura ramah yang sulit ia abaikan. Pelayan di sisi ruangan dengan sigap menyajikan kopi hangat untuk ketiga pria itu. Aroma kopi menyebar perlahan, menambah kehangatan di ruang tamu, seolah menyelimuti mereka dengan kenyamanan. "Bukankah seharusnya kau pulang tiga hari lagi, nak?" tanya Damien. "Ada beberapa urusan penting yang harus kuselesaikan, jadi aku pulang lebih awal. Sisanya bisa kuatur dari kantor…" jawab Matteo, berusaha terlihat tenang, meski hatinya menahan perasaan karena tanggal pernikahannya dipercepat tanpa sepengetahuannya. "Kau pasti sangat sibuk setiap harinya," sahut Gavin. Matteo tersenyum mendengar komentar itu, memilih diam. Percakapan pun berlanjut tentang pekerjaan, sesekali diselingi tawa Damien, menambah kehangatan di ruang tamu. ... Sementara di dalam kamarnya, Mira masih bergulat dengan rasa gugup yang tak kunjung mereda di kamarnya. "Bibi… aku tidak bisa tenang sejak tadi," gumamnya. Merlin menatapnya dengan penuh perhatian. Dari raut wajah cantiknya, ia bisa menangkap ketegangan dan kegelisahan yang Mira rasakan. "Aku takut menghadapi mereka sendirian," Mira melanjutkan dengan suara bergetar. "Bukankah lebih baik jika Bibi ikut pergi bersamaku?" Merlin terdiam sejenak. lalu mendekat, meraih tangan Mira dengan lembut. "Nak, bukan karena Bibi tidak mau menemanimu," katanya halus. "Tapi ini adalah langkah awal yang harus kamu jalani sendiri sebagai calon istri. Mereka ingin mengenalmu apa adanya, tanpa perantara." Merlin tersenyum tipis, berusaha menenangkannya. "Kami semua ada di sini, mendukungmu. Tidak perlu takut, ya. Anggap saja ini hanya makan malam keluarga biasa." Mira mengangguk pelan. Menyembunyikan kegugupan yang belum sepenuhnya hilang. "Sekarang ayo kita turun. Jangan biarkan Nak Matteo menunggumu terlalu lama. Lagian ini pertemuan pertama kalian, kan?" Merlin terkekeh kecil, tangannya lembut menggenggam tangan Mira, menariknya perlahan ke arah tangga. Mira melangkah dengan hati-hati, wajahnya masih merengut setengah enggan, seolah setiap langkah terasa berat. Di setiap pijakan, rasa gugupnya semakin nyata. Pipinya memerah tipis tanpa ia sadari, menandai kecanggungan yang menguasai seluruh tubuhnya. Sementara itu, Merlin melempar senyum menenangkan ke arah Mira, seakan memberi isyarat bahwa semua akan baik-baik saja. Suasana di tangga terasa lambat, seperti dunia memberi mereka waktu untuk menyiapkan diri sebelum akhirnya bertemu Matteo, yang sejak tadi sudah menunggu dengan sabar di bawah. Ketiga pria itu menoleh ke arah langkah kaki yang terdengar dari tangga. Mira akhirnya bertemu dengan sosok calon suaminya, yang duduk tenang, nyaris tanpa ekspresi. Meski begitu, wajahnya tampak semakin tampan, dan ketenangannya membuat udara di sekelilingnya terasa berat. Setiap langkah Mira terasa menahan waktu sendiri. Daadnya berdegup cepat, seakan bisa meledak. Tatapan Matteo tak berpindah sedikit pun, dingin namun memikat seperti hipnotis yang membuatnya kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih. Mereka berhenti di ruang tamu, berdiri di hadapan ketiga pria itu. Hati Matteo berdegup sedikit lebih cepat saat matanya menangkap sosok Mira. "Mira, lihat siapa yang datang…" seru Damien, matanya menyorot Matteo dengan hangat, seolah memberi isyarat bahwa semuanya baik-baik saja. Mira menoleh, senyumnya perlahan menghiasi wajahnya, hangat namun masih sedikit gugup. Ia melangkah pelan, memberikan sambutan yang sopan tapi tulus kepada Matteo. Merlin ikut maju, menatap Matteo dengan senyum lembut dan menawan. "Halo nak, saya Merlin, bibinya Mira," ucapnya, nada suaranya hangat, seakan ingin membuat Matteo merasa diterima. "Mira, duduklah sebentar di samping ayah," seru Damien. Mira menurut, melangkah perlahan ke sofa dan duduk di samping ayahnya, sesekali mencuri pandang ke Matteo yang duduk di depannya. Sejak awal, Mira tidak terlalu terlibat dalam percakapan mereka ia lebih banyak menjadi pendengar. Namun, sesekali tawa kecilnya muncul saat mendengar hal lucu dari ayahnya. Suasana hangat itu membuat rasa gugupnya perlahan mereda. Mereka melangkah perlahan menuju teras, mengantarkan Mira hingga ke pintu keluar. Angin malam menyapu ringan, membawa udara sejuk yang kontras dengan ketegangan yang masih mengalir di daada Matteo. "Kalian harus segera pergi, nak. Jangan sampai hari yang baik terlewatkan," ujar Damien. Matteo mengangguk, matanya sebentar menatap arloji mewah di pergelangan tangannya. "Tuan Damien benar," ucapnya pelan, nada suaranya tenang tapi penuh konsentrasi. "Hari sudah semakin malam, dan makan malam akan segera dimulai." Sambil menatap langit senja yang mulai gelap, Matteo merasakan ketegangan dan ekspektasi bercampur Sebuah malam yang sederhana tapi penuh makna tengah menanti mereka. Damien menoleh kearah putrinya, yang masih berdiri disisinya. Seolah merasa berat untuk pergi. "Mira, ayo, Nak. Kalian berangkatlah, jangan membuat keluaraga Xander menunggu lama." kata Damien sambil menggenggam tangan Mira dengan lembut seolah ingin menyalurkan keberanian. Perlahan, Damien menuntun Mira hingga berdiri tepat di hadapan Matteo. Gerakannya sederhana, namun sarat makna seolah dalam diam ia menyerahkan kepercayaan dan tanggung jawab atas keselamatan putrinya pada pria itu. Kehangatan pun mengalir di antara mereka. Tatapan Mira bertemu sejenak dengan tatapan Matteo, membuat waktu seolah melambat. Udara di antara mereka terasa canggung, dipenuhi keheningan yang menggantung di udara. Meski wajah Mira tampak tenang, daadanya berdegup kencang, seirama dengan kegugupan yang ia pendam rapat. "Nak, ku serahkan keamanan Mira padamu." Senyum tulus terukir di wajahnya, menyertai kepercayaan yang ia titipkan pada pria itu. Matteo mengangguk pelan, sebuah isyarat singkat bahwa ia memahami dan menerima tanggung jawab itu. "Baik, Tuan Damien. Kami pergi," ucapnya tenang. Setelah berpamitan singkat, mereka pun melangkah pergi, meninggalkan halaman rumah dengan perasaan yang berbeda di hati masing-masing. Kini mereka duduk bersebelahan di dalam mobil. Di ruang sempit itu, hanya ada dua hati yang sebentar lagi akan disatukan dalam ikatan pernikahan. Suasana di dalam kabin terasa sunyi, canggung, dan sedikit menekan. Mira menautkan jemarinya di pangkuan, berusaha mengatur napas agar kegugupannya tak terlihat. Di sampingnya, Matteo fokus menatap jalan, kedua tangannya mantap di kemudi, wajahnya tenang namun dingin. Keheningan di dalam mobil mendadak pecah oleh nada dering ponsel Mira. Ia sedikit terkejut, jantungnya yang sejak tadi gelisah seakan ikut tersentak. Dengan gerakan gugup, Mira mengambil ponselnya dari tas genggam dan menoleh pada Matteo, memberi senyum kecil yang canggung. "Maaf mengganggu…" ucapnya lirih. "Tidak masalah," balas Matteo singkat, suaranya tenang seperti biasa. Mira segera melirik layar ponselnya untuk melihat siapa yang menelepon. Bibirnya tergigit pelan, menahan kesal saat nama Issabela muncul di sana. Tanpa berpikir panjang, ia menekan tombol merah, menolak panggilan itu. Matteo yang duduk di sampingnya menangkap perubahan kecil itu. Senyum canggung yang tadi sempat menghiasi wajah Mira kini menghilang, tergantikan oleh raut tegang yang berusaha ia sembunyikan. Pria itu tidak langsung bertanya. Ia hanya melirik sekilas, cukup untuk memastikan bahwa sesuatu barusan mengusik ketenangan gadis di sebelahnya. Namun seperti biasa, ia memilih diam. Tangannya tetap mantap memegang kemudi, pandangannya lurus ke depan. Hanya rahangnya yang sedikit mengeras tanda samar bahwa ia menyadari segalanya, meski tak berniat mencampuri. Sementara itu, Mira cepat-cepat membalas pesan sahabatnya. Issabela: Kenapa teleponku tidak kau angkat?? Mira: Aku masih di jalan. Tadi kan sudah kubilang, telepon saja nanti kalau aku sudah sampai. Nanti aku kabari sendiri. Issabela: Yah… maaf ya, sayang. Jangan-jangan aku ganggu momen berdua kalian nih? Jujur aja? Mira: Enak banget ngomong gitu… Padahal suasananya canggung banget. Kami bahkan nggak ngobrol sama sekali :( Issabela: Ohh serius?! Jadi dia cuek gitu aja? Aku tahu penyebabnya! Jangan-jangan dia nggak suka warna lipstikmu! .. Mira sampai sedikit ternganga membaca pesan terakhir itu. Dengan polosnya, ia malah memikirkan ucapan sahabatnya. Ia menunduk, menatap pantulan wajahnya di layar ponsel yang terletak di pah4nya. Ujung jarinya menyentuh bibirnya pelan, seakan memastikan apakah warna lipstiknya benar-benar terlihat aneh. Tidak ada yang salah dengan lipstikku. Warnanya terlihat natural, tidak berlebihan. Apa iya dia mendiamiku hanya karena warna lipstikku terlihat buruk? batinnya gelisah. Wajah Mira pun berubah cemberut. Ia melirik pria di sampingnya diam-diam, tetapi Matteo tetap fokus pada jalan panjang yang terbentang di depan. Tanpa sadar, Mira larut dalam pikirannya sendiri dan menatap pria di sampingnya lebih lama dari yang seharusnya. Tatapan itu akhirnya tertangkap oleh sepasang mata hitam milik Matteo. Namun alih-alih canggung, yang ia lihat justru wajah gadis itu tampak sendu. "Apa kau merasa tidak nyaman?" tanya Matteo pelan. Nadanya tidak terdengar lembut, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia memperhatikan keadaan gadis itu. Mata Mira langsung membulat saat pria itu tiba-tiba berbicara. "Ah… aku… bukan begitu. Maksudku, aku nyaman di sini," ucapnya gugup, kalimatnya berantakan tanpa ia sadari. Walau jawabannya terdengar menggemaskan, Matteo tidak menunjukkan senyum sedikit pun. Wajahnya tetap tenang dan datar, seolah tak terjadi apa-apa. "Hm, bagus kalau kau nyaman," ucapnya singkat, tanpa niat memperpanjang percakapan. Mira hanya mengangguk kecil. Ia segera memalingkan wajah ke arah jendela mobil, menatap langit yang perlahan menggelap, seolah menemukan alasan untuk menyibukkan diri dari suasana canggung di antara mereka. Tak ada percakapan yang tercipta. Hanya suara mesin mobil dan desir angin dari luar yang menemani perjalanan mereka. Keheningan itu terasa hangat sekaligus berjarak hangat karena mereka kini berbagi ruang yang sama, namun dingin karena tak satu pun dari mereka berusaha meruntuhkan tembok sunyi di antara keduanya. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD