bc

API CEMBURU DAN CINTA

book_age18+
17
FOLLOW
1K
READ
billionaire
family
HE
age gap
fated
friends to lovers
arranged marriage
mafia
heir/heiress
blue collar
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
brilliant
city
office/work place
secrets
affair
addiction
like
intro-logo
Blurb

Pernikahan itu bukan pilihan Mira, bukan pula keinginan Matteo. Sebagai pewaris keluarga Vittale, Matteo tak punya kuasa menolak perjodohan yang telah diatur kakeknya. Mira masuk ke dalam hidupnya sebagai istri yang sah, tetapi tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari dunianya. Matteo adalah pria yang dingin, tertutup, dan tak pandai mengucapkan perasaan. Namun di balik sikapnya, ia selalu menjaga Mira dalam diam bahkan melanggar aturan keluarganya demi kebahagiaan sang istri.

Hingga suatu hari, bahaya dari masa lalu Matteo datang dan menculik Mira. Kejadian itu mengubah segalanya. Mira kehilangan kebebasannya, sementara Matteo semakin tenggelam dalam caranya sendiri untuk melindungi tanpa pernah belajar mengungkapkan cinta.

Saat jarak di antara mereka semakin lebar, sebuah rahasia lama terungkap, dan seseorang dari masa lalu Mira kembali hadir, memicu kesalahpahaman yang nyaris memisahkan mereka. Untuk pertama kalinya, Mira merasakan sesuatu yang tak bisa ia kendalikan, yaitu takut kehilangan. Cinta yang tumbuh terlambat itu kini menuntutnya untuk berubah.

Tapi apakah Mira masih mau bertahan, ketika pernikahan mereka sejak awal tak pernah didasari pilihan?

chap-preview
Free preview
1. KEDIAMAN ROSETI
"Nak, nanti kalau bertemu keluarga calon suamimu, tolong jangan memasang raut wajah murung seperti ini, ya," ucap Merlin dengan lembut. Suaranya hangat, seolah ingin memastikan tak ada sedikit pun beban yang terasa di hati sang keponakan. "Kamu, terlihat lebih cantik kalau tersenyum. Jadi, saat bertemu mereka, tunjukkan juga senyuman manismu, hmm...?" Mira mengangguk kecil, dan tersenyum. Membalas "Iya, Bibi…" "Anak maniss.." Tangan Merlin terulur, mencubit pelan dagu wanita cantik di hadapannya sebuah cubitan gemas yang penuh kasih. Wajah Mira yang telah dipoles riasan tipis terlihat semakin lembut di bawah sentuhan itu. Ia menatap sosok di depannya, merasakan setiap perhatian dan cinta yang mengalir tanpa kata. Sejak kakak iparnya, Kayana, telah tiada, Merlin mulai mengambil peran sebagai ibu bagi Mira dan Gavin. berawal timbul rasa ragu untuk menerima tanggung jawab itu. Sebab saat itu usianya masih sangat muda dan ia pun merasa belum punya cukup pengalaman untuk bisa membantu Damien merawat, dan membesarkan kedua keponakannya yang masih kecil. Namun, seiring waktu, naluri keibuan itu mulai tumbuh dengan sendirinya. Kasih sayangnya mengalir tulus untuk Mira dan Gavin. Ia mulai terbiasa merawat mereka, dan ikatan di antara mereka pun kian erat dari hari ke hari. Tanpa pernah ia sadari, Merlin telah menggantikan sosok ibu bagi kedua keponakannya selama bertahun-tahun, ketika mereka masih begitu membutuhkan kehangatan dan pelukan seorang ibu. Dari arah lain, terlihat Isabela yang sejak tadi mengamati pemandangan indah itu. Hatinya tersentuh oleh interaksi hangat antara bibi dan keponakan. Ia pun melangkah mendekat, berdiri di sisi Mira, lalu meraih tangan sahabatnya dengan lembut. Seolah ikut merasakan hangatnya momen itu. "Mira, tenang saja…" ucapnya pelan dengan senyum lembut, jemarinya menggenggam tangan Mira untuk menguatkan. "Aku akan selalu ada di sisimu, bersamamu dan keluargamu." "Terima kasih banyak Bela... aku tahu kau akan selalu ada disisi ku" Mira menoleh, menatap Issabela sejenak. Genggaman itu terasa seperti jangkar, membuat dadanya yang semula sesak perlahan mengendur. Untuk sesaat, sentuhan itu berhasil menenangkan hatinya dari rasa gelisah, dan membuatnya merasa tidak sendirian. Sejak masa kuliah, Isabela menjadi satu-satunya sahabat Mira. Kecocokan mereka dalam berbagai hal membuat persahabatan itu tumbuh kuat dan tetap hangat hingga sekarang. "Nak, tinggal beberapa menit lagi keluarga Xander akan segera tiba. Ayo, kita turun," ajak Merlin lembut sambil menggenggam tangan Mira. Tarikan itu membuat Mira ikut berdiri, langkahnya sedikit ragu namun tetap menurut. Merlin menggenggam jemari Mira erat, seolah mencoba menenangkan gemuruh di dalam dirinya. Dingin yang menjalar dari sentuhan itu membuat Merlin dan Isabela paham betapa tegangnya Mira saat ini. Bersama-sama mereka melangkah menuruni tangga, sementara detak jantung Mira berpacu semakin cepat. "Mira, tanganmu dingin sekali... kau pasti sangat gugup kan?" Tanya Issabela pelan, seperti bisikan. "Hmm..." Mira hanya menganggukkan kepalanya pelan. "Kalau begitu, kau tarik napas dulu. Agar lebih tenang." Di setiap anak tangga yang ia pijak, Mira menarik napas dalam-dalam, mencoba menyiapkan diri untuk senyum yang harus ia tampilkan di hadapan keluarga Xander nantinya. Perjodohan yang disepakati ayahnya dengan keluarga Vittale telah menjelma menjadi beban berat di pundak gadis malang itu. Ia tak pernah membayangkan takdirnya akan berlabuh pada pernikahan tanpa cinta. Ia harus mengikat hidup dengan pria yang asing di hatinya seseorang yang bahkan belum sempat benar-benar ia kenal. Di benaknya, pertanyaan yang sama terus berulang mengapa takdir terasa begitu kejam padanya? Karier yang ia bangun dengan susah payah masih jauh dari kata sempurna. Mimpinya memiliki sebuah butik, dengan ruang kecil yang ia bayangkan penuh karya dan kebanggaan, masih sebatas angan yang belum terwujud. Namun kini, sebelum sempat menggenggam satu pun dari impiannya, langkahnya telah dipaksa berhenti. Ia dijodohkan, hidupnya diikat oleh rencana orang lain, dan diseret menuju pernikahan tanpa cinta. Pada akhirnya, ia hanya mampu menimbun dalam-dalam mimpi-mimpinya. mimpi yang bahkan belum sempat ia perjuangkan sepenuhnya. .. Beberapa mobil mewah berjajar rapi di depan kediaman keluarga Roseti, deru mesin yang semula bergemuruh perlahan mereda. Damien keluar lebih dulu sebagai kepala keluarga, diikuti Gavin dan Merlin wanita yang selama ini telah menjadi sosok ibu bagi Mira dan Gavin. Mereka bertiga berdiri di teras, siap menyambut kedatangan keluarga Vittale. Diteras utama kediamannya, muncul enam orang yang tampak masih asing bagi Gavin. Dari keenam orang itu... dua sosok seketika menarik perhatiannnya, matanya tertuju pada Xander pria penuh wibawa dan berdiri tegak. Lalu wanita paruh baya yang tampak anggun dengan rambut tergulung rapi disamping Xander. Senyum ramah terukir di wajah mereka, sikapnya pun penuh hormat saat menyambut keluarga Xander yang datang untuk membicarakan tanggal pernikahan adik perempuannya. Damien maju lebih dulu, dan memecah keheningan di teras. "Selamat datang di rumah kami," ucap Damien hangat, wibawanya tak luntur sedikit pun. "Terima kasih atas sambutannya, Damien," ujar Sofia dengan senyum hangat yang anggun. Xander, yang berdiri di sisi istrinya, ikut menambahkan, "Kami sangat menghargai sambutan hangat ini." "Tidak, ini sudah menjadi tugas kami sebagai tuan rumah," ucap Damien tulus. Ia kemudian merangkul Xander, pria yang sebentar lagi akan menjadi besannya. Xander membalas pelukan itu dengan senyum tipis, menepuk pelan punggung Damien. Mereka bahkan tampak sangat kompak dihadapan keluarganya. "perkenalkan, saya Merlin, adik Damien." ujar Merlin dengan lembut dan anggun. Keluarga Xander menyambutnya dengan anggukan sopan dan senyum hangat. "Salam kenal, semuanya saya Gavin, kakaknya Mira," ucap Gavin ramah. Sofia menatapnya lembut. "Jadi kau kakaknya Mira…? sopan dan tampan sekali kau, Nak." Gavin mengangguk hormat. "Terima kasih, Tante." Damien tak luput menangkap sorot mata Sofia yang menyimpan sesuatu. Tatapan wanita itu berkeliling dengan samar, seolah mencari sosok yang belum juga muncul. Nama Mira terlintas di benak Damien, membuatnya sadar siapa yang sebenarnya Sofia tunggu kehadirannya. "Mira sudah menunggu kalian di dalam," ucap Damien pelan, seolah memahami pertanyaan yang tersirat dari tatapan Sofia. Sofia tersenyum lega, jemarinya tanpa sadar merapikan ujung tas yang ia genggam. "Aku memang mencarinya sejak tadi." Xander terkekeh pelan sambil menoleh ke arah istrinya. "Tatapanmu sampai tak perlu kata-kata, ya." Damien ikut tersenyum. "Kalau begitu, ayo kita masuk," ajaknya hangat seraya merangkul bahu Xander dan menuntun mereka melangkah ke dalam. Pintu rumah pun terbuka lebar oleh seorang pelayan, mempersilakan mereka masuk. Dari dalam, cahaya lampu kristal menyambut mereka bersama suasana hangat rumah. Di ujung ruangan, Mira sudah berdiri menanti, tangannya saling menggenggam gugup, senyum yang ia usahakan tetap terjaga namun gemetar menahan perasaan yang bercampur antara cemas dan bahagia. Damien membawa keluarga Xander melangkah pelan ke ruang tamu sederhana kediamannya. Hatinya berdebar sedikit, tapi senyumnya tetap tenang. Di hadapannya, Mira sudah berdiri, menatap mereka dengan campuran harap dan rasa penasaran. Mira tampak berdiri tenang disana, memangamati setiap wajah yang masih asing baginya. Mata mereka bertemu sekilas membuat senyum tersungging di bibir Mira, ketegangan sejenak mencair. Keluarga Xander pun ikut merasakan hangatnya sambutan itu, langkah mereka terasa lebih ringan, seolah semua kelelahan perjalanan terhapus dalam tatapan Mira yang menenangkan. Sofia berdiri ditengah menatap gadis yang berdiri tenang dihadapannya, 'betul yang dikatakan papa... Mira memang seorang gadis... lembut' kata Sofia dalam hati. Secara diam-diam Sofia, sempat tertegun saat kembali menatap gadis yang kini telah tumbuh dewasa. Di dalam hatinya, rasa bangga mengalir begitu saja. Pilihan ayah mertuanya terasa tepat sebab setelah bertemu Mira, Sofia bisa melihat betapa sopan dan cantiknya gadis itu. Selain itu Senyumnya juga begitu anggun dan menenangkan. Gadis itu memancarkan pesona yang sulit diabaikan. "Mira, perkenalkan mereka berdua adalah orang tua Matteo. Kedua pria ini pamannya... lalu Gadis paling muda ini adik perempuannya, dan Bettry adalah kakak iparnya," ucap Damien, sambil memperkenalkan keluarga besar Xander satu per satu. Mira mengangguk sopan sambil tersenyum lembut. "Salam kenal, paman, tante, kakak, dan adiknya… Ma… Matteo. Nama saya Mira," ucapnya dengan nada ramah, halus, dan tenang. Setiap kata yang keluar dari mulutnya mencerminkan kepribadiannya seorang wanita muda yang dewasa, penuh tatakrama, dan selalu tahu menempatkan diri. Sosoknya tampak tenang dan elegan. Tak berlebihan, namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia tumbuh dengan pendidikan dan nilai-nilai yang kuat. Walau tanpa kasih sayang seorang ibu. Senyum hangat tersungging di wajah Sofia, menenangkan dan penuh keterbukaan, membuat Mira merasa sedikit lebih lega. "Jadi ini ibunya Matteo," gumamnya dalam hati, menatap wanita lembut itu yang sebentar lagi akan menjadi ibu mertuanya. Setelah gadis itu siap memperkenalkan dirinya, Sofia melakukan sesuatu yang telah lama ingin ia lakukan. Perlahan ia melangkah mendekati Mira, tangannya terbuka lebar. Tanpa ragu Mira menyambut pelukan itu. Lalu membalas senyum lembut Sofia dengan senyum hangat. "Kamu sangat cantik, nak" ucap Sofia halus. Membuat wajah putih Mira tampak memerah. Mira tersenyum malu-malu, dan membalas sanjungan Sofia. "Terima kasih, Tante." Lirihnya lembut. Sofia yang bersikap sangat baik padanya, membuat Mira merasa diterima dan disayang oleh keluarga Xander, yang baru ia temui. Saat pertama kali melihat Sofia, Mira merasa tertambat. Wanita itu tampak lebih dewasa dan anggun dibanding dua wanita lainnya. Senyumnya sederhana, hangat, namun elegan seolah memancarkan wibawa seorang istri bangsawan. Di ruang tamu sederhana kediaman Roseti, mereka duduk dan bercakap-cakap ringan. Sofa kayu yang polos, karpet tipis berwarna hangat, dan meja kecil dengan vas bunga sederhana menambah nuansa bersahaja di ruangan itu. Sejak awal, suasana sudah dipenuhi rasa tenang dan keakraban, seolah rumah ini sendiri menyambut mereka. Mira merasa nyaman, sementara keluarga Xander terlihat santai, saling bertukar senyum dan tatapan ramah. Percakapan kecil itu mengalir alami, penuh keramahan, tanpa kesan tegang, menegaskan hangatnya pertemuan pertama mereka. Rumah Damien, meski cukup besar dengan dua lantai yang tertata rapi, tetap memancarkan kesederhanaan. Tidak ada kemewahan yang berlebihan seperti di kediaman keluarga Vittale, yang suatu hari nanti akan menjadi besannya. Di balik kesederhanaan itu, keluarga Damien berusaha menyambut para tamu dengan sebaik mungkin. Senyum ramah dan sikap hangat menjadi pengganti segala keterbatasan, menciptakan suasana yang tetap nyaman meski perbedaan status dan kemewahan tak bisa disangkal. ***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
2.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.1K
bc

Kali kedua

read
221.5K
bc

TERNODA

read
201.4K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook