2. ALBUM FOTO LAMA

1919 Words
** Sejak awal, Damien menyadari perbedaan kelas yang begitu mencolok antara keluarganya dan keluarga Xander, membuat posisi mereka terasa jauh tak seimbang. Meski begitu, atas permintaan dan bujukan keluarga Xander, Damien sebagai kepala keluarga tak mampu menolak tawaran itu. Ia berada di persimpangan yang berat, antara suara hatinya sendiri dan rasa tanggung jawab yang tak terucap. Terlebih lagi, Thomas pernah memegang peran penting dalam hidupnya. Belasan tahun lalu, ketika Damien nyaris kehilangan harapan, Thomas datang membantu biaya pengobatan mendiang istrinya yang berjuang melawan kanker. Baginya Bantuan itu bukan sekadar materi melainkan uluran tangan yang menyelamatkan keluarganya dari jurang keputusasaan. Ia merelakan perasaan Mira, dan sadar bahwa itu adalah harga yang harus dibayar untuk membalas kebaikan yang selama ini membebani hatinya. Setiap senyum dan tawa yang mungkin hilang dari putrinya terasa seperti duri di d**a, namun sebagai seorang ayah, ia tak punya pilihan lain. Ia berharap dengan segenap hati bahwa pengorbanan ini akan membawa kebaikan bagi Mira, meski ia sadar, rasa bersalah itu takkan pernah benar-benar pergi. Di sisi lain, Issabela justru sibuk mengedarkan pandangan, menebak-nebak pria mana di antara mereka yang nantinya akan menikah dengan sahabatnya. Alisnya berkerut, lalu matanya menyipit penuh selidik. Tiba-tiba Ia mendekat, mencondongkan tubuh, lalu berbisik tepat di indra pendengaran Mira. "Mira… apa kau sudah pernah lihat bagaimana wajah calon suamimu? Apakah calon suamimu berada diantara pria itu...?" sorot mata Issabela jelas mengandung rasa penasaran yang begitu lucu. Mira hanya meliriknya sekilas, menahan senyum tipis antara gugup dan geli menghadapi tingkah sahabatnya sendiri. "Belum, Aku belum pernah melihatnya," ujar Mira, dengan suara yang sangat pelan, nyaris seperti bisikan. Issabela menggeleng pelan, masih tak habis pikir dengan sifat Mira yang luar biasa cuek itu. "Astaga… pantes saja kamu masih single sampai sekarang," gumamnya ketus. "Dari dulu kamu memang paling cuek kalau soal pria. Padahal nggak ada salahnya cari tahu dulu wajah calon suamimu… siapa tahu, lihat fotonya saja sudah bisa bikin benih cinta tumbuh." Ucapan Issabela barusan terdengar lebih seperti sindiran yang membuatnya merasa sangat kesal. "Bela…" Mira hampir saja bersuara lebih keras, tapi cepat-cepat ia menurunkan nadanya. "Tetap saja nggak ada yang berubah. Mau dia tampan atau nggak, aku tetap nggak peduli." Issabela langsung manyun. "Ih, kamu ini… gimana sih." Biasanya, gadis mana pun pasti diliputi rasa penasaran terhadap pria yang kelak akan menjadi suaminya setidaknya ingin tahu wajahnya, atau seperti apa sosoknya. Namun Mira berbeda. Di wajahnya tak tampak sedikit pun rasa ingin tahu. Bukan karena tak peduli, melainkan karena ia sudah terlalu pasrah. Bagi gadis itu, semuanya telah ditentukan, dan rasa penasaran pun terasa tak lagi berarti. "Yasmin, tolong siapkan minuman untuk para tamu, ya," pinta Merlin lembut. Pelayan itu segera mengangguk lalu melangkah menuju dapur. Tak lama kemudian, pelayan itu kembali bersama beberapa pelayan lainnya, masing-masing membawa nampan berisi cangkir-cangkir teh hangat. Dengan gerakan rapi dan sopan Mereka menghidangkannya di atas meja, sehingga menambah suasana terasa lebih hangat dan bersahaja. Sejak tadi, Damien tak kunjung melihat sosok calon menantunya disana. Pandangannya beberapa kali menyapu ruangan, mencari wajah yang ia tunggu, namun tetap tak menemukannya. Perasaan ganjil pun perlahan mengganjal di dadanya, hingga akhirnya ia tak bisa lagi menahannya. "Kalau boleh tahu, Matteo... ke mana dia?" tanya Damien akhirnya. Nadanya terdengar tenang, meski jelas menyimpan rasa penasaran. "Apa dia tidak ikut datang?" Sekejap, suasana berubah. Senyum-senyum yang semula terukir di wajah para tamu seakan membeku, digantikan raut kaku yang sulit disembunyikan. Pertanyaan sederhana itu mendadak membawa ketegangan yang tak terduga. "Damien, Aku sungguh minta maaf... Aku tahu hal ini pasti cukup mengganggumu. Sejak tadi, Tapi saat ini Matteo masih berada di Hong Kong. Ada beberapa urusan pekerjaan yang membuatnya belum bisa pulang dan datang bersama kami." Xander berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada menenangkan, "Damien, tolong jangan berkecil hati. Kami sama sekali tidak bermaksud menyepelekan pertemuan baik ini." Kerutan di wajah Xander tampak jelas, tak luput dari perhatian Damien dan anggota keluarga lainnya yang juga penasaran dengan keberadaan Matteo yang tidak ada disana. Penjelasan itu memang sulit diterima, terutama mengingat pentingnya pertemuan hari ini. Namun Damien pun tak bisa meluapkan kekesalannya begitu saja. Ia paham betul, alasan ketidakhadiran Matteo bukan perkara sepele. Sebagai pemimpin perusahaan, tanggung jawab Matteo memang berada di luar kendali Xander sepenuhnya. Memaksanya pulang di tengah urusan besar jelas bukan hal yang mudah. Meski ada rasa kecewa yang mengendap, Damien memilih mengangguk pelan, menyimpan perasaannya sendiri demi menjaga suasana tetap baik. "Tidak masalah, Xander. Aku bisa mengerti tanggung jawab yang sedang dipikulnya saat ini," ucap Damien dengan nada tenang. Senyum lebar pun terukir di wajahnya, berusaha menepis kecanggungan yang sempat muncul. Meski ada sedikit kekecewaan yang tersimpan rapi di hatinya, Damien memilih menunjukkan pengertian demi menjaga suasana tetap hangat dan agar pertemuan itu berjalan sebagaimana mestinya. "Maaf... untuk kekecewaan yang telah kami perbuat, Damien." Sahut Sofia lirih, ia pun tak luput dari rasa bersalah atas kekeliruan yang tidak mereka niatkan. "Tidak, nona... Saya mengerti Matteo sedang sibuk." Jawab Damien penuh perhatian. "Lalu bagaimana denganmu, Nak? Apa kamu tidak merasa kecewa sedikit pun pada kami… atau pada putra kami yang seharusnya juga berada di sini untuk ikut membicarakan tanggal pernikahan kalian...?" tanya Sofia lembut, namun tatapannya begitu serius. Sofia yang tiba-tiba melontarkan Pertanyaan padanya membuat kedua bola mata Mira membulat seketika. Ia tersentak, jelas tak menyangka akan disudutkan dengan pertanyaan seperti itu. Beberapa detik ia terdiam, berusaha merangkai kata di tengah rasa canggung yang tiba-tiba menyeruak. "Aku… aku tidak apa-apa, Tante," jawab Mira akhirnya. Suaranya terdengar pelan, disertai senyum tipis yang dipaksakan, senyuman itu lebih sebagai bentuk sopan santun daripada perasaan yang sebenarnya. "Baiklah, Nak. Aku senang kalau kau tidak merasa keberatan," ujar Sofia dengan nada lebih lega. Wajahnya kini tampak jauh lebih tenang setelah mendengar jawaban dari calon menantunya itu. "Kalau begitu," sambung Xander dengan mata berbinar dan nada penuh semangat, "sekarang saatnya kita membicarakan tanggal yang baik untuk pernikahan Matteo dan Mira." "Kamu benar, Xander. sekarang memang waktu yang tepat untuk menentukan tanggal yang baik," sahut Damien, Keduanya justru terlihat lebih bahagia dibandingkan yang lainnya. Di tengah keramaian itu, Mira justru lebih banyak terdiam. Terkadang Ia memaksakan senyum tipis agar terlihat ikut bahagia seperti yang lain, meski jauh di dalam hatinya, pernikahan ini adalah sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia harapkan. "Kakek Matteo menyampaikan pesan agar pernikahan mereka dilangsungkan bulan depan." ucap seseorang di sana. Senyum di wajah Mira seketika membeku, lalu perlahan memudar hingga tak bersisa. Dadanya terasa sesak. Ia tak pernah menyangka semuanya akan diputuskan secepat ini bahkan tentang hidupnya sendiri tak ada ruang baginya untuk berbicara, apalagi memberikan persetujuan. Seolah pernikahan itu bukan tentang dirinya, melainkan sekadar keputusan yang harus ia terima dalam diam. Issabela memang hanya terdiam di sana, tetapi hatinya menangkap jelas tekanan dan kesedihan yang menyelimuti sahabatnya. Perlahan ia menggenggam jemari Mira, seolah kehangatan dari sentuhan itu mampu meredakan sesak yang memenuhi d**a. Mira membalas genggaman itu semakin erat, nyaris seperti menyalurkan amarah dan luka yang tak sanggup ia ucapkan lewat kata-kata. Semangat dan senyum di wajah Damien perlahan memudar. Ia tak pernah menyangka antusiasme calon besannya akan sebesar ini hingga mereka berniat mempercepat pernikahan itu. Kedua indra penglihatannya sontak beralih ke arah putrinya, Mira. yang saat ini menundukkan kepala, gadis itu hanya diam, menatap lantai sementara suara tawa memenuhi ruangan. Damien menyadari bahwa ia tak memiliki sedikit pun kuasa untuk mengubah rencana dari pihak besannya. Kesadaran itu menghantamnya keras, membuatnya merasa semakin tak berdaya sebagai seorang ayah. Rasa bersalah pun kembali menggerogoti hatinya, karena justru anak perempuannya sendirilah yang harus menanggung semua keputusan ini dalam diam. "Bagaimana menurutmu, Damien...?" Damien tak menjawab. Ia membeku dalam diam, seolah kata-kata tak lagi berpihak padanya. "Apa kamu merasa kurang cocok dengan tanggal yang kami pilih?" Xander bertanya lagi, hanya untuk memastikan pendapat Damien. "Ti...tidak. Aku tentu setuju dengan apa yang sudah kalian persiapkan," jawab Damien. Senyum tipis terpaksa ia paksakan terukir di wajahnya, meski saat ini di hadapan keluarga besannya, hatinya sama sekali tidak ikut tersenyum. "Aku senang jika kita sudah sepakat soal tanggal pernikahannya. Dan untuk urusan biaya, jangan khawatir," ujar Xander dengan nada mantap. "Serahkan semuanya pada kami. Seluruh kebutuhan pernikahan akan menjadi tanggung jawab kami." Sahut Sofia. Tak sedikit pun terlihat beban di wajah Xander maupun keluarganya. Kekayaan yang mereka miliki memang tak perlu diragukan lagi. Mereka bahkan sanggup menggelar pesta semewah tujuh hari tujuh malam. Namun, Matthew menolak gagasan itu tanpa ragu. Ia merasa pernikahan sederhana sudah lebih dari cukup. cukup sehari saja, tanpa hingar-bingar yang menurutnya berlebihan. Pihak keluarga Damien tak memiliki banyak pilihan selain menerima dan menyetujui setiap kesepakatan yang diajukan keluarga Xander. Bukan karena mereka tak sanggup membiayai pernikahan putri bungsunya, melainkan karena kemegahan yang diinginkan keluarga Vittale berada jauh di luar kemampuan Damien. Bahkan jika seluruh harta yang ia miliki dikerahkan, jumlah itu tetap tak akan cukup untuk menutup biaya sepenuhnya. Kesadaran pahit itu kembali menekan dadanya. Sebagai seorang ayah, ia hanya bisa menelan rasa perih dan memilih diam, demi menjaga kehormatan keluarga dan masa depan anak perempuannya meski keputusan itu harus ia bayar dengan rasa bersalah yang semakin dalam. Hari yang dianggap baik itu akhirnya berlalu. Para tamu satu per satu berpamitan, hingga yang tersisa di kediaman Damien hanyalah keluarga kecilnya sendiri. Sejak kepergian keluarga besan nya, rasa cemas perlahan menyelimuti rumah itu, membuat suasana dikediaman Roreti terasa berat dan tidak tenang. Kesedihan yang jelas terpancar di wajah Mira membuat semua orang khawatir akan keadaannya. Gadis itu tak mengucapkan sepatah kata pun, yang terdengar hanyalah isak tangisnya yang tertahan. Pemandangan itu kian menyesakkan d**a Damien, menghadirkan kekecewaan yang bercampur dengan rasa bersalah karena sebagai ayah, ia merasa telah gagal melindungi perasaan anak perempuannya sendiri. Gadis itu berlari tergesa menaiki tangga dan mengurung diri di kamarnya. "Mira! Dengarkan ayah, Nak…" panggil Damien, namun suaranya tak mampu menghentikan langkah putrinya. Keheningan Mira justru menghantamnya lebih keras. Damien merasa bersalah dan kali ini, rasa itu terasa begitu memukul dan melumpuhkan hatinya. "Sudah, Kak. Untuk saat ini, biarkan Mira menenangkan pikirannya sendiri dulu." ujar Merlin, mencoba menenangkan Damien yang tampak begitu cemas memikirkan keadaan putrinya. "Itu benar, Paman. Apa yang Bibi Merlin katakan ada benarnya..." ujar Issabela dengan lembut. "Lebih baik kita beri Mira waktu untuk menenangkan pikirannya dulu. Perubahan sebesar ini tentu tidak mudah baginya, tapi aku yakin Mira akan baik-baik saja. Dia gadis yang kuat dan baik." Ucapan Issabela terasa masuk akal. Untuk saat ini, memberi Mira jeda adalah pilihan terbaik setelah hatinya lebih tenang, barulah mereka bisa mengajaknya berbicara dan mendengar pendapatnya tentang pernikahan ini. Di dalam kamarnya, Mira terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Tangisnya pecah tanpa mampu ia bendung, seiring semangat hidupnya perlahan runtuh. Tangannya mengusap sebuah album foto lama potret keluarga kecilnya yang tampak begitu sempurna ayah, ibu, kakak laki-laki, dan dirinya. Foto itu menyimpan kehangatan yang kini hanya tinggal kenangan. Saat Mira berusia tujuh tahun, kebahagiaan itu direnggut paksa. Sang ibu pergi, kalah oleh kanker yang lama menggerogoti tubuhnya, meninggalkan kekosongan yang tak pernah benar-benar terisi hingga kini. "Ibu… katakan padaku apa yang harus kulakukan," isaknya lirih. "Haruskah aku lari dari kenyataan pahit ini, atau menerimanya dengan hati yang dipaksa ikhlas? Apakah aku akan dianggap egois karena mengecewakan Ayah? Atau aku harus menerima menjalani hidup bersama pria yang tak kucintai… seumur hidupku?" Tangisannya kian pecah, namun perlahan rasa sesak di dadanya mulai mereda, seakan air mata itu menjadi satu-satunya jalan untuk bernapas kembali. Air matanya terus mengalir hingga matanya terasa perih dan tubuhnya melemah. Ia memeluk album foto itu erat, seolah mencari sisa kehangatan yang pernah ia miliki. Isakannya perlahan mereda, digantikan napas yang kian teratur. Dalam kelelahan dan doa yang tak terucap, kelopak matanya mulai menutup. Mira akhirnya terlelap, tenggelam dalam tidur yang sementara bisa membawa semua kegundahannya pergi menjauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD