Keesokan harinya…
Jarum jam sudah merangkak menuju pukul sembilan pagi.
Namun Mira tak kunjung turun dari kamarnya. Hal itu bukan kebiasaannya. Ia biasanya bangun lebih awal dan terkadang membantu Merlin menyelesaikan pekerjaan dapur.
Sejak pagi tadi, Damien telah menyiapkan diri untuk berbicara baik-baik dengan putri kesayangannya. Namun, pintu kamar Mira masih tertutup rapat, sama seperti kemarin.
Damien dan Merlin tidak melihat tanda-tanda gadis itu akan keluar. Ia bahkan tidak turun untuk makan malam maupun sarapan pagi. Keadaan itu semakin menumbuhkan rasa khawatir di hati semua orang.
Damien melangkah pelan menaiki tangga menuju kamar Mira. Melihat hal itu, Merlin segera menyusul dengan langkah tergesa, mengikuti sang kakak yang telah lebih dulu berdiri di depan pintu kamar keponakannya.
Tangan Damien terangkat, nyaris mengetuk pintu, namun tiba-tiba terhenti. Ada rasa ragu yang menahan gerakannya, seakan hatinya belum siap menghadapi apa pun yang mungkin ia temui di balik pintu itu.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh ke samping. Pandangannya bertemu dengan Merlin yang berdiri di sisinya wajah wanita itu juga dipenuhi kecemasan yang sama.
"Kakak… biar aku saja yang melakukannya," ucap Merlin, suaranya terdengar seperti bujukan agar Damien mengizinkannya memanggil gadis yang berada di dalam kamar itu.
Damien terdiam sejenak. Tangannya yang semula terangkat, siap mengetuk pintu, perlahan diturunkan. Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya mengangguk kecil.
"Baiklah,"
jawabnya singkat, memberi kesempatan pada Merlin untuk melakukannya.
"Tok…! tok…!! tok…! Mira, apa kamu sudah bangun, Nak...? Ayo turun dulu dan kita sarapan bersama... Sejak kemarin kamu belum makan apa pun nak. bibi mohon, meski hanya sedikit, keluarlah dulu... dan isilah perutmu sedikit."
Merlin terus mengetuk pintu sambil membujuk dengan suara lembut yang tak mampu sedikit pun menyembunyikan kekhawatirannya.
Namun, tak satu pun jawaban terdengar dari balik pintu. Hening menyelimuti lorong itu, seolah kamar tersebut benar-benar kosong.
Kebisuan yang berkepanjangan justru membuat d**a Damien dan Merlin semakin sesak. Rasa cemas yang sempat mereka tekan sejak kemarin kini kembali menyeruak, bahkan jauh lebih kuat dari sebelumnya.
"Bagaimana ini ka...?" Ujar Merlin. Suaranya juga terdengar gemetar. "Ohh god!" Kedua tangannya reflek menutup mulut. Suaranya mengeras. Pikirannya semakin menuju kearah yang tidak baik.
Astaga Merlin... Belum tahu apa yang terjadi didalam sana tapi pikirannya sudah aneh-aneh dan sangat khawatir. Begitulah sikapnya, ia selalu khawatir pada apa yang belum benar-benar terjadi.
Teriakan Merlin sontak membuat Gavin terkejut dan terbangun dari alam mimpi. Ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk kembali tidur. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah keluar kamar, mencari tahu sumber kegaduhan yang terdengar dari depan kamarnya itu.
"Ada yang tidak beres. Lebih baik kita dobrak saja pintunya, aku juga takut sesuatu telah terjadi pada putriku…" ucap Damien dengan suara bergetar.
"Kakak benar, mungkin saja Mira" Merlin tak sanggup melanjutkan ucapannya.
Kekalutan jelas terpancar di wajah keduanya. Kekhawatiran yang sama membuat Damien dan Merlin akhirnya sependapat pintu itu harus didobrak, apa pun risikonya.
"Ada keributan apa di sini...? Kenapa Ayah dan Bibi berdiri di depan kamar Mira,? Apa terjadi sesuatu padanya...?" Tanya Gavin dengan nada heran.
Damien terdiam sebentar lalu menghela napas panjang sebelum menjawab, berusaha menenangkan diri lebih dulu. "Ayah juga tidak tahu pasti, Nak. Sejak tadi kami mengetuk pintu kamar adikmu, memanggil, bahkan membujuknya, tapi tidak ada satu pun jawaban dari dalam. Ayah khawatir terjadi sesuatu pada adikmu."
Rasa kesal yang semula menguasai hati Gavin perlahan memudar, tergantikan oleh kecemasan terhadap adik perempuannya. Mendengar penjelasan itu, pikirannya juga langsung dipenuhi berbagai kemungkinan buruk tentang keadaan satu-satunya adik perempuan yang ia miliki.
"Kalau begitu, ayo kita buka paksa pintu ini," ujar Gavin mantap. Mereka memang tak memiliki pilihan lain. Damien dan Gavin saling berpandangan sejenak, seolah menguatkan satu sama lain.
"Satu… dua… tiga!"
Mereka mendorong pintu itu dengan sekuat tenaga. Pada dorongan pertama, pintu masih bergeming. Keduanya mundur selangkah, menarik napas, lalu mencoba lagi.
Usaha demi usaha dilakukan dengan sabar meski kecemasan terus menggerogoti hati.
Hingga pada dorongan kelima, terdengar bunyi keras dan pintu itu akhirnya terbuka. Damien dan Gavin terdiam sesaat sebelum melangkah masuk, bersiap menghadapi apa pun yang ada di dalam.
Pintu telah terbuka lebar. Ketiganya segera masuk ke dalam kamar dengan langkah tergesa, pandangan mereka menyapu setiap sudut ruangan. Jantung berdegup kencang saat nama Mira dipanggil berulang kali, namun kamar itu tetap sunyi.
Mereka mencari ke seluruh bagian kamar, tetapi keberadaan Mira tak kunjung ditemukan. Hingga akhirnya Gavin tersadar pada satu hal. Pandangannya tertuju pada pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.
"Pintu kamar mandinya tertutup, Bi..." ujar Gavin dengan nada lebih tenang, meski kegelisahan masih terasa. "Mungkin saja Mira sedang mandi."
"Huhh… syukurlah..." ucap Merlin lirih. Dadanya tampak naik turun, sisa kepanikan yang belum sepenuhnya reda. "Bibi sudah sangat khawatir dengan keadaan adikmu."
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. terlihat Mira keluar dengan balutan handuk kimono berwarna pink yang menutupi tubuhnya. Langkahnya terhenti seketika saat mendapati tiga pasang mata menatapnya dari dalam kamar. Raut terkejut jelas tergambar di wajahnya.
Mira yakin ia telah mengunci pintu kamarnya dengan rapat sejak kemarin dan memastikannya tetap terkunci saat masuk ke kamar mandi tadi. Karena itu, kehadiran ayah, bibi, dan kakak laki-lakinya di dalam kamar membuatnya terdiam, tak percaya. Terlebih ketika ia menyadari pintu itu telah dibuka paksa oleh mereka.
"Bagaimana... kalian bisa masuk? Padahal aku sudah menguncinya sejak kemarin."ucap Mira tak percaya. Ia benar-benar tak menyangka ayah dan kakaknya tega melakukan hal itu.
Gavin yang semula duduk di tepi tempat tidur segera berdiri dan melangkah mendekatinya. Ia berhenti tepat di depan Mira, tatapannya tajam namun sarat kegelisahan masih terlihat.
"Kami mendobrak pintunya..." ucapnya, berusaha menahan nada suaranya.
"Apa kau tahu betapa khawatirnya aku? Ayah dan Bibi juga! Mengurung diri seperti ini… kau pikir itu akan membuat semuanya jadi lebih baik?" Kemarahan yang tadi membakar d**a Gavin perlahan runtuh, berganti menjadi kekhawatiran yang ia tahan sekuat mungkin agar tak ikut pecah bersama emosinya.
"Gavin, tenangkan dirimu, Nak…" ujar Merlin lembut namun tegas, mencoba meredakan suasana di sana. "Mira baik-baik saja sekarang. Tak perlu melampiaskan kemarahanmu seperti itu pada adikmu."
Gavin terdiam, napasnya masih terasa berat. Sementara itu, Damien hanya berdiri membisu. Sejak tadi pandangannya tertuju lekat pada wajah putrinya, seolah ingin memastikan dengan matanya sendiri bahwa Mira benar-benar baik-baik saja. Keheningan perlahan menyelimuti ruangan, membuat suasana terasa semakin tenang.
"Bibi benar sekali... setidaknya pelankan suaramu saat berada di dalam kamarku. Kakak sudah masuk tanpa izin, lalu marah-marah lagi," ujar Mira dengan tenang, meski nadanya jelas menyimpan kekecewaan.
"Tolong bicaralah dengan suara pelan. Bahkan jika Kakak berbisik pun, aku masih bisa mendengarnya. Jadi jangan berpikir aku ini sudah tuli."
Seluruh anggota keluarga itu tentu tahu bahwa Mira tidak pernah menyukai suara keras ataupun bentakan. Karena itulah, ia memilih memperingatkan Gavin dengan caranya sendiri meminta kelembutan agar suasana tidak semakin memanas.
"Hmm… baik, maafkan aku." ucap Gavin lebih tenang. "Aku terbawa emosi sampai harus berbicara dengan nada keras seperti tadi."
Ia menghela napas sejenak sebelum melanjutkan, bersama tatapan yang kini lebih lembut.
"Siapa suruh mengurung diri di kamar," ucap Gavin ketus. "Sejak kemarin kami sangat mengkhawatirkanmu. Pagi ini kamu juga tidak turun untuk sarapan, itu membuat rasa cemas kami semakin besar. Sampai akhirnya kami… terpaksa melakukan hal bodoh dengan mendobrak pintu kamarmu." Penjelasan itu keluar dengan jujur, menyingkap kekhawatiran yang selama ini dipendam Gavin terhadap Mira.
"Aku minta maaf… tapi sekarang aku sudah baik-baik saja. Kalian tidak perlu terlalu khawatir," ucapnya pelan, rasa bersalah menyusup di dadanya. "Jangan bilang… kalian tadi sempat berpikir aku melakukan hal bodoh di dalam kamarku…?" Gadis itu mengangkat sebelah alis, dan seketika raut wajahnya membuat ketiganya terpojok, kehilangan kata untuk menjawab.
"Tentu saja Ayah berpikir seperti itu," ujar Damien dengan suara rendah. "Bibimu sudah mengetuk pintu dan memanggil namamu berulang kali, tapi tidak ada jawaban dari dalam. Wajar jika kami merasa cemas, Nak."
Damien melangkah mendekat hingga berdiri tepat di hadapan putrinya. Dari sorot mata mereka bertiga, Mira dapat melihat jelas kekhawatiran yang tak mampu mereka sembunyikan. Perasaan itu perlahan menekan dadanya, menghadirkan penyesalan yang dalam.
Mira menunduk pelan. Kekhawatiran berlebihan bisa saja memicu kembali penyakit jantung ayahnya, dan kesadaran itu membuatnya merasa begitu ceroboh dan egois. Ia terlalu larut dalam pikirannya sendiri sampai melupakan kondisi orang yang paling ia sayangi.
"Maafkan aku, Ayah… aku yang salah. Aku memang egois," ucap Mira lirih. Air mata kembali membasahi pipinya, membuat tubuhnya terasa lemah dan tak berdaya.
"Sudah… Nak, sudah, kamu tidak salah." balas Damien lembut. "Ayah baik-baik saja. Sekarang lebih baik kita turun dan sarapan bersama, seperti biasa."
Damien merangkul putrinya erat, menepuk punggung Mira dengan penuh kasih. Pelukan itu perlahan menenangkan isaknya, menghadirkan kembali kehangatan yang sempat hilang di antara kecemasan mereka.
Di sisi tempat tidur, Gavin berdiri tenang, memperhatikan ayah dan adik perempuannya. Merlin di sampingnya berusaha menahan air mata yang hampir jatuh.
Kelegaan perlahan menggantikan kecemasan yang sejak tadi menekan d**a. Suasana keluarga itu pun kembali tenang, dan keadaan berangsur membaik seperti semula.