Di depan Mansion Vittale
Deru mesin mobil yang dikendarai Matteo perlahan mereda saat berhenti di teras luas kediaman keluarga Vittale. Seorang bodyguard berpakaian rapi sigap membukakan pintu mobil hitam Rolls-Royce milik Matteo.
Dengan langkah gagah, pria itu memasuki pintu utama yang tinggi dan kokoh, dihiasi ukiran-ukiran artistik yang menambah kesan mewah pada mansionnya. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, namun aura maskulin yang kuat terasa jelas oleh para bodyguard yang berjaga di sana.
Langkahnya cepat, wajahnya datar dan dingin seperti biasa. Ia berhenti tepat di ruang utama Mansion Vittale. Di tengah ruang tamu yang luas, namanya dipanggil dengan emosi yang nyaris meluap.
"Thomas!" Suara baritonnya menggema keras di seluruh mansion.
"Thomas!!" lebih lantang dari sebelumnya. Rahangnya menegang saat pria tua itu tak juga keluar dari kamarnya.
"Thomas Lorenzo Vittale!" Untuk ketiga kalinya Matteo memanggil dengan suara lantang, menyebut nama lengkap sang kakek hingga gema suaranya memenuhi ruangan.
Sosok Thomas akhirnya keluar dari kamarnya yang berada di sudut lantai satu. Pria tua itu tampak sedikit bingung dengan apa yang sedang terjadi, tetapi ia tahu bahwa suara bariton itu adalah khas milik Matteo, sang pemimpin Fercgray.
"Cucuku sudah datang…!!" seru pria tua itu sambil melangkah menyusuri lorong kamar. Meski langkahnya mulai melambat, wibawanya sama sekali tak berkurang. Dialah sosok yang sejak tadi dipanggil berulang kali.
Pria tua itu tertawa kecil ketika langkahnya berhenti tepat di depan Matteo, berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa. Matteo membalas dengan tatapan menyipit, muak melihat sandiwara yang terpampang jelas di depannya.
"Bukankah kau bilang urusanmu selesai tiga hari lagi? Jadi… kenapa kau sudah kembali secepat ini, nak?" desaknya, menyinggung janji waktu yang tak sesuai dengan kenyataan.
Rahang Matteo mengeras, kedua tangannya ikut terkepal kuat. Rasa muaknya terhadap pria lansia itu kini tak lagi terbendung, yang membuatnya semakin geram, pria tua tersebut tampak sangat polos atas semua yang telah ia perbuat. Justru itu lah yang menjadi alasan yang memaksa Matteo pulang dan meninggalkan misi penting yang belum tuntas di Hong Kong.
"Diam!" Ia melangkah cepat menghampiri sang kakek dan mencengkeram kasar kerah kemeja Thomas.
"Beraninya kau…"desisnya dengan suara berat, napas memburu. "Sudah berapa kali kukatakan? Aku belum mau menikah… dan tidak akan menikah dengannya! Tanpa seizinku, kau mempercepat tanggal pernikahannya! Beraninya kau memanfaatkan keadaan di saat aku tidak di sini…" Tatapan Matteo menajam, menghujam pria tua itu tanpa ampun.
"Atau jangan-jangan, kau memang merasa terlahir hanya untuk mengatur takdir orang lain…?" Senyum miring terulas di sudut bibirnya, seolah semua ini hanyalah lelucon pahit.
"Aku tahu kebiasaan lama tak mudah kau ubah. Sejak dulu kau selalu memaksa orang lain menjadi seperti yang kau mau. Dulu Papa dipaksa berpisah dari wanita yang dicintainya dan menikah dengan gadis pilihanmu… ibuku."
Suaranya terdengar semakin berat, seakan kalimat selanjutnya terlalu menyakitkan untuk diucapkan.
"Dan sekarang pun sama… kau mengulang kesalahan yang sama, Thomas. Aku tegaskan, ini terakhir kalinya tradisi itu ada di rumah ini. Syukurlah kau sudah semakin tua. Mungkin waktumu pun tinggal hitungan hari saja. Satu… dua… atau tiga…"
Jari-jarinya bergerak perlahan, seakan menghitung mundur ajal pria tua itu. Matteo mendekat hingga napas mereka hampir beradu.
"Phuhh… m*ti. "Bisikannya tipis, namun cukup untuk membuat udara di antara mereka terasa membeku.
Thomas menelan ludah dengan susah payah. Ia tetap diam, wajahnya nyaris tak memperlihatkan apa pun. Tak ada tanda luka, tak pula penyesalan atas tindakannya yang memicu amarah Matteo.
Kata-kata cucunya menyadarkannya kembali bahwa ajalnya memang sudah semakin dekat sebuah kenyataan yang sebenarnya telah lama ia pahami. Bagi Matteo, keputusan itu tampak begitu kejam, seolah merenggut kebebasannya untuk memilih wanita yang dicintainya sendiri. sampai cucunya sendiri sanggup melontarkan kata-kata sekejam itu padanya.
Padahal pria tua itu hanya ingin menyiapkan yang terbaik bagi cucunya. Namun di mata Matteo, yang terlihat hanyalah sisi buruknya saja. Thomas paham betul betapa sibuknya Matteo jadwalnya tak pernah kosong, seakan tak ada waktu sedikit pun untuk memikirkan hal lain selain pekerjaan. Karena itulah ia ingin tetap berperan sebagai kakek yang berguna, dengan mencarikan seorang gadis yang baik dan sabar untuk mendampingi cucunya dimasa depan.
Dan gadis itu adalah Mira seseorang yang telah lama dipersiapkannya untuk Matteo. Di mata Thomas, Mira adalah gambaran wanita yang tepat untuk cucunya. Gadis itu lahir dari keluarga baik-baik, yang hampir tak pernah tersentuh oleh noda kejahatan. Nilai-nilai yang mereka pegang teguh terasa selaras dengan keluarga Vittale, seakan takdir pun mengisyaratkan kecocokan di antara keduanya.
selain itu, Mira bukan hanya cantik, tetapi juga tumbuh dalam keluarga yang menjunjung pendidikan. Ia terbiasa menghormati keputusan ayahnya, namun kesabarannya bukanlah kepatuhan tanpa batas ada saat-saat di mana ia berani menentukan jalan sendiri.
Itulah sikap yang dibutuhkan Matteo dari seorang istri, bukan hanya cinta semata.
Sebagai pemimpin, Matteo memikul tanggung jawab besar dalam hidupnya. Karena itu, ia memerlukan seorang wanita yang sabar, tetap berada di sisinya dalam situasi genting apa pun, dan cukup berani untuk membimbingnya menuju arah yang lebih baik.
"Nak, kau boleh mengatakan tidak suka, atau bahkan membenciku. aku tidak akan marah ataupun menyangkalnya… mungkin memang itu yang pantas kuterima," ucap Thomas pelan. Napasnya perlahan mulai teratur, meski beban di dadanya tak benar-benar hilang.
"Perbuatanku yang menurutmu hanyalah keputusan sialan mungkin tampak tak berguna sekarang, tapi pada…"
Kalimat itu terputus ketika Matteo dengan cepat memotong ucapan sang kakek.
"Apa pun alasannya, aku tidak peduli." Suara Matteo terdengar datar, jauh lebih tenang dari sebelumnya. Ia merapikan kerah baju Thomas yang sempat kusut karena cengkeramannya.
"Kau selalu berlindung di balik alasan demi kebaikan kami, tanpa pernah bertanya apakah kami bahagia atau tersiksa oleh keputusanmu. Sudah cukup. Aku muak mendengar semuanya. Lakukan apa pun yang kau mau."
Matteo berbalik, berniat kembali ke kamarnya yang telah dua minggu tak ia tempati. Namun langkahnya mendadak terhenti ketika mendapati Xander dan Sofia berdiri di belakangnya. Dari sorot mata mereka, jelas keduanya telah cukup lama di sana, menyaksikan pertengkarannya dengan Thomas.
Tatapannya bertemu dengan Xander, lalu bergeser pada ibunya yang berdiri di samping sang ayah. Namun kali ini ia tidak ingin berbicara dengan kedua orang tuanya, karena Ia tahu, kedua orang tuanya pasti akan membela Thomas. Meladeni mereka hanya akan sia-sia. Tidak akan ada yang berubah.
"Tunggu dulu, Nak," ucap Sofia dengan lembut. Namun di balik kelembutannya, hatinya tak pernah benar-benar tenang. Dadanya terasa sesak dan perih melihat ayah mertua dan putranya saling bertengkar seperti yang baru saja terjadi.
Matteo mengembuskan napas pelan, nyaris tak terlihat, seolah ingin menenangkan sisa emosi di dadanya.
"Aku sangat lelah, Ma…" ucapnya lirih. Nada selembut itu hanya muncul saat ia berbicara dengan ibu dan adik perempuannya.
Sofia tersenyum memahami kelelahan putranya.
"Kalau begitu, ayo kita duduk dulu. Sudah lama kau tidak di sini… Mama sangat merindukanmu," ucapnya tulus, walau kegelisahan tetap bergetar di hatinya.
"Kau tidak mau…?" tanyanya kembali dengan suara lembut.
"Aku lelah, Ma… nanti aku akan menyusul setelah agak baikan," ucap Matteo pelan. Penolakannya terdengar begitu halus, tak menyisakan nada kasar di telinga Sofia dan Xander.
"Baiklah, Nak. Istirahatlah dulu di kamarmu. Mama akan menyuruh pelayan untuk mengantarkan makananmu," balas Sofia lembut. Ia tahu putranya memang terlalu lelah untuk berbicara banyak dalam keadaan seperti ini.
Sementara Xander tetap diam di sana. Sejak awal ia menahan diri untuk tidak menyela, karena ia tahu pertengkaran itu bisa kembali memanas dan membuat keadaan semakin rumit. Ketika suasana akhirnya sempat mereda, ia tak ingin keributan kembali pecah.
Ia sadar, berbicara pada Matteo saat ini hanya akan percuma. Putranya tak akan mau menerima pendapat atau nasihat sekecil apa pun tentang pernikahan yang dipercepat itu. Kesadaran itulah yang membuat Xander memilih diam.
Tanpa memberi balasan, pria itu langsung pergi meninggalkan mereka, seolah menyisakan suasana dingin dari ketegangan yang sempat terjadi akibat pertengkarannya dengan Thomas.
..
"Papa… Papa tidak apa-apa, kan?" tanya Sofia pelan. Kekhawatiran begitu jelas tergambar di wajah anggunnya.
"Papa baik-baik saja, Nak. Jangan khawatir," jawab Thomas lembut, berusaha menenangkan menantunya agar tidak terlalu memikirkan keadaannya.
"Kalau begitu Papa duduklah dulu. Sofia buatkan kopi hangat, ya," ucapnya lembut sebelum bergegas ke dapur.
Ruang tamu itu kini hanya menyisakan ayah dan anak.
"Pa, Maafkan sikap Matteo tadi…" kata Xander lirih. Ia tak bisa menutupi rasa bersalah melihat bagaimana putranya bersikap pada ayahnya sendiri.
Senyum hangat terukir samar di wajah keriput Thomas. "Tidak, Nak… apa yang dikatakan putramu itu benar," ujarnya pelan.
Kepalanya tertunduk, seolah beban lama akhirnya terasa terlalu berat untuk terus ditahan.
"Selama ini aku terlalu keras pada kalian. Aku selalu memaksa, ingin kalian menjadi seperti yang ku inginkan, tanpa pernah benar-benar mendengar keinginan kalian… Aku sudah gagal menjadi ayah dan kakek yang baik. Maafkan aku, Nak," bisiknya dengan suara bergetar.
Thomas terlihat rapuh, dipenuhi rasa bersalah atas perilakunya di masa lalu. Xander menghampiri lalu duduk di sisinya, merangkul tubuh tua itu seolah ingin memberi ketenangan bagi ayahnya.
"Ucapan Matteo tidak sepenuhnya salah, pa... tapi juga tidak sepenuhnya benar." Suara Xander pelan, berat.
Ia menatap ayahnya sesaat sebelum melanjutkan. "Kalau dulu Papa tidak menikahkanku dengan Sofia, putri sahabat papa itu, mungkin aku tidak akan hidup sebahagia sekarang." Napasnya tertahan sejenak.
"Kalau bukan karena Sofia, aku mungkin sudah menikahi Xiera… wanita yang diam-diam ternyata bagian dari musuh kita," ucap Xander pelan, kenangan lama kembali menyentuh luka yang pernah ada.
"Seandainya dulu aku menikah dengan Xiera, yang ada bukan cinta ataupun kehangatan…" ucap Xander pelan. "melainkan hanya sandiwara dan tugas untuk menyelesaikan misinya." Ia menunduk sebentar sebelum melanjutkan.
"Rahasia bisnis yang Kakek dan Ayah bangun seumur hidup pasti sudah jatuh ke tangan musuh." Napasnya terdengar berat. "Mungkin kita semua sudah mat*… tak akan ada yang tersisa selain perusahaan dan harta yang mereka incar. Dan akan menjadi rebutan mereka." Xander menatap ayahnya dengan sorot mata sendu.
"Musuh hampir mendapatkan segalanya dari kita." Ia menghela napas panjang. "Karena itulah kukatakan, Papa tidak sepenuhnya salah… dan Matteo tak perlu tahu semua luka lama yang pernah kita tanggung," jelas Xander pelan.
Xander sengaja menyimpan rapat-rapat rahasia itu dari ketiga anaknya. Ia tak ingin luka lama berubah menjadi kesalahan yang terulang kembali. Karena itulah Thomas dan Sofia sepakat untuk ikut mengubur rahasia tersebut.
Di dalam kamar, Matteo baru saja selesai mandi, membasuh lelah yang menempel di tubuhnya setelah perjalanan panjang. Ia mengenakan pakaian santai, lalu merebahkan diri di ranjang king size miliknya. Untuk beberapa saat, pikirannya terasa lebih ringan. Dalam keheningan kamar, ia memejamkan mata, dan tanpa sadar perlahan tertidur.
**