8. RENCANA SOFIA BERJALAN MULUS

1351 Words
** Sofia duduk dengan punggung tegak, namun sorot matanya berulang kali melirik ke arah tangga. Sebagai seorang ibu, keganjilan kecil itu tak luput dari perhatiannya. Di sisi lain, Matteo menyadari bahwa makan malam ini bukanlah pertemuan biasa. Kehadiran Mira sebagai tamu menjadikan malam itu lebih dari sekadar jamuan keluarga. Itu adalah awal baru bagi gadis itu untuk mendekatkan diri dengan mereka dan baginya, sebuah langkah yang tak bisa dianggap sepele. "Dante," panggil Sofia akhirnya, suaranya tenang namun sarat makna. "Tolong panggilkan Matteo. Mintalah dia untuk segera turun." Pelayan yang sejak tadi berdiri rapi di sisi ruangan segera membungkuk hormat. Tanpa banyak kata, ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan meja makan yang kembali tenggelam dalam keheningan singkat. Langkah pelayan itu terdengar menjauh, sementara semua yang hadir hanya bisa menunggu dalam diam, menanti kehadiran sang pemimpin Fercgrey yang masih berada di kamarnya. "Calon istrinya baru pertama kali menginjakkan kaki di Mansion ini, tapi sikap anak itu sudah membuatku merasa tidak nyaman," ucap Thomas dengan nada kecewa. "Sejak dulu, dia memang tak pernah berhenti menimbulkan keributan." Dialog itu mengalir pelan namun tegas, cukup untuk membuat seluruh anggota keluarga terdiam. Tak ada satu pun yang menanggapi. Beberapa pasang mata saling bertukar pandang dengan gugup, sementara yang lain menunduk, bibirnya mengecil seolah kata-kata itu terlalu berat untuk segera dibalas. Hanya terdengar desah napas yang tertahan, menambah sunyi di ruangan itu. Meja makan yang semula hangat kini dipenuhi keheningan yang terasa tebal. Tak seorang pun menyentuh hidangan di hadapan mereka. Makan malam belum juga dimulai, semua masih menunggu baik kehadiran Matteo maupun pelayan yang diutus untuk memanggilnya kembali ke ruang makan. Beberapa detik berlalu perlahan, hingga suara langkah kaki terdengar mendekat. Harapan sekilas sempat muncul di wajah Sofia, namun meredup saat sosok yang muncul bukanlah orang yang mereka tunggu. Pria yang baru datang itu adalah Valez, anak kedua Sofia dan Xander. Rambutnya masih sedikit lembap, menandakan ia baru saja selesai mandi. "Maaf, aku terlambat," ucapnya santai sambil mengambil tempat duduk. Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Kursi Matteo tetap kosong, sementara waktu seolah berjalan lebih lambat dari biasanya. Valez segera ikut bergabung dengan keluarganya yang terlihat masih belum memulai makan malam. Ia melangkah tenang, lalu duduk di sisi istrinya yang tengah mengandung, tangannya sempat bertumpu lembut di sandaran kursi sang istri seolah memastikan keadaannya baik-baik saja. "Kenapa kalian belum mulai?" bisik Valez pelan, suaranya diarahkan tepat ke indera pendengar Bettry. "Matteo belum turun, jadi kami belum memulainya," jawab Bettry singkat. Nada suaranya terdengar datar, nyaris tak berusaha menyembunyikan rasa jenuh karena terlalu lama menunggu pria yang sejak tadi menjadi pusat perhatian semua orang. Valez hanya menggelengkan kepala pelan. Pandangannya lalu beralih, dan saat itulah ia baru menyadari keberadaan Mira yang duduk tepat di hadapannya. Sejenak, tatapannya tertahan pada gadis berkulit seputih salju, dengan mata bulat coklat yang seakan memantulkan cahaya sendiri. Kecantikannya menegaskan garis darah Korea yang berpadu halus dengan Swiss, nyaris terlihat dalam setiap gerak dan senyumnya. Dengan rasa penasaran yang samar, Valez menyadari tanpa disadari malam itu berubah. Kehadiran orang baru ini diam-diam merangkai nuansa yang sebelumnya tenang menjadi penuh kehangatan dan misteri. "Hai, calon kakak ipar," sapa Valez sambil menyunggingkan senyum lebar ke arah Mira. Mira yang masih diliputi rasa canggung hanya membalasnya dengan senyuman tipis, sopan, dan sedikit kikuk. "Cantik sekali..." gumam Valez spontan, nyaris tanpa berpikir. Belum sempat kata-kata itu sepenuhnya mendarat di udara, wajah Bettry langsung berubah. Tanpa peringatan, tangannya menyelinap ke bawah meja dan mencubit paha suaminya dengan telak. "Au! Sakit!" Jeritan itu meluncur begitu saja dari mulut Valez, terlalu keras untuk bisa disembunyikan. Seketika, seluruh anggota keluarga menoleh ke arahnya dengan wajah penuh tanda tanya. Percakapan terhenti, sendok-sendok terangkat di udara, dan suasana meja makan berubah riuh oleh kebingungan. "Apa yang terjadi ka?" tanya Jesica, adik perempuannya, sambil memandang Valez dengan dahi berkerut. "A..aku tidak apa-apa," jawab Valez tergagap, berusaha tersenyum meski wajahnya jelas menahan perih. Tangannya dibawah meja refleks memegangi paha yang kini terasa nyeri bekas cubitan istrinya yang terasa seperti hukuman kilat. "Kakak aneh sekali... Tiba-tiba berteriak begitu," seru Jesica heran, masih menatapnya curiga. Sementara itu, Battry hanya duduk tenang dengan wajah polos, seolah sama sekali tidak tahu-menahu. Beberapa anggota keluarga mulai menahan tawa, dan Mira pun ikut tersenyum kecil, namun tak sepenuhnya mengerti apa yang baru saja terjadi, namun merasakan suasana meja makan perlahan menjadi lebih ringan. Dengan suasana yang mulai terasa lebih ringan, langkah kaki terdengar dari arah tangga. Matteo akhirnya muncul, turun dengan raut wajah tenang namun tertutup. Di belakangnya, Dante setia mengikuti, menjaga jarak sopan seperti biasa. Semua mata sempat tertuju padanya saat ia mendekat ke meja makan. Tanpa banyak bicara, Matteo mengambil tempat dan bersiap bergabung untuk makan malam bersama keluarganya. Rencana Sofia pun berjalan mulus. Wanita paruh baya itu sejak awal sengaja membiarkan satu kursi kosong tepat di samping Mira. Tak ada pilihan lain bagi Matteo selain duduk di sana, di sisi gadis yang, dalam benaknya, terasa sangat menyebalkan. Sofia tersenyum kecil, nyaris tak kentara, namun cukup untuk menunjukkan kepuasannya. Senyum itu justru tak luput dari pandangan Matteo. Ia menarik napas pelan, rahangnya sedikit mengeras, menahan kejengkelan yang mulai merayap. Di meja makan itu, tanpa disadari, jarak yang seharusnya netral justru dipersempit oleh sebuah rencana sederhana dan Matteo tak menyukainya sama sekali. Tak ada satu pun protes yang keluar dari mulutnya. Ia sudah sangat paham siapa dalang di balik pengaturan menyebalkan ini. Sofia. Karena itu, ia memilih diam lebih tepatnya membungkam diri. Sendoknya bergerak mekanis, melahap makanan tanpa rasa enggan, seolah kursi di sebelahnya benar-benar kosong. Keberadaan Mira di sisinya sengaja ia abaikan, tak layak mendapat satu pun lirikan. "Kalian terlihat sangat serasi kalau duduk berdampingan seperti itu, Son!" seru Thomas riang, bahkan mengacungkan jempolnya dengan penuh semangat ke arah calon pasangan itu. Gerakan tangan itu membuat rahang Matteo mengeras. Ia mengangkat wajahnya sedikit, lalu membalas sanjungan sang kakek dengan tatapan dingin dan sinis tatapan yang tak menyisakan ruang untuk disalahartikan. Jelas terpancar ketidaksukaannya pada setiap pujian dan bualan Thomas yang berusaha memasangkan dirinya dengan Mira. Udara di sekitar Matteo seolah menegang. Kebenciannya tak terucap, namun terasa begitu nyata menggantung di antara denting alat makan dan senyum-senyum yang tak ia pedulikan. Sementara itu, gadis asing yang baru saja bergabung dengan mereka tersenyum tipis disisi Matteo. Senyum itu tampak tenang, meski di baliknya Mira juga merasakan ketidaknyamanan yang sama atas bualan Thomas. Namun ia memilih menyimpannya rapat-rapat. Bagi Mira, ucapan sang kakek bukan sekadar candaan yang berlebihan, melainkan bentuk usaha tulus seorang pria tua yang ingin melihat cucunya menjalin hubungan dengan baik bersama Mira, sebagaimana harapan keluarga itu. Meski hatinya terasa canggung, Mira tetap berusaha menghargai niat tersebut, ia menjaga sikapnya agar tetap sopan di tengah situasi yang baginya tak kalah rumit. Acara makan malam pun akhirnya berjalan dengan baik. Setelah hidangan usai, satu per satu anggota keluarga beranjak dari meja makan dan kembali berkumpul di ruang tamu, membawa sisa kehangatan malam itu dalam suasana yang lebih santai. ** Di dalam kamar Sofia, udara seakan menyimpan kesunyian yang hangat, menenangkan hati meski hanya ada ia dan Mira di sana. Cahaya lembut menimpa perabot, menambah kesan khidmat yang hening. Mira menatap sekeliling dengan mata penuh rasa ingin tahu. "Kenapa tante membawaku ke sini?" tanyanya, suaranya pelan namun dipenuhi rasa penasaran, seolah setiap sudut kamar menyimpan rahasia yang menunggu untuk ia temukan. "Tante mau kasih kamu sesuatu…," sahut Sofia, suaranya lembut sambil merogoh laci perhiasannya. Dalam genggaman tangannya muncul sebuah kotak merah, kecil namun seakan menyimpan janji rahasia. Mira menatap kotak itu dengan mata membulat, kerutan di dahi menandakan campuran rasa penasaran dan sedikit kebingungan. Setiap detik terasa menegangkan, seolah kotak merah itu menahan cerita yang baru akan terbuka. Gadis paruh baya itu duduk dengan tenang di tepi ranjang bersama Mira, seolah menghadirkan kehangatan dan rasa aman. "Karena sebentar lagi kau akan menikah dengan Matteo…" Sofia menatap Mira dengan mata hangat, senyumnya lembut namun penuh makna. "Aku ingin memberikan liontin ini padamu, nak." ucapnya, suaranya mengalir pelan, seakan setiap kata membawa sejarah dan harapan keluarga Vittale. Dengan hati-hati, ia membuka kotak kecil berlapis beludru, menyingkap sebuah kalung permata yang berkilau lembut di bawah cahaya kamar. "Lihat, nak… ini hadiah untukmu," ucapnya, suaranya hangat namun sarat makna. "Liontin?" Mira menatap liontin itu dengan mata membulat sempurna. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD