Bogem mentah, diacara lamaran.

420 Words
Dengen segala pertimbangan yang sangat menyakitkan, akhirnya Shanum menerima tawaran dari keluarga Surya. Jika mengikuti hatinya tentu dia tak sudi jika harus menikah dengan laki-laki modelan kaya Laka. Apalagi pernikahan terjadi hanyalah sebuah kontrak. Bukan pernikahan seperti ini yang Shanum impikan. Tapi, semua ini ia lakukan demi nama baik keluarganya. Ibu dan Bapaknya, dikenal sebagai orang baik-baik ditengah masyarakat. Bagaimana nantinya jika putri satu-satunya itu hamil diluar nikah tanpa seorang Ayah. Shanum tak mau mempermalukan orangtuanya. Bayangan Gentaka, selalu hadir dipikiran Shanum. Dia tak menyangka laki-laki yang ia anggap tulus mencintainya, malah justru yang menggoreskan luka terdalam dihatinya sekarang. --- "Halo, kita perlu bertemu ka," ucap Rizky dari balik telfon. "Mau ngapain lagi boy, nikahannya jadi?" "Jadilah, Shanum minta dilamar terlebih dahulu." "Hah?! lamar? lamar gimana maksudnya?" "Ya kamu datang ke rumahnya, bawain cincin gitu kali." Tentu, Rezkypun bingung. Ngelamar buat dirinya saja dia belum pernah. Nah ini suruh ngurusin lamaran orang. "Idih, ngelunjak itu cewe misquien!" umpat Laka, "terserah dah, pokoknya lue atur aja. Gue nggak mau papah ujungnya malah ngomelin gue lagi, kalau nggak gue turutin apa maunya!" Lakapun memutuskan sambungan telfon. Sekarang giliran Rizky yang pusing. Percuma jika dia mengatakan pada Surya, orang kaya yang hanya gila kedudukan itu pasti tak mau tau urusan begini. Ya, Rizky bisa saja. Tak mengiyakan permintaan Shanum. Tapi dia tak tega mengatakan pada perempuan yang tertindas itu. Kalau bolehpun Rizky ingin angkat tangan mengurus ini semua. Tapi Surya yang minta, jangan sampai pekerjaan ini jatuh ketangan oranglain. Dia tak mau kalau sampai rahasia ini bocor. Rizkypun pulang ke rumah, menemui Bundanya untuk meminta bantuan. Dirumah berlantai dua itu, bundanya tinggal bersama satu asisten rumahtangga. Rizky anak satu-satunya, Ayahnya telah meninggal sedari dia berumur 7tahun. Ibunya banting tulang untuk membiaya Rizky hingga tamat kuliah. Tapi semua jerih payah bundanya terbayar, kini Rizky dapat memenuhi segala kebutuhan hidupnya dan bundanya. Apapun yang bundanya mau sebisa mungkin ia turuti. Hanya saja satu yang belum bisa ia penuhi. Ya, Astuti Ibunda Rizky ingin sekali melihat anak semata wayangnya itu menikah.Tapi putranya hanya sibuk berkutat pada pekerjaannya. "Mbok, tuan muda tumben nih datang," ledek Astuti pada putranya. Ya, Rizky lebih sering menghabiskan waktunya tinggal di hotel dekat kantor. Karena pekerjaannya yang seakan tak ada habisnya. "Mungkin mau ngasih kabar baik Bu," timpal si Mbok, sembari cekikikan. "Hmmm, jangan ngarep deh Mbok. Kabar baik dari dia palingan ya, menang tender bun, saham naik bun, bosen saya mbok." keluh Astuti. "Bunda-bunda, anaknya pulang disindirin mulu. Nggak pulang apalagi. Hmmm," ucap Rizky sembari menyomot pisang goreng bikinan si Mbok. "Ya, abisnya kamu Nak. Kerjaan mulu yang dipikirin. Bunda kan udah pengen gendong cucu!" protes Astuti. "Ya sabar bun, bunda sama si mbok doain aja si." Astuti dan si mbok saling tatap, "doain tiap hari," kompak mereka menjawab. "Doain tiap hari, tapi kalau kamunya ngga niat-niat ya susah! Bunda kenalin sama anak pak Budi nggak mau, katanya cacingan anaknya, anaknya pak Heru juga nggak mau, katanya kalau pakai baju kurang bahan. Terus kamu maunya yang gimana Nak?" panjang lebar Astuti menumpahkan keluhannya. "Yaudah deh bun, bahas itu entar dulu. Sekarang Rizky mau nanya. Yang perlu disiapin buat lamaran apa aja?" Sontak mendengar kata lamaran keluar dari mulut putranya itu, Astuti melongo. Lalu selanjutnya ia besorak gembira memeluk mbok Yem. "Alhamdulillah mbok, bentar lagi aku punya mantu. Kenapa kamu ndak bilang si Nak, kalau kamu udah punya calon sendiri. Kan ibu ndak perlu nyindir kamu panjang lebar kaya tadi." Astuti memeluk Rizky, kesalahpahaman ini membuat Rizky bengong. "Orang mana Nak? kamu kenal dimana? anaknya baik yah? Yaampun anak Bunda mau ngelamar anak orang," dengan gemasnya Astuti menguel pipi Rizky. "Bun-bun, tarik nafas bun. Biar Rizky jelasin yah." "Iya maaf Nak, bunda saking bahagianya." "Dengerin dulu bu, itu mas Rizky mau ngomong toh." "Iya mbok, iya. Yaudah Nak, cepet ceritain awal mulanya Nak." dengan senyum mengembang Astuti megucapkan. Rizky menelan salifanya berulangkali. Takut-takut ibunya kecewa dan pasti ngambek. Pelan-pelan diapun menjelaskan. "Astghfirullah, mbok minum mbok," ucap Astuti lesu. "kamu tuh kerja sebagai sekertaris perusahaan apa jadi W.O si Nak? segala urusan lamaran anak bos kamu, kamu yang ngurusin. Aneh!" "Ya pokoknya bunda bantuin yah. Rizky janji bun, abis lebaran ini Rizky akan memperkenalkan calon mantu buat bunda yah?" "Hmmmm abis lebaran mulu, abis lebaran banyak," Astuti manyun. Kalau sudah begini, Rizky bakal memeluk ibunya lalu berpura-pura menangis agar bundanya iba. Ya, memang benar. Bundanya pun akhirnya memberitahu apa saja yang harus dibawa selama lamaran. Astutipun bersedia menjadi wali dari Laka. "Hmmm, ngelamarin anak sendiri aja belum. Udah ngelamarin anak orang." sungut Astuti lagi. --- Setelah perlengkapan yang sudah dilist oleh sang bunda terpenuhi, Rizky mendatangi Laka dirumahnya. Rumah dua lantai bergaya Amerika klasik itu memang sudah tiga tahun ini ditempati oleh Laka. Dia memutuskan untuk tinggal sendiri, dengan satu asisten rumah tangga yang mengurus keperluannya. Laka si pengangguran, yang kerjaannya hanya mengahamburkan uang. Oleh karena itu, Surya selalu memandang Laka sebelah mata. Jeni sudah beberapa kali meyuruhnya belajar soal manajemen bisnis, tapi Laka menolak. Dan lebih memilih dunianya sendiri. Publik tidak begitu menyorot mengenai anak tiri Surya Atmaja. Media hanya menangkap berita soal Gentaka, salah satu pemegang perusahaan termuda yang sedang berkibar namanya. - Rizky memasuki lantai dua kamar Laka. Dan jam dua siang laka masih tertidur setelah pulang subuh. "Bangun ka," Rizky menggoyangkan badan Laka berulangkali. Tapi dasar kebo, Laka tak bergerak sama sekali. "Gue siram juga nih orang!" gumam Rizky, diapun menyimpratka airputih dari gelas yang ada dinakas samping tempat tidur Laka. Kalau hanya percikan air, itu tidak bisa membangunkannya. Terpaksa diapun mengguyur muka Laka, dengan segelas air. Byurrrrr Laka akhirnya bangun, sambil mulutnya mengap-mengap kaya ikan koi. "Banjir-banjir!" teriaknya. "buset boy, banjir boy. Ayo kita naik ke atap boy!" Laka dengan setengah sadar menarik tangan Rizky. "Itu air dari gelas," ucap Rizky. "Hmmm?" Laka mengucek matanya berulang kali, dan dia baru sadar. "buset boy, lue berani nyiram gue?!" umpatnya. "Ya, lagian saya teriak bangunin kamu. Udah kaya nina boboin, makin nyenyak malah." "Ya nggak disiram juga kali boy," Laka meminum airputih yang tersisa dari gelas yang bekas nyiram wajahnya. "Emang ada apa si boy, pagi-pagi kesini?" 'buset pagi, pagi palamu!' umpat Rizky dalam hati. "Noh jam dinding gede banget," Rizky menunjuk ke jam dinding dikamar bocah edan ini. "Nggak salah tuh? buset gue ada janjian sama cewe gue lagi." Laka bangkit dari tempat tidurnya, menggaruk kepalanya. Lalu hendak menuju kamar mandi. "Entar dulu," Rizky menarik tangan Laka, dan mendorongnya duduk diranjangnya lagi. "Besok jam 8pagi, saya jemput. Kita ke rumah Shanum untuk melamarnya." "Oke hoamm," singkat jawab Laka, sambil menguap. "Nih, besok pake baju ini." Rizky memberikan Baju batik lengan panjang sesuai perintah bundanya. "Buset, ngapain gue pake batik. Dikira gue mau nyalonin lurah?" protes Laka. Ya, laka yang bergaya urakan mana pernah pakai pakaian batik seperti ini. "Ya begini kalau mau ngelamar, pakai batik biar sopan." "Lahilah, inikan pernikan mainan doang boy. Ngapain segala gue disuruh pake batik. Mana panjang begini. Gue pake kaos aja. Gue baru beli kaos metal, bagus boy!" Yakali ngelamar orang, pake kaos metal. Ada-ada aja nih orang kaya keblinger. "Udahlah kamu pake aja, saya udah pusing ini ngurusin beginian!" kesabaran Rizky akhirnya hilang juga. Ya, bagaimana tidak pekerjaannya sebagai sekertaris malah disuruh ngurus tetekbengek begini. "Kalau kamu nggak mau, bilang sendiri deh sama papahmu. Saya pulang!" "Buset boy, lue bisa ngambek juga boy. Lue iri apa gimana nih, ngeliat orang lamaran. Lue pengen ya?" ledek Laka yang membuat Rizky tambah kesel. "Saya pulang!" Rizkypun melangkah keluar kamar Laka. "ati-ati boy," ledek Laka lagi. "Nama gue Rizky, bukan boy. Si boy mah anak jalanan noh!" gumamnya saat menuruni tangga. ------ Dikediaman Shanum sudah mempersiapkan semuanya. Orangtua Shanum mungkin bisa bernafas lega, karena akhirnya keluarga Surya mau bertanggungjawab. Ya, orangtua Shanum dan Shaka belum mengetahui kalau semuanya adalah bagian dari pernikahan kontrak. Mereka tidak tau bahwa yang harus bertanggungjawab adalah Gentaka, bukan Laka yang saat ini akan melamar Shanum. Shanum menyembunyikan semuanya. Shanum tidak mau orangtuanya makin pusing memikirkan hal yang tak masuk akal ini. Para tetangga, juga sudah menadatangi rumah Shanum untuk membantu. "Nggak sabar, pengen liat calonnya Shanum," ungkap salah satu tetangganya. "Shanumnya aja cantik, pasti calonnya juga ganteng ya Bu." timpal lainnya. "Semua laki-laki ya ganteng ibu-ibu. Yang terpentingkan tanggungjawabnya." perkataan Yanti bagai belati yang menusuk hati Shanum. Bagaimana kalau sampai ibunya tau yang sebenarnya. Tak terasa airmata Shanumpun menetes. Gadis berparas cantik, yang mengenakan setelan kebaya itu segera lari ke kamar. Tak ingin ibunya mengetahui kalau dia menangis. "Ya Allah, ampuni hamba yang telah berbohong," Shanum mencoba menarik nafas agar tak larut mengeluarkan airmata. --- "ini Mamah lue boy?" tanya Laka saat Astuti baru saja masuk ke dalam mobil. "Iya," jawab Rizky singkat. Tak seperti Laka yang biasanya. Dia berlaku sopan pada bundanya Rizky. Laka mencium tangan Astuti takzim, "Laka mah," ucapnya sembari tersenyum. Rizky yang melihatnyapun seakan tak percaya, bisa sopan juga tuh anak. Gumamnya dalam hati. "Oh kamu yang namanya Laka?" Astutipun balik tersenyum pada laki-laki tengil yang sekarang berubah kalem. "kata kamu Laka anaknya tengil, songong, ngeselin Nak? aslinya nggak kok." kali ini Astuti bertanya pada Rizky, tentunya membuat Rizky mati kutu. 'Yaampun bunda, ketauan deh. Gue suka ngomongin si playboy kapak itu' ucap Rizky dalam hati. 'Sial juga lue boy, bongkar aib gue!' grutu Laka. "Panggil bunda aja Nak Laka," tambah Astuti. "siap bun, Paling si boy becanda bun ngomong gitu hehe," "Si boy?" "Saya biasa manggil Rizky si boy bu, kan dia masih kaya anak-anak gitu bu. Bayangin aja bu, ibu belum liat dia gandeng cewe kan?" "Iya belum, hmmm emang pantes yah dia dipanggil si boy." timpal Astuti, "kamu cariin deh, buat dia." "Udah aku tawarin banyak ciwi-ciwi bun. Tapi dia nggak mau, ngerinya dia---" "Kenapa Nak Laka?" Astuti penasaran langsung memotong ucapan Laka, padahal Laka hanya berniat ngerjain Rizky. "Jeruk makan jeruk bun," "Astgfirullah, amit-amit!" Rizky yang mendengarnyapun segera menengok kebelakang, dan melotot kearah Laka. Tak lama Lakapun tertawa, disambung oleh Astuti. Mereka berdua seakan kompak meledek Rizky. - Pukul 10 Laka beserta Rizky dan bundanya baru sampai dikediaman Shanum. Ya, tentunya ini ulah Laka. Dia susah sekali untuk dibanguni. Kali ini Rizky harus menyiramnya dengan segayung air baru dia melek. Sedangkan keluarga Shanum sudah ketar-ketir menunggu. Dia takut kalau sampai dibohongi oleh kelurga Surya. "ini rumahnya boy?" Laka melihat dari dalam kaca mobil sesaat sampai di halaman rumah Shanum. "rumah apa gudang tuh," pelan dia mengatakan, tapi Astuti bisa mendengarnya. "Hustt, nak Laka ngga boleh ngomong gitu. Biarpun kamu orang kaya punya segalanya jangan pernah menghina orang." tutur Astuti. "Hmm iya bun," Lakapun menggaruk tengkuknya. Rizky tersenyum simpul dari kaca spion kearah bangku belakang. Seakan meledek Laka. Dengan memakai baju batik, dan celana hitam formal. Tak lupa kacamata hitamnya, membuat kegantengan si playboy cap kapak ini bertambah. Dia turun dari mobil disusul oleh Astuti dan Rizky. Para tetangga Shanum yang melihatnyapun berbisik mengatakan bahwa calon Shanum orang kaya dan ganteng. "kancingin baju," titah Rizky yang melihat kancing baju yang Laka kenakan terbuka tiga baris. Dan dengan sigap, si Laka malah mengancingkan kemeja Rizky yang hanya tersisa satu kancing paling atas. "aaaaa buset, kenapa baju saya si?!" protes Rizky sambil melepaskan tangan Laka dari lehernya. "Lah kata lue kancingin baju boy," jawabnya santai tanpa dosa. "Baju kamu itu, kaya preman begitu," "gerah boy," "Biar lebih rapih Nak Laka, sini bunda kancingin." Lakapun terdiam saat Astuti mengancingkan baju batiknya. "kacamata buka itu Nak, ntar dikira mau mijet bukan mau ngelamar." Rizky terkikik, sedangkan Laka seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Nurut. Diapun melangkahkan kaki kedalam rumah Shanum. Joko dan Yanti menyambutnya dengan bahagia. Seakan hinaan sekoper uang tak pernah terjadi. Dia menyampingkan ego demi kebahagian putrinya, walau sebenarnya ini adalah awal kesengsaran untuk Shanum. Dipojokan sana, terlihat adik laki-laki Shanum yang masih menyimpan amarah. Terlebih pada Laka yang dia anggap telah merenggut kesucian kakaknya. Shanumpun keluar dari kamarnya menuju ruang tamu. Rizky dan Laka bengong sejenak, saat melihat Shanum keluar dengan kebaya simpel dengan kain yang membalut tubuhnya. Wajahnya yang memang cantik alami, ditambah sedikit polesan membuat dia nampak lebih-lebih cantik. "Pantesan si Taka, unboxing." gumam Laka. Rizky yang mendengarnyapun menyenggol bahu Laka. Laka hanya melirik sambil manyun. "terus abis ini gue harus ngomong apaan?" bisiknya pada Rizky. "Kamu nanti kasih perhiasaan buat Shanum," "Hah? perhiasaan apaan? gue mana ada." "Udah gue siapin!" Acara lamaranpun berlangsung lancar. Para tetanggapun satu persatu telah meninggalkan rumah Shanum. "AC nya nggak dinyalain ya bu?" celetuk Laka pada Yanti, tentu Yantipun bingung menjawabnya, bahkan disini tidak ada AC mau dinyalain gimana? "Maaf Nak, disini tidak ada AC." timpal Joko. Laka membuang nafas kasarnya, sembari mengibaskan baju batiknya. Dan seperti kesetanan, saking tak terimanya dengan perlakuan keluarga Surya kemarin, Shakapun maju selangkah didepan Laka, lalu tiba-tiba buggggggggggg! Sebuah bogem mentah, mendarat dipipi Laka. "ini buat kesombongan keluarga Lue!" Buggggggg, "dan ini buat lue, yang udah ngehancurin masa depan kakak gue!" Kasian amat si Laka, udah disuruh tanggungjawab, kena bogem mentah lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD