"Awasi setiap kegiatan ibu dan orang orang yang menemui ibu, selidiki juga makanan yang dikonsumsi ibu. Lakukan selama satu minggu."
"Hamba ini akan melakukannya."
"Kau boleh pergi."
Setelah Gong Yi pergi, kamar menjadi tenang kembali. Menggunakan waktu tenang ini untuk merenung, Jían memikirkan tentang kondisi tubuh ibunya.
Ia tidak sengaja memegang pergelangan tangan ibunya, dan merasa ada sesuatu yang salah dengan kondisi ibunya.
Racun! Ibu diracuni, berbagai macam racun ada di dalam tubuhnya. Siapa yang berani melakukan hal jahat seperti itu pada ibu?! Ayah? atau selir Fen. Apa tujuan mereka?
Dikejutkan oleh suara Lan, Jían menghentikan pikirannya dan mengembalikan ekspresinya ke yang biasa.
"Jían air panasnya sudah siap, aku akan antarkan makan siang ke kamarmu setelah kau selesai mandi."
"Terimakasih Lan, kau dan Lea terus awasi kelakuan para pelayan disini."
"Iya nih"
Skip mandi, makan, istirahat.
Bersiap akan pergi ke kediaman sang ibu, Jían dihentikan dengan suara di kepalanya.
"Jían biarkan kami keluar dari ruang angkasa."
"Kami akan berubah menjadi hewan, dan tidak membuat kekacauan."
"Mungkin juga bisa membantumu dengan menyamar sebagai hewan."
Ide yang bagus! Mungkin mereka bisa berkomunikasi dengan hewan disekitar dan membantuku. Lagi pula mereka tidak bisa berada di ruang angkasa terus menerus.
Jían mengeluarkan mereka semua dari ruang angkasanya. Mereka semua sudah berubah menjadi hewan. Mingming dan Jinjin berubah menjadi hewan biasa (bukan kuda).
"Kalian jangan membuat keributan disini ketika aku pergi dan - - - Xuexue ikut aku."
Jían melangkah keluar dari kamar, menelusuri koridor kediamannya menuju kediaman ibunya. Setiap kali Jían lewat jika ada pelayan, mereka akan menunduk hormat kepadanya.
Setelah keluar dari kediaman, melalui taman ia berjalan jalan menikmati indahnya matahari tenggelam. Xuexue yang berada di pelukan Jían, hanya memejamkan matanya dengan nyaman sambil dielus elus.
Ketika hampir sampai di kediaman ibu, dari jauh ia bisa melihat dua bayangan perempuan dan satu lelaki yang perlahan mendekat kearahnya.
Mereka terkejut sebentar, bagaimana bisa luka diwajahnya menghilang! Wajahnya menjadi sangat cantik. Putra mahkota pun masih tertegun dengan wajah cantik dihadapannya.
"Adik ketiga maafkan kakak pertama dan kedua karena tidak menyambut kembalinya kamu ke rumah tadi siang. Kau memaafkan kami berdua kan?"
Jían memandangi mereka sebentar. Kakak pertama (Mao Niu) memiliki t**i lalat di mata kiri sedangkan kakak kedua (Min Niu) tak memiliki t**i lalat dimuka. Dan yang ditengah sudah dipastikan putra mahkota a.k.a mantan tunangan Jían dan sekarang tunangan Mao Niu.
"Mmm tak apa, lagi pula kakak pertama dan kedua sibuk. Kalau begitu adik ketiga ini pamit terlebih dahulu." Jían dengan cepat melangkah pergi, tapi dicegat oleh Min Niu
"Yang lebih muda, apakah kau tidak nyaman dengan kami? Kakak kedua benar benar menyesal karena tak bisa menyangkal ayah pada saat itu." Kata Min Niu yang perlahan meneteskan air matanya.
"Adik ketiga maafkan kakak pertama juga karena sudah merebut... merebut... putra mahkota. Adik ketiga boleh marah kepada kakak pertama... itu memang perbuatan yang tidak bisa dimaafkan." Kata Mao Niu, yang juga menitihkan air matanya.
Akting kedua saudara ini sangat hebat. Mereka benar benar memanfaatkan keberadaan Putra mahkota di samping mereka. Menggunakan air mata untuk menipu Putra mahkota guna memojokkan ku? Bodoh.
Tentu saja Putra mahkota yang naif ini tertipu dengan akting dua rubah yang licik, hatinya merasa sakit ketika melihat wanitanya meneteskan air mata.
"Sudah cukup apa susahnya memaafkan mereka berdua. Jían mereka berdua adalah saudaramu. Mao'er jangan menangis lagi bengong benci melihatmu menangis, itu membuat hati bengong sakit."
Belum sempat menjawab perkataan putra mahkota, Fengyin langsung memeluk Mao Niu dan memberi tatapan intimidasi untuk Jían.
Pangeran mahkota memeluk wanitanya itu dengan penuh kasih sayang. Menyeka air matanya dengan lembut. Sesudah itu ia berbalik ke Min Niu.
"Min'er kau juga jangan menangis lagi, jika Jendral Chen melihatmu menangis ia akan khawatir. Kau tak boleh membuat ayahmu khawatir."
"Iya Putra mahkota."
Jían menyaksikannya dengan tenang, sungguh drama yang sangat bagus untuk ditonton.
:。 ? ku menangis membayangkan betapa kejamnya dirimu ? 。:
e tapi boonk -o-
"Eemm tak apa putra mahkota lagi pula perkara ini memang tak bisa dimaafkan dengan mudah." Mao Niu menggelengkan kepalanya.
"Ooh Mao ku yang malang. Kau tak perlu meminta maaf padanya, harusnya dia sadar diri, dengan kemampuannya yang kosong adikmu tak pantas bersanding denganku. Jangan buang buang tenaga dengan sampah sepertinya, sekarang kita kembali. Kau juga Min'er."
Mereka bertiga segera menghilang dari pandangan Jían. Mao Niu tersenyum penuh kemenangan kearah Jían dengan mengangkat kepalanya tinggi tinggi.
Min Niu pun memandangi Jían dengan pandangan menghina.
Meninggalkan Jían sendirian.
'Jían bagaimana bisa kau hanya diam saja, mereka itu sengaja membuat citra mu jelek. Dan siapa b******n yang ditengah itu! Mengapa dia bodoh sekali! Melihat wanita dari wajahnya tapi tidak kelakuannya?! Cuih Cuih Cuih' Kata Xuexue sambil meludah.
"Mmmm tak apa biarkan mereka menikmatinya dahulu. Aku ingin membuat pertunjukan yang hebat. Dan mengapa kau tiba tiba menjadi kasar Xuexue? Apa kau khawatir hmmm?" Tanya Jían sambil menggoda Xuexue dengan mengelus dagunya.
'Tidak. Siapa yang peduli.'
"Bwahahaha.... kau menjadi dingin lagi. Itu lucu sekali. Jangan pedulikan mereka bertiga, sekarang ayo pergi."
Sesampainya di kediaman ibu, Jían agak merasa aneh dengan suasananya. [suram] satu kata yang menggambarkan suasana disini.
Jían menghampiri salah satu pelayan didekatnya dan kebetulan itu adalah pelayan kepercayaan ibu ia mengantar Jían ke kamar ibunya sambil menceritakan apa yang terjadi ketika Jían tak ada di rumah.
"Selama nona ketiga di pengasingan kesehatan Furen menjadi buruk. Dokter yang diutus pun tidak bisa menemukan apa penyakit Furen. Makin kesini kesehatannya pun bertambah buruk." Diikuti helaan napas Chyou melanjutkannya.
"Sejak Furen sakit, bisa dibilang wajahnya menjadi agak lusuh dan aura keagungan nya menghilang. Sehingga Tuan menjadi bosan dengan Furen, akhirnya ia kepincut oleh kecantikan selir Fen dan akhirnya jarang berada di kediaman Furen."
Meninggalkan istrinya yang sakit sendirian sedangkan suaminya bersenang senang dengan wanita lain?!
Jían sadar bahwa dimasa lalu setiap lelaki pasti memiliki setidaknya dua selir. Bahkan petani pun memiliki selir apalagi seorang jendral.
Tapi tetap saja itu keterlaluan. Mengapa? Karena Ibunya menemani ayahnya dari masih menjadi prajurit biasa sampai bisa menjadi jendral tinggi seperti sekarang.
"Seharusnya saya tidak boleh menceritakan hal ini kepada nona muda, tapi saya sudah tidak tahan lagi dengan kesedihan Furen. Saya berharap nona muda bisa menghibur Furen."
"Tenang saja Chyou, aku akan berusaha membantu ibu."
Jían tenggelam dalam pikirannya sendiri, tanpa sadar ia sudah sampai di depan kamar ibunya.
"Furen nona ketiga ada disini."
"Biarkan dia masuk."
Setelah masuk ke dalam kamar, Jían langsung mencium bau obat obatan yang memenuhi seisi kamar.
Tapi samar samar Jían bisa mencium bau darah, dan itu sangat tipis. Mungkin orang biasa tidak bisa menciumnya.
"An'er kemarilah... ibu sangat rindu padamu, biarkan ibu memelukmu."
Ternyata didalam Jun sedang minum teh dengan ibunya. Dan kelihatannya dia tidak menyadari adanya bau darah yang berkeliaran di dalam ruangan ini.
"Jían, apakah kau sudah makan? Apa kau sudah istirahat dengan baik? Pelayan di kediaman mu sopan kan?" Tanya Jun dengan raut wajah khawatirnya.
Jían langsung memeluk ibunya tanpa memedulikan pertanyaan Jun.
Tapi dia merasa ada yang aneh. Tubuhnya diselimuti bau darah yang kuat tapi sepertinya ibu menutupinya dengan wewangian yang kuat.
"Ibu jawab aku dengan jujur, sebenarnya kau diracuni kan? Juga mengapa aku bisa mencium bau darah di tubuhmu? "
"Apa yang kau bicarakan! Ibu baik baik saja, penyakit ibu sudah sembuh. Gege tidak mencium bau darah sama sekali. Jangan menakut nakuti Gege."
"Ti.. tidak ada bau darah disini. Juga mengapa ibu diracuni, Bukankah kamu melihat kalau ibu baik baik saja? Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan ibu baik baik saja"
"Kalau begitu biarkan aku memeriksanya."
Jían berjalan kearah lemari yang menarik perhatiannya sejak tadi. Kayunya seperti berwarna merah, dan ketika disentuh itu agak lengket serta meninggalkan noda merah di tangan serta bau amis yang kuat.
Brak! Jían membukanya.
"Ibu bagaimana kau bisa menyembunyikan semua ini? Apakah gege mengetahuinya?"
Didalam terdapat tumpukan perban berwarna merah yang sudah pasti itu bekas darah. Adapun perban yang sudah mengering dan berwarna cokelat.
"Ibu... kau menyembunyikan semua ini dariku selama ini. Apa ibu tidak percaya lagi padaku?" Tanya Jun dengan menundukkan kepalanya, kecewa ia sangat kecewa.
"Itu.. itu ibu bisa jelaska -akhh!"
Tiba-tiba Furen Ming memegangi perutnya dengan erat, darah mulai merembes ke pakaiannya yang berwarna putih. Jelas! Mereka berdua melihat dengan jelas ada noda merah besar yang terbentuk disana.
"Gege angkat ibu ke kasur! Chyou!" Jían memanggilnya dengan keras.
"Iya non- apa yang terjadi dengan furen! , saya akan memanggil dokter sekarang!"
"Tunggu, jangan memanggil dokter itu bisa menimbulkan kekacauan besar. Sekarang aku butuh kepercayaan kalian bertiga! Aku akan menyelamatkan ibu, mengerti?!"
"Tapi, tapi nona muda tidak, bukan dokter. Bagaimana caranya kau menyelamatkan Furen"
"Chyou kau pasti tahu kan kalau di kediaman ibu terdapat mata mata? Kau tidak boleh menarik perhatian mereka. Sekarang ambil air panas pura pura saja jika ibu mau mandi, dan handuk jangan lupa. Gege Bantu aku melepas pakaian ibu."
Mereka berdua segera mengikuti arahan Jían, karena kata kata Jían benar. Ada banyak mata mata yang menyamar menjadi pelayan di kediaman Furen.
Chyou tahu itu, tapi Furen Ming hanya membiarkannya. Karena Furen tahu bahwa ia tidak memiliki kekuatan untuk melindunginya. Suaminya sekarang dingin padanya, dan orang orang tidak percaya padanya.Jun merobek pakaian ibunya dengan pelan supaya tidak mengenai lukanya.
Perutnya dibalut dengan perban yang sangat banyak, mungkin Furen berfikir jika semakin banyak perban maka luka lukanya tidak akan ketahuan. Sampai Jían selesai menggulung perbannya.
Berbagai macam luka muncul di tubuh ibunya bagian punggung dan d**a adalah yang paling parah. Ada luka besar menganga di perutku ibunya dan itu sudah tampak kering, disekitarnya terdapat seperti jerawat tapi berwarna hitam yang siap pecah kapanpun.
Sementara di area punggung luka luka sayatan banyak terbentuk disana. Hampir semua kulit punggungnya penuh dengan sayatan.
Jun terkejut melihat luka ibunya, ia tinggal bersama ibunya Sejak kecil ia dekat dengan ibunya. Tapi tidak mengetahui fakta bahwa ibunya sangat menderita.
Jun akhirnya hanya diam saja di samping tempat tidur ibunya dan menggenggam telapak tangan ibunya. Tapi ia tak dapat menahan air matanya dan akhirnya keluar.
"Maafkan ibu tidak memberi tahu kalian berdua tentang ini, ibu hanya tak ingin membuat kalian khawatir."
"Aku tahu aku tahu sekarang ibu diam saja penjelasan tentang luka luka ini belakangan dan jangan bergerak. Minum pil ini, ini akan menambah darah ibu."
Chyou dengan cepat membawa baskom besar ke kamar Furen dan meletakkannya disamping Jían.
"Bantu aku mengelap noda darah di perut dan punggung Chyou, lakukan dengan cepat."