VII

1828 Words
Tiga hari berlalu dengan cepat, akhirnya hari ini Jían beserta pelayannya akan kembali ke ibu kota. "Sekarang pakai pakaian compang camping itu dan oleskan lumpur ke wajah kalian serta pakaian kalian. Kita perlu mengubah penampilan agar mereka tidak curiga." "Siap Jían." Teriak mereka berdua bersamaan. Mereka bertiga segera berubah menjadi seorang wanita yang terlihat lusuh dan tak terurus. Jían pun sudah merubah interior gubuk yang tadinya mewah menjadi buluk. Semuanya menunggu menunggu dan terus menunggu sampai akhirnya rombongan dari kediaman datang. Seorang pria tua turun dari kereta dan menghampiri Jían. Dengan wajah sombong dan angkuh ia memandangi Jían dari ujung rambut hingga kaki, melihat wajah Jían pria tua itu terkejut. Karena luka diwajah Jían sudah menghilang wajahnya menjadi sangat cantik walaupun ada beberapa lumpur disana. Pria tersebut segera kembali ke akal sehatnya berfikir bahwa Jían masihlah seorang perempuan yang bodoh dan tak berguna. Ia segera bicara dengan Jían dengan tatapan jijik dan nada yang kasar. "Dengan perintah dari Jendral Agung Chen hukuman pengasingan anda telah selesai. Sekarang kalian bertiga cepat masuk ke kereta!" 'Hukuman! Apakah dia bodoh.' Lan 'Dasar orang tua bodoh.' Lea Ketika Jían akan masuk kedalam kereta, salah satu penjaga yang mengawal mereka memberi gulungan kertas kepadanya. "Ini dari tuan muda. Tuan muda menyuruh anda untuk membaca secepatnya." "Gege?" Penjaga tersebut mengangguk dan segera pergi. Kelihatannya penjaga tersebut adalah orang kepercayaan Jun. Jían membaca gulungan kertas tersebut, ia tersenyum. ?Jían selama perjalan menuju Ibu Kota gege harap kamu berhati-hati dengan apa yang penjaga lakukan, terutama makanan yang mereka beri. Gege tidak sengaja mendengar percakapan selir Fên yang berencana meracunimu saat perjalan kembali. Jika ada sesuatu yang salah kamu bisa menghampiri penjaga yang memberikan surat ini? 'Tak kusangka gege akan bertindak sampai kesini dan tindakan selir itu sangat berani.' Seperti yang dikatakan gege, makanan yang diberikan oleh penjaga mengandung racun. Parahnya jika dikonsumsi racun tersebut dapat membuat kulit seseorang dipenuhi dengan bintik bintik hitam yang bau dan bernanah. Karena selir Fên menginginkan ini maka akan kupenuhi permintaannya. Bagi seorang wanita bangsawan sepertinya penampilan adalah hal yang paling penting, terutama pada hal kecantikan. Walaupun posisinya hanya sebagai selir. Sepanjang perjalanan Jían membuang makanan yang diberi oleh penjaga secara diam diam, sebagai gantinya ia mengeluarkan makanan dari ruang angkasa dan membaginya dengan Lan & Lea. Sementara itu di Kerajaan Zhou berita tentang hutan racun sedang menjadi perbincangan hangat rakyatnya. "Apa kau sudah dengar tentang binatang setan yang ada di hutan racun tidak boleh diburu?" "Iya itu aneh sekali, mengapa binatang setan disana tiba-tiba tak boleh diburu." "Aku dengar kalau tak salah burung Phoenix muncul di hutan racun untuk melindungi hewan-hewan yang Ada disana." "Hah... padahal hutan racun itu hutan yang paling dekat dengan kerajaan untuk memburu binatang setan. Tapi sekarang..." Bisikan bisikan orang terdengar di semua penjuru kerajaan, sampai akhirnya terdengar di telinga kaisar. "Fengyin apakah semua ini disebabkan oleh suruhanmu yang pergi ke hutan racun? ." "Aku tidak tahu ayah, aku akan segera bertanya kepada mereka." "Hmmm... kamu menyuruh mereka membawa serigala hitam tersebut karena Mao Niu kah?kau ingin memberi serigala hitam tersebut supaya dijadikan binatang kontrak Mao Niu, apakah aku benar tentang itu?" "Iya ayahanda aku berencana seperti itu, aku ingin memberikannya binatang setan tersebut." "Kalau begitu selidiki hal ini dengan baik, kau boleh pergi sekarang." "Terimakasih ayahanda." Fengyin melangkah keluar dari aula kekaisaran. Setelah keluar wajahnya berubah menjadi gelap. 'Bagaimana bisa mereka gagal. Hanya menangkap bayi serigala saja gagal. Cih dasar kumpulan sampah.' Di kediaman Jendral Li yang Agung (bapaknya Xiaochun.) sedang terjadi keributan, dimana kondisi jendral Li benar-benar buruk. Pada saat itu Xiaochun muncul dan langsung mengirim pil yang dibuat Jían kedalam mulut ayahnya. "Xiaochun apa yang kamu lakukan! Ayah sedang sekarat dan kau memasukan obat sembarangan! Kau ingin ayah mati!" Teriak ibu Xiaochun. "..." Yang diteriaki hanya diam saja, berharap pil yang diberikan kepadanya bekerja dengan baik. Selang beberapa menit badan Jendral Li mengejang hebat, wajahnya menjadi pucat. Kulitnya mengeluarkan cairan berwarna hitam pekat, bau busuk menyebar ke seluruh kamar. Tabib disana merinding melihat pemandangan di depannya. "Xiaochun! Apa yang kamu berikan kepada ayah! Me.. mengapa dia seperti itu? Xiaochun! Kalian mengapa hanya menonton, cepat selamatkan suamiku! " Ketika para tabib menuju ranjang Jendral Li, mereka terhalang oleh Xíaochun yang mengeluarkan pedangnya. "Kalian tak boleh kemari! Jika kalian berani mendekat maka kematian akan segera datang pada kalian " Xíaochun tak tau apa yang terjadi tapi ia percaya kepada Jían. "Xiaochun! Apa yang kau pikirkan, dia itu ayahmu!" "Aku tahu ibu aku tahu! Aku akan menyelamatkan ayah, kau harus percaya padaku ibu!" Ketika mereka sedang bertengkar, cairan berwarna hitam pekat itu mulai berhenti dan kulit Jendral Li yang semula pucat menjadi lebih hidup dan tubuhnya diselimuti bau wangi. Bau busuk dari cariran hitam digantikan dengan bau wangi yang mulai mebyebar keseluruh kamar. "Apa yang sedang kalian ributkan." Suara yang lemah itu menyapu semua keributan, seketika kamar menjadi sunyi. Pandangan semua orang langsung menuju ke arah ranjang, diatasnya seorang laki-laki sedang tidur dengan senyuman lebar menghiasi wajahnya menghadap mereka. "A.. aa.. ayah!" "Suamiku! Pelayan cepat panggilkan Old Li dan istrinya cepat!" Pelayan yang masih bengong itu segera disadarkan oleh suara nyonya-nya. Dia dengan kecepatan kilat keluar dari kamar. "Ayah bagaimana keadaanmu? Apakah sudah baikkan?" "Suamiku apa kau baik baik saja? Apa ada yang sakit." "Aku merasa sedikit lebih baik, tapi aku masih belum bisa merasakan kakiku." Katanya tersenyum miris. Brak! Pintu kamar terbuka lebar menampilkan pria dan wanita paruh baya dengan napas tersenggal senggal. Mereka berdua segera menuju ke ranjang. "Anakku akhirnya kau bangun juga! Bagaimana ini bisa terjadi?" "Kau baik-baik saja kan. Apa ada yang sakit." "Emmhh.. keadaanku sedikit membaik. Ayah dan Ibu tenang saja. Sementara itu apakah obat yang aku makan itu dari siapa?" "Dari aku ayah, akan aku ceritakan semuanya." Xiaochun menceritakan semuanya tentang peristiwa yang ia alami dengan Jían kecuali kemampuan dan identitas Jían. Semuanya mendengarkan cerita Xíaochun dengan seksama. "Jadi aku meminta dia untuk datang ke kediaman untuk mengobati penyakit ayah. Ia setuju dan dalam beberapa hari ia akan datang ke kerajaan Zhou." "Syukurlah kalau begitu. Terimakasih banyak Xíaochun telah membantu ayah." "Tidak perlu terimakasih, ini semua demi ayah." "Kau jangan pernah bepergian sendiri lagi! Itu berbahaya kau mengerti." "Iya kakek aku mengerti." Tiga hari berlalu Jían akhirnya sampai di kerajaan Zhou. Memasuki pusat kota, di sepanjang jalan terdapat toko dan rumah makan yang tampaknya tak pernah sepi. Kereta kediaman Jendral Chen melaju di jalan yang ramai, oran-orang dapat mengenali kereta tersebut dari lambang keluargamu yang terletak dikereta. "Lihatlah sepertinya kediaman Jendral Chen telah menjemput putri pertama dari pengasiangannya." "Putri yang jelek dan bodoh itu? Harusnya dia diasingkan terus saja supaya mataku tak sakit melihatnya ahaha. . ." "Dia seperti kotoran yang menempel di kediaman Jendral. Saudara saudaranya cantik tapi dia ckcckck.." Jían dapat mendengar semua percakapan orang orang di luar kereta. Dicacimaki oleh semua orang di kerajaan Zhou ah salah semua kerajaan di benua ini. Mungkin jika gadis lain yang berada di posisi Jían mereka tidak kuat dengan serangan mental seperti ini. Dalam ingatan pemilik tubuh sebelumnya ketika Jían berada di luar kediaman, orang lain selalu bergosip disekitarnya. Walaupun itu menyakiti perasaannya ia tetap diam tanpa menyangkal perkataan orang lain. Sesampainya di kediaman, tidak ada yang menyambut atas sekembalinya dia. Namun dua sosok indah berdiri tegak di tengah teriknya matahari menunggunya sepanjang hari. Ketika turun dari kereta Jían langsung disambut pelukan mereka berdua. Mereka adalah pasangan ibu dan anak. "Jían selamat datang. Ibu rindu sekali padamu, maafkan ibu karena tidak bisa melindungimu waktu itu." "Gege juga rindu padamu, maafkan gege juga ya karena gege tidak bisa menghentikan ayah." "Eemhh kalian tidak perlu merasa bersalah, kita adalah keluarga. Tidak perlu meminta maaf." Jían menggelengkan kepalanya. Melihat ekspresi Jían mereka semua terkejut. Luka diwajahnya sudah hilang! Itu sudah hilang! "Lu.. lukamu sudah sembuh?! Ba.. bagaimana bisa?" Tanya Jun tergagap gagap "Oh ini, aku bertemu dokter ketika sedang di pengasingan. Dia melihat luka diwajahku lalu dia menyembuhkannya." "Be.. Benarkah itu?! Gege senang mendengarnya! Putra mahkota pasti akan menyesal jika melihatmu ahahaha!" "Jaga perkataanmu anak nakal, Jían sekarang istarahatlah ibu akan panggilkan pelayan untuk membantumu." "Baik ibu, setelah istirahat aku akan menemuimu lagi bu.." Kata Jían sambil memegang pergelangan tangan ibunya. Jían segera mengundurkan diri dan berjalan menuju kediamannya. Ketika sampai disana ia tersenyum dingin. Bagaimana bisa kediamannya sangat jelek dan kotor padahal dia adalah anak sah. Dibandingkan dengan kediaman kedua saudaranya itu tidak bisa dibandingkan. Memasuki kediaman Bulan (namanya kediaman bulan yee..) matanya disambut dengan pemandangan pohon dan bunga yang mengering. "Lan mengapa kediamanku sangat kotor? Ketika sedang dipengasingan apakah pelayan disini tidak membersihkannya?" "Para pelayan itu tidak pernah membersihkan kediaman karena menganggap rendah nona muda, jadi mereka semua bersikap semena mena ketika nona tidak ada" "Panggil mereka kesini." Jían yang dulu tinggal disini, dia benar benar tahan pada semua perlakuan orang orang di kediaman, untungnya dia masih punya ibu, kakak, dan pelayan yang setia disisi nya. "Ada apa kau memanggil kami kesini?" "Oh kau sudah kembali, putri bodoh. Ahaha." "Apa nona muda kami yang bodoh ini membenci kami? " "Kalian! bersikap sopanlah kepada nona muda! Kalian yang rendah berani beraninya tidak sopan." Teriak Lea marah. Benar, para pelayan disini tidak mempunyai rasa takut kepadanya. Mereka semua harus diberi sedikit pelajaran yang berkesan. "Cukup. Kepala pelayan cepat kemari." "Hah apa kau marah ahaha... iya iya aku akan kesana nona yang pintar ahaha..." salah satu pelayan datang ke sisi Jían dengan tatapan jijiknya. Sret~ Tiba-tiba sebuah kepala jatuh ke tanah, darah segar menyembur keluar dari leher pelayan tersebut mengeluarkan bau amis dari darah. Jían berdiri dengan tenang dengan menggenggam pedangnya yang bernoda darah, sementara para pelayan tersebut gemetar ketakutan dan mulai melarikan diri. Tepat di depan pintu keluar mereka menabrak seperti pembatas dan tak bisa keluar. Mencoba sekeras apapun mereka tak akan bisa keluar. "Itu tidak bisa dihancurkan. Sekarang putuskan pilihan kalian, tetap disini dan bersikap baik atau pergi; tambahan pergi selamanya." Kata Jían dingin. Para pelayan segera berlari menuju Jían dan bersujud kepadanya, mengetuk ngetuk kepalanya dengan keras di tanah, dan memohon ampunan kepadanya. "Maafkan kelakuan pelayan rendahan ini sebelumnya. Pelayan ini mengharap nona muda akan memaafkannya." "Hamba ini akan selalu patuh kepada perintah nona muda, tolong maafkan hamba ini" "Pelayan yang rendah ini memohon ampun kepada nona muda terhormat." Dalam sekejap kelakuan pelayan disini berubah drastis, melihat kepala pelayan mereka dibunuh dengan mudah, muncul perasaan takut dihati mereka. "Jadi kalian semua memutuskan untuk berada disini? Baguslah kalau begitu. Kejadian hari ini adalah hadiah dariku untuk kalian, aku harap kalian merahasiakannya. " "Tentu saja, nona muda kami akan mematuhimu." "Sekarang siapkan air panas dan makanan untukku. Kalian bisa pergi." Sekepergian para pelayan, sekarang di halaman hanya tersisa Jían seorang diri. Jían mengarahkan tangannya ke mayat kepala pelayan tersebut, dan terbakarlah dia. Melihat keadaan halaman kediamannya ia memutuskan untuk mengubahnya dengan cara yang sama di gubuk. Tanah tandus berubah menjadi rumput yang segar dipenuhi bunga yang Indah dan pohon yang subur. Setelah di halaman Jían melangkah pergi menuju ke kamar. Menggunakan metode yang sama sekarang kamar yang buluk berubah menjadi cantik. "Gong Yi." "Saya disini nona. Siap melakukan apapun yang anda perintahkan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD