VI

1709 Words
"Aku? Tentu saja seorang manusia. Menurutmu bagaimana hmm..." "Jadi kau benar benar bisa menggunakan semua s*****a yang ada di benua ini! Bagaimana bisa?! Mengapa kau tak menunjukan kekuatan aslimu dihadapan orang-orang? Jika menunjukannya pasti kau tidak akan diasingkan seperti ini. Pangeran mahkota juga akan menyesal jika ia mengetahui bahwa kau mempunyai bakat yang hebat seperti ini." "Waktu itu kekuatanku belum terlalu hebat jadi aku menyembunyikannya. Aku tak peduli lagi dengannya, dia hanya melihat orang dari penampilannya. Lupakan hal itu, ayo kita pulang sekarang." Jawab asal Jían 'Kalian semua kembalilah ke ruang angkasa. Setelah sampai di rumah aku akan segera memasak untuk kalian.' Kata Jían. 'Siap Jían.' Teriak mereka bersamaan. Setelah Jían memerintahkan mereka semua untuk kembali, mereka segera menghilang dari hadapan Xíaochun. "Eh...Kemana perginya kudamu. Bagaimana cara Kita pulang! Apa kau yang melakukannya! Jíannnnn...." Jían menarik tangan Xíaochun dan menggandengnya. Dibawah kaki mereka berdua terdapat lingkaran cahaya merah dengan tulisan-tuliasan kuno. Yang diketahui kalau itu adalah mantra teleportasi. "Gandeng tanganku jika kau ingin pulang." Glek. Xíaochun menelan ludahnya kasar, Jían terlihat sangat dingin dan keren. Ia harus berlatih lebih giat lagi supaya bisa setara dengan Jían, tapi itu rasanya mustahil. Baru saja Jían akan berteleportasi, ia tak sengaja melihat wajah Xíaochun yang tampak suram. Dan menghentikan mantra teleportnya karena khawatir. "Mengapa wajahmu suram seperti itu. Kita akan pulang sekarang apakah kau tidak senang? Apa lukamu sakit lagi?" Tanya Jían khawatir. "Aku hanya berfikir bagaimana supaya aku bisa menjadi keren sepertimu. Kau dapat melakukan apapun aku ingin menjadi sepertimu, tapi rasanya mustahil." "Pftt... aku keren? Aku bisa melakukan apapun? Xíaochun kau perlu berfikir lagi dengan kalimat yang kau ucapkan. Kekuatanku itu masih belum sempurna dan aku juga punya kekurangan. Jika kau ingin menjadi keren maka kembangkan bakat yang kau punya, kemampuan berpedangmu kan bagus jadi kau harus berjuang meningkatkan kemampuan berpedangmu. Ingat menjadi keren itu tak perlu seperti orang lain, dengan percaya diri kau juga sudah keren. Jadi jangan berkecil hati. Kau mengerti kan Xíaochun." Jían menjelaskan hal tersebut dengan ramah. "Iya aku mengerti! Aku akan selalu mengingat itu. Sekarang ayo pulang, aku sudah sangat lapar..." "Salah siapa tadi menghentikanku melakukan teleportasi. " "Yaa maaf..." Lingkaran cahaya tadi segera muncul lagi dan tubuh mereka segera menghilang. Detik selanjutnya mereka berdua sudah berada di depan gubuk. "Buka matamu kita sudah sampai." "Hah sudah sampai?! Cepat sekali, Kalau bisa secepat ini mengapa kau tidak berteleportasi ketika kita akan kehutan Jían!" "Awalnya aku ingin menyembunyikan hal ini padamu, tapi karena terjadi sesuatu aku mau tak mau harus menunjukannya di hadapanmu. Tapi aku percaya kau tak akan memberitahu kejadian ini kepada orang-orang. " Ketika Jían pergi ke puncak ia merasa sedang diikuti jadi Jían menggunakan teleportasi. "Hah.. iya iya aku berjanji aku tak akan memberi tahu siapapun." Mereka segera masuk ke gubuk untuk membersihkan diri dan makan. Xíaochun berencana kembali ke ibu Kota besok dan juga utusan dari rumah jenderal Chén akan berangkat besok untuk menjemput Jían (Gong Yi ngasih tau Jían lewat fikirannya). "Oh iya Jían batu merah tadi sebenarnya itu apa? Ketika aku memberikan batu tersebut kepada penjaga di puncak ia langsung tersenyum dan memperbolehkanku masuk. Dan juga ceritakan apa yang terjadi ketika kau mengecek orang yang menangis itu?" "Kau terlalu banyak bertanya. Ketika kau sampai ke ibu Kota kau akan mengetahuinya. Kalau tentang batu merah mmmm... akan kuceritakan ketika aku sudah berada di ibu kota." "Huh... menyebalkan. Kau sangat senang membuat orang penasaran yaaak." "Iya aku senang sekali. Apalagi kalau yang penasaran itu kau. Sekarang tidurlah, kau perlu energi untuk besok. Selamat malam." "Selamat malan juga." Setelah Jían masuk ke kamarnya ia langsung merebahkan dirinya ke ranjang empuknya. Ketika ia akan menutup matanya tiba-tiba Qingyu memanggilnya. 'Jían Jían aku lapar. Cepatlah ke ruang angkasa, kau berjanji akan memasak untuk kami. Jían bangunlah.' Jían mendengar perkataan Qingyu dan ia langsung bangun. 'Ah aku lupa, maafkan aku Qingyu. Aku akan segera kesana.' Ketika Jían sampai di ruang angkasa dia langsung dipelototi oleh Chéng. 'Celaka mereka terlihat sangat marah. Apa yang harus aku lakukan. Ah iya imut aku harus bertingkah imut.' "Maafkan aku ya eumm... aku akan memasak makanan yang sangat enak untuk kalian. Yaa.. kalian jangan marah lagi ya eumm.." Kata Jían dengan wajah yang dibuat imut. 'Ah aku kalah...' 'Ada apa dengan wajahnya itu sangat imut.' Jían terus bertingkah imut didepan mereka semua sampai akhirnya Jinjin membuka suara. "Jían sampai kapan kamu mau seperti itu, perutku sudah berbunyi sedari tadi." "Ah iya aku segera memasak. Tunggulah di meja makan. Akan kubuatkan makanan yang enak." Jían pergi ke dapur dan segera memasak banyak makanan yang lezat untuk mereka. Ia juga berpikir bagaimana jika makanan ini dinikmati diluar sambil melihat bintang dilangit malam, pasti sangat indah. "Mingming, kemarilah. Bagaimana kalau kita makan diluar sambil menikmati langit di malam hari, pasti banyak bintang dilangit." "Itu ide yang bagus! Aku akan memindahkan meja makannya diluar. Pastikan kau masak makanan yang lezat ya..." "Pastinya makanan lezat menunggumu.. Lakukan dengan yang lain, jangan lupa siapkan peralatan makannya." Walaupun langit di ruang angkasa itu tidak asli, langit disini tampak seperti asli dan tetap Indah untuk dipandang. Kali ini Jían memasak makanan rumahan yang sederhana tetapi memiliki rasa yang luar biasa lezat, dan juga ia membuat nasinya sedikit spesial dari biasanya. "Gubo bisa tolong bawa makanan ini ke meja." "Iya tuan. Uuh baru mencium baunya saja sudah membuatku lapar. Ayo tuan cepatlah aku sudah sangat lapar..." Meja makan itu sekarang dipenuhi dengan berbagai macam hidangan. Dibawah bintang mereka semua menikmati makanan layaknya seorang keluarga, lebih tepatnya seorang ibu yang memasak untuk enam anaknya yang kelaparan. "Ahhh aku sangat kenyang, perutku sudah tak muat lagi." Kata Jinjin sambil mengelus-elus perutnya. "Aku ingin makanan yang manis. Apa kau membuat makanan yang manis? " Tanya Chéng. "Ah iya hampir lupa aku membuat sesuatu yang spesial untuk kalian, tunggu disini." Jían datang dengan membawa sebuah nampan besar yang diatasnya ada benda bulat berwarna merah dengan banyak lilin diatasnya. Itu adalah cake red velvet. Ia berfikir untuk merayakan kedatangan mereka dan bantuan mereka yang diberikan kepadanya jadi Jían membuat cake ini. Mereka berenam tidak tahu apa maksud dari Jían. Mengapa ada lilin diatas sebuah roti? Apa ini seperti acara ritual? Apa ini sebuah persembahan untuk dewa? "Ini adalah perayaan kedatangan kalian di dalam hidupku. Dan juga rasa terimakasihku dari bantuan yang selama ini kalian berikan kepadaku... aku hiks.. sangat hiks.. sangat berterimakasih karena adanya kalian disini." Kata Jían sesenggukan dan ada senyum cerah di wajahnya. Deg. Hati mereka tersentuh selama hidup didunia ini tidak ada satupun tuan mereka yang menyiapakan hal seperti ini. Tuan mereka sebelumnya hanya peduli para diri mereka sendiri dan memanfaatkan mereka dengan ganas. "Jían membantu dan melindungimu itu sudah menjadi tugas kami semua, kau tak perlu berterimakasih." Kata Daxue "Kami akan selalu ada untukmu." Qingyu "Kami tidak akan pernah berpisah denganmu sampai ajal menjemput." Jinjin "Kita akan melewati ini semua bersama." Mingming "Kami akan selalu membantumu setiap kau kesulitan, selalu disampingmu salat kau sedih, kami berjanji." Chéng "Aku akan melakukan apapun untukmu tuan." Gubo Sesudah mengatakan hal itu mereka berenama menuju kearah Jían berada dan segera memeluknya. Mereka semua berpelukan sangat lama sampai-sampai lilin yang ada diatas roti sudah setengah. "Kalian sudah cukup peluknya aku kehabisan napas, sekarang tiup lilinnya dan ucapkan keinginan kalian." "Apa itu akan terkabul?!" "Yaaa mungkin jika dewa berbaik hati." Semua orang meniup lilin dan mengucap harapannya masaing-masing didalam hati. 'Semoga kau tenang disana, aku sudah tidak kesepian lagi disini. Tapi aku masih berharap kau bisa disini bersamaku. Untuk Shanon semoga kau selalu bahagia disana , dan Dewi jika kau mendengar harapanku ini aku akan menjadi lebih kuat dan membalas apa yang sudah mereka lakukan padamu. Aku merindukan kalian.' "Sekarang ayo makan kue nya!!!" Menikmati red velvet yang manis dan teh yang hangar dengan suasana yang hangar juga membuat hati Jían senang, mereka semua bersenang senang hingga pagi. Tiba-tiba ia teringat dengan orang yang mengikutinya di hutan racun. "Ketika sedang berada di hutan racun apakah kalian merasa jika kita sedang diikuti? Tapi orang itu tidak mempunyai niat membunuh." "Aku merasakannya. Ia tidak memiliki niat membunuh jadi ia kubiarkan." Jawab Daxue. Sementara itu kemarin di hutan racun. 'Hmmm mengapa tuan menyuruhku mengawasi gadis biasa sepertinya. Sangat membosankan huhh.' Selang beberapa jam Setelah ia mengawasi, ia terkejud dengan pemandangan di depannya. 'Fawsteak wand! Mengapa gadis itu bisa mempunyainya. Bukannya dia berasal dari kerajaan Zhou mengapa ia bisa mempunyai tongkat sihir. Terlebih lagi itu tongkat sihir yang sudah lama menghilang.' Dia mengikuti Jían sampai ke puncak dan akhirnya terhenti karena penjaga yang ada disana. Tapi ia tidak sengaja mendengar percakapan Jían dengan Xíaochun. 'Apa bisa menggunakan semua s*****a yang ada di benua ini! Monster dia benar benar monster. Aku harus cepat kembali ke markas dan memberitahu hal ini kepada tuan.' Sesampainya di markas ia segera menceritakan semuanya dari Jían menyelamatkan bayi serigala itu sampai bakatnya dalam menggunakan semua s*****a di benua ini. "Ah itu aku sudah tahu, gadisku memang benar benar hebat dan tidak berubah ahaha..." "Apa tuan mengenal siapa perempuan tersebut? Dia berasal dari kerajaan Zhou bukan?" "Ahaha.. itu rahasia. Dan jangan pernah katakan ini kepada siapapun kau mengerti kan." Ia mengatakannya dengan wajah yang dingin. "Ha-hamba ini mengerti tuan. Kalau begitu hamba ini akan pergi." 'Aku tak sabar untuk menemuinya, apa dia masih ingat denganku? Aku sangat merindukanmu Shian.' ♨️ "Xíaochun ini obat untuk ayahmu, ini tidak dapat menyembuhkan ayahmu sepenuhnya. Tapi tubuhnya akan lebih bail daripada sebelumnya." Ketika Jían berada di ruang angkasa ia juga membuat obat untuk ayah Xíaochun. Tentu saja ada maksud dibalik itu (obatnya gak beracun kok.) "Jían kau sangat baik hiks... aku tak tahu cara membalasmu hiks..." "Kalau begitu jadilah temanku." "Hah... hiks.. tentu saja aku akan berteman denganmu aku akan selalu menjadi temanmu." "Pfft jangan menangis lagi. Tunggu sampai aku kembali ke ibu Kota, aku akan menyembuhkan ayahmu. Dan juga kau harus merahasiakan identitasku dari keluargamu dan orang lain. Kau boleh menceritakan tentangku tapi tidak identitasku." "Iya aku berjanji. Terimakasih banyak Jían." Setelah Xíaochun pergi, Lan dan Lea menghampiri Jían. "Apakah tidak masalah jika nona Xíaochun mengetahui identitasmu Jían?" "Tidak masalah lagipula aku percaya padanya. Dan dalam tiga hari lagi suruhan dari kediaman akan sampai untuk menjemput kita. Aku tak sabar, selir itu pasti merencanakan sesuatu untuk mencelakai ku." ??? Di kerajaan Zhou itu ada dua Jendral Agung yang satu bapaknya Jían dan yang satu bapaknya Xíaochun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD