Pagi hari di Kota Amsterdam Belanda, tidak ada hujan sama sekali, tidak seperti di Paris, hujan terus menerus. Pagi yang sibuk untuk pria itu karena dia harus menyiapkan sarapan untuk adiknya yang manja dan sangat nakal tersebut. Hanya beberapa roti bakar dengan selai strawberry dan selai nanas yang dia sediakan untuk sang adik. Tetapi Zio bahkan belum bangun juga. “Zio bangunlah, ayo kita sarapan bersama,” ajak abang Vano kepada sang adik. Remaja berusia tujuh belas tahun itu bahkan tidak terbangun sama sekali, Zio masih terbuai dengan indahnya mimpi. “Ayolah Zio, bangun.” Sekali lagi pria tampan itu membangunkan sang adik. Tetapi adiknya tidak bangun juga. “Ya ampun sudahlah kamu tu ya, Abang mau ke kantor dulu, nanti siang kalau mau makan siang bareng kamu tinggal datang saja ke ka

