Cemburu Mode ON

1129 Words
“Ah ternyata ada kakak ipar ya,” kata Clarysha dengan suara yang rendah. Clarysha tersenyum manis menatap sang kakak ipar, dan Vano sedikit menorehkan senyum yang manis kepada calon adik iparnya. “Ayo Sayang duduk di sini, ayo kita makan bersama sayang,” kata Cherysha dengan senyuman manisnya. Namun Geovano hanya terdiam. Wajah Vano tanpa ekpresi dan tak ada senyuman sama sekali. Dia masih merasa marah dan kesal karena telepon itu. “Ini kak piringnya.” Clarysha memberikan piring pada sang kakak ipar. Dan Vano menerimanya dengan menorehkan senyum yang manis. “Apa ini, apa di masih marah karena telepon tadi, sehingga Vano sama sekali tidak perduli padaku dan mendiamkan aku seperti ini, sedangkan kepada Carysha tersenyum manis,” lirih Cherysha di dalam hatinya. Mereka melanjutkan makan malam mereka dengan suasana hening, tidak ada yang berbicara sepatah kata pun. Padahal sebelum kedatangan Vano, suasana meja makan begitu ramai oleh tawa kedua gadis itu. Mereka pun kini selesai makan. Vano dan Cherysha duduk di depan televisi sedangkan Clarysha sibuk mencuci piring kotor bekas mereka makan. “Kak, kenapa diam saja sedari tadi?” tanya Cherysha dengan suara yang rendah. “Siapa pria itu?” tanya Vano dengan suara rendah sambil menatap sang kekasih dengan tatapan penuh dengan kecurigaan. “Pria yang mana?” Cherysha kini berpura-pura tidak tahu. “Mark,” jawab Geovano singkat. “Mark, dia teman Sayang. Dia sesama model.” Wanita itu menjawab pertanyaan sang kekasih dengan senyuman seolah-olah tidak terjadi apapun dan seolah-olah tidak ada masalah apapun. “Kalian begitu dekat sampai-sampai dia berani menerima panggilan telepon orang lain?” tanya Vano. “Mana mungkin, kami hanya teman biasa saja,” tukas Cherysa dengan senyumannya. Wanita itu mencoba bersandar di bahu sang kekasih. “Tetapi dia begitu berani mengambil ponsel kamu?” tukas Vano dengan suara yang rendah. “Memangnya tadi kakak menelepon?’ tanya Cherysha kembali berpura-pura. “Jadi kamu tidak tahu bahwa aku menelepon kamu tadi, jadi si pria bernama Mark itu tidak mengatakan apapun kepadamu?” tanya Vano dengan kening yang mengerut. “Iya sungguh aku tidak tahu,” kata Cherysha. “Aku ingin bertemu dengan dia,” kata Vano dengan nada datar. “Apa, untuk apa Kakak ingin bertemu dengan Mark?’ tanya Cherysha merasa sangat terkejut ketika mendengar vano ingin bertemu dengan mark. “Iya aku ingin bertemu dengan teman kamu Mark, untuk memperingati dia bahwa kamu adalah milikku,” kata Geovano dengan suara yang rendah namun penuh dengan penekanan. “Tapi Sayang, itu percuma saja. Kami tidak ada hubungan apa pun. Aku dan Mark hanya berteman saja,” tukas Cherysha menjelaskan semuanya kepada Vano. Namun Vano tidak percaya begitu saja. Pria itu masih sangat cemburu dengan pria yang bernama Mark. Pria yang sudah berani mengambil ponsel milik calon istrinya dan langsung menerima panggilan telepon milik orang lain. “Aku ingin berjumpa dengan dia,” kata Vano dengan keteguhan hatinya. Pria itu tidak bisa di sanggah. “Ini tu sudah malam, sebaiknya kita tidur saja ya,” kata Cherysha mencoba menarik abang Vano kedalam kamarnya. “Untuk apa kita ke kamar?” tanya Geovano dengan kening yang mengerut. “Kita akan tidur bersama, Sayang,” kata Cherysha dengan senyuman manisnya. Wanita itu langsung terlihat seperti seorang wanita nakal yang berusaha merayu dan membujuk p****************g. Tetapi Vano bahkan bukan orang seperti itu. Vano memang pernah sekali berhungan intim dengan Cherysha itu pun memang karena terpaksa karena Cherysha terus memaksa. Vano bukanlah Zio yang bisa melakukan hal itu di luar pernikahan. Apa yang sudah terjadi kepada mereka berdua sebulan lalu itu adalah sebuah kesalahan terbesar Vano dalam hidupnya, dan dia pun tidak akan pernah mau mnegulangi hal yang sama. “Kamu tidur saja dengan adikmu Clara, karena aku akan tidur sendiri,” kata Vano sambil menjauhi Cherysha. “Sayang, kamu marah padaku?” tanya Cherysha dengan suara yang rendah. “Aku tidak marah kepadamu, aku hanya tidak ingin tidur bersama saja,” kata Vano. “Tapi kenapa, apa kamu tidak merindukan aku, Kak?’ tanya Cherysha dengan mata yang berkaca-kaca. “Bukan seperti itu Cher, aku datang ke sini karena aku aku begitu merindukan kamu, aku cemburu karena ada pria lain yang dekat dengan kamu di sini,” lirih Vano. “Sayang, aku pun begitu merindukan kamu, jangan khawatirkan pria bernama Mark itu, karena dia bukan siapa-siapaku,” jawab Cherysha dengan nada rendah lalu memeluk Geovano dengan mesra. “Wajar kan aku merasa sangat cemburu, satu bulan lebih aku merindukan kamu, kamu tidak ada kabar sama sekali dan saat aku sudah tidak tahan merindukan kamu, sekarang kamu malah dekat dengan pria lain, aku seperti orang gila berlari ke sini dari belanda ke Paris,” tutur Geovano. “Sayang maafkan aku, aku sungguh ingin meghubungi kamu, tetapi aku takut kamu tidak mau menerima panggilan telepon dariku, jadi aku bersabar menunggu sampai kamu menghubungi aku secepatnya.” Wanita itu berkata dengan mata yang berkaca-kaca. “Ya sudah sekarang kamu tidur, tidurlah bersama adikmu,” kata Vano. “Tapi kenapa,” tanya Cherysha. “Kenapa apa?” tanya Vano dengan kening yang mengerut. “Kenapa kakak mengusir aku, aku kan ingin tidur di sini berdua dengan Kakak,” kata Cherysha dengan mulut manyunnya. “Tidak bisa, Sayang, kita akan terus bersama setelah menikah,” kata Vano. “Benarkah Kakak tidak mau kita bersama malam ini?” tanya Cherysha. “Iya, nanti saja menunggu malam pernikahan kita,” lirih Vano. “Baiklah,” kata Cherysha. “Tidur yang nyenyak karena besok pagi kita akan menemui pria itu,’ kata Vano. “Jadi masih penasaran?” tanya Cherysha. “Iya, karena itu lah tujuanku datang ke Paris, ingin memberitahukan dia siapa kita,” kata Vano dengan suara yang rendah. “Baiklah terserah kakak kalau begitu,” lirih Cherysha dengan suara yang rendah. Lalu gadis itu pun pergi meninggalkan Vano sendiri dinkamrnya. Setelah yakin bahwa Vano kini sudah tertidur dengan lelap. Cherysha pun keluar dari apartemen sekedar untuk menelepon Mark. Dan kini telepon mereka pun tersambung. “Hallo Sayang, tumben kamu menelepon aku, apa kamu rindu padaku sampai kamu menelepon larut malam begini?” tanya Mark dengan suara rendah. Pria itu memang sudah jatuh cinta kepada Cherysha sedari pandangan pertama. Namun caranya menjebak Cherysha seperti itu membuat Chery begitu kesal terhadap mark. “Aku tidak merindukan kamu Mark, aku hanya mengatakan kepada kamu, besok tunanganku Vano ingin bertemu denganmu, aku harap kamu bisa menjaga ucapanmu, aku harap kamu tidak mengatakan tetang masalah malam itu kepadanya,” pinta Cherysha dengan suara yang penuh penekanan. “Oke aku akan menuruti semua keinginan kamu sayang tetapi malam ini kamu harus datang ke apartemen aku, aku ingin di temani minum sama kamu,” kata Mark kepada Cherysha. “Mark kamu gila, tunanganku ada di sini, dan kamu meminta aku untuk pergi ke tempatmu, kamu benar-benar sinting ya,” tukas Cherysha dengan kekesalannya. “Baiklah-baiklah kalau memang malam ini kamu tidak mau datang, tidak apa-apa,” kata Mark. “Benarkan?” “Tapi—“ ucapan Mark terhenti. “Tapi apa Mark?” tanya Cherysha dengan kening yang mengerut. “Tapi … aku akan mengatakan semuanya kepada tunangan kamu tentang apa yang sudah kita lakukan bersama satu minggu lalu, aku bahkan akan mengatakan semua tentang tanda di tubuh kamu, ada tanda apa—“ ucapan Mark terhenti karena Cherysaha berteriak ,”Cukup!” “Ada apa?” tanya Mark. “Jangan katakan apa pun lagi!” pekik Cherysha. “Oke datanglah sekarang, kalau begitu!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD