“Ayo kita makan, Dek,”ajak Cherysha sambil mengajak adiknya untuk makan di luar.
“Mau kemana kita, Kak?’ tanya gadis itu dengan kenign yang mengerut.
“Kemana lagi kalau bukan makan dek, ayo,” kata cherysha menarik tangan sang adik.
“Tidak-tidak Kak, kita tidak perlu pergi kemana-mana. Kita makan di rumah saja, ya,” kata Clarysha dengan senyuman manisnya.
“Kita mau makan apa Cla, ya ampun,” kata Cherysha dengan tawanya.
“Kita akan memasak kak,” kata gadis itu dengan senyuman manisnya.
“Tidak-tidak, aku tidak mau masak, Clara aku lelah kalau harus masak juga, lagian aku oulang karena ingin istirahata,” kata Cherysha dengan helaan napasnya.
“Sudah kalau begitu Clara aja yang masak, dan Kak Chery tinggal duduk manis,” seru Clarysha dengan senyuman manisya.
“Tapi Clara, kamu melupakan sesuatu, di kulkasku tidak ada apa pun yang bisa kamu masak, apa kamu mau masak air saja?” tanya Cherysha dengan senyuman manisnya.
“Oh ya ampun, jadi selama ini kakak tidak pernah menikmati masakan rumahan, dan setiap hari makan di resto?” Clara membulatkan matanya, tidak percaya bahwa tidak ada mie sekali pun di kulkasnya sang kakak,
“Aku sibuk, Sayang. Aku pergi pagi dan pulang subuh dan aku bahkan tidur Cuma sebentar saja,” lirih sang kakak kepada adiknya.
“Apa kak Chery lelah, cape?’ tanya sang adik kepada kakanya.
“Aku kadang lelah dan cape,” jawab Cherysha.
“Jadi, kenapa kakak tidak pulang ke Indonesia dan menikah saja dengan kak Vano, aku lihat kak Vano bahkan bisa memberikan apa pun yang kak Chery inginkan,” kata Clarysha.
Sesaat Cherysha terdiam dengan semua pertanyaan dari sang adik. Apa yang di katakan oleh Clarysha memang ada benarnya, sebagai seorang CEO, Vano memang memiliki banyal sekali uang, dan harta kekayaan. Secara Vano adalah putra pertama keluarga Davis.
Tetapi sayangnya, yang Cherysha mau bukan sekedar harta saja, gadis itu menginginkan sebuah ketenaran dan ingin namanya melambung tinggi sebagai seorang bintang. Jadi gadis itu memutusan untuk pergi meniti karier ke luar Negri dan menjadi selebritis Indonesia yang go internasional.
“Tapi aku senang dengan pekerjaanku Cla, kamu sekarang ingin jadi apa, pasti memiliki cita-cita juga kan?” tanya sang kakak kepada adiknya.
“Aku ingin membantu papi, dan meneruskan perusahaan papi, itu saja,” kata Clarysha denga senyuman manisnya.
“Nah seperti itu juga apa yang kakak rasakan saat ini, kakak pun ingin meneruskan karier mami, dan mami sangat mendukung karier Kakak, seperti halnya kamu yang mendapatkan dukungan penuh dari papi,” kata Cherysha dengan sengan senyuman manisnya menjelaskan semuanya kepada sang adik.
“Jadi Kakak sangat bahagia dengan pekerjaan Kakak walau pun sangat melelahkan seperti ini?” tanya sang adik.
“Iya jelas saja,” jawab Cherysha dengan senyuman manisnya.
Wanita itu berbohong kepada sang adik tentang apa yang dia katakana. Sebenarnya dia merasa sangat menyesal menjadi model dan tinggal di paris.
Baru sebulan saja tinggal di sini, dia sudah di ancam oleh seorang laki-laki yang bernama Mark. Mark sudah menodai dia dan bahkan kini mengancam dia agar bisa memadu kasih lagi bersama.
“Ya sudah kalau Kak Chery memang senang dan bahagia, maka nikamati saja semuanya,” seru Clarysha dengan senyuman manisnya.
Cherysha pun tersenyum manis, dia bersaha tertawa pula di depan sang adik, padahal saat ini hatinya sangat gundah gulana karena ancaman dari pria yang bernama Mark. Pria yang sangat menyebalkan untuknya.
Keduanya kini keluar dari apartemen dan berjalan menuju ke sebuah toko yang dekat dengan apartemen untuk membeli beberapa sayur dan daging yang bisa di masak oleh Clarysha,
Mereka sungguh bahagia memilih bahan makanan yang akan mereka beli dan akan mereka masak. Dan tiba-tiba saja ponsel Cherysha berdering. Dengan segera Cherysha menerima panggilan telepon tersebut.
“Ya Tuhan untuk apa si Mark itu menelepon lagi?” Cherysha merasa tidak tenang sama sekali.
“kenapa Kak Cher?’ tanya Clarysha dengan kening yang mengerut.
“Sudah lupakan semuanya ayo kita belaja lagi,” ucap Cherysha tersenyum manis mencoba untuk menyembunyikan rasa gugupnya. Dan Clarysha pun hanya bisa tersenyum manis kepada sang kakak.
Hati Cherysha begitu takut, wanita itu takut jika Mark nekad dan menyebar semua video tersebut, maka akan hancurlah semuanya.
Sekuat tenaga Cherysha menyemunyikan lara yang dia dera di agar tak tampak di depan mata sang adik.
“Apa makanan ini cukup untuk tiga hari?” apa perlu aku tambah, Kak?” tanya Clarysha sambil menatap sang kakak.
“Ehm terserah kamu saja Clara,” jawab sang kakak. Lalu Clara menambah lagi sayur, daging dan ikan ke dalam keranjang.
Setelah itu mereka langsung pulang. Sampai di rumah Cherysha duduk dalam kegelisahan sambil menunggu sang adik yang akan memasak makanan untuknya.
Clarysha sangat sibuk memasak. Tetapi gadis berusia 21 tahun itu begitu senang memasak. Bahkan dia kini sudah ikut kelas memasak online.
Clarysha memang tampil seperti istri sempurna yang menguasai dapur dan meja makan.
“Selesai, ayo kita makan, Kak,” kata gadis itu dengan senyumannya.
“Waah ini pasti sangat lezat,” kata Cherysa langsung menyantap masakan sang adik. Oke baiklah mereka memang sangat mirip, tetapi hanya di wajah dan tubuh saja.
Tetapi sebenarnya banyak sekali perbedaan mereka dan salah satunya adalah kaeahilan memasak Clarysha yang memang luar biasa, tidak kalah dari masakan resto ternama.
“Kakak bekerja seharian , karena itu Kakak harus makan lebih banyak,” kata sang adik begitu perhatian kepada sang kakak.
“Terima kasih banyak adikku yang cantik,” seru Cherysha sambil menyantap sayuran dan daging, tetapi tidak memakan nasi sama sekali.
“Kenapa tidak makan nasi?’ tanya Clarysha dengan kening yang mengerut.
“Aku sudah semenjak di sini tidak makan nasi, karena aku tidak boleh sampai gemuk,” jawab Cherysha.
“Menyiksa sekali jadi seorang model,” kata Clarysha dengan suara rendah, lalu menyantap makanan yang dia masak dengan begitu lezat.
Tiba-tiba saja ponsel Cherysha berdering, dan ternyata tertulis nama Vano di sana. Alangkah terkejutnya Chery ketika tunangannya itu menelepon.
Dengan segera Cherysha menerima panggilan telepon tersebut. “Halo Kak.”
“Halo Syang, kamu di mana?” tanya abang Vano dengan suara yang rendah.
“Aku sedang makan bersama dengan Clara,” jawab Chery dengan suara rendahnya.
“Makan di mana?” tanya Geovano datar.
“Di apartemen, Kak.” Chery menjawab dengan gugup.
“Kalau begitu bukakan pintu, aku sudah ada di depan pintu apartemen kamu,” kata Vano.
“Apa?” Cherysha tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan, bahwa Geovano kini sudah berada di depan pintu kamarnya.
“Iya buka lah,” pinta Vano.
“Ada apa Kak Chery?” tanya Clarysha dengan kening yang mengerut.
Cherysha menutup panggilan telepon dari Vano, dan berlari ke depan pintu bergegas membuka pintu apartemennya.
Benar saja, vano sudah berdiri di depan pintu apatemennya.
“Kak,” kata Cherysha sambil memeluk Geovano. Sedang pria itu masih terdiam, karena mode cemburunya sedang mode ON sedari dia menerima panggilan dari pria itu.
Mereka kini saling menatap, Cherysha tersenyum manis, sedangkan Vano sendiri hanya diam tanpa senyum sama sekali.
“Apakah ada tamu?” tanya Clara dari dalam. Gadis itu tidak tahu kalau kakak iparnya datang juga ke Paris.
“Ayo masuk, Sayang. Aku sedang makan dengan adikku,” kata Cherysha dengan senyumannya sambil menarik tangan Geovano dengan lembut.