Kenakalan Sang Adik
Siang itu Vano sedang berada di belanda, sudah seminggu beliau mengurus kantor cabang yang sudah mulai berantakan karena ada orang kepercayaannya yang menggelapkan dana, sehingga merugikan perusahaan.
Kejadian ini harus segera dia selesaikan dengan cepat, dia harus mencabut semua akar permasalahan tersebut, sebelum menjadi busuk sampai ke buah. Karena itu dia pantang pulang sebelum meneyesaikan semuanya.
Setelah seharian pria itu lelah bekerja, kini dia pulang ke apartemennya. Dia sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan kasur dan bantal. Dia sangat lelah hari ini. Masalah di kantor cabang belanda mampu menguras isi otaknya.
Pria itu masuk ke dalam apatemen kesayangannya, dan dia merasa sangat heran kenapa dia mendengar suara raungan dari dalam kamarnya.
Suara itu seperti orang yang sedang melakukan hubungan intim. Dengan segera Geovano masuk ke dalam kamar tersebut dan benar saja, ada sepasang mahluk berbeda jenis kelamin sedang menyatukan tubuh mereka di atas kasur yang dia rindukan.
Saat ini Vano begitu marah ketika memdapati sang adik, kini sedang bergumuh dengan seorang gadis bule. Pria itu tidak habis pikir kenapa bisa adiknya seliar dan sebrutal itu.
”Pakailah pakaian kalian berdua!” bentak Vano dengan kemarahannya. Dia sangat pusing dengan adiknya yang senakal itu.
Gadis bule itu dengan segera mengenakan pakayannya dan berlari keluar apartemen itu. Sedangkan Zio sendiri masih duduk di atas kasur yang tadu dia pakai untuk bergulat dengan gadis bule. Gadis yang baru saja dia kenal dan telah berhasil dia ajak untuk memadu kasih.
“Zio, untuk apa datang ke sini dan malah membawa seorang perempuan murah?” tanya Vano kepada sang adik.
“Aku ingin berlibur, Bang,” jawab Zio sambil mengenakan pakaiannya.
“Dengan membawa wanita asing masuk ke dalam rumah?” Vano menatap sang adik dengan aura kekesalan yang sudah dia bending sedari tadi.
“Tadi dia ingin ikut Bang, dan kalau ada kesempatan, kenapa tidak Zio ambil,” tukas Zio sambil merapihkan pakaiannya.
Vano benar-benar merasa kesal, adiknya bahkan sudah mengotori tempat tidurnya, terlihat ceceran cairan kental menetes di sprei putih miliknya.
“Rubahlah semua sikap buruk kamu Zio, berganti-ganti pasangan seperti berganti baju saja, bagaiman kalau kamu terkena penyakit menular seksual, siapa yang rugi? Pasti kamu lah yang rugi. Kamu akan terkena HIV AIDS jika tetap berperilaku liar seperti itu.” Vano berkata begitu lantang. Pria itu sudah kewalahan setiap hari harus ceramah di depan sang adik.
Sedangkan adiknya sendiri tidak pernah mendengarkan semua petuah darinya. Dan selalu saja mengabaikan setiap kali abang Vano berbicara.
“Aku pakai pengaman ko, Bang. Jadi Abang tenang saja,” jawab Zio dengan santai.
“Kalau kamu pakai pengaman, sprei Abang tidak mungkin kotor seperti itu!” bentak Vano merasa sangat kesal kepada sang adik bungsu.
“Tadi itu, saat Zio lepas, eh malah tumpah, nanti Zio bawa sprei ini ke tempat laundry. Jadi Abang jangan semarah itu hanya gara-gara sprei abang kotor,” kelit Zio sambil berjalan melenggang ke kamar mandi. Remaja pria itu hendak membersihkan dirinya dari sisa-sisa keringat yang sudah membanjiri tubunya akibat pergulatan yang dia lakukan bersama gadis bulenya.
“Ya Tuhan Ziooo!” teriak abang Vano kepada sang adik, ketika kini bahkan sang adik sudah menutup pintu kamar mandinya. Adiknya merasa benar-benar tidak bersalah, dan bersikap seolah itu adalah hal yang wajar dan lumrah.
Padahal apa yang Zio lakukan itu, semua sudah melanggar Norma Agama dan Norma Kesusilaan. Sikap Zio berbeda dengan sikap Zia yang manis dan cantik. Zia adalah adik tercantik yang abang Vano milikki, sifatnya sangat ,mirif dengan kelembutan sang Mommy.
Sehingga Vano tidak ambil pusing dengan sikap adik cantiknya itu. Tetapi beda dengan Zio. Si bungsu itu adalah sumber defresi untuk dirinya. Sehingga selangkan saja Zio berjalan, pasti akan ada masalah dan membuat dia kewalahan untuk menyelesaikan masalah yang sudah di buat sang adik.
Tetapi Vano begitu menyayangi adik-adinya. Abang Vano akan berusaha sebaik mungkin untuk menjaga kedua adiknya. Tanpa harus mengganggu dan membuat sakit kepada kedua orangtuanya.
“Aku harus bagaimana untuk membuat kamu mengerti, Zio?” pria dua puluh empat tahun itu benar-benar begitu stress. Adiknya adalah salah satu sumber kekacawan dalam pikirannya.
Pria itu langsung ke dapur untuk mengambil air minum. Otaknya sudah sangat panas.
“Abang tidak bawa makanan buat aku?” seru Zio sambil berjalan keluar dari dalam kamar mandi.
“Mana Abang tahu kalau kamu itu ada di sini, lagian kamu kapan sampai di sini?’ tanya Geovano kepada sang adik.
“Baru satu jam tadi aku sampai,” jawab Georzio.
“Dan gadis itu?”
“Jelas saja baru kenal ketemu di bandara tadi,” seru Zio.
“Benar-benar kamu ya, baru kenal sudah berani meniduri anak gadis orang, keterlaluan.” Vano berdecak kesal dengan sikap sang adik.
“Bang Vano, Zio lapar nih, kenapa tidak ada apapun di kulkas?” tanya Zio dengan kening yang mengerut.
“Mau makan apa?” tanya abang Vano kepada sang adik.
“Apa pun itu bang, pokonya Zio mau makan sekarang,” kata si bungsu kepada kakak sulungnya.
“Iya sekarang kita pesan makanan.”
“Ah mantap.”
“Zio, kamu ke sini sudah izin sama Mommy belum, terus sekolah kamu bagaimana?” tanya sang kakak dengan kening yang mengerut.
“Sudah dong Bang, Mommy sudah nengijinkan, lagian aku masih libur sekolah sampai minggu depan jadi Zio bisa menemani Abang di sini,” ungkap Zio dengan senyumannya.
“Kamu mau disini selama satu minggu, Abang pikir kamu harus pulang besok pagi,” tukas Geovano kepada Zio.
“Besok pagi, tidak –tidak aku mau di sini selama satu minggu Bang, Abang tega banget sama aku, aku kan ingin liburan,” tukas Zio dengan kekesalannya.
“Karena kamu di sini hanya akan mengganggu konsentrasi Abang, Abang banyak pekerjaan di sini yang harus Abang pikirkan,” kata Vano dengan wajah malas.
Banyak masalah yang harus dia selesaikan di sini, kalau di tambah sang adik, maka konsentrasinya memang akan terganggu. Dia tidak akan bisa fokus dengan masalah yang sedang dia hadapi di perusahaan. Dia tidak mau dengan kedatangan adiknya ke sini malah memperburuk keadaannya.
“Abang tu, aku tidak akan merepotkan Abang, aku sudah di kasih uang ko sama Mommy, aku tidak akan pernah meminta uang sama Abang,” ujar Zio kepada Vano.
“Bukan masalah uang, berapa pun uang yang kamu minta asal Abang ada, Abang pasti beri untuk kamu Zio, tetapi--” ucapan Vano terhenti seketika.
“Tetapi apa?” remaja itu bertanya.
“Ini karena kamu pasti akan berganti-ganti perempuan lagi selama di sini, dan itu akan mengganguku,” tukas abang Vano dengan suara rendah namun penuh dengan penekanan.
“Jangan pikirkan aku, abang cukup pikirkan pekerjaan Abang saja,” pinta Zio sambil menatap sang kakak.
“Bagaimana Abang tidak memikirkan kamu Zio, usia kamu baru 17 tahun dan kamu masih sekolah menengah atas, sekarang berapa perempuan yang sudah kamu tiduri?” kata pria itu dengan suara yang agak lantang.
“Aku lelaki normal, Bang,” kata Zio dengan suara rendah.
“Memangnya cuma kamu yang normal, Abang juga normal, tetapi Abang tidak seperti kamu, tolong Zio ingatlah usiamu,” tukas Vano.
“Sudahlah Bang, aku lapar,” kata Zio sambil pergi meninggalkan sang kakak.
“Anak itu ya, benar-benar,” kata Geovano sambil menghela napas beratnya. Adiknya memang selalu membuat dia bingung dengan kenakalannya.