Tentang Cherrysha

1093 Words
Di tengah semua masalah yang kini menyapanya. Vano masih saja merindu sang kekasih. Cherysha selalu saja ada dalam bayangnya. Apalagi kini sudah sebulan wanitanya pergi. Membuat dia semakin merasa sangat kesepian. Dia kini masih ada di belanda bersama sang adik yang nakalnya tidak ketulungan, kadang mebuat kepalanya seolah botak, tetapi tenang saja itu hanya istilah saja. Karena pada kenyataanya Vano masih dengan gambaran CEO yang ganteng maksimal. Sore itu Vano memutuskan untuk sekedar minum di café dekat perusahaan. Dia ingin sendiri dan memendam rasa rindunya kepada sang kekasih. Vano sudah memesan secangkir cokat panas untuk teman dia bersantai. Rasa rindunya kepada Chery sungguh menyiksa hati dan jiwanya. “Cherysha, kalau aku menelepon dia di Paris, apa aku akan menggangu dia?” lirih Geovano di dalam hatinya. Selama satu bulan ini mereka sama sekali tidak berkomunikasi. Karena Vano masih sakit hati dengan kepergian Cherysha, karena itulah Vano berharap Cherysha yang akan menghubungi dia lebih dahulu. Tetapi pada kenyataanya bahka Cherysha tidak ada kabar sama sekali. Vano semakin gelisah dengan keadaan ini. Rasa rindunya menggebu dan tidak bisa dia tahan lagi. “Aku harus menghubungi Cherysha secepatnya, aku tidak mau kalau rasa rinduku ini membunuhku perlahan,” lirih Vano di di dalam hatinya. Pria itu terus berguman sendiri, antara ingin menghubungi dan tidak. Dia merasa dilema dengan perasaannya sendiri. Dan kini pria itu pun memutuskan untuk menghilangkan ego-nya dan langsung menghubungi sang kekasih. Beberapa saat kemudian telepon Vano pun tersambung. “Halo,” kata seorang pria yang menerima panggilan dari Vano. Degg. Jantung Vano berdetak begitu cepat. Saat dia mendengar suara pria. “Kenapa seorang pria yang menerima telepon dariku, ini-ini kan nomer telepon Chery?” kata Vano dengan suara yang gugup. “Ini saya, temannya Cherysha. Maaf anda siapa?” tanya pria itu bertanya kepada Vano. “Teman? Semenjak kapan kalian berteman?” Vano merasa sangat cemburu. Kenapa ada teman yang berani menerima panggilan telepon orang lain. Bahkan ponsel itu adalah privasi. “Saya sudah berteman lama dengan Cherysha, dan anda sebenarnya siapa, bisa-bisanya anda banyak bertanya soal saya dan Chery, tidakkah anda tahu bahwa kami bukanlah orang yang bisa membuang-buang waktu, sebaiknya anda tutup saja telepon tidak bermutu ini,” kata pria itu dengan nada yang kesal. “Apa, kamu bilang tidak bermutu, kamu yang tidak bermutu, kamu tahu siapa aku, aku adalah Geovano tunangannya Cherysha,” tukas Vano dengan penuh penekanan. Pria itu sangat marah dan juga merasa cemburu pada pria yang sudah berani menerima panggilan telepon darinya. Harusnya cherysha lah yang menerima panggilan telepon tersebut, tetapi malah seorang pria asing yang tidak penting. Rasa kesal Vano tidak terbendung. Dia menutup panggilan telepon tersebut. Lalu langsung menelepon seseorang. Dan beberapa saat kemudian panggilan telepon itu pun tersambung. “Halo Vano Sayang, ada apa?” “Tante Lintang, apa tante sibuk?” tanya Vano kepada sang Mami dari calon istrinya. “Tentu saja tidak, tadi Mami baru saja selesai shooting realiti show bersama geng sosialita,” kata mami Lintang dengan ramah. “Apakah itu tayangan terbaru?” tanya Vano sambil mengatur emosi dalam jiwanya. “Iya betul Sayang, Vano ada apa menelepon Mami Lintang, apakah ada yang Vano butuhkan?’ tanya sang mami. “Tante begini, Vano ingin bertemu dengam Cherysha tante, dan Vano ingin meminta alamat Cherysha di Paris, apakah tante bisa memberikan alamat itu?’ pinta Vano kepada mami Lintang. “Oh jadi itu, bisa Sayang. Nanti Mami akan beri alamat lengkap Chery di sana ya, emh kebetulan Clara juga sedang berlibur di sana, dia baru berngkat tadi pagi Sayang,” kata mami Lintang. “Iya Tante, terima kasih banyak ya,” kata Vano. “Iya sayang sama-sama,” ucap sang mami. “Tante, Vano tutup dulu ya teleponnya ya,” kata Vano. “Iya Sayang, kalau mau ke Paris kamu janjian saja dengan Clara ya,” ucap sang mami. “Tapi Tante maaf, Vano sekarang sedang berada di belanda dengan Zio,” tukas Vano kepada mami Lintang. “Oh begitu ya, ya sudah kalau begitu nak, hati-hati ya kalau mau kesana,” kata mami Lintang. “Iya Tante terima kasih,” lalu mereka pun memutus sambungan telepon mereka. Vano bergegas pulang ke apartemen untuk mengambil paspor. Sesampainya di sana terlihat Zio yang sedang bersama teman perempuannya yang baru lagi. “Abang mau kemana?” tanya Zio dengan kening yang mengerut. “Zio, Abang mau ke Paris selama dua hari, dan nanti ada Sekertaris abang yang akan datang kemari membawa laptop Abang beserta berkas penting, kamu tolong kamu berikan semua barang itu ya,” pinta sang kakak kepada adinya, yang kini sedang bersantai di sofa sambil menonton TV bersama dengan seorang gadis bule. “Oke Bang, hati-hati ya,” kata Zio dengan senyumannya. “Iya, dan kamu ingat jaga keamanan,” kata Vano sambil menatap tajam kearah sang adik. “Siap Bos,” jawab Zio sambil hormat kepada sang kakak. Vano langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Pria itu ingin segera sampai di tempatnya Cheryha. Dia tidak iklas kekasihnya bersama dengan pria lain. Kini Vano sudah berada di dalam pesawat dan dia bahkan tidak merasa tenang sama sekali, kekasih yang dia rindukan entah sedang apa dia di sana bersama dengan pria asing. “Cherysha sebenarnya siapa pria itu, dan sekarang kalian sedang apa, huh … sangat menyebalkan, kenapa lama sekali untuk sampai di paris, aku sudah tidak sabar untuk berjumpa dengan kamu, Sayang,” kata Vano dengan wajah yang kusut. *** Di sisi lain di Kota Paris, seorang model cantik kini sudah beraksi di depan camera. Cherysha memang sangat cantik dan kecantikannya bahkan bisa membuat pria-pria di sana terhipnotis. “Setelah ini istrirahat ya,” kata fotografer tersebut. “Oke,” kata Cherysha dengan senyumannya. Beberapa fose sudah dia lakukan. Lalu wanita itu pun selesai tepat waktu. “Ini, selesaikan, aku mau beristirahat,” kata Cherysha dengan senyuman manisnya. “Iya, sebaiknya kita makan dulu.” “Oke thanks ya.” Cherysha lalu menghampiri seorang pria dan tersenyum kepadanya. “Halo Beb, gimana cape tidak?” tanya seorang pria dengan senyuman manisnya. Pria yang tampan dan sangat hangat. “Mark kamu sudah lama di sini?” tanya Cherysha dengan senyuman ramahnya. “Ya sudah ada satu jam,” jawab Mark dengan hangat. “Lama sekali, apa kamu ada pemotretan juga?’ tanya Chery. “Tidak Cher aku kesini hanya untuk kamu seorang, Sayang.” Pria itu lalu membelai lembur rambut sang wanita. Terlihat Cherysha agak menghindar dengan senyum yang kikuk. “Jangan seperti ini, ada banyak orang yang melihat, aku tidak mau menimbukan gosip.” “Aku tidak perduli Sayang, aku rindu padamu,” seru Mark dengan senyuman khasnya. “Tapi aku tidak mau sampai tercium Wartawan dan lagian kita tidak memiliki hubungan apa pun, kita hanya teman Mark.” Wanita itu mulai menghindar lalu mengambil ponsel miliknya. Alangkah terkejutnya dia melihat panggilan masuk dari calon suaminya.”Apa ini, kamu menerima panggilan telepon dari tunanganku?” “Apa, jadi dia memang tunanganmu?” Mark mengerutkan keningnya. “Kamu itu sangat keterlaluan, kamu tidak sopan menerima panggilan telepon dari orang lain.” Wanita itu sangat kecewa kepada Mark dan langsung pergi meninggalkan Mark sendirian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD