Candralekha Aku meruntuhkan ego saat mendatangi Bayu di apartemennya. Dia mengabaikan pesan singkat yang aku kirim semalam. Aku naik lift dengan akses yang telah dibuatkannya untukku beberapa waktu lalu. Sesampainya di depan pintu unitnya sebenarnya aku bisa saja masuk begitu saja. Meski aku tahu ibunya sedang berada di Bandung, tapi karena situasi kami sedang tidak baik-baik saja saat aku tidak berani nyelonong masuk tanpa permisi. Setelah merasa nyaliku cukup, aku menekan bel. Butuh beberapa menit sampai pintu dibuka. Bayu terlihat berantakan. Matanya merah, rambutnya acak-acakan. Dia pasti baru bangun tidur. “Kenapa nggak langsung masuk aja?” ujar Bayu menyingkir dari pintu sembari melebarkan daun pintu. Aku patut bersyukur dia tidak mengusirku seperti yang di dalam bayanganku.

