Luciavy terengah menaiki tangga memutar untuk menuju kelas. Peluhnya mengalir pelan membasahi dahi.
"Hah," desahnya kasar. "Sekolah macam apa yang aku datangi ini! Kenapa aku harus berada di kelas tertinggi!"
Luciavy lagi-lagi mendesah dan terus melangkah. Menatap lorong demi lorong hingga kakinya urung melangkah dan memilih mundur secara pelan. Luciavy menyelinap di balik tembok dan mengintip pemuda yang entah sejak kapan berjalan turun melewati tangga.
"Jangan bersembunyi," ucap pemuda tersebut.
Luciavy menatap sekelilingnya, berharap ada orang lain di sana.
"Keluar dan dengarkan," ucap laki-laki itu lagi. "Hati-hati dengan langkahmu atau akan mati menyesal setelah itu,"
Luviavy membeku. Perlahan keluar dari persembunyiannya lalu menatap sekitarnya. "Aneh. Aku jelas-jelas melihat dia ada di sini. Berbicara tenang seolah ia tahu bahwa aku memang bersembunyi. Tapi kenapa dia menghilang? Dia benar-benar hilang."
Luciavy menggeleng lalu kembali melangkah. Memasuki lorong panjang dan berdiri di depan pintu kelas yang telah tertutup.
"Aku terlambat," ujarnya pelan sambil mengetuk pintu kelas.
Pintu itu terbuka. Seluruh mata menatapnya tajam termasuk seorang pria yang tengah menulis sesuatu di papan tulis.
"Ma-maaf, aku terlambat." ujar Luciavy sambil menunduk.
Pria itu menatap Luciavy lama. "Jelaskan alasanmu kenapa bisa terlambat. Apa di kerajaanmu kau tak pernah belajar untuk disiplin?"
Luciavy terlihat kelu. Terlebih pandangan seluruh kelas tertuju padanya. "A-aku berasal dari dunia manusia. Ma-maksudku, aku, a-aku bukan dari keluarga kerajaan seperti yang Pak Guru katakan."
"Woahhh," seru seisi kelas takjup dengan jawaban Luciavy.
Arovis Valle mengernyit dengan jawaban Luciavy. Ia duduk di bangku lalu memeriksa buku absen. "Aneh," ucapnya pelan tanpa menyuruh Luciavy memasuki kelas.
Carrion Alfio Redgley, sang Pangeran dari kerajaan Aaghell berdiri. Pemuda yang memiliki rambut hitam kecoklatan itu tersenyum manis. "Sudah aku katakan. Dia terlihat berbeda sejak aku melihatnya di acara makan malam kemarin."
Carrion berjalan melewati bangku-bangku lalu menarik tangan Luciavy lembut. Luciavy sedikit menolak hingga Arovis berdehem kasar.
"Apa yang kau lakukan, Pangeran Carrion?"
"Aku mengajaknya masuk dan duduk di sebelahku."
Arovis diam. Menjadi guru bagi anak-anak bangsawan iblis cukup sulit. Di mana mereka selalu memiliki kebiasaan yang tak terima pembantahan. "Tapi aku belum selesai bicara dengannya. Dengan-" Arovis diam sejenak karena tak mengetahui nama Luciavy.
"Luciavy Agnasia." sahut Luciavy menyebut namanya.
Arovis mengangguk. "Jadi Nona Luci, bisa kau jelaskan tentang kata-katamu yang telah kau katakan itu?"
Luciavy diam dan menunduk. Berpikir sesaat lalu mendongakkan wajahnya. "Benar. Aku bukan bagian dari kalian. Aku manusia biasa." ucap Luciavy pada akhirnya.
Seluruh isi kelas kembali berdecak. Ini untuk pertama kalinya bagi mereka, ada manusia di antara mereka. Terlebih di antara kelas bangsawan yang berisi anak-anak kerajaan.
Carrion tersenyum pada Arovis. "Sudah cukup? Aku akan membawanya."
"Bagiamana mungkin. Sekolah kita bukan untuk kaum biasa aja seperti manusia. Kita tahu itu," gumam Arovis keberatan.
"Apa itu masalah? Buktinya dia bisa masuk ke mari," potong Vion dingin.
Carrion menatap Vion sesaat. "Jangan ikut campur," ucapnya santai.
"Cih! Aku tak bicara padamu!" jawab Vion kesal.
"Bagimana kau bisa masuk ke sini?" tanya Arovis lagi.
"Sebuah undangan." jawab Luciavy.
"Undangan?" tanya Arovis dan Carrion serentak. Seisi kelas sontak berbisik-bisik.
"Ya, undangan. Dengan amplop hitam dengan lambang api yang menyala. Se-sebelumnya aku mengisi berbagai lembar pertanyaan lalu selang beberapa hari, undangan itu datang lengkap dengan seragam sekolah yang tergeletak di meja kamarku." jelas Luciavy lirih.
Arovis mengernyit. "Aneh. Dan kau dapat kamar di kelas bangsawan?"
Luciavy mengangguk. "Miss Zalova bilang, namaku sudah tertera di daftar asrama sebelumnya."
Mata Arovis membelalak. Tidak, dia sangat ingat tentang sebuah buku hitam yang tersimpan rapi dalam sebuah ruangan. Di mana isi buku hitam tersebut adalah daftar nama para bangsawan iblis yang berpengaruh di dunia kegelapan. Dan buku itu telah menghilang beberapa ratus tahun yang lalu. Meski tak yakin, Arovis pernah mendengar bahwa perpustakaan BlackEyes Hight School telah menemukannya. Namun sayangnya, tak ada satu pun yang dapat membuka ruangan itu kecuali pemiliknya.
"Hellcrack," ujar Arovis lirih.
Carrion yang mendengar itu menoleh. "Hellcrack?"
Deg! Luciavy membeku. "A-apa aku ketahuan? Ka-karena masuk ke dalam ruangan itu? Mereka menyebut Hellcrack."
Seluruh kelas menjadi sunyi saat Carrion menyebut kerajaan Hellcrack dengan jelas. Vion diam dan menatap Luciavy.
"Hahaha, apa yang Bapak bicarakan? Kita semua sudah tahu, bahwa kerajaan itu hanya legenda. Dari cerita yang kami dengar, kerajaan itu telah punah. Rata dengan tanah tanpa ada yang selamat," ujar Firlea jelas.
Luciavy menoleh. "Aku sekelas dengannya? Ahk, s**l! Kenapa aku juga sekelas dengannya?" tatapan Luciavy beralih pada Vion yang masih menatapnya.
"Itu bukan legenda, Firlea! Kerajaan itu nyata."
Carrion tersenyum. "Bagaimana jika Bapak menceritakan soal kerajaan itu, lalu kami semua akan tahu. Hal apa yang membuat para Raja bangsawan iblis selalu menyebut kerajaan itu sebagai kerajaan kunci?"
Arovis mengangguk. Lalu menatap Luciavy. "Masuklah."
Carrion tersenyum lalu meraih tangan Luciavy. "Kau akan duduk bersamaku,"
"Biarkan dia memilih tempatnya sendiri," protes Vion dingin.
"Aku menganggap tak mendengarmu, Pangeran dari kerajaan Vallishell." jawab Carrion tak kalah dingin.
Luciavy hanya menurut lalu duduk di samping Carrion. Menatap ke depan dalam diam saat Arovis mulai berbicara.
"Kerajaan Hellcrack atau kalian bisa menyebutnya Retakan Neraka, adalah kerajaan dimana seluruh masalah tentang dunia iblis terkunci. Beberapa ratus tahun lalu di ketahui kerajaan itu hancur karena sebuah kekuatan yang berasal dari seorang iblis yang terlahir dengan kekuatan keabadian."
"Keabadian? Menggelikan!" potong Firlea pendek dengan tersenyum sinis.
"Bukankah kita para kaum iblis telah abadi?" tanya Vion jelas.
Arovis menggeleng. "Kalian salah. Kita tak abadi. Karena para iblis kelam mampu menyerap energi kehidupan kita hingga inti sari kehidupan kita lenyap. Yang artinya, kita tak akan bisa hidup lagi sekalipun itu reinkarnasi!"
"Itu mengerikan," sambung Carrion.
Arovis mengangguk. "Dan hanya iblis yang terlahir dengan kekuatan keabadian lah yang mampu hidup abadi dan tak akan pernah bisa mati meski dia menginginkannya."
"Itu sangat luar biasa." ujar Firlea pada akhirnya.
"Benar. Dan para iblis kelam mengejar kekuatan itu hingga kini. Namun seperti yang kita ketahui. Sejak kerajaan Hellcrack hancur, keberadaan kekuatan itu pun tak terdeteksi. Hingga kita menyebutnya sebagai kerajaan legenda."
"Ah, jadi karena itu para Raja takut dengan kerajaan Hellcrack?" Vion berujar pelan.
"Lebih dari takut. Karena seperti yang kita ketahui dari cerita yang terus di ceritakan. Bahwa kerajaan Hellcrack memiliki putri yang memiliki kekuatan keabadikan. Di mana kekuatannya mampu menyatukan seluruh kerajaan neraka dalam jentikan jari. Dan kalian tahu apa yang akan terjadi jika hal itu terjadi. Seluruh iblis akan musnah!"
"Cerita yang menarik," ujar Luciavy jelas. "Tapi aku tak mendapatkan alasan kenapa aku bisa berada di kelas ini? Terlebih aku hanya manusia biasa."
"Aku tak yakin. Tapi aku akan mencoba memeriksa data tentang dirimu." jawab Arovis sambil menatap Vion dan Carrion bergantian. "Dari pada itu, kenapa kalian berdua saling bertatapan tajam?"
Luciavy, Firlea dan seluruh kelas menatap Vion dan Carrion.
"Bukan urusanmu!" jawab Vion dan Carrion serentak.
Arovis mendesah. "Lagi-lagi mereka membawa kebiasaan tinggal di kerajaan."
"Baiklah, aku anggap kelas ini selesai." Arovis keluar dari kelas dan menatap Luciavy sesaat. Pandangan matanya sulit di artikan hingga Vion menatap Arovis tajam. Arovis berlalu saat menyadari bahwa Luciavy telah masuk dalam genggaman Vion. Di mana tak akan ada yang bisa mendekati Luciavy selain dari penguasa kerajaan.
"Luciavy Agnasia, siapa dirimu sebenarnya? Kenapa Pangeran dari kerajaan Vallishell yang terkenal dingin begitu mengarahkan matanya padamu. Pangeran lembah neraka, kini akan benar-benar membuat hidupmu berbeda, Luciavy." Ujar Arovis dari dalam hatinya.
***