Aree: Hobi Baru Mama
"Selama Mama belum dapet orang yang bisa bantu-bantu, kalian wajib bantuin!" oceh Mama sambil menakar nasi lalu meletakkannya ke dalam kotak. "Jangan ada yang alasan! Apa lagi kamu, Ar!" tunjuk Mama menggebu-gebu.
Gue kena lagi ya, b*****t!
Padahal gue udah diam, melakukan semua tugas yang Mama kasih. Entah memotong sayur lah, mencuci daging ayam, ngupas bawang sampai mata gue perih berasa kayak lagi dicolok! Nggak tanggung-tanggung, Mama menyuruh gue ngupas bawang sampai dua kilo! Bayangin, dua kilo, anjing!
"Mama nggak pernah kekurangan uang selama ini. Papa selalu ngasih uang belanja lebih-lebih. Masih nulis novel juga biarpun udah tua. Masih aja capek-capek kerja begini!" Douvan mengoceh, mengaduk-aduk bumbu ayam merah di baskom. "Mama terobsesi jadi kaya banget, ya? Mau ngalahin siapa sih, Ma? Soimah?"
"Heh!" tegur Mama, marah.
"Mampus," ejek gue, menggerakkan bibir tanpa suara ke arah Douvan.
Di saat wanita seusia Mama lebih suka menghamburkan uang, menghabiskan uang untuk membeli barang-barang mahal dan mewah, Mama gue lebih suka menimbun uang sebanyak-banyaknya. Papa nggak pernah telat ngasih uang belanja, Mama masih jadi penulis, eh, sekarang, Mama buka usaha baru dong!
Usaha cathering!
Mama dapat tenaga sebanyak itu dari mana sih? Perasaan, tenaganya nggak habis-habis. Ngurusin anak, suami, cucu, belum lagi nulis dan ngurusin cathering, yang sialnya tambah rame sekarang!
"Selesai!" Gue mendorong wadah berisikan bawang yang telah dikupas.
Gue merentangkan kedua tangan, menarik napas lega setelah menyelesaikan tugas paling berat dari Mama. Douvan mengerucutkan bibir mirip bebek. Kegiatan dia main games jadi terhalang karena tugas dari Mama belum selesai dia kerjakan.
"Nggak usah cengengesan!" tegur Mama, menatap gue sinis.
Segera, gue mengatupkan bibir rapat. Sebelum Mama mengomel lebih panjang, lebih baik gue buruan pergi dari sana dan beristirahat di kamar. Capek, anjir. Gila aja, waktu gue terbuang sia-sia cuma karena ngupas bawang!
"Cucian numpuk di dapur," seru Mama, ketus. "Berani masuk kamar sebelum cuci piring, Mama jadiin dua bagian motor gede kamu!"
Ancaman Mama nggak pernah main-main. Selain gue masih butuh uang Mama, gue juga agak ngeri sama ancamannya. Kalau wanita itu mengancam akan membuat motor gue jadi dua bagian, maka besoknya bakalan bisa dilakukan! Nggak terima jadi dua, bahkan Mama punya tenaga bikin motor gue jadi empat bagian!
"Ngapain melotot?" Mama meletakkan sendoknya lalu berkacak pinggang. "Buruan cuci piring sana! Yang bersih!"
Gue mendengus, mengempaskan kedua tangan setelah meremat rambut depan gue dengan perasaan dongkol luar biasa. Gue curiga, hobi baru Mama itu menyiksa gue. Kayaknya nggak senang banget kalau gue duduk tenang.
"Minggir!"
Tiba-tiba kaki gue dipukul. Begitu gue menunduk ke bawah, ternyata si Wangga. Bocah itu memegangi centong nasi lalu dipukulkannya lagi ke kaki gue sambil memasang ekspresi sebal.
Di lantai nih, dekat kaki gue, ada banyak macam alat makan lah, mainan si Wangga dimulai dari robot-robotan sampai mobil-mobilan mini. Si panjul muncul dari mana sih? Perasaan tadi nggak ada dia. Begitu gue nunduk, dia udah ada di belakang gue, sibuk sendiri.
"NENEEEK! AYAH PIRANG BUANG MAINAN AKU! NENEEEK!"
Nggak lama, Mama beneran nyahut dong. Nggak terima cucu kesayangannya gue ganggu. Belum gue buat nangis, kok. Heboh banget, sih!
"Ganggu teruuus! Lama-lama Mama tarik nyawa kamu, ya!" teriak Mama.
To be continue---