“Di sini, Mas, tempatnya?”
Bertanya sambil memandang gedung tinggi di depannya, itulah Medina setelah mobil hitam yang dikendarai Bayanaka berhenti. Menahan malu juga sungkan, Medina memutuskan untuk menerima tawaran pria yang baru dikenalnya itu.
Menginap satu atau dua malam, hal tersebut menjadi rencananya sekarang sebelum nanti pergi. Tak akan diam saja kemudian pasrah dengan keadaan, Medina berencana untuk mencari kerja karena tak akan berubah pikiran, dia tetap ingin berpisah dari Fajar sehingga ke depannya untuk biaya hidup, Medina harus berusaha sendiri.
“Iya,” ucap Bayanaka. “Silakan turun, biar koper kamu saya yang bawa.”
“Enggak apa-apa?” tanya Medina sungkan. “Maksud saya tuh saya kan udah numpang di sini. Jad-“
“Enggak apa-apa,” potong Bayanaka sambil menoleh. “Lagipula sebelumnya kamu sudah bantu saya. Jadi sudah seharusnya saya lakuin ini.”
“Tapi bantuan saya malah sepele, Mas,” ucap Medina. “Saya cuman nyelamatin Mas dari orang yang mau jambret hp Masnya. Kalau pun tadi Mas kehilangan hp, kerugiannya enggak akan seberapa dibanding sekarang Mas bayarin biaya rumah sakit.”
“Kerugian materi memang enggak seberapa, tapi di hp itu banyak data penting. Jadi ya pertolongan kamu berharga,” ucap Bayanaka. “Setidaknya saya enggak akan repot cari nomor klien dan semacamnya.”
Tak tahu harus menimpali apa, Medina hanya tersenyum tipis sebagai respon. Tak terus duduk di kursi sebelah kiri, selanjutnya dia turun setelah perintah tersebut kembali dilontarkan Bayanaka.
Tak berlama-lama di dekat mobil, bersama Bayanaka dia melangkah menuju gedung kemudian menggunakan lift, Medina naik menuju lantai atas.
Tak ada obrolan apa pun, untuk beberapa saat suasana hening menyelimuti hingga sebuah pertanyaan yang Bayanaka lontarkan membuat Medina menoleh.
“Suaminya enggak mau dikasih tahu? Meskipun mungkin hubungan kamu dan dia sedang tidak baik-baik saja, setidaknya dia tahu kamu baik-baik aja,” ucap Bayanaka. “Bagaimanapun juga kamu sedang mengandung.”
“Enggak perlu, Mas,” ucap Medina dengan senyuman samar. “Baik-baik aja apa enggaknya saya, suami saya enggak peduli karena di rumahnya udah ada pengganti.”
Mendengar jawaban Medina, kening Bayanaka mengernyit. Tak langsung bertanya, dia melangkah dulu keluar sebelum kemudian buka suara.
“Maksudnya?”
“Duh, gimana ya, Mas?” tanya Medina. “Sebenarnya saya tipe orang yang sungkan berbagi cerita rumah tangga, tapi kalau Mas mau tahu, suami saya nikah lagi.”
Refleks membulatkan mata, selanjutnya hal tersebutlah yang Bayanaka lakukan sebelum kemudian bertanya, “Serius?”
“Serius,” ucap Medina sambil tersenyum. “Saya dan suami saya tuh udah empat tahun menikah, dan kebetulan kami belum juga dikaruniai anak. Ke saya, suami saya selalu bilang kalau dia enggak apa-apa dan dia bakalan sabar, tapi ternyata semuanya bohong karena diam-diam tanpa sepengetahuan saya, dia nikah lagi.”
“Dan kamu enggak tahu?”
“Enggak tahu, Mas, kan nikahnya juga diam-diam,” ucap Medina. Tak terus melangkah, dia dan Bayanaka kini berdiri di sebuah koridor. “Saya baru dikasih tahu malam ini dan pas ngasih tahu, suami saya bawa istri keduanya. Padahal, di malam ini tuh saya mau ngasih tahu soal kehamilan saya, tapi semuanya batal.”
“Jadi suami kamu belum tahu kamu hamil?”
“Belum, Mas,” ucap Medina sambil menggeleng. “Percuma juga tahu, karena istri keduanya sekarang lagi hamil empat bulan. Jadi ya udahlah, saya sembunyiin aja kehamilan saya. Lebih baik anak saya enggak tahu dia punya ayah, daripada tahu kalah ayahnya khianatin ibunya pas dia hadir.”
Tak tahu harus merespon apa ucapan Medina, setelahnya Bayanaka diam. Namun, yang jelas dia dihampiri iba karena bukan masalah sepele, yang menimpa Medina adalah sesuatu yang cukup serius bahkan menyakitkan.
“Habis ini saya mungkin mau cari kerja buat biaya hidup saya dan anak saya di dalam perut,” ucap Medina. “Saya enggak mau bergantung sama suami saya, karena setelah lahiran nanti saya berniat buat cerai dari dia.”
“Suami kamu kerja di mana?” tanya Bayanaka. “Maksud saya tuh, ekonominya apa sudah sangat mapan sampai berani menikah lagi?”
“Suami saya manajer keuangan gitu, Mas, di sebuah perusahaan,” kata Medina. “Gajinya lumayan jadi ya mungkin karena itu dia pede nikah lagi.”
“Kerja di perusahaan mana?” tanya Bayanaka.
“Tuh, saya enggak tahu, Mas, tapi yang jelas nama suami saya tuh Fajarian Semesta.”
“Fajarian Semesta?” tanya Bayanaka dengan kening mengernyit.
“Iya, Mas. Apa Mas kenal?”