***
“Dokter, gimana kondisi janin yang saya kandung? Baik-baik aja, kan?”
Bersandar pada brankar yang sejak beberapa waktu lalu dia tempati, pertanyaan tersebut akhirnya Medina lontarkan. Penasaran sekaligus takut, dua perasaan itu kini bercampur menjadi satu karena di usia kehamilan yang masih muda, Medina yakin janin di rahimnya belum terlalu kuat.
Sedikit menyesal, perasaan tersebut juga menghampiri Medina karena jika tahu akan mengalami pendarahan, dirinya tak akan memaksakan diri untuk membantu pria yang bahkan tak dia kenal sebelumnya.
Namun, meskipun dihampiri sedikit rasa sesal, Medina masih cukup bersyukur karena pria yang sempat dia bantu, mau membantunya balik dengan membawa Medina ke rumah sakit terdekat.
Entah di mana pria itu sekarang, Medina tak tahu karena semenjak dirinya memasuki IGD, Medina tak melihat kehadiran pria berjas biru tersebut.
Kabur? Semoga saja tidak, karena jika iya, Medina bingung harus bagaimana membayar pemeriksaan yang dia jalani sekarang.
“Beruntung janinnya kuat, Bu. Meskipun ada pendarahan, dedek masih cukup baik di dalam perut. Cuman, setelah ini tolong lebih hati-hati ya. Usia kandungan Ibu kan baru tujuh minggu. Jadi masih sangat rentan.”
“Oh, usia kandungan saya tujuh minggu ya, Dok?”
“Lho, Ibu belum periksa?”
“Belum, Dok,” kata Medina apa adanya. “Kebetulan saya baru tahu hamil tadi pagi. Jadi belum sempat check up.”
“Oh, pantas saja,” ucap sang dokter paham. “Iya, Bu, usia kandungannya tujuh minggu kalau berdasarkan USG, dan di usia kehamilan yang masih sangat muda ini, ibu harus bisa menjaga kondisi karena janin masih sangat rentan. Enggak hanya kegiatan fisik, pikiran pun harus diperhatikan karena ibu yang stress berpengaruh pada tumbuh kembang janin.”
“Baik, Dokter, terima kasih.”
“Selama seminggu, perbanyak di tempat tidur ya. Setelah ini saya resepkan obat penguat kandungan dan vitamin.”
“Iya, Dokter.”
Tak banyak bertanya apalagi komplen, Medina memilih untuk manut sehingga setelahnya dokter pun menuliskan sesuatu di note kecil. Tak diberikan padanya, selembar note tersebut dibawa keluar—membuat Medina menunggu dengan rasa penasaran yang kini menyelimuti.
Tak sampai lima menit, pintu IGD yang semula tertutup, kembali terbuka. Namun, bukan lagi dokter yang memeriksa Medina, kali ini yang datang adalah pria jangkung berjas biru yang beberapa waktu lalu Medina tolong.
“Mas, saya pikir Mas pergi,” kata Medina pada pria tersebut.
“Setelah semua yang Mbak lakuin, saya mana mungkin pergi, Mbak,” kata pria tersebut. “Saya harus bertanggungjawab karena gara-gara saya, Mbak pendarahan.”
“Bukan salah Masnya. Saya aja yang ceroboh.”
“Tapi tetap saja,” kata pria itu. “Oh ya, nama Mbak siapa? Saya perlu untuk urus administrasi. Kalau enggak keberatan, saya minta ktpnya juga.”
“Saya Almedina Swara, Mas,” ucap Medina. “Masnya siapa?”
“Saya Bayanaka Cakra Herlangga. Mbak, bisa panggil saya Naka.”
“Oh, oke, Mas Naka,” ucap Medina. “Soal administrasi, kalau enggak pakai ktp bisa enggak? Saya soalnya enggak bawa ktp. Ketinggalan di rumah.”
“Ah, ketinggalan di rumah ya? Apa mau saya ambilin?” tanya Bayanaka. “Saya dengan senang hati siap ambil kalau Mbak Medina mau.”
Medina tersenyum samar. “Enggak perlu, Mas,” ucapnya. “Saya kebetulan lagi pergi dari rumah. Jadi soal ktp biarin aja. Oh ya, saya berasa tua banget dipanggil Mbak. Mas bisa panggil saya nama aja. Kebetulan usia saya baru dua puluh delapan.”
“Ah, oke, Medina, maaf,” ucap Bayanaka setelahnya. “Untuk masalah administrasi, saya akan coba selesaikan setelah ini semoga saja bisa tanpa ktp. Cuman, sebelum saya menyelesaikan administrasi, boleh saya tanya sesuatu?”
“Tanya apa, Mas?”
“Habis ini kamu mau pulang ke mana?” tanya Bayanaka. “Saya baru ingat kamu bawa koper besar juga tadi. Apa ada tempat yang mau kamu tuju sebelum bantu saya?”
Medina kembali tersenyum samar. “Enggak ada sebenarnya, Mas. Saya enggak punya siapa-siapa di Surabaya selain suami. Jadi tadi tuh sebelum bantuin Mas Naka, saya sebenarnya lagi bingung harus ke mana. Jadi saya duduk di taman.”
“Kamu beneran enggak bisa kembali ke rumah?” tanya Bayanaka. “Seberat apa pun problemnya, mungkin lebih bagus diselesaikan secara baik-baik. Suami kamu pasti khawatir.”
“Saya enggak mau pulang, Mas,” tolak Medina. “Gimana pun kondisinya, saya enggak akan kembali. Mas kalau mau pergi setelah selesaikan administrasi, silakan. Nanti turunin aja koper sayanya biar saya bawa.”
“Ke mana?”
“Apanya?”
“Kopernya mau kamu bawa ke mana?”
Tak menjawab, Medina diam dengan perasaan yang tentu saja bingung, hingga pertanyaan dari Bayanaka membuatnya dilanda rasa kaget.
“Pulang ke apartemen saya mau enggak? Kebetulan saya punya apartemen yang enggak ditempati.”
“Apartemen?” tanya Medina memastikan. “Maksudnya apartemen punya Mas Naka?”
“Iya, kebetulan apartemen itu kosong,” kata Bayanaka. “Bersedia enggak kalau pulang ke sana?”
Alih-alih menjawab, Medina justru kembali diam dengan perasaan bingung, hingga tak berselang lama dia bertanya, “Enggak apa-apa emangnya, Mas, kalau saya pulang ke apartemen Mas Naka?”