Bagian 2

727 Words
“Harusnya malam ini adalah malam yang membahagiakan buat aku, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Tega banget Mas Fajar, Ya Tuhan … bisa-bisanya dia lakuin hal sekeji ini ke aku.” Melangkah sambil terus menggerek koper, kalimat penuh rasa sakit tersebut keluar dari mulut Medina. Pergi dari rumah, saat ini kedua kakinya sibuk menyusuri jalan karena untuk menaikki sebuah taksi, dirinya tak punya uang. Sudah jatuh tertimpa tangga, Medina pergi tanpa membawa dompet miliknya yang dia simpan di meja rias. Terlalu tergesa-gesa pergi, barang berharga yang dia bawa hanyalah ponsel yang bahkan tak memiliki guna apa pun. Tak bisa menghubungi siapa pun untuk kemudian mengadu, Medina hanya punya dirinya sendiri karena selain yatim piatu, Medina tak punya satu pun saudara di Surabaya. Mengadu pada mertua? Jawabannya adalah percuma, karena seperti yang Fajar katakan, mertua Medina justru yang meminta pria itu menikah lagi, sehingga kalaupun mengadu, Medina pasti diminta untuk menerima. Tidak bisa. Demi apa pun Medina tak akan pernah sudi dimadu karena dari segala hal yang dia punya, Medina tak akan mau berbagi suami sehingga meskipun sakit dan tak punya tujuan, dia lebih baik pergi. “Harus ke mana aku sekarang?” tanya Medina yang mulai dilanda pegal. “Perempuan lain ketika ada masalah, pasti pulang ke rumah orang tuanya, sementara aku? Aku enggak punya siapa-siapa buat dijadiin tempat pulang. Aku sendiri.” Kembali terisak di tengah langkahnya yang cukup pelan, Medina mencoba bertahan hingga setelah lebih dari dua kilometer dia berjalan, rasa lelah melanda. Mencari tempat untuk beristirahat, atensi Medina tertuju pada sebuah bangku di pinggir jalan. Menepi sambil terus menggerek koper, yang dia lakukan setelahnya adalah duduk. Ditemani semilir angin malam pun suasana yang cukup sepi, Medina kembali meratapi nasib. Hancur dalam sekejap, itulah hatinya sekarang dan entah bagaimana bisa sembuh, Medina sendiri tak tahu karena sungguh! Luka yang Fajar berikan sakitnya tak main-main. Niat Medina malam ini adalah; memberi sang suami kejutan dengan kabar bahagia yang dia punya. Namun, alih-alih berhasil, semua berantakan karena sebelum Medina berhasil mengejutkan sang suami, dirinya lebih dulu diberi kejutan oleh pria yang empat tahun membersamainya itu. “Dek, Mama bahkan belum sempat kasih tahu Papa kamu soal kehadiran kamu di rahim Mama,” ucap Medina sambil mengusap perutnya yang masih terlihat datar. “Mama pikir malam ini akan jadi malam yang paling membahagiakan buat Mama dan Papa, tapi ternyata Mama salah, Dek. Malam ini justru jadi Malam petaka karena setelah lama dibohongi, Mama akhirnya tahu kalau selama ini Papa kamu berkhianat.” “Papa kamu enggak sesabar yang Mama pikirkan dan Papa kamu enggak sesayang itu sama Mama,” ucap Medina lagi. “Maaf ya karena bawa kamu pergi dari Papa. Meskipun sekarang Mama bahkan enggak tahu harus pergi ke mana, Mama janji bakalan lindungin adek karena setelah Papa khianatin Mama, cuman adek yang Mama punya.” Bermonolog dengan air mata yang terus mengalir, selama beberapa saat itulah Medina hingga sedan hitam yang berhenti tak jauh dari tempatnya duduk, membuat dia sedikit mengernyit. Memperhatikan mobil tersebut, Medina melihat seorang pria dengan setelan jas rapi, keluar dari mobil dan tak pergi, yang pria itu lakukan justru berdiri sambil bersandar di pintu kanan. Merogoh ponsel, selanjutnya yang Medina lihat, pria tersebut mengobrol dengan seseorang di telepon dan karena tak ada yang mencurigakan, Medina cuek sampai akhirnya dari arah sebelah kanan—tepat pada jarak beberapa meter, sosok pria lain terlihat mencurigakan. Duduk di atas sebuah motor, pria berhelm tersebut seperti sedang mengambil ancang-ancang hingga ketika motor yang semula diam, pada akhirnya melaju, Medina paham dengan maksud pria tersebut. Tak diam saja, Medina beranjak kemudian seolah lupa dengan janin yang dia kandung, dia berlari untuk kemudian menarik pria berjas yang tak sadar jika ponselnya sedang diincar. “Pak, awas!” Berteriak sambil menarik pria berjas tersebut sekuat tenaga, Medina oleng sehingga setelah berhasil menyelamatkan pria yang hampir kecopotan itu, dirinya terjatuh di aspal. “Aw!” Berteriak tatkala rasa nyeri menghampiri, itulah Medina—membuat pria berjas biru yang barusaja dia tolong, menghampiri dengan segera. “Mbak. Mbak tidak apa-ap … Ya Tuhan, Mbak kakimu berdarah,” ucap pria tersebut setelah mendapati darah di betis Medina. “Mbak, kamu sedang hamil?” “Ya Allah,” desah Medina sambil meringis. Panik, dia beralih pada pria yang barusaja ditolongnya itu untuk kemudian bertanya, “Mas. Iya, saya lagi hamil. Bisa bantu saya ke klinik terdekat enggak? Saya takut anak saya kenapa-kenapa.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD