***
"Mau sampai kapan sih, Mas, kamu nunggu di situ? Sampai lumutan?"
Menoleh setelah mendapat pertanyaan tersebut, itulah Fajar di tengah kegiatannya duduk di teras rumah. Mendapati Rosa berdiri di ambang pintu, helaan napas pelan terdengar sebelum kemudian dia pun buka suara.
"Aku masih mau nunggu Medina, takutnya dia pulang," jawab Fajar. "Kamu kalau mau tidur, duluan aja. Nanti aku nyusul."
"Ck." Dengan raut wajah sebal, Rosa berdecak. Tak diam saja, dia berkata, "Medina enggak akan pulang, Mas. Dia kan tadi bawa koper gede. Nah, pasti perginya lama. Jadi udahlah biarin aja. Lagian istri mandul macam dia buat apa juga kamu khawatirin. Ada aku, kan, sekarang?"
"Kamu jangan asal sebut, Ros," ucap Fajar tak suka. "Gimana pun juga Medina istri aku. Jadi wajar aja aku khawatir. Lagian dibanding kamu, statusnya bahkan lebih kuat karena dia istri sahku di mata agama dan hukum."
"Kenapa kamu jadi bawa-bawa status?" tanya Rosa, karena memang belum sah secara hukum, dia baru dinikahi Fajar secara siri.
Alasannya? Tentu saja ketidakadaan surat izin dari Medina, sehingga untuk melaksanakan pernikahan resmi, agak sulit untuk keduanya dan ya ... waktu itu Fajar belum bersedia memberitahu Medina, sehingga menikah siri pun dilakukan.
"Ya karena kenyataannya emang gitu, kan?" tanya Fajar. "Udah ya, pikiranku lagi kalut. Jadi kamu jangan nambah-nambahin. Sekarang kan aku udah kabulin permintaan kamu buat tinggal di sini. Jadi mendingan kamu tidur oke? Istirahat, biar bayi yang kamu kandung sehat. Aku enggak mau Mama kecewa kalau ada apa-apa sama cucunya."
Tak menimpali, Rosa hanya mendengkus sebagai respon. Tak terus merengek, pada akhirnya dia masuk ke dalam rumah untuk kemudian beristirahat.
Tak di kamar tamu, Rosa langsung mengambil alih kamar utama dan tentunya tanpa rasa sungkan, dia menempati space kosong di lemari dengan pakaian yang dibawa.
"Perempuan mandul aja dikhawatirin," rutuk Rosa di sisa rasa kesalnya. "Mendingan perhatiin aku kali daripada dia. Punya anak aja enggak bisa."
Mulai membaringkan tubuh, selanjutnya Rosa memutuskan untuk terlelap, sementara Fajar? Pria itu kembali mencoba menghubungi Medina. Namun, sama seperti sebelumnya, nomor perempuan itu tak bisa dia hubungi.
"Kamu ke mana sih, Din?" desah Fajar frustasi. "Aku tahu aku salah, tapi seharusnya kamu enggak pergi. Aku sayang sama kamu, dan aku enggak mau kehilangan kamu."
Tak hanya diam, sebelumnya Fajar sudah coba menyusul. Namun, sosok sang istri tak dia temukan di sekitar perumahan. Entah ke mana Medina, Fajar tak tahu.
Namun, yang jelas dia takut istrinya kenapa-kenapa karena jika melihat dompet Medina yang tertinggal di meja rias, dia yakin istrinya itu tak membawa banyak uang.
"Pulang, Din. Kamu enggak punya siapa-siapa selain aku. Jadi jangan pergi terlalu jauh karena di luaran sana enggak ada yang bisa bantu kamu."
Hening, selanjutnya itulah suasana di depan rumah hingga dering ponsel dari genggaman membuatnya beralih atensi. Berharap dihubungi Medina, Fajar mendesah setelah nama sang Mama terpampang.
"Ini lagi ...."
Meskipun malas, Fajar tetap menjawab panggilan. Tak diam saja, usai panggilan terhubung, dia menyapa, "Halo, Ma."
"Gimana semuanya? Apa udah kondusif?" tanya Anjani—ibu kandung Fajar. "Rosa bilang Medina enggak terima sama kehadiran dia terus minggat. Beneran itu?"
"Iya benar, Ma," jawab Fajar. "Dia bawa koper terus pergi. Padahal, aku udah minta Medina menerima. Cuman mungkin terlalu susah juga buat dia. Pahamlah aku apa yang dia rasain."
"Ribet banget emang dia dari dulu," kata Anjani—seperti biasa nyinyir. "Padahal, seharusnya dia sadar diri. Dia kan enggak bisa kasih kamu anak. Jadi pas kamu nikah lagi, ya terima gitu. Kalau dia bisa hamil, kamu juga enggak akan nikah lagi, kan."
"Iya, Ma, tapi ini kan terlalu ngagetin dan tiba-tiba buat dia. Jadi wajar kalau Medina kaya sekarang," ucap Fajar. "Salah juga aku langsung bawa Rosa pulang. Harusnya aku ngobrol dulu sama Medina biar sama-sama enak."
"Ya udahlah terserah kamu," kata Anjani. "Cuman intinya jangan sampai kamu mengabaikan Rosa cuman karena Medina. Kalau emang dia enggak bisa nerima pernikahan kamu sama Rosa, pisah aja kalian. Enggak rugi juga kamu ninggalin perempuan mandul macam dia."
"Ma ...."
"Apa?" tanya Anjani, sedikit menantang. "Kenyataannya dia mandul, kan? Empat tahun nikah sama kamu, ada anak enggak diantara kalian?"
Tipe anak yang cukup patuh terhadap sang ibu, Fajar membisu hingga tak berselang lama Anjani memutuskan untuk menyudahi panggilan. Tak ada kekhawatiran terhadap Medina, yang Anjani pedulikan hanyalah Rosa dan lagi-lagi, Fajar tak bisa protes.
"Aku bahkan enggak kepikiran pisah sama Medina," ucap Fajar setelah tak mengobrol lagi dengan Anjani. "Aku sayang sama dia, tapi aku pun enggak bisa membantah ibu."
Malam semakin larut, Fajar akhirnya masuk ke dalam rumah. Alih-alih mencari Medina, dia memutuskan untuk beristirahat dan bersama Rosa, Fajar tidur di ranjang yang sama.
Tak ada yang terjadi, malam berlalu dengan tenang hingga ketika pagi menjelang, Fajar dibangunkan oleh sebuah dering dari ponselnya di atas meja.
Membuka mata kemudian beringsut, dia mengambil benda pipih tersebut dan betapa terkejutnya Fajar setelah di layar ponsel, dia mendapati nama Medina terpampang.
Bahagia, tanpa banyak menunda Fajar menjawab panggilan. Beranjak dari kasur, dia menempelkan benda pipihnya itu ke telinga sebelum kemudian memberikan sapaan.
"Halo, Medina, kamu di mana, Sayang?" tanya Fajar tanpa berbasa-basi. "Aku nungguin kamu dari semalam, tapi kamu enggak pulang-pulang. Mau aku jemput? Nanti aku izin dulu kalau kamu ma-"
"Ini beneran suaminya yang punya hp?" tanya seorang pria dari seberang sana—membuat Fajar seketika diam dengan kening mengernyit.
"Iya," jawabnya setelah itu. "Ini siapa? Kok hp istri saya ada di kamu? Istri saya mana?"
"Ini hpnya saya temuin di pinggir danau, Pak," ucap pria di seberang sana—membuat kedua mata Fajar membelalak. "Enggak cuman hp, tapi ada koper juga yang isinya baju-baju. Dugaan sementara sih yang punya jatuh ke danau, soalnya ada jejak kaki kaya kepleset gitu di pinggir danau. Bapak ke sini aja buat pastiin."
"Danau mana?" tanya Fajar. "Kirim ke saya alamatnya sekarang juga."