***
“Siapa ya?”
Mendengar suara bel dari pintu utama, Medina bertanya demikian. Terbangun pagi sekali, sejak sepuluh menit lalu kegiatan Medina adalah menikmati tayangan berita di televisi ruang tengah.
Tak perlu membereskan apartemen, Bayanaka memintanya untuk beristirahat penuh. Tak mau mengambil resiko untuk kehamilannya, Medina patuh, sehingga membersihkan lantai menjadi tugas robot vacum milik pria itu.
“Selamat pagi.”
Membuka pintu apartemen, Medina mendapati seorang pria muda dengan jaket hijau yang membalut. Cukup asing, dia hanya bisa menyimpulkan jika pria itu adalah; ojeg online.
“Pagi,” sapa Medina.
“Mbak Almedina Swara?” tanya pria tersebut—membuat Medina mengangguk pelan.
“Iya, saya.”
“Ada paket untuk Mbak dari Mas Bayanaka,” ucap sang ojeg online sambil mengulurkan kresek putih yang dia bawa. “Silakan.”
“Eh,” ucap Medina gugup. “Paket apa ya, Mas? Terus udah dibayar apa belum?”
Bukan tanpa alasan, Medina bertanya demikian karena sampai detik ini tak sepeser pun uang dipegangnya. Ingin meminjam pada Bayanaka, dia tak berani sehingga diam pun menjadi jalan yang dipilih.
“Sudah, Mbak,” kata sang ojeg online. “Tinggal diterima saja. Isinya kebetulan makanan.”
“O-oh,” ucap Medina kikuk.
Menerima kresek yang diberikan untuknya, Medina berterima kasih. Tak berlama-lama di apartemen, sang ojeg online berpamitan sehingga sambil membawa makanan yang katanya dikirim Bayanaka, Medina berjalan menuju sofa.
“Ya ampun, makanannya lengkap.”
Kembali duduk, Medina dibuat takjub setelah dua kotak makan terpampang di depannya. Tak hanya nasi, di setiap kotak makan, terdapat pula tiga macam lauk—terdiri dari sayuran juga daging.
“Ini serius Mas Bayanaka yang kirim, kan? Baik banget.”
Tak langsung membuka kotak makan, Medina memilih untuk mengambil dulu ponselnya dari sofa. Sudah memblokir kontak Fajar, ponsel tersebut kini aman dengan hanya kontak Bayanaka di dalamnya.
“Halo.”
“Halo, Mas Naka selamat pagi,” sapa Medina gugup. “Anu, Mas, aku mau nanya. Ini beneran Mas Naka yang kirim makanan ke apartemen? Agak kaget soalnya aku tiba-tiba ada kurir.”
“Iya benar, sudah sampai?”
“Sudah, Mas, Udah aku terima. Cuman aku pengen pastiin dulu gitu. Takutnya bukan dari Mas Naka.”
“Memang bukan dari saya langsung, karena saya pesan juga dari restoran,” kata Bayanaka. “Cuman ya saya yang beli. Jadi aman. Lumayan buat sarapan dan makan siang."
"Ya ampun, makasih banyak, Mas," ucap Medina, cukup terharu. "Aku padahal cuman nolongin Mas dari jambret, tapi Mas Naka balasnya bertubi-tubi. Bingung aku harus berterimakasih dengan cara apalagi."
"Kalau kamu mau berterimakasih, cukup dengan jaga kandungan kamu sebagaik mungkin," kata Bayanaka dengan suara menenangkan, sama seperti semalam. "Kamu bilang bayi itu satu-satunya yang kamu punya, kan? Lindungi dia dan rawat dia kalau begitu. Saya yakin bayi yang kamu kandung akan jadi anak yang berbakti."
"Aamiin banget, Mas," ucap Medina, tiba-tiba saja mellow. Untuknya yang sebatang kara, diperhatikan sampai seperti ini oleh orang lain adalah sesuatu yang luar biasa, sehingga selain bahagia dan terharu Medina ingin pula menangis. "Sekali lagi terimakasih banyak ya. Setelah kondisi kandungan aku kuat, aku janji bakalan ninggalin apartemen ini biar enggak terus ngerepotin Mas Naka. Aku enggak mau membebani orang yang bahkan sebelumnya enggak aku kenal."
"Mau tinggal di apartemen sampai kamu melahirkan pun enggak masalah," kata Bayanaka. "Apartemen itu kosong. Jadi daripada enggak ditempatin, lebih baik kamu tinggal di sana."
"Aku enggak enak, Mas," ucap Medina. "Mas udah banyak banget bantuin aku. Jadi aku harus tahu diri dan-"
"Ada sesuatu yang mau saya tunjukan ke kamu."
Belum selesai Medina bicara, Bayanaka lebih dulu memotong ucapannya dengan sebuah perkataan, dan apa yang dia lontarkan membuat rasa penasaran menyelimuti hati Medina.
"Apa, Mas?"
"Tentang Fajar," jawab Bayanaka. "Semalam kan kamu minta saya supaya bikin Fajar enggak cari kamu lagi. Pagi ini permintaan kamu sudah saya kabulkan. Jadi setelah menyudahi telepon bersama saya, kamu bisa lihat apa yang saya kirim. Saya harap kamu suka dengan hasil kerja saya."
"Mas serius?" tanya Medina memastikan.
"Sangat serius," jawab Bayanaka. "Setelah ini saya kirim buktinya."
"Via kurir, Mas?"
"Enggak, tapi lewat chat," jawab Bayanaka. "Soalnya yang mau saya kirim ke kamu tuh video."
"Oh, gitu."
"Iya."
"Ya sudah kalau begitu kirim aja sekarang, Mas, aku pengen lihat," ucap Medina. "Sekali lagi terima kasih untuk sarapannya. Semoga kebaikan Mas dibalas berkali-kali lipat oleh Allah."
"Aamiin."
Menyudahi obrolan, setelahnya Medina memutuskan panggilan dengan Bayanaka. Selang beberapa detik, notifikasi masuk dan yang dia dapati adalah sebuah pesan.
Bukan berbentuk teks, Bayanaka mengirim video yang dengan segera Medina putar. Di sana—di dalam video, Medina melihat Fajar yang tengah memanggilnya di pinggir danau.
Mengernyit dengan perasaan yang cukup bingung, itulah Medina hingga sebuah penjelasan dikirim Bayanaka—membuat dia akhirnya mengerti dengan apa yang sang suami lakukan.
(Mas Bayanaka : Saya memanipulasi kematian kamu supaya setelah ini Fajar enggak mencari kamu. Sekarang Fajar mengira kamu tenggelam di danau. Jadi selama beberapa bulan kamu aman. Semoga suka dengan apa yang saya lakukan)
"Mas Naka ...." Medina bergumam pelan. "Niat banget dia ngabulin apa yang aku minta. Baik."
Selesai menonton video, yang dilakukan Medina adalah mengirim pesan berisi ucapan terima kasih pada Bayanaka. Tak butuh waktu lama, pesan tersebut sampai dalam beberapa detik saja dan tak didiamkan, Bayanaka yang masih di perjalanan menuju kantor, lekas membuka pesan tersebut.
(Medina : Mas Bayanaka, terima kasih banyak. Aku enggak tahu harus bilang apalagi selain terima kasih, saking banyaknya kebaikan yang Mas kasih ke aku. Makasih ya, Mas. Semoga segala kebaikan Mas ke aku mendapat balasan berkali-kali lipat dari Allah.)
"Aamiin," ucap Bayanaka.
Masih mengemudi, selanjutnya dia berniat untuk menepi agar bisa membalas pesan. Namun, sebuah panggilan yang tiba-tiba saja masuk membuatnya mengurungkan niatnya itu sehingga alih-alih menepi, Bayanaka memilih untuk menjawab panggilan kemudian sambil mengendalikan setir, dia menyapa,
"Halo, Sayang. Kenapa?"