Bagian 8

941 Words
*** "Udahlah, Mas, ikhlasin. Meratap kaya gini enggak akan bikin Medina ketemu. Dia udah tenang di sana. Jadi kamu pun berhenti berharap. Lagian kamu masih punya aku dan calon anak kita. Fokus aja sama masa depan keluarga kecil kita. Mama kamu pasti pengennya kaya gitu." Duduk di sebuah bangku yang tersedia di pinggiran danau, ucapan panjang lebar tersebut keluar dari mulut Rosa yang kini menemani sang suami. Tujuh hari berlalu pasca penemuan koper Medina di pinggir danau, pencarian perempuan itu dihentikan dengan alasan; mayat tak bisa ditemukan. Tak diam saja, Fajar yang kebetulan ada di rumah, bergegas menuju danau guna menemui tim SAR. Ditemani Rosa, dia membujuk agar Medina terus dicari. Namun, permintaan untuk memperpanjang pencarian tak dikabulkan sehingga selain pasrah dan meratap, Fajar tak bisa melakukan apa-apa lagi. "Aku merasa bersalah sama Medina, Rosa," jawab Fajar tanpa berbalik dari posisinya memandangi air danau. "Kalau aja waktu itu aku enggak tiba-tiba bawa kamu ke rumah, dia enggak akan marah terus pergi dari rumah. Dia emang enggak bisa kasih aku anak, tapi empat tahun ini dia selalu nemenin aku di berbagai kondisi, baik itu susah mau pun senang." "Jadi kamu menyesal gitu bawa aku ke rumah?" tanya Rosa sambil mengusap perutnya yang mulai membuncit. "Aku bukan menyesal, cuman aku ngerasa cara yang aku pakai enggak tepat," jawab Fajar yang akhirnya berbalik. "Harusnya aku enggak bawa kamu gitu aja. Harusnya aku ajak Medina bicara dulu biar bisa kasih dia pengertian. Terlalu kaget emang Medina sama kedatangan kamu, sampai akhirnya mutusin buat pergi bahkan mengakhiri hidupnya di sini." Tak suka dengan rasa sesal Fajar terhadap Medina, Rosa mendelik. "Ya udah sih, semua udah terjadi juga, kan? Enggak ada gunanya kamu menyesal, karena mau sedalam apa pun rasa sesal kamu, Medina enggak akan hidup lagi. Sekarang mendingan lihat ke depan dan fokus sama rumah tangga kita karena cuman dalam beberapa bulan, kamu bakalan punya anak yang selama kamu idamkan," ungkapnya panjang lebar. "Yang meninggal biarin aja meninggal. Toh, jatuhin diri ke danau juga pilihan dia sendiri, kan?" Tak menjawab, Fajar hanya bisa menghela napas pelan sebagai respon. Hening selama beberapa menit, tak ada lagi obrolan hingga Rosa yang mengadu ingin segera pulang membuat Fajar mau tak mau meninggalkan danau. Sambil merangkul pinggang Rosa, pria itu kembali ke mobil yang terparkir tak jauh dari danau, tanpa tahu jika dari balik pohon besar yang berjarak beberapa meter, seorang perempuan berdiri sambil mengusap perut datarnya. Medina. Datang ketika proses pencarian dirinya masih berlangsung, dia bersembunyi ketika Fajar dan Rosa datang. Namun, meskipun begitu dari balik pohon besar tempatnya berdiri, dia bisa melihat bahkan menguping pembicaraan suaminya itu dengan sang madu. Sakit? Jawabannya adalah iya, karena meskipun kecewa terhadap sang suami, rasa cinta di hatinya belum hilang sehingga ketika Fajar merangkul mesra Rosa di depannya, hati Medina teriris. Dulu, dirinyalah yang selalu dirangkul ketika berjalan. Namun, sekarang posisinya tersebut sudah digantikan, dan jika boleh jujur, Medina belum ikhlas karena empat tahun berumah tangga bukanlah waktu yang sebentar. "Aku pikir kamu bakalan sedih banget lihat aku enggak ada, tapi ternyata sedih kamu cuman sebatas itu, Mas," ucap Medina dengan air mata yang nampak berlinang. "Kamu enggak lagi mencintai aku seperti dulu. Padahal, ketika kita menikah, kamu janji buat mencintai aku selamanya." Selanjutnya—mengabaikan angin sore yang berembus, Medina menunduk. Memandang perutnya yang dibalut dress, sebuah usapan kembali diberikannya sebelum kemudian kembali berkata, "Dek, kamu harus kuat di perut Mama ya? Meskipun enggak ada Papa di samping kita, Mama janji bakalan lakuin yang terbaik buat adek. Tolong, jangan pernah berniat ninggalin Mama karena untuk kembali merasakan kehilangan, Mama enggak sanggup." Terisak pelan, Medina kembali meresapi sakit di hatinya hingga bunyi ponsel dari tas kecil yang dia bawa membuat dirinya sedikit tersentak. Mendapati nama Bayanaka di layar, dengan segera Medina menjawab panggilan. Seminggu tinggal di apartemen pria itu, lima hari—termasuk sekarang, Medina belum bertemu lagi dengan Bayanaka karena di hari ketiga dia menumpang, sang penyelamat bertolak menuju Korea Selatan untuk sebuah urusan. Apa yang diurus Bayanaka? Medina tak tahu dan tak berani bertanya. Namun, yang jelas sebelum pergi, Bayanaka mengirim sejumlah uang ke dompet digitalnya sehingga tak kesulitan, Medina bisa memenuhi keinginannya selama tinggal di apartemen. "Halo, Mas." "Kamu ke mana? Saya ke apartemen kok enggak ada siapa-siapa?" tanya Bayanaka. "Enggak pindah, kan? Medina tersenyum tipis. "Enggak, Mas, aku enggak pindah," ucapnya. "Tadi aku cuman jalan-jalan aja karena seminggu di apartemen agak bosan juga. Jadi cari angin. Ini kebetulan aku lagi di danau tempat Mas buang koper aku." "Lho, lagi apa?" tanya Bayanaka dengan suara yang terdengar kaget. "Yang saya tahu, suami kamu nyuruh tim SAR buat cari kamu di sana. Enggak takut ketemu?" "Aman, Mas, aku ngumpet," jawab Medina. "Tim yang disuruh cari aku juga udah mengakhiri pencariannya. Jadi aman." "Fajar?" tanya Bayanaka. "Kamu ketemu dia enggak?" "Ketemu sih enggak, cuman lihat," kata Medina. "Dia datang sama maduku buat ngecek, dan aku sempat dengar obrolan mereka juga. Mas enggak perlu khawatir, aku ngumpet." Tak langsung mendengar jawaban, selanjutnya yang Medina dengar adalah hening sampai akhirnya selang beberapa detik, Bayanaka kembali buka suara. "Apa ada ucapan Fajar yang bikin kamu sakit hati?" tanya Bayanaka. "Bukan apa-apa, saya takut kamu stress karena seperti yang dokter bilang, kandungan kamu belum terlalu kuat. Jadi sebisa mungkin kamu harus menjaga kandungan kamu dengan sangat baik dan supaya tetap baik, kamu enggak boleh stress." "Enggak ada kok, Mas, aman," ucap Medina. "Sakit hati aja dikit karena Mas Fajar rangkul Rosa, cuman enggak apa-apa deh. Setidaknya saya punya bayi di kandungan saya." "Tadi ke sana naik apa?" "Taksi." "Sekarang mau naik taksi lagi apa mau saya jemput?" tanya Bayanaka. "Jaraknya dari apartemen kebetulan enggak terlalu jauh." "Dijemput sama Mas Naka?" "Iya," jawab Bayanaka. "Mau enggak?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD