***
"Selamat sore ...."
Sambil membuka pintu secara perlahan, Medina menyapa dengan suara yang pelan. Kembali ke apartemen usai menerima telepon dari Bayanaka, dia tak mendapati siapa pun di ruang tengah.
Tak dijemput oleh pria itu, Medina pulang sendirian menggunakan taksi. Bukan karena tak mau ditolong, dia menolak tawaran dijemput karena tak enak pada Bayanaka.
Seminggu terakhir—meskipun tak bertemu tiap hari, Bayanaka menjamin kehidupannya sehingga Medina pun tahu diri untuk tak merepotkan pria itu lebih dalam lagi.
"Mas Naka ke mana ya? Apa udah pulang?" tanya Medina sambil kembali menutup pintu.
Melangkah menuju sofa di ruang tengah, dia berhenti di dekat meja usai mendapat paper bag di atas meja. Belum sempat berkata, suara pintu kamar terbuka lebih dulu membuat atensinya beralih, dan dari sana, Medina melihat Bayanaka keluar.
"Mas Naka."
"Medina," panggil Bayanaka dengan senyuman tipis. "Kamu sudah sampai ternyata."
"Jalanan agak lancar, jadi cepat."
"Pantas saja," kata Bayanaka. Mendekati Medina, dia beralih pada paper bag di atas meja sebelum kemudian kembali berkata, "Saya ada sedikit oleh-oleh. Semoga kamu suka."
"Oh, ini buat aku?" tanya Medina, melirik sekilas paper bag di atas meja.
"Iya," jawab Bayanaka. "Di dalamnya ada makanan sama pernak-pernik gitu. Enggak banyak, tapi semoga kamu suka. Ah ya, ada ramen instan juga. Cuman, jangan dimakan terlalu sering karena kamu lagi hamil. Enggak baik nanti buat janin yang kamu kandung."
"Makasih banyak, Mas," kata Medina, sambil mendudukan diri di sofa. "Aku udah ngerepotin Mas, tapi oleh-oleh pun malah dikasih. Jadi enggak enak."
"Enggak apa-apa," kata Bayanaka. "Lagian calon istri saya belanja. Jadi sekalian aja saya belanja juga sedikit."
"Calon istri?" tanya Medina dengan kening mengernyit.
Semenjak bertemu kemudian mengenal Bayanaka, ini kali pertama dia mendengar pria itu menyebut kata calon istri, sehingga rasa kaget tentu saja menghampiri.
"Mas Naka udah ada calon istri?"
"Sudah," jawab Bayanaka sambil tersenyum. "Dan kebetulan kemarin saya ke Korea juga buat prewedding sama dia. Kalau enggak ada halangan, enam minggu lagi kami menikah."
"Ya ampun, enggak nyangka banget!" ucap Medina speechles. "Aku pikir Mas masih sendiri, tapi ternyata udah ada calon. Selamat ya, Mas. Semoga rencana pernikahannya aman terus nanti acaranya berjalan lancar. Doa terbaik dari aku untuk Mas Bayanaka."
"Aamiin, terima kasih," ucap Bayanaka. "Ke depannya saya kenalkan kamu ke calon istri saya. Dia perempuan yang baik. Jadi pasti senang berkenalan dengan kamu."
"Oke, Mas," ucap Medina—masih dengan senyuman terukir, hingga selang beberapa detik, senyuman tersebut memudar. "Eh, tapi enggak apa-apa memangnya, Mas, kalau aku dikenalin ke calonnya Mas? Bukan apa-apa, cuman takutnya dia salah paham. Nanti nyangkanya yang enggak-enggak lagi."
"Kebetulan dia sudah tahu tentang kamu," kata Bayanaka—kembali membuat Medina kaget. "Saya bukan tipe orang yang suka menyembunyikan sesuatu dari pasangan. Jadi sebelum berangkat ke Korea, saya sudah menceritakan tentang kamu, dan dia enggak masalah. Dia malah senang karena saya bantu kamu."
"Mas serius?" tanya Medina, lagi-lagi dihampiri speechles.
"Sangat serius," kata Bayanaka. "Elodia bilang memang sudah seharusnya saya bantu kamu. Jadi ya enggak ada kesalahpahaman apa pun diantara kami. Toh, kan kita enggak tinggal seatap. Kamu di sini, saya di rumah saya. Aman."
"Oh, namanya Elodia, Mas?"
"Iya, Elodia Valency Hartawan."
"Baiknya," puji Medina. "Serasi banget sama Mas Naka yang baiknya enggak ada dua."
"Terima kasih."
Tak berlama-lama di apartemen tempat Medina tinggal, selanjutnya Bayanaka berpamitan. Tak langsung pergi, dia menyempatkan diri untuk bertanya tentang sisa uang yang dipegang Medina, dan karena masih cukup aman, Bayanaka belum memberikan lagi perempuan itu uang untuk bekal.
"Tadinya mau pinjam buat periksa kandungan, tapi Mas Naka pasti bakalan ngasih secara cuma-cuma," ucap Medina sepeninggalnya Bayanaka. "Enggak enak kalau udah gitu. Semakin ngebebanin. Padahal, Mas Naka bukan siapa-siapa aku."
Menghela napas pelan sebagai respon, selanjutnya Medina menunduk lalu dengan lembut dia memberikan usapan di perut datarnya.
"Mama belum ada uang buat periksa kamu. Sabar ya, Dek. Doain Mama dapat rezeki supaya bisa cek kamu ke Dokter. Mama pengen pastiin lagi kondisi kamu baik apa enggak."
Tak mau larut dalam sedih kemudian berakhir mengingat lagi Fajar, selanjutnya Medina memilih untuk membuka oleh-oleh yang Bayanaka berikan.
Tersentuh usai mendapati berbagai macam barang mau pun makanan, seulas senyum terukir sebelum kemudian Medina kembali bicara.
"Terima kasih karena sudah mengirimkan Mas Naka, Ya Allah. Enggak ketemu dia, aku mungkin tidur di kolong jembatan atau emperan sekarang."
Ketika Medina tengah mensyukuri pertemuannya dengan Bayanaka, maka di bawah sana sang penolong justru baru sampai di basemen.
Masuk ke mobil kemudian bersiap-siap pergi, Bayanaka beralih atensi setelah ponselnya tiba-tiba berbunyi. Mendapati nama Elodia alias sang calon istri, dia tersenyum sebelum kemudian menjawab panggilan.
"Halo, Sayang, kenapa?"
"Kak Naka di mana?"
"Aku di basemen apartemen," jawab Bayanaka. "Habis anterin oleh-oleh ke Medina, terus ini mau pulang. Kenapa?"
"Enggak sih," kata Elodia. "Aku cuman mau ngasih tahu kalau habis ini aku mau ketemu temen gitu di luar. Jadi kalau nanti aku enggak ada chat, berarti aku lagi sama temanku."
"Oh," ucap Bayanaka. "Oke, enggak apa-apa."
"Enggak marah?"
Bayanaka tersenyum. "Kenapa harus marah? Kamu ketemu teman, kan?"
"Iya."
"Temennya perempuan, kan?"
"Iya, perempuan."
"Ya udah enggak apa-apa," kata Bayanaka. "Have fun. Hidup kamu enggak perlu berputar di aku karena kamu pun punya pertemanan. Aku enggak masalah."
"Makasih banyak, Kak."
"Sama-sama," jawab Bayanaka. "Cuman jangan kemalaman pulangnya, atau kalau terpaksa harus malam, kabari biar aku jemput."
"Aku enggak akan terlalu malam kok, Kak. Jadi sendiri aja."
"Ya udah kalau gitu."
"Makasih ya, Kak, sekali lagi."
"Sama-sama, Elodia."
Panggilan dengan Elodia selesai, selanjutnya Bayanaka melajukan mobilnya sementara jauh di sebuah kamar, Elodia masih terduduk di kursi rias.
Tak melepaskan pegangannya pada ponsel, Elodia nampak termenung sebelum kemudian buka suara.
"Salah enggak ya aku bohong sama Kak Naka? Aku cuman enggak mau dia salah paham."