***
Seminggu berlalu ….
Waktu bergulir cepat, hari ini adalah hari keempat belas Medina tinggal di apartemen Bayanaka. Nyaris tak keluar selama seminggu terakhir, Medina menjaga dengan baik kandungannya, sehingga selain mual di pagi hari, tak ada keluhan yang dia alami.
Di beberapa hari pertama tinggal di apartemen, berdiam diri sepanjang hari cukup Medina nikmati karena memang minimal seminggu, dia tak dianjurkan untuk berpergian jauh.
Namun, lama-kelamaan Medina bosan sehingga setelah memikirkan semuanya matang-matang, dia berencana untuk mencari kerja. Meskipun tak pernah kekurangan uang, Medina tak enak jika terus mengandalkan pria itu.
“Tepat enggak ya aku telepon Mas Naka jam segini?” tanya Medina sambil menggenggam ponselnya.
Bukan pagi atau malam, saat ini jarum jam baru sampai di angka dua belas siang, dan sebagai perempuan yang memiliki suami pekerja kantoran, dia hafal jika di jam sekarang, waktu istirahat tiba.
“Takut lagi makan sama calon istrinya, terus aku ganggu,” ucap Medina lagi. “Tapi kalau telepon nanti makin enggak enak.”
Duduk di kursi balkon, Medina menimang. Hampir memakan waktu satu menit, pada akhirnya dia mantap menghubungi Bayanaka. Bukan untuk bertanya tentang apartemen, tujuan Medina menelepon pria itu adalah; untuk menanyakan pekerjaan, karena dengan posisi Bayanaka yang cukup tinggi di kantor, dia pikir setidaknya sebuah pekerjaan bisa diberikan.
Meskipun mungkin terkesan licik karena menggunakan jalur dalam, untuk saat ini Medina tak peduli karena yang terpenting dirinya bisa memiliki penghasilan.
“Kok enggak diangkat ya? Apa masih sib-”
Tak selesai Medina bicara, panggilannya lebih dulu dijawab. Namun, bukan suara Bayanaka, yang dia dengar justru suara perempuan.
“Halo.”
“E—eh, halo,” sapa Medina tergagap. “Ini bukan Mas Bayanaka ya? Maaf sekali ganggu, ak-”
“Ini aku, Medina. Elodia,” ucap perempuan di telepon yang tak lain adalah Elodia, calon istri Bayanaka. “Kamu Medina yang Kak Naka tolong, kan?”
“I—iya, Mbak,” jawab Medina, masih dilanda gugup. “Mbak Elodia ini calon istrinya Mas Naka ya? Sebelum ini, Mas Naka pernah cerita.”
“Iya, aku calon istrinya Kak Naka, dan kebetulan aku lagi di ruangannya,” kata Elodia. “Kak Naka tadi ada meeting dan belum selesai. Jadi pas kamu telepon, aku jawab, karena kebetulan hpnya enggak dibawa.”
“O-oh, gitu ya,” kata Medina, tak mau berhenti gugup.
“Kamu gugup banget kedengerannya,” kata Elodia sambil terkekeh. “Aku enggak akan gigit kali.”
“Duh, bukan gitu maksudnya, Mbak,” kata Medina. “Cuman ini aku jadi enggak enak aja karena lancang telepon Mas Naka. Maaf ya, aku sama sekali enggak ada niat macam-macam kok. Cuman pengen nanyain kerjaan aja barusan.”
“Kerjaan?” tanya Medina. “Maksudnya kamu mau kerja?”
“Iya, Mbak.”
“Lho, bukannya Kak Naka bilang kamu lagi hamil, Medina? Kok kerja?” tanya Elodia—membuat Medina mengukir senyuman samar. “Ibu hamil kan harusnya istirahat aja. Apalagi kehamilan kamu juga masih muda banget usianya. Baru beberapa minggu, kan?”
“Iya, Mbak, tapi kalau enggak kerja, aku enggak bisa dapat penghasilan. Sementara seiring berjalannya waktu, usia kehamilan aku kan bertambah, dan otomatis aku butuh biaya buat lahiran.”
“Iya sih,” ucap Elodia. “Tapi apa enggak takut kenapa-kenapa kalau kerja? Aku khawatirnya bayi kamu kenapa-kenapa.”
“Semoga aja enggak, Mbak,” kata Medina. “Mungkin nanti aku nyarinya kerjaan yang enggak nguras tenaga banyak biar aman. Siapa tahu di kantor Mas Naka ada.”
“Kamu lulusan apa kalau boleh tahu?”
“Aku sarjana ekonomi sih, Mbak, cuman ijazah sama yang lainnya enggak aku bawa dari rumah suamiku. Gimana ya?”
“Duh, agak susah juga sih kalau gitu, karena kan itu penting,” kata Elodia.
“Benar sih,” kata Medina. “Sekarang apa-apa harus pake ijazah ya, Mbak.”
“Iya,” kata Elodia. “Paling kerja jadi art yang enggak butuhin ijazah. Cuman ya gitu. Gajinya standar.”
“Ada yang butuhin enggak, Mbak, kira-kira?” tanya Medina, yang justru tertarik usai mendengar ucapan Elodia. “Barangkali ada tetangga Mbak Elodia yang butuh art, aku siap.”
“Lho, kamu mau jadi art?”
“Ya kalau ada yang nerima, iya, Mbak,” kata Medina. “Yang penting aku bisa dapatin uang, karena tinggal terus di apartemen Mas Naka juga enggak enak. Dia kan udah ada calon, takutnya ada salah paham.”
“Padahal, aku enggak masalah kok. Toh, kamu sama Kak Naka enggak tinggal seatap juga, kan? Jadi ya enggak masalah.”
“Tapi tetap aja aku enggak enak, Mbak,” kata Medina. “Kalau ada, mendingan aku cari kontrakan aja biar tenang.”
“Kamu tuh.”
“Kalau ada yang butuhin art, tolong kasih tahu aku ya, Mbak,” pinta Medina—kembali pada pembicaraan awal. "Gaji di bawah UMR pun enggak apa-apa, aku mau."
"Beneran?" tanya Elodia. "Sebenarnya kalau art, Mamaku di rumah lagi perlu sih. Di sana enggak sendiri, karena udah ada empat art lainnya. Cuman aku takut kamu kenapa-kenapa, Din. Kan kamu lagi hamil."
"Aku kuat, Mbak," kata Medina, sedikit memohon. "Pekerjain aku ya, tolong. Aku siap ngerjain apa pun dan aku juga bisa masak. Jadi Mbak atau Mamanya enggak perlu khawatir."
"Gimana ya?" tanya Elodia. "Aku kok agak degdegan. Takut banget ada apa-apa sama kamu."
"Aku butuh banget kerjaan, Mbak," kata Medina, kembali membujuk. "Aku janji kuat dan enggak akan kenapa-kenapa. Please izinin ya. Cuman ini harapan satu-satunya biar aku bisa dapatin penghasilan."
Tak ada jawaban, selanjutnya yang Medina dengar adalah hening, sehingga dengan segera dia buka suara.
"Mbak?"
"Gajinya dua juta, kamu siap?" tanya Elodia.
"Sebulan, Mbak?"
"Iya," kata Elodia. "Makan sama kebutuhan lain udah ditanggung. Jadi ya gaji dua juta tuh bersih."