***
"Kak, aku lupa sesuatu."
Tiba-tiba berhenti di tengah langkah, Elodia berhasil membuat Bayanaka melakukan hal serupa. Berjalan bersama menyusuri koridor, dia dan sang calon suami berniat untuk makan siang di restoran sebrang kantor.
"Kenapa?" tanya Bayanaka. "Dompet kamu ketinggalan di ruangan aku?"
"No, bukan itu," ucap Elodia sambil menggeleng. "Ini tentang Medina."
"Medina?" tanya Bayanaka sambil mengerutkan kening. "Kenapa memangnya dia?"
"Tadi pas Kak Naka meeting, dia telepon aku," jawab Elodia—mengingar lagi momen di mana dirinya menjawab panggilan dari Medina. "Dia nanyain kerjaan, terus ... eh, gimana kalau lanjutin ngobrolnya di restoran aja? Biar enak sambil duduk."
"Boleh."
Kembali melangkah, Elodia dan Bayanaka berjalan sambil berpegangan tangan. Meninggalkan kantor, keduanya hanya perlu menyebrang jalan untuk tiba di restoran.
Duduk berhadapan, yang pertama dilakukan adalah memesan makanan hingga di tengah kegiatan menunggu, Bayanaka buka suara.
"Jadi Medina gimana tadi?" tanyanya penasaran. "Kamu bilang dia minta kerjaan. Itu kerjaaan buat dia apa gimana?"
"Iya, Kak, buat dia," kata Elodia. "Medina tadinya mau nanyain kerjaan ke kamu. Cuman, karena aku yang jawab, tadi kita ngobrol dan ya ... Medina minta kerjaan sama aku. Katanya dia pengen punya penghasilan sendiri biar enggak ngerepotin Kakak terus enggak enak."
"Ck, padahal dia tahu sendiri kondisinya sekarang," kata Bayanaka, sedikit kesal. "Harusnya dia istirahat."
"Aku juga bilang gitu, Kak, tadi, tapi Medinanya agak maksa," kata Elodia. "Pas aku tanya ada ijazah apa, dia bilang ijazahnya ketinggalan di rumah suaminya. Bingung aku."
"Terus habis itu gimana?"
"Medina nanyain kerjaan yang enggak butuh ijazah, terus ya aku jawab aja kalau mau kerja tanpa ijazah, paling jadi art," kata Elodia apa adanya.
"Sayang ... Medina mana bisa jadi art," kata Bayanaka sedikit mendesah. "Kehamilan dia usianya masih muda, terus pernah keguguran juga. Rawan."
"Jadi enggak boleh berarti dia kerja jadi art?" tanya Elodia. "Padahal, aku udah nerima tadi karena kasihan."
"Nerima?" tanya Bayanaka dengan kening mengernyit. "Gimana maksudnya?"
"Kan Medina minta aku buat cariin kerjaan. Nah, karena dia enggak ada ijazah, katanya enggak apa-apa juga kalau jadi art. Medina sampe minta aku sampein ke dia kalau ada yang butuh art."
"Lalu?"
"Mamaku kebetulan lagi cari art, Kak," kata Elodia. "Dan aku tadi nerima Medina karena dia maksa. Katanya masak sama ngerjain kerjaan rumah dia bisa. Jadi ya aku terima."
"El, kamu serius?" tanya Bayanaka dengan raut wajah tak habis pikir. "Kandungan Medina usianya baru delapan minggu lho, Sayang. Gimana kalau terjadi sesuatu sama dia?"
"Kakak kok jadi marah sama aku sih?" tanya Elodia, sedikit tak terima. Padahal, tak ada nada emosi ataupun bentakan di ucapan yang sang kekasih lontarkan. "Medina tadi maksa, Kak. Aku juga awalnya enggak nerima karena tahu lagi hamil, tapi dia terus mohon-mohon. Aku risih digituin makanya aku terima aja dia. Medinanya juga senang tadi pas aku terima.
"Risih?"
"Iya, aku risih!" ujar Elodia—tiba-tiba nyolot. "Kenapa? Mau ngomel?"
"Lho, kok ngomel?" tanya Bayanaka. "Aku enggak ada ngomel lho, Sayang, aku c*m-"
"Kakak enggak ngomel, tapi Kakak bikin aku tersinggung," kata Elodia dengan mood yang seketika memburuk. "Udahlah, aku enggak mood lagi makan. Nyebelin banget Kak Naka."
Tak hanya berucap, Elodia beranjak—membuat Bayanaka sedikot mendongak.
"Kamu mau ke mana?"
"Balik kantor," jawab Medina. "Kalau tahu bakalan diomelin, aku mendingan makan di kantor aja tadi bareng kerjaan."
"El, aku enggak marah. Aku c*m ... Elodia!"
Belum selesai Bayanaka berucap, Elodia lebih dulu melengos. Tak diam saja, dia berusaha mengejar. Namun, sang calon istri yang terlanjur sebal. Justru meronta ketika dia berhasil meraih pergelangan tangannya.
"Elodia, tolong jangan seperti ini. Aku sama sekali enggak marah sama kamu."
"Lepasin tangan aku, Kak," pinta Elodia, sambil terus berusaha melepaskan tangannya dari Bayanaka. "Aku mau pulang."
"El."
"Lepasin!" ujar Elodia sambil menghempaskan tangan kekar sang calon suami.
Tak mau menyakiti Elodia, Bayanaka akhirnya melepaskan pegangan. Tak mencegah, dia diam ketika Elodia yang beberapa waktu lalu datang menggunakan mobil pribadi, kini justru pergi dengan taksi.
"Elodia apa lagi datang bulan ya?" tanya Bayanaka dengan napas yang sedikit terengah. "Enggak biasanya diaa sesensitif ini."
Tak melakukan apa-apa, untuk beberapa saat yang Bayanaka lakukan adalah; memandangi taksi Elodia yang semakin jauh.
Berbeda dengannya, di dalam taksi sana, Elodia duduk dengan wajah ditekuk. Tak salah dugaan Bayanaka, dirinya memang sedang datang bulan. Namun, bukan hanya itu, terdapat penyebab lain yang membuat perasaannya lebih sensitif dari biasa.
"Dia emang enggak ngebentak, tapi pertanyaannya tuh nyinggung," keluh Elodia—mengingat lagi pertanyaan Bayanaka usai dirinya mengungkap rencana Medina untuk bekerja di rumahnya. "Mana nanyanya juga pake muka gitu lagi. Bikin sebal aja."
Beberapa menit perjalanan, Elodia terus mengomel hingga bunyi dari ponselnya membuat atensi dia beralih.
Mendapati sebuah nama, Elodia mendesah sebelum kemudian menjawab panggilan.
"Halo," sapanya ketus.
"Ketus banget nyapanya," kata seorang pria dari sebrang sana. "Kenapa sih? Lagi bete?"
"Aku lagi enggak pengen basa-basi," kata Elodia. "Kamu ada apa telepon?"
"Pengen ngajak makan siang," jawab pria itu dari telepon. "Jam istirahat, kan, ini? Barangkali mau makan siang bareng. Kebetulan aku lagi pengen makan steak."
Tak menjawab, Elodia membisu. Dilema, itulah dia sehingga selama beberapa menit, suasana hening menyelimuti—membuat pria di sebrang sana, buka suara.
"El."
"Apa?"
"Mau enggak makan siang bareng sama aku? Aku traktir deh. Nanti setelah nikah, pasti susah tuh ngajak kamu makan siang bareng. Jadi ya sekarang harusnya puas-puasin."
"Restoran mana?" tanya Elodia.
"Itu lho restoran steak yang dulu sering aku ceritain. Ingat enggak?"
"Oh, itu."
"Iya itu. Mau, kan? Kalau mau, aku reservasi dari sekarang. Nanti biar pas ke sana kita tinggal makan."
Lagi, Elodia kembali bingung—membuat sang lawan bicara, kembali bertanya,
"Elodia, kamu masih di situ? Kok diem?"