Nirmala tidak jadi pulang bersama teman-temannya karena sedang menunggui Rafi, tapi nanti dia akan tetap pulang ke rumah temannya. Karena semua kawannya percaya pada Rafi, maka Nirmala ditinggal di tengah cafe dengan masih duduk sendirian di meja karena yang lain sudah pulang.
Cafe ini belum tutup karena masih akan buka sampai pukul 2 dini hari, namun kebanyakan pengunjung umum sudah pulang dan tinggal yang sedang nongkrong saja. Dan dari semua itu adalah pria, yang perempuan cuma ada 3 orang saja. Nirmala jadi agak kikuk tapi untungnya dia punya ponsel sehingga tidak merasa bosan menunggui Rafi membereskan peralatan.
Di belakang panggung, Rafi sudah mengenakan tasnya lagi yang berisi peralatan untuk bermain drum. Dia pun berpamitan dengan rekan satu bandnya yang sepertinya akan nongkrong dulu karena besok tidak ada jadwal manggung. Berbeda dengan Rafi yang harus menjalankan rencananya untuk memberitahukan perasaannya pada sang pujaan hati.
Sejak tadi jantungnya sudah berdebar begitu keras karena gugup memikirkan apakah dia akan ditolak oleh Nirmala nantinya. Pemikiran ini terus menghantui rencana mantap yang sudah ada di benak Rafi. Dengan senyum lebar dia kembali menuju area cafe dan menemukan Nirmala sedang didekati oleh dua cowok hingga itu menjadi penyebab senyum Rafi menghilang.
“b******k!” umpat Rafi.
Langkahnya yang lebar dan cepat menghampiri tempat Nirmala duduk saat ini. Dia langsung memegang pundak kiri Nirmala dengan tangan kirinya sehingga membuat cewek itu terkejut dan menoleh ke arahnya. Begitu juga dengan dua cowok yang sejak tadi menggoda Nirmala.
“Dia sama gue, ga usah ganggu,” ucap Rafi dengan tegas.
Seketika dua cowok itu pergi dengan u*****n yang masih bisa didengar oleh Rafi, dia hendak memukul mereka tapi Nirmala menahannya.
“Jangan,” kata Nirmala, dia tidak mau ada keributan terjadi.
Rafi kemudian menarik napas dan menghelanya. Tangannya yang berada di pundak Nirmala kini beralih menggandeng tangan cewek ini untuk diajaknya keluar dari area cafe. Nirmala ikut saja karena dia juga sudah tidak betah di dalam sana apalagi karena ada kejadian barusan yang membuatnya cukup takut.
Dua cowok tadi mengira Nirmala adalah pelac.ur yang sedang menjajakan diri di cafe dan siap di pesan.
“Hah ...” Nirmala kini bisa menghela napas lega.
Telinga Rafi yang mendengar Nirmala menghela napas panjang pun berhenti melangkah dan berbalik menghadapnya.
“Maaf,” ucap Rafi kemudian. “Maaf udah bikin lo nunggu lama dan akhirnya ada kejadian tadi,” sambungnya merasa bersalah.
Nirmala menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. “Nggak kok, merekanya yang salah dan menganggap semua perempuan itu sama rendahnya. Orang kaya mereka yang bikin orang tua akhirnya pada posesif sama anaknya nggak boleh keluar sampe malem, kan?”
Kedua mata Rafi masih menatap pada Nirmala dengan penuh penyesalan. Karena tadi dia berdiskusi cukup lama dengan rekan bandnya, membuat Nirmala jadi menunggu lama. Untung saja dia datang tepat waktu dan tidak sampai terjadi apa pun.
Tapi, benar tidak terjadi apa pun, kan?
Rafi yang panik kemudian langsung menangkup wajah Nirmala dan memeriksanya dengan seksama. Hal itu yang justru membuat Nirmala ikut panik karena ini pertama kalinya Rafi menyentuh wajahnya sampai seperti ini, karena biasanya hanya menyentuh dahinya untuk “kepentingan” disentil.
“Mereka nggak ngapa-ngapain lo, kan?” tanya Rafi kemudian.
“Eng-gak,” jawab Nirmala yang kesusahan menjawab karena pipinya hampir menyatu karena terlalu keras Rafi menangkup wajahnya.
“Eh sorry.”
Cowok ini baru sadar kalau dia sudah terlalu banyak menyentuh wajah Nirmala barusan. Tapi dia juga tidak bisa memungkiri jika wajah Nirmala begitu lembut dan sangat ingin dia sentuh lagi, apalagi pipinya yang empuk.
Apa boleh dirinya mendaratkan bibir di sana?
Menciuminya dengan gemas? Boleh kah?
Rafi segera menggelengkan kepalanya karena pikirannya ini sudah ke mana-mana. Langsung saja dia fokus pada tujuan yang seharusnya dia capai malam ini.
“Syukurlah. Gue takutnya lo diapa-apain tadi,” ujar Rafi.
“Gue bakal teriak minta tolong sih kalau sampe mereka macem-macem,” timpal Nirmala.
Tangan Rafi kembali mengusap puncak kepala Nirmala karena gemas dan jantung dua insan ini kembali berdebar karena tindakan itu.
Sepasang mata Rafi kini menatap Nirmala dengan lembut, dia berusaha untuk menyampaikan perasaan cinta yang selama ini dia rasakan terharap Nirmala dan berharap cewek ini tahu. Namun sepertinya Nirmala belum paham juga karena kemudian cewek ini bertanya:
“Kenapa natap gue dari tadi, Raf?” tanya Nirmala dengan polos.
Seketika saja Rafi tertawa karena sinyalnya tidak nyambung dengan Nirmala. Maka sepertinya Rafi harus mengatakan maksudnya secara lisan agar Nirmala lebih paaham.
“Mm ... seperti yang gue bilang di chat, gue mau ngomong sesuatu sama lo,” kata Rafi membuka percakapan seriusnya.
“Hm ... ya, apa itu?” tanya Nirmala, dia juga sudah penasaran sejak tadi.
Kalau cuma ingin ngomong sesuatu juga bisa telepon saja, jadi Nirmala pikir ada hal yang sangat penting untuk disampaikan secara personal begini. Tapi untuk masalah apa, Nirmala tidak tahu sama sekali.
Ditanya “apa”, Rafi pun langsung merasakan dadanya begitu bergemuruh.
Sekali lagi dia menarik napas dan menghelanya panjang untuk mengisi ruang di hatinya yang menjadi sesak karena rasa gugup. Matanya kini menatap lurus ke arah mata Nirmala, mengunci tatapan cewek itu agar hanya terfokus padanya.
“Gue suka sama lo, Nirma,” ungkap Rafi kemudian.
Hening.
Itu yang terjadi setelah Rafi mengungkapkan perasaannya pada Nirmala. Rasa yang selama ini hanya bisa dia pendam sebab Nirmala selalu menganggapnya hanya teman, sehingga Rafi memilih untuk tidak memberitahukan rasa sukanya pada Nirmala dari pada Nirmala menjauh.
Namun karena semakin banyak cowok yang mendekati Nirmala, Rafi jadi tidak tenang. Dia tidak mau ada cowok lain yang memberi perhatian entah itu sebagai teman atau pacar, Rafi tidak mau. Jadi langkah yang diambilnya sekarang adalah yang paling tepat.
Jika ditolak, maka Rafi akan terus mengejar.
Yang penting Nirmala harus tahu dulu tentang perasaannya.
“Hah?” Nirmala menggumam terkejut.
Bibirnya terbuka dan kembali terkatup karena bingung dengan apa yang baru saja dia dengar dari temannya sendiri.
“Gue suka elo, Nirma. Sebagai cowok, bukan sebagai teman. Dan itu udah dari lama, dari waktu yang mungkin nggak bisa lo pikirkan sama sekali,” ujar Rafi, dia mengulangi ungkapan perasaannya lagi lebih jelas.
Hanya saja Nirmala merasa kepalanya blank saat ini, dia bahkan kini menunduk bingung. Namun Rafi segera meraih wajahnya dengan tangan kanannya agar mendongak kembali.
“Katakan sesuatu, gue rasa jantung gue hampir meledak sekarang karena nungguin lo bilang apa,” kata Rafi karena ada jeda waktu terlalu banyak sejak dia mengungkapkan perasaannya.
Jempol Rafi mengusap pipi Nirmala dengan lembut, dia kesampaian lagi untuk bisa menyentuh wajah cewek ini dan memang sangat membuat ketagihan. Saat jarinya itu hendak menyentuh ujung bibir merah Nirmala, cewek ini menghentikannya.
“Elo juga bikin gue gugup tahu!” keluh Nirmala.
Dia tentu bisa merasakan kalau sentuhan Rafi tadi hampir mengenai bibirnya. Dia juga menahan napas sejak Rafi menyentuh wajahnya.
“Kalau gitu katakan sesuatu,” ujar Rafi dengan tangannya yang masih memegang tangan Nirmala.
Dia bahkan menarik Nirmala agar berdiri lebih dekat dengannya. Mungkin kini cuma ada jarak satu langkah kaki di antara mereka. Tapi karena tinggi Nirmala hanya sampai pundak cowok itu, maka Rafi napas Rafi bisa terasa di sekitar puncak kepalanya. itu sangat membuat Nirmala merinding.
“Nirma ... gue nggak akan maksa lo untuk terima, gue cuma ungkapin perasaan gue biar lo tahu. Tapi ... misal lo mau nolak ... biarkan gue lebih dulu untuk ngejar lo dan nunjukin keseriusan gue ke elo, setelah itu lo baru bisa bikin keputusan akhirnya,” ujar Rafi.
Nirmala menatap Rafi sejak tadi dan melihat kalau cowok ini memang terlihat serius pada apa yang dia katakan. Tapi ini terlalu mengejutkan baginya sebab selama ini dia merasa Rafi itu cuma sebagai temannya walau memang teman sekelas mereka yang lain selalu mengatakan kalau Rafi itu suka padanya.
Lala bahkan sering mengatakan kalau Rafi itu cuma lembut padanya saja, kalau sama cewek lain mana mau dekat-dekat. Bahkan ngasih jarak banget. Dan cuma Nirmala saja yang selalu membuat Rafi tertawa dengan keras oleh hal receh.
Perhatian yang cowok itu berikan padanya juga bisa Nirmala sadari, hanya saja mungkin karena dirinya selalu menganggap Rafi teman, ini yang membuat Nirmala tidak memikirkan tentang adanya cinta di antara mereka. Apalagi jika diingat kalau Rafi itu anak band yang reputasi terkenalnya adalah: “seorang playboy”.
Jadi Nirmala harus bagaimana?
“Kasih gue kesempatan,” kata Rafi karena dia bisa menangkap keraguan di ekspresi Nirmala.
Dia sudah ketar-ketir duluan kalau Nirmala tetap menolaknya.
“Kasih gue waktu untuk membuktikan diri. Gimana?” tanya Rafi pada Nirmala.
Tatapan ragu Nirmala berangsur pudar karena melihat tekad Rafi saat ini. Dia pun memberi anggukkan sebagai jawaban setuju kalau Nirmala akan memberikan Rafi membuktikan kalau memang Rafi serius menyukainya.
“Baiklah,” ucap Nirmala karena Rafi ingin dijawab secara lisan.
Mendengar itu, akhirnya Rafi bisa bernapas lega. Dan dia tidak bisa menahan diri untuk menangkup wajah Nirmala lagi hingga membuat bibir Nirmala pun mengerucut. Ingin sekali Rafi mengecup bibir Nirmala, tapi untung saja dia masih punya pertahanan diri penuh untuk tidak melakukannya.
“Gue sebenarnya pengen banget cium lo sekarang, tapi lo masih bukan cewek gue,” kata Rafi.
Nirmala langsung saja menepis tangan Rafi dan memukuli pundak cowok itu berkali-kali.
“Awas aja kalau berani!” ancam Nirmala.
Mulutnya mengancam, tapi hati Nirmala juga berdebar karena posisi wajah mereka begitu dekat tadi. Dia yang jarang terlibat dalam perasaan macam ini dari remaja hingga sekarang, maka rasanya tadi begitu menyenangkan karena ada begitu banyak emosi yang dia rasakan. Sampai juga seperti ada ribuan kupu-kupu di dalam perutnya mengepakan sayap secara bersamaan.
Rafi tertawa saja dan tidak berusaha menghindar. Dia menikmati interaksi ini karena untuk pertama kalinya dia bisa lebih dekat dengan Nirmala yang juga tidak menolak untuk disentuhnya.
“Sekarang gue anter lo pulang sebelum nanti Om sama Tante minta Pap tapi lo masih aja di luar rumah,” ujar Rafi.
Dia menggandeng tangan Nirmala dan untungnya cewek itu tidak menolak. Jadi meski belum resmi menjadi pacarnya, Rafi sangat senang karena setidaknya Nirmala tidak menolak untuk berada di dekatnya.
***