Nirmala tengah melihat ke arah cermin di kamarnya yang bisa memantulkan bayangan seluruh tubuhnya. Dia sedang memilih outfit paling tepat untuk ke cafe di malam hari ini. Nirmala bukan tipe yang terlalu memperhatikan tampilan luarnya tapi ibunya cukup sering mengomelinya kalau berpakaian hanya dengan kaus oversized dan celana panjang kulot.
Akhirnya pilihan Nirmala jatuh pada cardigan warna hitam dengan kancing warna putih yang pas pada tubuhnya, lalu untuk bawahan adalah celana jeans model loose fit warna biru pudar. Menurut nirmala ini cukup santai dan tetap mengikuti trend yang ada. Rambut hitamnya dia cuma dia gerai dengan make up yang juga tipis tapi lipstiknya agak dia buat bold karena ini lipstik yang dibelikan oleh ibunya jadi sepertinya ibunya akan senang bila Nirmala memakainya.
Sebagai pemanis, Nirmala menambahkan kaca mata dengan bingkai hitam yang tebal, membuatnya seperti memiliki vibe nerd namun make up yang dia gunakan berkata sebaliknya. Setelah itu tas selempang warna putih yang muat untuk ditempati oleh ponsel dan dompetnya serta botol parfum kecil.
“OK! Ini penampilan yang akan lolos seleksi Papa buat keluar rumah,” gumam Nirmala setelah menatap sekali lagi di depan cermin.
Setelahnya dia keluar dengan langsung bertemu pandang dengan ayahnya yang menatapnya dari atas ke bawah. Papanya baru saja keluar dari ruang penyimpanan buku yang berada satu lantai dengan kamar Nirmala. Nirmala tersenyum seraya merentangkan tangannya lalu memutar tubuhnya.
“Apakah lolos seleksi?” tanya Nirmala.
Saad kemudian mengangguk. “Tapi nggak boleh lebih dari jam 10 loh, ya?” katanya mengingatkan lagi.
“Okay, Pa!” seru Nirmala karena ayahnya tidak banyak berkomentar soal penampilannya.
Karena dia anak satu-satunya dan sering keluar masuk rumah-sakit bahkan sampai sebesar ini, membuat orang tuanya juga pasti protektif. Nirmala tidak mempermasalahkan ayahnya yang akan terus menyeleksi pakaian apa yang harus dia kenakan ketika keluar rumah karena ini juga demi keamanan.
Saat turun ke lantai 1, Nirmala bertemu dengan ibunya yang tengah membawa camilan malam dan ibunya itu tersenyum melihat kode bahwa Nirmala menggunakan lipstik dari pemberiannya.
“Cantiknya anak Mama,” ucap Susi seraya berjalan mendekati putrinya. “Hati-hati ya di jalan. Nanti di rumah teman kamu hubungi mama dan jam 10 udah harus sampai di tempat temanmu itu,” tambahnya.
“Siap, Ma! Temanku itu juga nggak boleh pulang lebih dari jam 10, jadi kami satu circle yang cocok,” kata Nimala lalu tertawa bersama mamanya.
Usai berpamitan, Nirmala pun keluar rumah dan berdiri di depan pagar untuk menanti jemputan teman perempuannya. Dia akan bersama 3 teman yang lain untuk keluar menghabiskan Sabtu malam karena merayakan ujian tengah semester yang sangat menguras otak dan tenaga.
Sebenarnya hampir semua teman sekelas juga ikut merayakannya tapi berangkat masing-masing, hanya saja Nirmala akan berangkat bersama 3 temannya yang sama-sama tidak diperbolehkan pulang lebih dari jam 10 malam. Namun nanti mereka berempat akan menginap di rumah salah satu teman mereka bernama Weny yang letaknya tak jauh dari cafe tempat berkumpul berada.
Perjalanan memakan waktu 40 menit setelah menjemput 1 teman lagi sebelum akhirnya sampai di cafe yang dituju. Cafe ini ramai sekali karena selalu menyuguhkan live music dari salah satu band indie terkenal yaitu Gandewa. Iya, grup yang salah satu personilnya adalah teman sekelas Nirmala juga.
“Oy! kalian akhirnya sampe juga!”
Sang ketua kelas melambaikan tangan pada rombongan Nirmala untuk menghampiri meja yang telah dipesan. Kira-kira ada 15 orang yang datang meski satu kelas ada 25 orang, tapi tidak mengapa, semuanya pasti punya alasan masing-masing untuk tidak ikut. Lagi pula ini bukan acara resmi.
“Nirmaaaa kamu cocok banget loh pake jenis make up agak bold begituuu! Cantik!” puji salah satu teman perempuan Nirmala.
Nirmala langsung tersipu mendengarnya, tadinya dia agak takut perubahan make up yang biasanya cuma tipis dengan lipstik warna peach tapi kini dengan warna merah yang bold.
“Iya loh, aku aja pas jemput tadi agak kaget tapi cantik banget sih temen aku satu ini,” kata Lala menimpali, teman yang menjemput Nirmala di rumah menggunakan mobilnya tadi.
“Ck! Udah deh, gue meleleh dan melebur nih kalau dibilang cantik terus,” kata Nirmala lalu bergerak seolah dia akan meleleh ke atas lantai.
Tindakannya itu membuat teman-temannya tertawa.
Minuman yang sebelumnya telah dipesan melalui ketua kelas telah tiba sebelum orangnya, Nirmala bisa melihat ice lemon tea yang dia pesan sudah tersedia di atas meja. Baru satu teguk dia minum, seseorang kemudian menepuk pundaknya kirinya sehingga Nirmala menoleh ke belakang.
Dia melihat jika itu adalah Rafi. Cowok itu kemudian duduk di samping kursi Nirmala yang memang kosong karena ada salah satu teman mereka yang sedang ke toilet.
Saat menoleh tadi, Rafi akhirnya bisa melihat wajah Nirmala dari dekat. Sebenarnya sejak Nirmala datang Rafi telah memperhatikannya dan terpesona melihat penampilan cewek ini. Karena tampak berbeda dari biasanya dan terlihat sangat modis dengan make upnya.
Jantung Rafi rasanya sangat berdebar begitu bisa berdekatan dengan Nirmala saat ini. Tapi kemudian dia mencoba bersikap santai seperti biasanya.
“Belum persiapan manggung?” tanya Nirmala karena band belum mulai bersiap di atas panggung sedangkan ini sudah pukul 7 malam.
“Sebentar lagi,” kata Rafi yang kemudian mengambil onion ring yang dipesan oleh Nirmala.
Mata Nirmala menyipit karena onion ring favoritnya diambil oleh Rafi.
“Nanti gue pesenin lagi,” kata Rafi yang paham ekspresi cewek di hadapannya ini.
Seketika Nirmala kemudian tersenyum dan itu seperti memberikan efek jutaan kupu-kupu mengepakan sayapnya di dalam perut Rafi. Dia bahkan hampir tersedak dan akhirnya malah meminum lemon tea dari gelas milik Nirmala.
“Eh eh!” Nirmala hendak melarangnya tapi sadar kalau Rafi sedang tersedak, jadi dia pasrah saja.
Usai batuknya reda, salah satu rekan personil band Gandewa memanggil Rafi untuk bersiap di atas panggung untuk tampil. Rafi segera saja mengangguk dan berdiri dari kursi kemudian sebelum pergi ke atas panggung, Rafi menyempatkan dirinya mengusap puncak kepala Nirmala dan itu disaksikan oleh teman-teman sekelas mereka berdua.
Namun teman-teman mereka tidak ada yang bereaksi heboh dan cuma menahan senyum melihatnya. Lala yang ada di sebelah kanan Nirmala kemudian melihat jika sebenarnya temannya ini langsung kaku karena tindakan Rafi barusan.
Siapa yang tidak kaku coba?
Rafi mengusap puncak kepalanya dan melakukannya dua kali bukan mengacak-acak rambutnya, karena kalau itu kadang Rafi juga melakukannya. Alhasil Nirmala jadi terkejut karena usapan itu amat lembut. Selait itu juga mereka berdua seperti pasangan saja yang berbagi makanan.
“Khm!” Nirmala berdehem setelah sadar dari keterkejutannya.
Saat hendak meminum lemon teanya, Nirmala seketika ingat jika tadi Rafi juga minum dengan gelas yang sama. Bukannya Nirmala merasa jijik, hanya saja ini terasa sangat aneh baginya untuk berbagi makannan dengan seorang teman pria. Dan juga bukankan ini terasa canggung?
Lagi pula sekarang tinggal sedikit isi gelasnya, sepertinya Nirmala harus memesan lagi.
“Dengan kak Nirmala?”
Seorang pelayan mendekati Nirmala dengan membawa nampan berisi segelas ice lemon tea dan sepiring onion ring.
“Iya?” sahut Nirmala yang sedikit bingung.
Sedangkan pelayan ini kemudian menyajikan makanan yang dia bawa tadi ke hadapan Nirmala.
“Akang Rafi tadi memesankan ini untuk kakak dan sudah dibayarkan juga,” kata pelayan tersebut lalu pamit pergi sebelum Nirmala sempat bertanya lagi.
“Wah pesen banyak banget kamu, Nirma? Laper?” tanya seorang teman yang duduk di sebelah kiri Nirmala setelah dari toilet.
“Hehe iya, belum sempet makan malem juga tadi,” kata Nirmala beralasan.
Kini ada dua piring onion ring dan dua gelas ice lemon tea di hadapan Nirmala. Dia seperti sangat kelaparan karena melihat keadaan ini. Namun dia tidak menyangka jika Rafi ternyata benar akan memesankan lagi untuknya bahkan porsi onion ring ini sepertinya dua kali lebih besar dari yang dipesan Nirmala sebelumnya.
Rafi kini ada di balik alat musik yang sangat dikuasainya yaitu drum. Dia mulai memeriksa peralatannya itu namun ponselnya yang bergetar menyita perhatiannya. Karena takut itu penting, Rafi membuka pesan chat yang ternyata dari Nirmala, seketika senyum di wajahnya langsung melebar hanya dengan membaca siapa yang mengiriminya pesan.
From: Nirma
Makasih udah dipesenin
Nanti gue traktir elo juga lain kali
Rupanya pesanannya tadi sudah diantarkan ke meja Nirmala. Cepat juga. Pikir Rafi.
Rafi mendongak untuk melihat Nirmala yang juga tengah melihat ke arahnya. Cewek itu kemudian mengangkat gelas seolah mengucapkan terima kasih atas makanan yang dibelikan oleh Rafi. Kepala Rafi mengangguk membalas itu.
Dia pun membalas pesan Nirmala dengan senyum yang masih tetap terpatri di wajahnya.
To: Nirma
Sama-sama
Gue akan tagih janji lo ini
***
Sepanjang live music selama ini, Rafi belum pernah request pada teman-teman personil bandnya untuk menampilkan sebuah lagu untuk seseorang. Dan tiba-tiba saja malam ini Rafi mengatakan pada vokalis bahwa dia ingin temannya itu menyanyikan lagu Stephen Sanchez yang berjudul Until I Found You yang kini juga sedang viral.
“Lo kenapa tiba-tiba request lagu?” tanya sang vokalis.
“Nggak papa, ini juga lagi viral kan lagunya?” kata Rafi beralasan.
Namun teman-temannya yang lain tidak percaya jika di balik tindakan Rafi ini tidak ada apa-apa.
“Cewek yang lo suka ada di sini, kan?” tanya teman gitarisnya.
“Iya keknya nih, Nima Nima itu bukan sih?” cetus teman basis Rafi.
“Ck! Berisik! Udah kita main sebelum diprotes!” kata Rafi berkilah.
Meski bukan dia yang menyanyikan lagunya dan dia cuma memukul drum dengan ringan, Rafi tetap dibuat berdebar karena dia request lagu yang menceritakan seseorang yang bersyukur menemukan seseorang yang dicintainya dan tak akan melepaskannya. Lagu yang sempat dia dengar ada di playlist spotify Nirmala saat mereka bekerjasama mengerjakan tugas kuliah di rumah cewek itu.
Dan sebelum mulai untuk menampilkan lagunya, Rafi meraih ponselnya untuk mengirimkan pesan pada Nirmala. Sebelumnya juga dia tidak pernah seperti ini, menyentuh ponsel saat manggung adalah hal yang terasa berdosa untuknya, tapi Rafi melanggarnya sendiri.
Nirmala yang tengah berbincang dengan Lala belum menyentuh ponselnya yang terdengar ada pesan masuk tadi, dia belum melihat isinya karena ponselnnya tertelungkup di atas meja. Selain itu dia sedang asik mengobrol dengan Lala sampai kemudian dia mendengar intro lagu yang akhir-akhir ini sangat disukainya, Until I Found You.
Lagu yang cukup banyak digunakan sebagai background music di t****k sehingga familiar di telinga banyak orang. Semua yang ada di cafe lantas langsung bersorak karena lagu yang viral ini akhirnya akan dinyanyikan oleh Gandewa. Nirmala juga sangat antusias sampai kemudian langsung mengambil ponselnya untuk merekam penampilan band Rafi ini.
Tapi dia menyempatkan diri untuk melihat pesan dari Rafi melalui bilah notifikasi dan dibuat cukup terkejut dengan isi pesannya.
From: Rafi
Gue request ini lagu buat lo
Isi pesannya sebenarnya biasa saja, tapi maknanya tampak ambigu.
Request?
Jadi Rafi yang meminta teman-temannya untuk menampilkan lagu ini? Dan juga ini untuknya? Tapi kenapa?
Nirmala merasa benaknya terus bertanya mengapa, selain itu dia juga tidak bisa mengabaikan penampilan Gandewa di atas panggung sang sangat memukau meski ini adalah lagu yang temponya slow. Dirinya hampir saja lupa untuk merekamnya dan jadinya hanya mendapatkan setengah dari lagu yang ditampilkan.
Namun diam-diam Nirmala juga masih memikirkan kenapa Rafi mengirim pesan seperti tadi dan merujuk pada lagu ini juga? Maksudnya, tidak ada yang sedang Rafi sampaikan padanya melalui lagu ini, kan?
Berbeda dengan Rafi yang saat ini berharap pesan yang ingin dia sampaikan, tertuju dengan tepat kepada Nirmala.
“Cepet tembak aja sih cewek yang lo suka itu dari pada diambil sama yang lain,” kata temannya setelah selesai manggung.
“Bener, gue juga bisa liat kalau cewek yang lo suka itu cantik banget. Udah berapa cowok yang lewat mejanya terus ngelirik dia. Lo dalam posisi bahaya, bro!” kata temannya yang lain seraya menunjuk tempat Nirmala duduk.
Rafi tidak tahu bagaimana teman personil bandnya tahu cewek mana yang dia suka. Tapi mungkin karena sejak selesai manggung Rafi terus melihat ke arah tempat Nirmala berada apalagi tadi ada teman mereka yang memanggil Nirmala dengan suara keras dan membuat Nirmala berdiri dari tempat duduknya.
Dan di saat itu, Nirmala seolah menjadi pusat perhatian semua pengunjung di cafe ini terutama oleh pengunjung yang cowok. Rafi menyadari itu dan ingin sekali membuat Nirmala tenggelam dalam hodie yang sedang dia pakai supaya tidak terlihat mencolok dengan penampilannya malam ini yang sangat cantik.
“Gue takut terlalu cepet kalau nembak dia,” kata Rafi ragu.
“Dari pada keduluan cowok lain? Lo nggak tahu 'kan siapa aja yang lagi deket sama dia?”
Perkataan temannya itu membuat Rafi sangat bimbang. Rafi juga sangat ingin melakukannya tapi apa bisa sekarang? Karena keinginan tersebut mendadak menggebu karena efek cemburu yang dia rasakan.
“Kalau sekarang pas nggak sih?” tanya Rafi pada temannya.
“Pas! Apalagi lo barusan mainin lagu cinta kayak tadi buat dia,” jawab salah satu teman bandnya.
Setelah berpikir sebentar, Rafi kemudian mengambil ponsel dari saku hodie hitamnnya lalu mengetik pesan untuk Nirmala. Dia telah merencanakan sesuatu di kepalanya dan mungkin tidak akan pernah mengihindari rencana yang dia buat ini.
To: Nirma
Nanti sebelum elo balik, gue mau ngomong sesuatu ke elo dulu