Nyatanya setelah pertemuan dengan Nirmala kala itu, Ivan tidak pernah bertemu lagi selama kurang lebih 3 minggu. Kesibukannya sebagai seorang dokter spesialis sangat padat, jadwal operasi yang penuh, seminar dan penelitian juga berbarengan serta harus menjadi mentor bagi juniornya. Tidak lupa juga dia harus mengurus Ivana yang sempat sakit demam berhari-hari hingga putrinya itu di opname di rumah sakit.
Kehidupan Ivan akhirnya sepenuhnya berpindah di rumah sakit selama 4 hari Ivana demam. Jika jadwal operasi atau visit selesai, maka dia akan menghampiri putrinya, mengabaikan rasa lelah yang rasanya hampir mencekik karena tenaga yang dihabiskan saat operasi itu sangat banyak. Itu lah juga alasan dia langsung ingin pulang saja ketika sudah tidak ada urusan di rumah sakit dan lebih memilih bersama putrinya di rumah.
Dan bayangan soal Nirmala mendadak hilang karena fokusnya terpecah ke mana-mana. Ivan ingat soal gadis itu tapi kemudian akan teralihkan lagi oleh urusan lain sehingga tidak punya waktu untuk memikirkannya barang sebentar saja.
Layaknya hari ini, putrinya cuma ingin Ivan yang menggendong begitu sampai di rumah. Ivan menuruti mau putrinya karena Ivana menangis keras saat meminta padanya hingga nenek dan kakeknya juga tidak tega. Ivan yang sebenarnya sangat lelah karena mengoperasi selama 8 jam.
“Nggak papa, Ma ... biar Ivana sama aku aja, dia mungkin kangen aku karena sejak semalem nggak ketemu,” ujar Ivan pada mamanya.
“Baiklah, kalau gitu mama akan siapkan makan malam buat kamu,” ucap Ibu Ivan.
“Papa juga ada di ruang tengah kalau kamu capek,” kata ayah Ivan juga.
Tangan Ivan terasa sangat pegal sebenarnya. Mengoperasi seseorang di ortopedi layaknya pekerjaan di perbengkelan jika orang awam melihatnya. Suara layaknya orang memalu atau dentingan benda-benda keras saling meyahut ketika operasi dilakukan. Makanya kebanyakan dokter di bidang ini memiliki otot dan tubuh yang kekar sebab pekerjaannya sangat menguras tenaga.
“Sayang ...” Ivan mengusap rambut putrinya dengan lembut.
“Ivana kenapa nangis, hm?” tanyanya kemudian.
Ivana tak langsung menjawabnya, dia lebih dulu mendusel di d**a ayahnya sambil masih tersenggal oleh tangisnya tadi.
“Kangen mama ...” ucapnya kemudian dengan suara lirih tapi berhasil menusuk batin Ivan.
Pria ini terdiam di tempatnya berdiri selama beberapa saat sampai kemudian dia kembali mengayun Ivana yang ada di dalam gendongannya.
“Hmm ... mama juga pasti kangen sama Ivana,” kata Ivan dengan hati yang teriris.
Baru 3 hari Ivana keluar dari rumah sakit dan Ivan tidak bisa menjaga putrinya di rumah karena jadwal operasi tidak bisa ditunda. Bahkan kemarin malam Ivan tidak bisa menghindar dari panggilan darurat karenanya Ivana tidak bisa mendengar dongeng malamnya sebab Ivan harus ke rumah sakit.
Selama sakit, Ivan sebenarnya sangat takut jika putrinya akan menangis memanggil nama Aluna, tapi ternyata tidak. Putrinya sangat patuh tapi harus ada Ivan di dekatnya, tidak menangis ketika disuntik atau ketika minum obat, asalkan sang ayah ada di sana.
Ketika akhirnya Ivana tertidur di gendongannya, Ivan lantas membawa putrinya ke kamar untuk direbahkan. Mencium kening putrinya lalu mengucapkan selamat tidur dengan suara lirih sebelum turun untuk makan malam yang sudah terlambat 1 jam.
“Kamu jawab operasinya masih sangat padat, Nak?” tanya ibunya pada Ivan.
“Sangat, Ma. Tapi minggu ini aja, minggu depan bahkan cuma ada 2 dan semoga ngga bertambah,” jawab Ivan yang langsung diaminkan oleh ibunya.
“Jaga kesehatanmu ... abis ini langsung tidur aja jangan masuk ruang kerja atau nanti mama minta ke papamu buat gembok ruang kerjamu itu,” ancam sang ibu.
Ivan tertawa karena sudah sebesar ini dia harus diberi ancaman seperti itu.
“Baik, Ma. Aku akan tidur bersama Ivana biar dia nanti bangun liat papanya,” ujar Ivan.
Menjadi ayah tunggal itu sangat berat.
Tapi yang paling berat adalah menyadari posisi yang harus berjalan bersama di sampingnya membesarkan sang putri, sosoknya telah tiada.
Sosok yang ia cintai, yang salah satu bagian tubuhnya masih terasa hidup karena proses donor.
“Apa aku harus menemui gadis itu lagi?” gumam Ivan saat merasakan rindu yang begitu pekat kepada mendiang istrinya.
***
Sama seperti Ivan, Nirmala juga sangat sibuk.
Dia punya kegiatan kuliah yang amat menyita waktunya sampai-sampai waktu tidurnya berantakan. Tugas menumpuk setiap hari dari tiap dosen mata kuliah, dengan tugas yang beragam pula jenisnya. Yang paling sulit adalah membuat tugas membuat nirmana.
Nirmana yaitu tata unsur-unsur sebuah rupa seperti garis, bentuk, warna dan tekstur untuk menjadi satu kesatuan yang tampak indah dipandang atau memberikan dampak yang diharapkan. Jika tugasnya membuat Nirmana saja maka Nirmala yakin dia bisa, tapi masalahnya dosennya membuat batasan-batasan tertentu agar mahasiswanya tidak membuat bentuk yang “itu-itu saja”.
Alhasil semua mahasiswa harus memutar otak agar tugas buatan mereka menjadi terlihat baru dan kreatif.
“Lo tidur berapa jam hari ini?” tanya Nirmala pada Rafi yang baru saja meneguk kopi di hadapannya.
Mereka berada di kantin kampus di mana keduanya sudah seperti mayat hidup atau spesies zombie baru, mungkin. Tapi untungnya bukan cuma mereka, satu angkatan begini semua wujudnya.
“Tiga jam kali,” jawab Rafi lalu merebahkan kepalanya ke atas meja kantin.
Tugas Nirmana yang harus diselesaikan dalam waktu 10 hari akhirnya selesai dikerjakan. Baru saja mereka berdua mengumpulkannya bersama teman sekelas yang lain dan untungnya tidak ada yang terlambat merampungkan tugas yang hampir menjadi penyebab virus zombie muncul ke dunia.
Agak berlebihan, tapi satu angkatan mahasiswa DKV hari ini wujudnya memang seperti zombie.
“Masih untung elo ya, gue 2 jam dan rasanya mau pulang dan tidur. Sayangnya masih ada kuliah pak Broto kan jam 1 siang nanti,” timpal Nirmala.
Sekarang masih jam 9 pagi, masih lama sekali untuk menuju jadwal kuliah berikutnya.
Kepalanya sangat pusing karena kurang tidur, seluruh badannya terasa remuk tapi dia juga tidak bisa langsung tidur dan skip kuliah Pak Broto. Karena dosen ini sangat ketat soal masalah absen, lebih dari 3 kali alpha maka jangan harap dapat nilai C sekali pun!
Mengerikan!
“Ke perpus, Kuy! Kita tidur di sana,” ajak Rafi.
Nirmala akhirnya setuju dan akhirnya mengikuti Rafi menuju perpustakaan yang sepi. Sekarang keduanya menuju pojokan ruangan dan duduk lesehan bersandar pada tembok untuk mencuri tidur. Dalam sekejam saja mereka langsung terlelap saking ngantuk dan lelahnya.
Namun kemudian kepala Nirmala jatuh ke pundak Rafi hingga membuatnya terkejut dan terbangun dari tidurnya. Cowok ini terdiam karena jantungnya langsung berdebar keras. Dia membenarkan posisi kepala Nirmala lalu ikut menyandarkan kepalanya pada kepala Nirmala.
“Nirma ... apa gue tembak lo aja minggu ini? bukannya kita jadi makin deket akhir-akhir ini? gumam Rafi seraya menyunggingkan senyum.
Selama 3 minggu dengan tugas kuliah yang menumpuk, Rafi selalu menghampiri Nirmala untuk meminta bantuan soal tugas. Dia sebagai anggota band tidak bisa mengabaikan job yang sudah ditandatangani sehingga kesehariannya makin padat pula dan satu-satunya orang yang bisa dia percayai soal tugas cuma Nirmala.
Untungnya cewek ini mau dan selalu ada tiap Rafi membutuhkan. Bagaimana bisa Rafi tidak jatuh cinta padanya, kan?
Dan cowok ini rasa, Nirmala juga sudah tidak memikirkan soal dokter yang katanya mirip aktor korea favoritnya itu. Jadi pasti Nirmala bisa mulai melihat ke arahnya.
“Kayaknya ini waktu yang tepat,” gumam Rafi lagi dan mulai menyusun rencana di otaknya.
***