Saat itu di sebelah Nirmala ada Rafi, laki-laki yang beberapa kali Ivan lihat sering berada di sekitar Nirmala bahkan termasuk sekarang ini. Terlihat sekali kalau Rafi tengah menatapnya dengan tatapan menilai karena terlalu jelas alasan nyasar sampai di gedung fakultas lain padahal tempat parkir fakultas kedokteran cuma tinggal lurus dan belok kanan sekali.
Tidak jauh pula.
“Kalau gitu saya akan antar ke parkirannya, Dok,” kata Nirmala pada Ivan yang langsung tersenyum kecil menyetujui.
“Terima kasih,” ucap Ivan.
Rafi menghela napas mengikuti dua orang di hadapannya ini. Kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku hoddie yang ada di bagian depan, menatap malas pada interaksi Nirmala dengan seorang pria yang disebuat sebagai tipe idealnya.
Sial, Rafi benar-benar cemburu meski Ivan memakai cincin di jari tangannya.
Sepanjang perjalanan, Nirmala terlalu antusias untuk mengajak Ivan mengobrol. Dia bahkan sampai bertanya tentang jadwal dosen tamu Ivan secara tidak sadar.
“Masih belum ditentukan, aku datang untuk mengonfirmasi kesediaan. Nantinya akan diatur oleh bagian admin dulu,” jawab Ivan.
“Ooh iya bener juga.” Nirmala merasa malu sendiri karena dia terlalu ingin tahu soal Ivan.
Di antara mereka, lagi-lagi Rafi yang terus menjadi pengamat. Kali ini dia merasa ada yang aneh dengan Ivan yang akan sesekali menatap pada mata Nirmala. Sebenarnya wajar kalau Ivan hanya sedang menatap lawan bicaranya, tapi yang dilakukan Ivan itu menatap cukup pada Nirmala, menurutnya.
Bukankah Ivan sudah menikah? Dokter ini tidak sedang berencana menyukai Nirmala, kan? Pikir Rafi.
“Kita sudah sampai di parkiran,” celetuk Rafi yang alhasil menginterupsi obrolan Ivan dan Nirmala.
Keduanya langsung menatap Rafi dan menyadari jika mereka sudah berjalan sampai ke tempat tujuan. Ivan juga baru terbangun dari imajinasinya kalau yang sejak tadi dia ajak bicara adalah mendiang istrinya. Mata Nirmala terlalu menyihirnya hingga membuat jantungnya berdebar keras, rasanya sakit tapi Ivan menikmati rasa sakit itu sebagai obat untuk rindunya pada Aluna.
“Mobil saya ada di sana,” tunjuk Ivan pada keberadaan mobil pajeronya yang terparkir beberapa meter dari tempatnya berdiri. “Saya pamit dulu kalau begitu, terima kasih sudah menunjukkan jalan,” sambungnya.
“Sama-sama, Dok. Hati-hati di jalan,” balas Nirmala yang tak tahan untuk kemudian tersenyum lebar. Pipinya bahkan sudah memerah karena Ivan menatapnya kini.
Yang Nirmala tidak tahu kalau Ivan hanya ingin menatap pada mata yang didonorkan istrinya pada Nirmala. Dan sebelum 1 menit berakhir, Ivan memutuskan tatapannya yang terlalu dalam itu sebelum menimbulkan curiga.
Dia berjalan menjauh dari Nirmala dan Rafi yang tadi cuma sempat saling menunduk dengannya, tidak ada ucapan pamit saat itu untuk Rafi padahal sama-sama sudah mengantar ke tempat parkir. Selain itu saat sudah sampai di mobilnya, Ivan berdiam diri sebentar di sana untuk meredakan semua emosi yang melandanya.
Mulai sekarang dia sudah tidak bisa mundur lagi sebab ternyata menatap mata Nirmala bisa mengobati rindu akan Aluna yang tidak pernah padam dalam hati Ivan. Meski jalan yang Ivan pilih ini sangat beresiko, namun karena sudah memutuskannya dan terlanjur juga sampai di titik ini, Ivan berpikir lebih baik untuk meneruskannya.
Tidak peduli apa yang akan terjadi nantinya.
Tatapan Nirmala yang masih kelihatan memuja Ivan tetap ada bahkan meski mobil Ivan sudah berlalu dari parkiran ini. Rafi yang menyaksikan semua itu makin kesal dibuatnya, kelihatan sekali kalau Nirmala memang menyukai Ivan padahal sudah tahu dokter itu menggunakan cincin di jarinya, sudah menikah!
“Nirma ... Dia itu udah nikah, ingettt!” cetus Rafi di dekat telinga Nirmala.
Nirmala langsung memukul kepala Rafi karena membuatnya terkejut. Bergeser menjauh dua langkah lalu memukul Rafi sekali lagi.
“Sakit, Nirma!” keluh Rafi.
“Elo sih rese banget!” maki Nirmala masih kesal.
Rafi berdiri tegak lalu memegangi kepala Nirmala supaya melihat ke arahnya.
“Lepas ih!” Nirmala memberontak seraya melepaskan tangan Rafi dari kepalanya. “Sakit tahu!”
“Ya itu buat bikin elo sadar kalau Dokter Ivan itu udah nikah! Jangan natap dia begitu!” tutur Rafi mengingatkan.
Nirmala menghela napas, kini dia ingat fakta yang terus membuatnya sedih soal Ivan.
“Cowok lain banyak, Nirma ... elo jangan jadi pelakor cuma karena cowok yang katanya mirip oppa kore lo itu,” kata Rafi kembali mengingatkan tapi dengan kata-kata yang pedas.
“Diem deh! Ngeselin banget!” protes Nirma.
Dia berjalan meninggalkan Rafi karena sangat kesal. Dia juga tahu kalau tidak boleh sampai mendekati Ivan dan menjadi pengganggu rumah tangga orang lain. Memangnya dirinya bodoh apa?
Jadi pelakor saja sudah tercela, apalagi sampai kalau kedua orang tuanya juga tahu soal ini. Nama baik mereka yang akan dipertaruhkan nanti.
***
Sampai di rumah sakit, Ivan langsung menerima pasien yang melakukan rawat jalan. Melakukan konsultasi hingga 4 jam kemudian dia akhirnya selesai. Teguh yanng merupakan residen di ortopedi menemukan keanehan kembali karena mentornya ini tidak langsung melepaskan snelli dan berlari ke tempat parkir untuk pulang, melainkan kini tengah melamun di ruangannya.
Setelah selesai membereskan berkas dari semua pasien yang datang konsultasi, Teguh pun berpamitan keluar dari ruang kerja Ivan. Tapi baru akan memegang kenop pintunya, Ivan kembali memanggilnya.
“Ada yang bisa saya bantu, Dok?” tanya Teguh merespon panggilan Ivan.
Belum menjawab, Ivan justru tengah merogoh tas kerjanya lalu mengeluarkan dompetnya dari sana. Mengambil 4 lembar uang 100 ribuan lalu memberikannya pada Teguh.
“Tolong pesankan lewat aplikasimu paket makanan kaya biasanya dan sisanya untuk kamu,” kata Ivan akhirnya memberi jawaban.
Senyum senang langsung muncul di wajah Teguh setelah mendapatkan perintah dari mentornya ini. “Baik, Dok. Nanti akan saya antar kalau sudah sampai.”
“Terima kasih,” ucap Ivan seraya tersenyum kecil.
Teguh segera keluar dari ruangan Ivan dan mulai membelikan makanan yang biasa Ivan pesan. Makanan itu berupan junkfood dari salah satu franchise terkenal di dunia. Namun yang membuat Teguh lumayan heran adalah Ivan memesannya di malam hari bukan di siang hari.
“Perasaan departemen ortopedi lagi nggak sibuk akhir-akhir ini?” gumamnya mengingat dia sebagai residen juga banyak waktu luang.
“Bodo lah, yang penting bisa ditraktir makan juga!”
Faktor Teguh makin betah menjadi junior Ivan adalah karena mentornya ini sangat royal padanya. Memberi perintah pun ada imbalan yang membuatnya tidak segan untuk melaksanakannya tapi juga Ivan tidak pernah semena-mena memberinya perintah.
“Lagi ngapain, Guh?”
Seseorang tiba-tiba berbicara di dekat Teguh dan itu ternyata dokter Kanti. Dokter yang Teguh juga tahu bahwa Kanti menaruh perasaan pada Ivan tapi belum pernah bisa menjadi sangat dekat dengan mentornya itu.
“Mau mesenin makanan buat dokter Ivan, Dok,” jawab Teguh.
“Ivan?” Kanti mendengar itu cukup terkejut. “Dia masih di rumah sakit?”
Keberadaan Ivan lembur di rumah sakit memang bisa mengejutkan semua orang.
“Iya, Dok. Apa dokter mau ketemu? Dokter Ivan masih di ruangannya,” kata Teguh.
Dia menyembunyikan senyum jahilnya karena ingin mencoba menjadi makcomblang bagi dua dokter ini. Sebab Teguh pikir dokter Kanti yang sangat cantik dan baik ini pasti akan cocok untuk Ivan, apalagi Kanti merupakan dokter kandungan yang pastinya bisa menyayangi anak Ivan juga nanti.
Dan Kanti terlihat tertarik untuk menemui Ivan yang sudah beberapa hari ini tidak terlihat olehnya. Sebagai seorang yang menaruh perasaan cinta pada Ivan, tentu Kanti tidak bisa begitu saja melewatkan kesempatan ini.
“Mm ... gini aja, nanti kalau makanannya udah dateng, biar aku aja yang anter ke ruangannya, bisa?” tanya Kanti setelah menemukan ide yang lebih baik.
“Bisa, Dok!” kata Teguh bersemangat.
15 menit kemudian makanan telah datang karena jaraknya tidak jauh dari rumah sakit. Lalu Teguh memberikan pesanan Ivan pada Kanti yang saat itu tenagh berbicara dengan perawat di bagian administrasi. Kanti langsung saja tersenyum cerah walau sangat gugup juga untuk bisa menjalankan misi yang dia sendiri rencanakan.
Sementara itu di ruangan Ivan, pemiliknya kini tengah duduk termenung setelah mencoba membuat dirinya teralih dengan membaca hasil penelitian. Yang ada Ivan akan kembali tenggelam pada ingatan saat dia menatap pada mata Nirmala. Sangat sulit untuk tidak memikirkan hal tersebut.
Alasan ini juga yang membuat dia tidak bisa pulang ke rumah.
Karena pasti akan mengabaikan Ivana, putrinya karena tetap memikirkan soal Nirmala. Otak Ivan cuma bisa bekerja dengan baik ketika berhadapan dengan pasien, maka pasti dirinya akan sangat fokus.
TOK TOK TOK
Ivan terbangun dari lamunannya saat mendengar suara ketukan di pintu ruangannya.
“Masuk.”
Sembari memperbaiki mimik wajahnya yang pasti kelihatan sangat suntuh, Ivan bisa melihat kalau pintu perlahan terbuka dan menampakan wajah Kanti. Kedua alis Ivan terangkat tinggi karena tidak tahu kenapa dokter kandungan di rumah sakit ini mengunjunginya.
“Dokter Kanti?”
Kanti sangat gugup sekarang begitu melihat wajah tampan Ivan. Tapi dia segera memberanikan diri masuk ke dalam ruangan Ivan lalu meletakkan pesanan makan malam Ivan ke atas meja kerja pria itu.
“Teguh ada urusan jadi dia minta bantuan aku tadi untuk antarkan ini ke kamu,” tutur Kanti lalu diakhiri senyuman.
“Ah begitu.” Ivan berdiri karena merasa tidak enak sudah merepotkan Kanti. “Terima kasih sudah mengantarkannya, Dok.”
“Sama-sama,” ucap Kanti, senyumnya sudah tidak bisa ditahan lagi untuk mencapai matanya.
“Oh iya dokter sedang jaga hari ini?”
“Iya, nih.”
“Sudah makan malam?”
Mata Kanti terbuka lebar saat ditanyai begitu, saat ini dia jadi berharap kalau Ivan akan menawarinya makan malam bersama karena paket makanan yang dipesan Ivan cukup besar. Tidak masalah kalau dirinya harus makan junk food padahal sudah menghindarinya demi diet satu bulan ini, demua demi Ivan.
“Mm belum ...”
“Kalau gitu bisa sekalian makan, Dok. Sebagai ucapan terima kasih.”
Hati Kanti langsung berbunga-bunga, jika saja tidak ingat untuk tetap tampil elegan, dirinya pasti sudah melompat-lompat saat ini karena terlalu senang.
Setelah menyetujui tawaran Ivan, Kanti lumayan menyesalinya karena ternyata Ivan membawanya ke pantri di mana di sana ada perawat dan dokter lain juga. Kanti kira kalau Ivan akan membiarkannya makan di ruang kerjanya sehingga mereka cuma berdua saja di sana.
Ternyata Ivan tetaplah Ivan yang sangat sulit untuk didekati.
“Aku udah disuruh nikah sama orang tua ... tapi cowok yang aku mau itu kamu yang dinginnya ngalahin kutub selatan,” gumam Kanti dengan suaran lirih seraya menatap Ivan yang tengah sibuk makan di hadapannya.
***