Pekuburan Sunyi
Seorang lelaki turun dari mobil yang diparkirkan di parkiran pemakaman umum. Pakaian serba hitam dengan kacamata hitam pula yang bertengger di hidungnya. Tak hanya kali ini dia mengenakan pakaian serba hitam, tapi hampir tiap hari.
Itu pertanda dirinya memang sering berduka. Sejak sepeninggalan kekasihnya hingga kini. Sudah sangat lama duka dalam hatinya tidak hilang, justru semakin membelenggu. Rasa kehilangan tak kunjung pergi. Lelaki tampan itu tetap berduka sepanjang masa, tak ada yang bisa membuatnya kembali bersuka cita.
Dia melangkah melewati satu persatu makam orang yang masanya telah habis dan kini telah bersama Tuhan. Dia juga sering menyempatkan diri untuk datang ke pemakaman tersebut. Tak hanya sering, bahkan hampir tiap hari. Tapi tidak pernah ada kata bosan untuk datang ke sana. Bahkan jika bisa, dia akan tetap berada di sana menemani perempuan yang telah berbaring di bawah tanah.
Itu tentu saja karena dia merindukan salah satu orang yang berbaring di sana. Dia selalu datang dengan bunga dan tak lupa untuk memanjatkan doa nantinya. Di tengah kesibukannya menjadi arsitek, dia selalu menyempatkan diri untuk datang. Jika tidak sempat, maka doa tetap dipanjatkan.
Pekuburan yang sunyi nan senyap itu terasa dingin. Bunga melati serta daunnya yang kering gugur menimpa nisan perempuan yang begitu dicintai. Disibak daun serta bunga yang gugur itu, disisihkan di tempat sampah. Kemudian diganti dengan taburan mawar yang baru saja dibeli. Sekarang sudah cantik, rumput liar pun tak lagi menghiasi. Dia berjongkok, tangannya menengadah bersiap memanjatkan doa.
Makam siapakah di sana? Tentu, makam kekasih Genta Sanjaya Arusatya. Tepat satu tahun yang lalu perempuan yang sempat mengisi hatinya itu pergi dikarenakan sebuah penyakit yang fenomenal—leukimia.
Perempuan yang bernama Tamara itu mengidap kanker darah atau yang akrab disebut leukimia sudah lama. Dan selama itu Genta selalu berada di sampingnya, berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan perempuan yang teramat dia cintai. Namun tetap saja. Takdir berkehendak lain. Tuhan lebih mencintai Tamara daripada Genta. Tuhan meminta Tamara untuk kembali supaya perempuan itu tak lagi merasakan sakit yang teramat.
Jangan tanya bagaimana perasaan Genta waktu itu. Dia teramat sedih, bahkan sampai sekarang rasa kehilangan masih menyeruak. Genta sulit untuk kembali seperti biasanya. Dia tetap saja merasa kehilangan meskipun ini sudah sangat lama.
Setelah hari itu, hidupnya terasa sendu. Dia terus saja murung. Bahkan untuk keluar dari rumahnya saja enggan. Dia memilih bekerja dan melakukan apa pun dari rumah. Genta bahkan juga sulit tersenyum. Para keluarganya yang berusaha menghiburnya juga sudah lelah karena usaha mereka tidak pernah berhasil untuk mengembalikan senyum Genta.
Genta tetap menjadi lelaki yang menyedihkan. Semuanya turut sendu menyaksikannya tiap waktu. Genta benar-benar kehilangan, dia sulit untuk menghibur dirinya sendiri. Hanya Tamara yang mampu membuat Genta bahagia. Namun, masa perempuan itu di dunia ini telah habis, dia telah menghadap Sang Pencipta.
"Tamara... Aku datang lagi. Maaf ya kalau sering datang, aku hanya merindukanmu. Tuhan tak kunjung menjemputku. Padahal aku sudah sangat ingin untuk kembali bersamamu...."
Seperti biasa dia menyapa dengan kata-kata menyedihkan itu. Mungkin semua orang yang mendengarnya akan ikut sedih. Kesedihan Genta yang kehilangan Tamara memang menular ke orang lain. Banyak yang ikut berduka karena Tamara juga orang baik, tentu banyak yang merasa kehilangan. Tapi tetap saja yang paling merasa kehilangan adalah Genta.
Lelaki itu hanya ingin segera dipanggil Tuhan supaya bisa bertemu kembali dengan Tamara yang telah mendahuluinya. Menyedihkan dan memilukan sekali.
"Tenanglah di sana, Tamara. Sungguh, aku merindukanmu...." seru lelaki yang bernama Genta itu. Dia selalu saja menitikkan air matanya saat menatap nisan bertuliskan nama kekasihnya dulu. Dia selalu saja teringat dengan kenangan yang tercipta bersama perempuan itu dulu.
Sulit baginya melupakan cinta pertama setelah cintanya kepada sang mama. Bisa dibilang pemuda itu sukar jatuh cinta, dan sekalinya jatuh dia begitu dalam hingga enggan untuk melupakan. Dan mungkin tak akan pernah terjadi dalam hidupnya. Sangat sulit baginya untuk melupakan Tamara dan membuka hatinya lagi untuk orang lain. Tidak hanya sulit, tapi menurutnya sangat mustahil.
Lantas, apakah kesedihannya ini akan berlanjut hingga Sang Pencipta juga menjemputnya? Apakah hanya perempuan yang telah mengahadap-Nya yang mampu mengembalikan gelak tawa pemuda itu? Kalau pun iya, bukankah itu tidak mungkin dikarenakan perempuan itu telah pergi selamanya?
Tidak ada yang tahu bagaimana ke depannya. Tapi yang jelas semua orang sekitar yang menyayangi Gent berharap supaya lelaki itu segera mendapatkan kebahagiaannya kembali. Semuanya berharap bisa melihat Genta tersenyum dan bahagia lagi.
"Kale!" seru seseorang yang didengar oleh Genta.
Itu adalah nama saudara kembar Genta. Ya, Genta merupakan anak kembar seiras, kembarannya bernama Kale. Sudah dipastikan seseorang itu pasti salah memanggil dikarenakan wajah antara Genta dan Kale mirip sekali, dan orang itu mengira pasti Genta adalah Kale.
Genta menghela napas panjang menanggapi semua ini. Dia cukup kesal karena hal ini sangat mengganggunya. Dan sebisa mungkin dia menerimanya karena beginilah garis takdir yang diberikan oleh Tuhan untuk anak kembar.
Ini memang terjadi tidak hanya satu kali saja, tapi telah berulang kali. Wajar saja karena anak kembar apalagi seiras memang kerap membingungkan. Bahkan terkadang keluarganya juga bingung untuk membedakan mana Genta dan mana Kale karena wajah mereka sama hingga sulit membedakan.
Hanya watak dan tingkah laku saja yang membedakan antara Genta dan Kale. Sedikit cerita, Genta orangnya sangat dingin, pintar, mandiri, sulit terbuka, pekerja keras, dan ambisius. Genta adalah orang yang sulit jatuh cinta, dia bahkan tidak punya teman wanita selain Tamara yang juga telah menjadi kekasihnya, berbeda sekali dengan saudara kembarnya.
Sedangkan Kale berbanding terbalik, dia sama pintarnya dengan Genta yang sebenarnya adalah Kakaknya karena Genta lahir terlebih dahulu. Kurang lebih hanya lewat lima menit saja. Kale adalah orang yang pecicilan, selalu terbuka, pemalas, dan yang paling parah adalah playboy kelas kakap. Dikatakan playboy memang karena wanita-wanita Kale sangatlah banyak. Bahkan tidak bisa dihitung lagi dengan jari saking banyaknya.
Genta dan Kale memang kembar, wajahnya pun sama rupanya, sama-sama tampan dan incaran para wanita. Namun, sifat mereka berbanding terbalik, hanya kepintarannya yang sama. Mereka pun kerap bertengkar jika bersama karena keterbalikan sifat yang memang tidak akan bisa menyatu.
Meski sering berkelahi atau hanya adu mulut, mereka sebenarnya saling menyayangi. Hanya saja tidak menunjukkannya secara langsung. Maklum, lelaki memang seperti itu. Sulit untuk menunjukkan rasa sayang mereka pada saudara.