Cerita Tentangnya

2070 Words
Sudah lama dia menginginkan untuk tinggal di Indonesia, dan kini dia diberi kesempatan untuk itu. Namun, hal utama yang menyebabkan dia ingin tinggal di Indonesia sudah pupus. Tidak masalah baginya meski sebenarnya hal itu terlalu menyedihkan. Dia memaklumi bahwasanya manusia memang tidak akan terlepas dari hal menyedihkan, semuanya tetap perlu dinikmati sebagaimana mestinya. Indonesia memang berbeda sekali dengan Jepang, meski demikian dia begitu menyukai negara ini. Dia cinta dengan Indonesia. Jepang dan Indonesia sama cantiknya. Keduanya memiliki sisi kelebihan dan kekurangannya. Ada hal yang menyenangkan, dan ada pula hal yang menyedihkan. Jika masa seperti ini ketika di Jepang, dia pasti sedang berada di bawah selimut besar atau sedang membersihkan salju yang menggunung di sekitar halaman rumahnya, atau bahkan bermain sejenak membentuk salju tersebut menjadi manusia salju atau bentuk lainnya. Jepang sedang memasuki musim dingin, sedangkan Indonesia sudah lama memasuki musim penghujan. Sama seperti kali ini, hari diawali dengan hujan rintik-rintik. Pagi-pagi sekali dirinya sudah melangkah menuju ke perusahaan untuk melakukan wawancara kerja. Dia merupakan fresh graduated di Universitas Tokyo dengan jurusan arsitektur. Sebelum pindah ke Indonesia, dirinya sudah ditawari untuk bekerja di perusahaan ternama Tokyo. Tentu saja ditolaknya karena dia memilih untuk menetap di Indonesia. Tapi tak masalah, Jepang ataupun Indonesia sama saja. Dia pasti bisa mencari pekerjaan di Indonesia di bidang yang sama pula meski sulit karena cakupannya tidak luas. Meski demikian dia tetap menanamkan jiwa optimis. "Maaf, Nona, wawancara diundur dua hari lagi dikarenakan perusahaan sedang melakukan rapat besar," seru HRD memberitahu Gempita dan calon karyawan lain yang sedari tadi telah menunggu. Sangat mendadak sekali informasi yang diberikannya. "Tapi kemarin Anda bilang jika wawancara saya akan dilakukan hari ini. Kalau memang diundur kenapa tidak memberitahu sebelumnya?" seru Gempita. Dia kesal sekali dengan orang yang tidak sesuai rencana— main ubah sesuka hati. "Iya memang saya belum mengabari lagi dikarenakan sibuk. Mohon maaf sekali...." HRD tersebut membungkukkan badannya kepada seluruh calon karyawan bermaksud meminta maaf atas ketidaknyamanan yang diperbuatnya. "Harusnya memberi informasi lagi supaya tidak kecewa seperti ini. Kan sayang waktu dan tenaga untuk ke sini!" Gempita kemudian melenggang pergi terlebih dahulu dari para calon karyawan yang juga kecewa karena jadwal wawancara diundur. Saat dirinya pergi, calon karyawan yang lain juga masih terdengar ocehan yang merutuki HRD tadi. Semuanya tentu marah dan kecewa. Gempita sangat tak suka jika seperti ini. Tak wawancara sebenarnya tak menjadi masalah, tapi waktunya telah terbuang sia-sia. Itu sangat menyedihkan. Hal ini merupakan salah satu hal yang tidak disukainya dari orang Indonesia. Dia terus mengomel selepas meninggalkan perusahaan tadi. Orang Jepang penggila kerja. Mereka tidak akan membiarkan waktu terbuang sia-sia. Dan dengan cara bekerja itulah waktu akan termanfaatkan dengan baik. Jika sehari tak melakukan apa pun, pasti mereka akan menjadi stress. Tidak tahu harus pergi ke mana lagi. Hendak melamar pekerjaan di tempat lain, itu tidak mungkin. Pengetahuan tentang perusahaan di Indonesia sedikit. Hanya satu saja yang dia tahu– perusahaan yang baru saja dia tinggalkan tadi. Kenalannya di Indonesia tidak banyak, bahkan bisa dihitung jari, begitu pula dengan ayahnya. Gempita masih sulit menemukan teman yang satu frekuensi dengannya. Gempita masih berjalan tak tentu arah. Dia benar-benar lesu. Tidak tahu harus bagaimana setelah ini. Gempita hanya ingin harinya tidak dilewati tanpa pekerjaan atau istilah lainnya nganggur. Dia tidak bisa jika seharian berdiam diri saja. Kembali ke rumah pun untuk apa? Semua pekerjaan rumah pasti telah beres oleh asisten rumah tangganya. Ah, bingung sekali. "Aaarrrgghhh!" Perempuan itu memekik karena terkejut, bajunya basah terkena percikan air akibat mobil yang melintasi lubang jalanan. Baju yang dikenakan pun putih, dan kini tak lagi seputih sebelumnya. "Hey! Apa kamu tidak bisa mengemudikan mobil dengan baik?!" serunya memaki mobil yang melaju kencang dan sempat menginjak lubang jalanan yang berair hingga membasahi dan mengotori bajunya. Sangat menyebalkan, dia tidak suka kotor. "Harusnya kamu minta maaf dulu!" Gempita heran dengan mobil yang terus saja melaju. Padahal harusnya dia mengucap maaf dulu padanya. Sudah seperti tidak punya sopan santun saja. Sungguh, dia benar-benar kesal dibuatnya. Tapi tak masalah, ini harus dibiasakan. Ya, dia harus membiasakan dan berusaha menerima sifat-sifat orang Indonesia yang memang terkadang menyebalkan. Ada yang dengan mudahnya meminta maaf ketika melakukan kesalahan, dan ada pula yang sebaliknya— sulit meminta maaf dan bahkan tidak mengakui jika salah. Gempita kembali melanjutkan langkahnya. Dia sangat jijik dengan air yang membasahi kemeja putihnya. Pecinta kebersihan seperti dia memang tidak bisa melihat hal kotor sedikit pun. Gempita berusaha mengeringkan dengan tisu, tidak kering betul, tapi sudah cukup daripada kedinginan. Untuk kali ini dia harus bertahan dengan kemejanya yang tidak bisa dibersihkan hanya dengan tisu. Biar saja dia menunggu beberapa saat. "Kalau aku pulang sekarang, di rumah juga tidak ada hal yang bisa kulakukan. Papa juga tidak ada di rumah. Tapi kalau tidak pulang, aku harus ke mana?" gumam Gempita. Dia bertanya-tanya sendiri pada dirinya. Dia akhirnya berhenti sejenak di bangku pinggir jalan yang kosong. Tepat di bawah pohon besar yang terombang-ambing daunnya karena angin cukup kencang. Udara semakin dingin karena angin tersebut. "Sepertinya akan hujan deras hari ini," seru Gempita. Dia menatap langit yang mendung dan angin pun kencang seolah memberi tahu bahwa akan hujan deras. Dia memeluk dirinya sendiri untuk mengusir dingin, tapi tetap tidak bisa. Udara dingin tetap menyapa kulitnya. Gempita pada akhirnya kembali melangkahkan kakinya. Dalam pikirannya masih tak tentu arah. Yang penting dirinya melangkah. ***** Lelaki berkaos putih dengan jas warna biru tua sedang berjongkok di samping makam kekasihnya. Dia rindu sekali, maka dari itu kembali datang menemuinya. Seperti biasa pula, dirinya benar-benar lemah tatkala menatap nisan bernama kekasihnya. Air matanya menetes begitu saja. Dia segera mengusapnya dan berusaha tersenyum meski suasana hatinya tidak demikian. Dia teringat dengan apa saja yang telah dilalui bersama Tamara— kekasihnya yang telah tiada itu. Sejak kelulusan hingga kuliah mereka tetap bersama. Tamara juga menjadi alasan Genta supaya tetap semangat meraih apa yang telah diimpikan selama ini. Keberhasilan Genta saat ini juga merupakan berkat Tamara. Sungguh, ini sulit dilupakan. Enam tahun mereka bersama, tentu saja banyak kenangan baik itu manis ataupun pahit yang telah dilalui. Sejak S1 hingga lulus S2 Genta selalu diberi semangat apalagi saat dirinya mulai letih. Tamara selalu ada untuk Genta. Begitu pula sebaliknya. Dulu mereka selalu bersama, kebahagiaan tercipta begitu saja. Bahkan Genta pun seolah menjadi orang terbahagia di dunia ini karena memiliki Tamara. Genta selalu tersenyum dan ceria, beda sekali dengan Genta yang sekarang. Semua kebahagiaannya telah terkubur bersama jasad sang kekasih. Begitulah yang dirasakan Genta. "Makam siapa ini?" tanya seseorang yang mengejutkan Genta. Tiba-tiba saja perempuan itu ikut berjongkok di samping Genta dan menatap makam yang bertuliskan nama Tamara. Dia sebenarnya tahu bahwa yang di sana adalah perempuan, tapi yang ingin dia ketahui lagi apa hubungannya dengan Genta, kenapa selalu dikunjungi. Perempuan yang tadi membawa bunga tabur untuk mamanya disisihkan separuh untuk makam yang belum diketahuinya sama sekali. Dia menaburkan bunga yang disisihkannya itu ke makam yang selalu didatangi Genta. "Kenapa kamu di sini?" tanya Genta kepada Gempita. Ya, perempuan itu memilih untuk mengunjungi makam Mamanya ketika tak ada kegiatan lain setelah wawancaranya gagal. Dia melihat Genta, maka dari itu menghampiri dan memberi separuh bunga tabur untuk makam yang sedang dikunjungi lelaki itu. "Kamu harus menjawab pertanyaanku dulu. Kenapa malah kembali bertanya?" Gempita dengan santainya bertanya. Dia kemudian tersenyum karena makam di hadapannya semakin cantik dengan bunga yang ditaburkannya tadi, sama seperti makam Mamanya yang telah dia percantik tadi. Genta terhenyak. Gempita hampir sama dengan Tamara. Jika pertanyaan yang dilayangkan malah dibalas dengan pertanyaan, maka Tamara akan kesal. Dan ternyata Gempita juga sama. Ah, itu sifat yang sebenarnya juga dimiliki mayoritas orang. "Makam kekasihku." Lelaki itu tersenyum getir menatap kembali makam yang bertaburan bunga mawar. Dia lalu bercerita kepada Gempita. "Dia meninggal dua tahun yang lalu karena leukemia. Kami berpacaran hampir enam tahun. Dia meninggal saat kelulusan S2-ku. Dan harusnya dia juga melakukan wisuda S2-nya hari itu. Tuhan memang selalu memiliki rencana yang tidak pernah diketahui hamba-Nya." Ternyata makam kekasih Genta. Gempita baru tahu. Perempuan itu turut berduka atas apa yang dialami Genta. Dia tak menyangka jika Genta menyimpan kesedihan yang mendalam. Mungkin jika berada di posisi Genta, Gempita juga akan merasakan hal yang sama— sedih bukan main. Kehilangan orang yang dicinta memang sangat memilukan. Namun yang namanya perpisahan memang sudah pasti akan terjadi. Manusia juga sudah pasti mengalami kematian jika memang waktunya di dunia ini selesai. Semua itu merupakan rahasia Tuhan. Tidak ada yang tahu kapan datangnya kematian dan apa yang akan terjadi dengan takdir kita nanti. "Kamu pasti sangat mencintainya? Sorot matamu terlihat begitu saat menatap nisan kekasihmu ini." Gempita kembali berbicara. Dia ikut menatap nisan kekasih Genta yang bersih dan cantik karena selalu dirawat. "Ya, aku sangat mencintainya. Tidak ada yang bisa menggantikan posisinya di hatiku," sahut Genta. Dia mendongakkan wajahnya ke atas, berusaha menahan tangisnya supaya tidak tumpah. Dia sangat malu jika menangis di hadapan perempuan. "Jangan bersedih. Kalian hanya terpisah sementara. Percayalah jika di akhirat nanti kalian akan dipertemukan kembali," lirih Gempita mengusap bahu Genta berusaha memberinya kekuatan. Dia pun tersenyum berusaha mengajak Genta untuk tersenyum pula karena sedari tadi Genta murung. Dan yang ada Genta malah semakin lemah. Dia kembali meneteskan air matanya mendengar ucapan Gempita tadi, Genta sudah tidak bisa membendung air di kelopak matanya. Sementara Gempita jadi panik. "Genta... Apa kata-kataku salah? Maafkan aku, Genta...." Gempita merasa bersalah saat melihat Genta menitikkan air matanya dalam diamnya. Gempita segera mengambil tisu dari tasnya dan hendak mengusap air mata Genta. Namun, Genta lekas mengambil tisu tersebut. Genta tidak mau Gempita bersikap seperti itu padanya, apalagi di hadapan makam kekasihnya. "Terima kasih. Kata-katamu tidak salah, kok. Memang benar bahwa aku dengan dirinya terpisah saat ini. Dan aku yakin kalau di akhiran nanti aku dengan dirinya akan dipertemukan kembali. Aku jadi tidak sabar untuk hari itu. Aku ingin lekas menyusulnya," ucap Genta tertawa kecil. Matanya tetap tertuju pada nisan kekasihnya. Air mata sudah tidak menetes lagi. "Jangan bicara seperti itu, Genta. Kita harus tetap semangat menjalani hidup. Jangan terus menerus sedih." Gempita kembali memberi nasihat sekaligus mengusap bahu Genta. Dia seolah menyalurkan energi dan semangatnya untuk lelaki itu supaya tidak sedih lagi. Gempita sangat tidak menyukai orang di sekitarnya berwajah murung dan sedih. Dia harus menghiburnya, termasuk Genta yang saat ini berada di dekatnya. Terlebih lagi karena kesedihan Genta tadi pasti berawal dari pertanyaannya. Maka dari itu Gempita harus bertanggungjawab. Langit semakin menggelap. Rintik demi rintik pun turun membasahi bumi. Genta langsung berdiri dan berusaha mencari tempat berteduh. Tapi sayang, hujan deras begitu cepat datangnya. Hujan deras datang begitu saja membuat Genta dan Gempita langsung basah kuyup karena tidak sempat mencari perlindungan. "Wah, hujan datang tidak memberi aba-aba..." lirih Gempita, dia justru tersenyum merasakan rintikan air yang membasuh tubuhnya. Dingin sekali. "Ayo, berteduh!" teriaknya kepada Gempita. Tapi perempuan itu malah asyik menengadahkan wajahnya ke langit membiarkannya terkena air hujan. Riasan tipisnya semakin tidak terlihat karena terbasuh air hujan. Semakin alami, dan begitulah kecantikannya terlihat. Genta pun segera menarik Gempita dan membawanya ke parkiran makam yang bisa dijadikan tempat untuk berteduh. Dia tidak mau kehujanan. Dia sangat tidak suka. Genta harus segera berteduh meskipun terlambat karena tubuhnya telah basah kuyup. Yang penting dia tidak lagi kehujanan dan kedinginan, hingga akhirnya bisa menyebabkannya demam. Gempita terkejut dengan tarikan Genta. Dia kesulitan mengikuti langkah Genta yang cepat. Dan baru beberapa langkah, Gempita terhenti membuat Genta menghentikan langkahnya pula. Gempita tersenyum menatap Genta yang sulit melihat karena air hujan terus mengguyur wajahnya. Terlihat lucu. Genta juga sesekali mengusap air di wajahnya, namun tetap saja terguyur lagi karena hujan belum terhenti. "Ayo, berteduh! Kenapa malah diam saja!" teriak Genta karena takut tidak terdengar. Hujan semakin deras hingga memungkinkan untuk sulit mendengar suara siapa pun, maka dari itu Genta tadi berteriak. Genta sendiri cukup kesal dengan Gempita yang tidak lekas melangkahkan kakinya kembali. "Kenapa? Kamu takut sama hujan? Bukankah hujan itu sangat menyenangkan?" seru Gempita yang langsung melepas genggaman Genta di tangannya. Dia tidak akan ikut Genta berteduh. "Berteduhlah sendiri. Biarkan aku tetap di sini. Aku ingin main hujan!" seru Gempita dengan riangnya. Tidak peduli bahwa kini dari ujung kepala hingga ujung kakinya basah kuyup. Tidak peduli pula jika dirinya nanti demam setelah ini. Dia sudah menunggu hujan sedari tadi pagi. Gempita tidak mungkin melewatkannya biar penantiannya tidak sia-sia. Dan sebenarnya dia ingin menangis secara tidak terlihat. Dia menangisi harinya yang kurang menyenangkan. Dia sangat pandai mengusir hal memilukan dari hatinya. Dia menangis untuk meluapkan segalanya. Dan hal itu terbantu dengan adanya hujan. Hujan menyamarkan tangisnya, sampai lelaki yang dekat sekali dengannya itu tidak tahu bahwasanya dia sedang menangis dalam diam juga dalam tetes air hujan tang tak mau berhenti sejenak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD