Siang itu hunian Gutomo tetap dingin. Abila melayani dirinya sendiri di rumah itu. Kebiasaan yang diterapkan semenjak ia kecil dan di rumah neneknya. Abila terbiasa mandiri.
Abila menatap dapur yang masih sentuhan awal. Cat biru dan putih. Warna yang almarhumah ibunya senangi.
"Selamat siang, Nona. Apa yang bisa kami bantu?" tanya seorang maid yang datang tampak dengan wajah malas.
"Tidak perlu, Saya bisa kerjakan sendiri ...," jawab Abila lirih.
"Maaf, Nona Bukan maksud lain. Nyonya tak suka ada orang lain yang mengacau di dapur. Kami dibayar di sini untuk bekerja!" suara maid itu begitu tegas dan berani.
Abila yang baru hendak membuka laci, mendadak menghentikan tangannya.
"Apa?" tanya Abila lirih.
"Nyonya tidak suka ada orang lain mengotori dapurnya!" jawab maid itu dengan nada sombong.
"Jadi saya harap. Nona duduk manis dan menikmati apa yang tersu .... "
Plak! Satu tamparan mendarat di pipi maid itu sebelum ia selesai dengan kata-katanya. Mata maid itu membelalak sempurna.
"Siapa Nyonyamu. Katakan sekali lagi?" tanya Abila dingin.
"Nona, saya hanya menjalankan perintah!" seru maid tak terima.
Plak! Satu tamparan lagi mendarat di pipi pekerja itu. Mata Abila berkilat, mukanya memerah menahan amarah.
"Kau lupa, aku adalah Nona besar. Pemilik asli rumah ini. Bukan Nyonya-mu. Terlebih dia sudah dikubur!" tekannya sinis.
"Ehem!" suara berdehem membuat Abila dan maid menoleh.
Adlan ada di sana, menatap kejadian itu. Maid merasa di atas awan. Walau sang Tuan muda tidak pernah berinteraksi dengan mereka para pekerja rumah tangga. Ia merasa anak majikannya itu akan membelanya.
"Aku mau makan siang. Kenapa belum ada makanan terhidang?" tanya Adlan tanpa menggubris pipi maid yang memerah.
"Kami ... kami tidak masak ...."
"Apa kerja kalian? Hanya duduk-duduk saja?" tanya Adlan dengan alis terangkat.
"Biasanya Nyonya memberi perintah ...."
"Cis ...tak berguna!" dumal Adlan lalu pergi dari sana.
Abila sudah mengambil panci dan beberapa sayuran juga daging di kulkas.
"Nona ...."
"Pergi!" usir Abila datar.
Maid itu perlahan mundur dan meninggalkan Abila yang memasak.
Hari ini akan ada jadwal treatment, dokter laktasi akan datang setelah makan siang. Sebenarnya ia tak begitu peduli. Tapi demi sang nenek yang kini terbaring di rumah sakit. Ia harus melakukan hal ini.
Satu jam berlalu, makanan sudah siap. Aroma sedap langsung tercium. Abila menarik sedikit sudut bibirnya ke atas.
Adlan sudah hendak pergi.. Tadi ia hanya ingin mengambil dokumen yang ketinggalan.
Tapi langkahnya melambat ketika aroma masakan mulai mengalun di udara.
Ia mengernyit.
Aroma itu… asing. Terlalu hangat. Terlalu… mirip sesuatu yang pernah ia lupa.
Masakan itu bukan buatan ibunya. Masakan ibunya—pahit, terlalu asin, atau hambar seperti air rebusan.
Sejak kecil, Adlan tumbuh dengan rasa makanan yang kacau.
Aroma masakan Abila… mengusik inderanya.
Entah kenapa. Tapi ia buru-buru membuang pikiran itu.
“Jangan mengharapkan aku menyentuh makananmu,” sindir Adlan tajam.
“Tidak ada ruginya bagiku kalau kamu tidak makan,” jawab Abila datar.
Sorot mata Adlan menajam.
Dendam kecil tercipta.
Ia pergi tanpa berkata lagi.
Ketika menutup pintu dengan sedikit kasar. Tiba-tiba perut Adlan berbunyi, buru-buru ia menahan perutnya dengan tangan. Lalu matanya melirik kanan-kiri. Tidak ada orang, ia mendengkus kesal lalu berjalan menaiki mobilnya.
Sementara di ruang makan, Abila selesai menyantap masakannya sendiri. Anto turun dari lantai dua. Bau masakan itu menggodanya, melihat nona mudanya sendirian menikmati makanan. Hal itu membuat dirinya resah, para maid rupanya tak bekerja seperti yang diharapkan.
"Nona, selamat siang!" sapanya sambil menatap makanan yang dimakan oleh anak majikannya.
"Selamat siang juga Anto. Apa jadwal treatment itu hari ini?" balas Abila sambil bertanya.
"Benar Nona. Dokter Wirjawan akan datang dan langsung ke kamar, Nona untuk melakukan treatment itu!" jawab Anto masih menatap makanan yang makan nona mudanya.
"Duduk dan makanlah, Anto. Aku lihat kamu bahkan tidak minum," suruh Abila datar.
Walau nadanya datar, Anto merasa ada kehangatan dari perhatian yang diberikan Abila. Ia tidak mungkin makan satu meja dengan nona majikannya. Ia berdiri menunggu.
Abila selesai makan, ia hendak membereskan piring. Langsung dicegah oleh Anto.
"Biarkan saya, Nona!"
Abila menghentikan kegiatannya dan mengangguk. Lalu ia pergi dari sana menuju kamar sang bayi.
Sesuai jadwal, dokter itu datang dan langsung diantar oleh Anto. Gita Wirjawan, seorang dokter spesialis, masih muda, cantik dan energik.
'Selamat siang, Abila," sapanya ramah.
"Siang," jawab Abila kaku.
"Kita ngobrol dulu ya. Biar ada chemistry di antara kita!" ujar Gita humble.
Ia duduk di sisi Abila yang sedikit canggung. Gita menggenggam tangan gadis itu yang dingin.
"Kamu apa kabar?" tanyanya sambil menatap mata sang gadis.
"Baik," jawab Abila datar.
"Kamu yakin?" tanya Gita sekali lagi.
"Kamu pikir apa? Kerjakan saja tugasmu dan langsung pergi setelah selesai!" jawab Abila sangat dingin dan ketus.
"Tidak bisa ...," geleng Gita tampak tak peduli.
"Dokter. ...."
"Maaf, tapi sebagai dokter. Aku harus paham kondisi pasienku. Cairan yang keluar dari payudaramu itu sangat banyak. Itu bertanda tubuhmu sedang tidak baik-baik saja!" jelas Gita meruntuhkan keras kepala Abila.
Gita menatap Abila lama, lalu menghela napas pelan—cara menarik perhatian tanpa membuat gadis itu merasa diserang.
“Abila,” ucapnya lembut namun tegas, “cairan yang keluar dari payudaramu itu… bukan ASI.”
Abila menegang.
Rahangnya mengeras. “Aku tahu.”
“Tidak, kamu tidak benar-benar tahu,” lanjut Gita, nada suaranya tetap stabil. “Cairan itu bukan hasil laktasi. Tidak mengandung nutrisi apa pun. Tidak bisa—dan tidak boleh—diberikan pada bayi.”
Mata Abila menyipit, seperti bersiap disalahkan.
“Kalau begitu kenapa kamu masih di sini?” balasnya dingin. “Gunanya apa kamu datang?”
Gita tersenyum tipis, bukan sombong, tapi hangat—seolah berkata bahwa Abila tidak harus kuat sendirian.
“Aku bukan datang untuk cairannya,” ucap Gita. “Aku datang karena aku tahu… apa yang kamu lakukan ketika bayi itu menangis.”
Tubuh Abila membeku.
“Aku tidak memberikan apa-apa,” bantahnya cepat. Terlalu cepat.
Gita mengangkat dagunya pelan.
“Kamu menenangkannya dengan cara yang benar,” ucap Gita. “Kamu memeluknya dengan tekanan yang stabil. Kamu menyesuaikan ritme napasmu dengan napas bayi itu. Kamu bahkan tahu kapan harus mengayun, kapan berhenti.”
Abila terdiam.
Gita melanjutkan—lebih pelan. “Itu bukan naluri orang yang acak. Itu… naluri seseorang yang sedang kehilangan sesuatu.”
Bahunya Abila perlahan mengendur, tapi tatapannya tetap tajam.
“Aku tidak peduli apa pun yang hilang,” balas Abila datar. “Aku hanya mau semuanya selesai.”
Gita menggeleng pelan.
“Abila, keluarnya cairan itu—walaupun bukan ASI—menunjukkan tubuhmu sedang berada dalam tekanan emosional berat. Bukan tekanan fisik.”
Ia menatap mata Abila lurus.
“Kamu menahan terlalu banyak.”
Abila tertawa hambar. “Apa urusanmu?”
“Karena aku dokter,” jawab Gita sama datarnya. “Dan karena seseorang harus memperhatikanmu, sebelum tubuhmu menyerah.”
Keheningan turun.
Gita mencondongkan tubuh, suaranya mengecil tapi sangat tegas:
“Aku tidak akan beritahu siapa pun tentang apa yang kulihat… atau bagaimana kamu merawat bayi itu. Itu bukan urusan orang lain. Ini hanya antara kita.”
Abila menghela napas pelan, meredakan ketegangan di bahunya.
“Apa yang harus aku lakukan?” akhirnya ia bertanya, suara itu hampir tidak terdengar.
Gita tersenyum kecil—bukan kemenangan, tapi kelegaan.
“Kita atur ulang tubuhmu. Kita stabilkan hormonmu. Dan perlahan… kita urus hatimu yang pecah.”
Abila terkesiap kecil. Gita berdiri lalu meraih sarung tangan medisnya.
“Sisanya… biar aku yang tangani.”