MUSUH DI DALAM RUMAH

1025 Words
"Bukan!" jawab Abila dan Adlan bersamaan. Fadlan diam, namun dua anak yang sangat ia sayangi. Tak akan pernah akur. "Adlan, kau kembalilah ke kantor. Soal meeting, biar HUgeng yang membantumu," ujarnya pada Adlan . "Tapi meeting ini sangat penting, Ayah!" sahut Adlan memaksa. "Adlan!" tegur Anto. Pria muda itu diam, Anto adalah salah satu pria yang sangat ia benci. Adlan akhirnya berjalan, menatap Abila dingin. Adlan berpikir jika Anto adalah mata-mata yang mengawasi gerakannya. "Aku akan mengawasi mu," bisiknya ketika berdiri di dekat Abila. "Kamu?" Abila menoleh pada Adlan sinis. "Ingat. Yang berdarah Gutomo itu aku. Bukan kamu!" peringat Abila lagi juga berbisik sinis. Adlan mengepal kedua tangannya erat-erat. Sungguh, ia ingin melempar Abila jauh dari hadapannya. Tapi perkataan Abila benar. Di dalam dirinya tak ada satu tetes pun aliran darah keluarga paling berkuasa di kota itu. Hanya dengkusan kasar keluar dari mulut Adlan. Pria itu pun pergi lalu menutup pintu itu kasar. Brak! "Anto, siapkan dokter latasi untuk treatment ...." "Kapan aku menyetujui?" potong Abila. Tangis bayi terdengar, begitu keras. Fadlan menjambak rambutnya frustasi. "Tak bisa kah, kau berbaik hati?" pinta Fadlan lirih. "Mana ibunya?" tanya Abila sinis. "Delisa meninggal dua hari lalu. Tidak bisa menyusui, ia kena kanker p******a tingkat akhir. Nak, Delisa sudah dapat hukumannya. ..," "Hanya dia yang salah?" tanya Abila menyindir. "Nak, ayah mohon. Bukankah kamu kelebihan hormon sampai keluar air dari sana!" ujar Fadlan sambil menunjuk Abila di bagian d**a. Abila menatap bagian itu yang sedikit basah. Padahal tadi Ida sudah tutupi dengan kain. Tapi rembes juga. Air s**u itu keluar tanpa ia minta. Tanpa ia sadari. Tanpa ia ingin. Dan air mata bayi itu semakin menjadi-jadi, membuat seluruh ruangan terasa penuh tekanan. Fadlan mendekat selangkah, matanya berbinar berharap. “Nak… bukankah kamu memang—kelebihan hormon? Sudah dua kali Anto bilang… kamu terus rembes sejak seminggu lalu. Itu tandanya tubuhmu… sudah siap.” “Siap?” Abila menatap ayahnya seolah pria itu baru saja mengatakan hal paling absurd di dunia. “Siap mengasuh anak dari wanita yang menghancurkan rumahku?” “Nak… jangan bicara begitu. Tolong. Dia adikmu.” “Dia bukan adikku.” “Ayah mohon…” Abila menghela napas kasar, menahan gemuruh emosi yang meledak-meledak dalam dirinya. Lalu ia berkata pelan, namun tajam: “Kau lupa sesuatu, Ayah…” Fadlan mengangkat wajah, bingung. Abila melangkah mendekati ranjang kecil tempat bayi itu berada. “Kau lupa… kalau aku tidak kembali ke sini untukmu.” Fadlan terpaku. Abila menatap bayi itu… bukan dengan kebencian, bukan dengan kasih sayang, tetapi dengan kesadaran pahit: bayi ini sama tak berdayanya dengan dirinya dulu—korban dari keputusan orang dewasa. Tangis bayi semakin keras… seakan memohon kehidupan. Abila memejam sebentar. Dadanya kencang. s**u itu tetap menetes. Anto yang sejak tadi berdiri tegap di dekat pintu membuka suara, lirih dan sangat hati-hati: “Nona… jika bayi ini tidak segera minum, ia bisa mengalami… gagal napas. Dia prematur.” Perut Abila terasa diremas. Prematur? Terlalu kecil. Terlalu rapuh. Terlalu… tak bersalah. Abila menggigit bibirnya, menahan segala racun emosi yang hampir melumpuhkannya. Kemudian, Fadlan berkata sangat pelan, hampir tak terdengar: “Ayah tidak meminta kau memaafkan ayah… hanya… selamatkan dia.” Hening panjang. Begitu panjang sampai detik jam dinding terasa seperti suara palu. Akhirnya—dengan gerakan lambat, Abila meraih bayi itu. Tubuh mungil itu hangat, gemetar, dan beraroma samar-samar khas bayi baru lahir. Saat ia mengangkat bayi itu ke dadanya, naluri yang ia buang selama ini bergerak sendiri. Bayi itu menoleh mencari sumber s**u, bibirnya terbuka kecil—refleks alami yang membuat napas Abila tercekat. Ia benci perasaan ini. Benci kelembutan yang kembali masuk tanpa izin. Benci kenyataan bahwa tubuhnya memihak bayi ini… bukan masa lalunya. “Anto,” suara Abila dingin, tegas, meski tangannya gemetar, “siapkan dokter latasi. Tapi dengarkan baik-baik…” Ia menatap Fadlan. Tajam. “Aku melakukan ini… bukan untukmu.” Fadlan menunduk. Ia tahu. Ia menerimanya. Abila mendekatkan bayi itu ke dadanya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya— Bayi itu berhenti menangis. Hening itu terasa lebih memekakkan telinga daripada teriakan. Begitu tenang. Begitu damai. Fadlan menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Ia menangis. Diam-diam. Dalam-dalam. Abila tidak memandangnya. Ia hanya menatap bayi itu yang menyusu pelan… dan dalam hati berkata: Kenapa dunia selalu memberikan beban yang bukan milikku? Tak lama, bayi yang belum bernama itu sudah terlelap dalan dekapan Abila. "Apa anda sudah selesai, Nona besar?" tanya Anto yang kembali datang. Fadlan sudah tidak ada sepuluh menit lalu. Pertemuan itu mengharuskan dirinya hadir. "Dia tidak mungkin tidur di sini kan?" tanya Abila lalu meletakan bayi itu dalam boksnya. "Tidak, Nona. Memang Tuan besar meletakkan boks itu di sini karena kedatangan, Nona!" jawab Anto. Abila mengangguk, tak lama beberapa orang datang mengangkut boks itu. Abila gegas mengambil bayi ke dalam gendongannya, tanpa suruhan dan tanpa paksaan siapa pun. "Mari, Nona!" ajak Anto lalu Abila mengikutinya. Mereka turun ke lantai satu, sebuah kamar dengan nuansa putih. Warna kesukaan almarhumah ibunya. Hati Abila kembali berdenyut. "Uh!" keluhnya saat sakit tiba-tiba mencubit keras ulu hatinya. "Nona, anda tidak apa-apa?" tanya Anto khawatir. "Tidak, aku tidak apa-apa," jawab Abila lalu meletakkan bayi itu dalam boks. "Dia bernama Fadillah Gutomo ...," ucap Anto memberitahu. Seketika tubuh Abila menentang, dulu ketika kecil. Ayah dan ibunya berencana akan memiliki anak lagi setelah ia sekolah. Nama yang barusan di sebut adalah nama yang diinginkan sang ibu ketika masih hidup jika memiliki anak laki-laki. "Kenapa Ayah pakai nama itu?" tanya Abila lirih. "Nona ... perlu anda ketahui. Setelah Nyonya meninggal dunia. Delia pergi dari rumah ini dipaksa oleh Nyonya utama. Tuan besar dan Delisa menikah dua tahun lalu. Itu pun tanpa pesta, karena terlalu mendadak. Delia tak pernah menempati kamar utama bersama Tuan ...." "Cukup!" putus Abila memotong perkataan Anto. "Sungguh aku tak peduli apapun itu!" lanjutnya dingin. "Saya hanya menyampaikan apa yang saya tau, Nona!" jawab Anto tenang. "Lalu kapan treatment itu ada?" tanya Abila mengalihkan pembicaraan. "Jika sesuai jadwal, lusa anda baru melakukan treatment laktasi, Nona!" jawab Anto. "Siapa, Dokternya. Aku mau dia perempuan!" ujar Abila. "Tuan besar sudah siapkan. Dokter Gita Wirjawan yang akan menangani anda selama treatment laktasi!" jawab Anto. Abila mengangguk, ia akan tidur bersama bayi itu. Hanya dua tahun saja. Lalu semuanya selesai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD