Dua puluh tahun berlalu sejak malam paling gelap dalam hidup Abila.
Di sebuah kota megah bernama Aurelia, kota yang tak pernah tidur, tempat uang mengalir lebih cepat dari sungai mana pun, dan ambisi menjadi agama tak tertulis bagi warganya. Gedung-gedung menjulang bagai tombak, menembus langit kelabu yang sering diselimuti kabut industri.
Aurelia bukan kota biasa.
Ia adalah pusat dari seluruh perdagangan nasional.
Semua perusahaan besar, lobi kekuasaan, dan konglomerat berputar di sini.
Dan dulu… ayah Abila adalah raja tak terbantahkan di kota ini.
Fadlan Gutomo.
Pemilik Gutomo Empire.
Pria yang dulu menguasai 60% aliran uang yang keluar-masuk Aurelia.
Abila duduk di mobil mewah, ia kembali setelah dua puluh tahun hidup di desa.
Ia menatap gedung-gedung makin tinggi menjulang. Wajah kota masih sama, sibuk dan padat. Di beberapa plang iklan, wajah ayahnya masih terpampang sebagai pengendali kota.
Mobil itu bergerak pasti menuju sebuah hunian mewah. Hunian bercat putih, Abila mencengkram kuat jemarinya saat mobil itu masuk halaman besar mansion itu.
Ketika turun, Abila menatap bangunan tiga lantai itu. Makin dingin dan sangat kaku. Warna-warna bunga di taman sudah lenyap, berganti tanaman pagar. Pot-pot besar hanya jadi hiasan.
Kakinya sedikit gemetar menapak lantai granit teras. Lampu gantung klasik menyambutnya kaku. Menatap pintu dari kayu berukir bercat putih. Abila menelan saliva, bayangan malam itu kembali hadir di ingatannya.
Krieet! Pintu terbuka lebar, perlahan ia masuk ke dalam. Sepuluh maid berdiri berjejer sambil membungkuk badan hormat.
"Selamat datang, Nona besar Gutomo!" sapa mereka.
Abila sedikit terkejut, dulu hunian ini tak memiliki asisten rumah tangga begitu banyak. Tangan ibunya, yang merawat rumah itu sendirian, ada beberapa maid. Tapi tugas mereka benar-benar hanya membantu.
Salah satu maid melirik orang yang mereka sapa. Seorang gadis berpakaian sederhana. Abila memang hanya memakai dress warna biru selutut dan sepatu flat warna hitam. Tak ada merk terkenal, hanya pakaian biasa.
'Eh ... apa benar dia, Nona besar?" tanyanya berbisik pada rekan di sebelahnya.
Maid itu melirik Abila, tentu saja matanya langsung membesar. Dalam bayangannya, yang ia sambut seorang gadis dengan pakaian mewah dan perhiasan gemerlap.
"Kita nggak kedatangan maid baru kan?" tanyanya berbisik juga pada rekannya yang bingung sambil menatap Abila dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Seorang pria dengan setelan formal lengkap berbahan sutra. Rambutnya sedikit memutih, wajahnya tampan dan bercahaya lembut.
Dia lah Fadlan, ayah sang gadis. Seribu kerinduan meledak di hatinya. Dua puluh tahun tak bertemu bahkan tak bertanya kabar.
Bukan Retno yang menutup semua akses. Tapi memang dirinya terlalu sibuk. Semenjak kematian istrinya, bahkan rumah itu hanya sebagai tempat singgah.
"Anto, suruh Nona menemuiku!" suruhnya pelan lalu beranjak ke ruang kerjanya.
"Baik, Tuan Besar!" angguk pria berbadan tegap yang berdiri di sisi Fadlan.
"Selamat datang, Nona. Anda sudah ditunggu!" ujar kepala Maid yang berdiri.tak jauh dari sana.
Abila mengangguk pelan pada Anto. Ia mengikuti lelaki itu menapaki koridor panjang yang dipenuhi lukisan-lukisan tua keluarga Gutomo. Semua lukisan tampak mahal… tapi tak lagi punya ruh. Seperti hanya warisan visual tanpa makna.
Abila memperhatikan setiap frame yang ia lewati.
Di salah satu sudut, ia melihat foto lama—foto keluarga Gutomo sebelum kehancuran itu datang.
Di dalam foto itu, sang ibu tersenyum cerah.
Senyum yang pernah menghangatkan seluruh rumah.
Senyum yang tak lagi mungkin ia lihat.
Abila menunduk. Jantungnya berdegup samar, bukan karena rindu… tapi karena luka lama yang dipaksa terbuka kembali.
Anto menoleh, memastikan ia masih mengikuti.
“Nona, ruang kerja Tuan Besar di lantai dua.”
Lantai dua.
Tempat ayahnya dulu sering menghilang selama berjam-jam.
Tempat di mana ia pernah menyaksikan sesuatu yang memecah hidupnya.
Tangga spiral marmer itu terasa seperti jalan menuju masa lalu yang tak pernah ia ingin kunjungi lagi.
Sesampainya di depan pintu kayu besar berukir, Anto mengetuk dua kali.
Tok. Tok.
“Masuk,” suara itu berat, namun terdengar seperti seseorang yang menyimpan seribu tahun penyesalan.
Abila melangkah masuk.
Dan di balik meja kaca hitam besar… berdiri seseorang yang dulu sangat ia kenal.
Fadlan Gutomo.
Raja Aurelia.
Pria yang pernah menggetarkan kota dengan satu tanda tangan.
Pria yang dulu, di mata kecil Abila, adalah pahlawan pertamanya.
Kini ia terlihat berbeda.
Tubuhnya masih tegap, tapi wajah itu tak lagi memancarkan kejayaan.
Ada garis-garis penyesalan, kelelahan, dan sesuatu yang mirip ketakutan.
Ketika mata mereka bertemu, dunia seolah berhenti bergerak.
Dua puluh tahun jarak waktu tidak cukup untuk membangun jembatan di antara mereka.
Justru membuat jurang semakin lebar.
“Abila…” suara itu hampir berbisik, nyaris patah.
Abila hanya menatap tanpa ekspresi.
“Terima kasih… sudah datang.”
Ia tidak menjawab. Ia tidak datang untuk ayahnya.
Ia datang karena Retno.
Satu-satunya orang yang memeluknya saat ia kehilangan semuanya.
Fadlan mencoba tersenyum, tapi yang muncul hanyalah sentakan kecil di sudut bibir yang tak berhasil terbentuk.
“Kau sudah besar,” katanya, berusaha mencairkan suasana yang mustahil cair.
Abila memejamkan mata sejenak.
Kalimat itu…
kalimat yang dulu selalu ia tunggu.
Kalimat yang tak pernah ia dapatkan.
Dan sekarang, saat ia sudah terlalu dewasa dan terlalu terluka, kalimat itu terasa hambar.
Fadlan memutar tubuh ke samping, mengambil sesuatu dari ranjang kecil di sisi ruang kerjanya.
Seorang bayi, kecil, merah.
Wajahnya baru beberapa hari mengenal dan dunia itu sudah kejam padanya karena ia lahir di keluarga Gutomo.
“Nak… ayah ingin kamu jadi ibu s**u untuk adikmu.”
Kalimat itu meluncur lembut…
tetapi jatuh di telinga Abila seperti bara panas.
Ia merasakan napasnya tersangkut.
Bukan karena menolak bayi itu.
Tetapi karena ayahnya memintanya seolah mereka tidak memiliki sejarah kelam yang tak bisa disapu dengan satu permintaan.
Diam-diam, tatapan Abila turun menatap bayi itu.
Dan ia sadar.
Bayi ini tidak bersalah.
Ia hanya lahir dari rahim yang bahkan pada akhirnya harus membayar kesalahannya dengan kematian.
“Aku harus menyusui?” tanyanya datar.
Ayah mohon, Nak. Ayah tidak mungkin cari ibu pengganti. Ayah tidak ingin merusak darah Gutomo!"
Suasana menegang.
Bau kematian seolah masih menempel di udara.
Abila mengangkat wajah.
Tatapannya menusuk jiwa.
“Hanya karena darah Gutomo? " desis Abila pelan.
Fadlan terdiam.
Matanya berkaca-kaca.
Semua dosa masa lalu berdiri di antara mereka.
Sebelum ia membuka mulut lagi, pintu terbuka.
“Ayah, kita harus berangkat ke Kota Daksa—rapat investornya tidak bisa ditunda!”
Suara itu familiar.
Berwibawa.
Dingin.
Adlan masuk dengan langkah penuh percaya diri.
Anak lelaki yang dulu menatap Abila dari balik lengan ayahnya.
Anak yang mencuri kasih sayang yang seharusnya menjadi milik ibunya.
Anak yang dulu berkata
"Ibumu sudah mati."
Kini ia sudah dewasa. Sosok pewaris yang dibanggakan. Bertubuh tegap. Berpakaian elegan. Memancarkan aura ambisi dan kekuasaan.
Saat melihat Abila, ia berhenti.
Terperangah. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan.
Hanya ketegangan yang menggumpal di udara.
“Adlan,” Fadlan mencoba menormalisasi suasana.
“Dia adikmu juga.”
Hening.
Lalu dua suara bergema bersamaan:
“Bukan!”
Suara Adlan dan Abila kompak.
Dingin.
Tegas.
Membelah ruang kerja itu seperti pedang.
Dan Fadlan tahu…
Pertemuan ini hanya permulaan dari perang yang jauh lebih besar.