Pagi menjelang, hunian Gutomo terasa makin dingin. Abila terbangun dari tidurnya yang melelahkan. Semalam ia bermimpi, ibunya terbaring dengan genangan air merah di lantai.
Dirinya masih terlalu kecil untuk mengerti. Lalu ingatannya kembali saat melihat ayahnya memeluk wanita asing di atas sana.
"Ibu ... Ibu ...!" Abila bangun dan mencari ibunya.
"Ibu ... Ibu di mana?" teriakan kecilnya tentu tak ada yang mendengar, kecuali ...
"Ibumu sudah mati ...," sebuah suara anak laki-laki terdengar.
Abila menatap anak yang ia tidak ketahui namanya itu. Anak yang dibawa ayahnya, anak yang dipangku sang ayah.
"Apa?" tanya Abila tak mengerti.
"Ibumu sudah mati. Jangan cari lagi. Dia terjun dari atas sana!" jawab anak itu sambil menatap Abila sinis.
"Mati itu apa?" tanya Abila polos, matanya mengembun, walau ia tak paham artinya, tapi ada rasa sakit ketika mengatakannya.
"Ya ... mati. Dia sudah meninggal dunia. Dia akan segera dikubur di dalam tanah!' jawab Adlan menyeringai.
Abila baru sadar, kata-kata dikubur ia sangat paham. Waktu itu kakeknya meninggal dan dikubur. Ia menggeleng pelan.
"Nggak mungkin. Ibu masih ada!" teriak Abila.
"Ibumu sudah mati!" teriak anak laki-laki itu.
"Bohong!" teriak Abila lalu ia berlari ke kamar ibunya di lantai tiga.
Kaki kecilnya menapaki tangga. Mulutnya tak berhenti memanggil ... "Ibu ... Ibu!"
Pintu kamar terbuka lebar, Abila masuk dan tak mendapati ibunya. Tak lama bunyi beberapa kendaraan masuk.
Sementara di rumah sakit, Fadlan duduk di kursi tunggu. Tubuhnya terasa lemas setelah tau keadaan istrinya.
"Maaf, Pak. Kami tidak bisa menyelamatkan Nyonya. Selain luka kepala yang terlalu parah. Ada trauma di otak yang mengganggu dan tak bisa menerima rangkaian penyelamatan apapun!" begitu penjelasan dokter.
Fadlan menjambak rambutnya keras-keras. Andai malam itu ia bisa mengabaikan semuanya, masalalu yang tak pernah selesai ....
"Kami akan memandikan jenazah dan pemulasarannya bagaimana?" tanya petugas rumah sakit.
Fadlan terdiam sejenak, ia menghirup udara rakus. Tatapannya sedikit rabun karena sakit kepala yang mendera.
"Tolong mandikan sesuai syari'at Islam. Biar saya urus," jawab Fadlan datar.
Petugas itu mengangguk, meninggalkan Fadlan yang membungkuk dengan tangan menutup wajahnya. Bahunya bergetar pelan. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan ini kepada putrinya, kepada keluarganya, kepada dirinya sendiri.
Hatinya seperti ditusuk dari segala arah setiap kali ia mengingat tatapan Amira malam tadi—tatapan yang memilih diam, bukan amarah. Dan diam itu jauh lebih menyakitkan daripada makian apa pun.
Sementara itu di rumah, suara gaduh mulai terdengar dari lantai bawah. Pintu depan dibuka paksa oleh petugas ambulans yang masuk membawa keranda.
Delia yang sedari tadi duduk gemetar, menelan ludah. Ia tidak menyangka semuanya akan berlangsung secepat ini. Ia ingin menenangkan Fadlan, ingin menenangkan dirinya sendiri, ingin melakukan sesuatu tapi tidak tahu apa.
Suara langkah kecil terdengar di tangga. Abila degan rambutnya kusut, boneka kecil masih di tangannya, ia menuruni anak tangga perlahan. Matanya bengkak, wajahnya pucat. Ia berhenti tepat di depan keranda.
“Bu…” panggilnya ragu.
“Ibu… di mana?” lanjutnya bertanya sambil matanya mencari keberadaan ibunya.
Tidak ada yang menjawab. Petugas membuka sedikit kain penutup untuk memastikan identitas sebelum serah terima. Abila melihat sekelebat wajah pucat itu.
Seketika, dunianya runtuh.
“Ibu!” jeritnya, kedua tangannya langsung menampar tubuh keranda, mencoba membangunkan ibunya seolah wanita itu hanya sedang tidur.
“Ibu bangun… Ibu jangan begitu… Ibu… Abila di sini …!”
Jeritannya pecah, melengking, dan menusuk jantung semua yang mendengar. Delia menutup mulut, Adlan mematung, para pembantu menangis tertahan.
Abila memeluk sisi keranda itu erat-erat. Boneka kecilnya jatuh ke lantai.
“Ibu jangan tinggalin Abila … jangan ikut tidur di tanah… Bu… jangan ….”
Tak lama kemudian, mobil Fadlan memasuki halaman. Ia keluar cepat-cepat, wajahnya lelah dan mata sembab.
Ketika melihat Abila meronta memeluk keranda, lututnya hampir goyah. Ia berjalan tergesa, mengambil putrinya ke dalam dekapannya.
“Abila … sayang … cukup, sudah …,” Fadlan mencoba meredakan, suaranya pecah.
“Ayah… bangunin Ibu… Ayah kan bisa! Ayah selalu bisa!” tangis Abila seperti pisau yang menusuk tanpa henti.
Fadlan menutup mata. Ada jeda panjang, hening, yang hanya diisi suara hujan sisa malam.
“Ayah … nggak bisa kali ini, Nak,” bisiknya.
Di Pemakaman.
Langit mendung. Angin terasa lebih dingin dari biasanya.
Keranda diturunkan. Doa dipanjatkan. Tanah menimbun tubuh yang dulu menghangatkan keluarga itu.
Abila menggigil. Ia memeluk kaki neneknya, Retno, dan menangis tanpa suara.
Retno menatap cucunya dengan hati yang remuk.
Lalu tatapannya bergerak ke arah Fadlan.
Tatapan itu bukan lagi seperti tatapan besan.
Itu tatapan seorang ibu yang kehilangan anak… dan memandang pria yang diyakininya sebagai penyebab kematian itu.
“Puas kamu?” bisik Retno lirih, tapi cukup untuk membuat Fadlan mematung.
“Bu, saya…”
“Jangan panggil saya Bu!” Retno mengangkat tangan tajam.
Tangis Abila menyela, semakin kencang saat tanah terakhir ditimbun.
Setelah pemakaman, keluarga berkumpul di rumah Gutomo. Udara terasa sesak, setiap sudut dipenuhi kesunyian dan keputusan yang menunggu untuk jatuh.
Retno berdiri sambil menggandeng Abila.
“Saya akan membawa cucu saya pulang!” katanya tegas.
“Bu… jangan…” Fadlan mendekat selangkah. “Dia putri saya. Abila tinggal di sini… bersama saya.”
Retno mendengus.
“Putrimu? Kamu bahkan tidak bisa menjaga ibunya!”
Raisa, ibu Fadlan, mencoba menengahi,
“Retno… jangan bicara begitu. Kita semua sedih.”
“Saya lebih dari sedih!” Retno menatap pedang pada Fadlan dan Delisa .
“Amira mati. Sekarang aku tak mau kehilangan cucuku juga!”
Abila bersembunyi di balik tubuh neneknya, ketakutan.
“Abila… sini sama Ayah.” Suara Fadlan pelan, bergetar. “Ayah… mohon…”
Abila menggeleng kuat-kuat.
Ia memeluk Retno erat-erat.
“Abila mau sama Nenek… Abila takut Ayah bawa perempuan itu lagi…” katanya terbata sambil menatap Delia.
Darah Fadlan seperti berhenti mengalir.
Delia menunduk, membeku.
Retno mengelus kepala Abila.
“Sudahlah. Anak ini tak seharusnya tumbuh di rumah seperti ini.”
“Bu… saya minta kesempatan…” suara Fadlan retak.
“Kesempatanmu sudah habis di hari anakku mati.”
Dan kalimat itu menjadi palu terakhir yang memutuskan segalanya.
Retno membawa Abila ke mobil. Abila tidak menoleh.
Tidak melambaikan tangan.
Tidak memanggil.
Fadlan hanya bisa berdiri di depan pintu rumah, tangan gemetar, dadanya terasa kosong saat mobil itu menjauh, membawa seluruh belahan jantungnya pergi.
Sementara di mobil, kepala Abila berada di pangkuan neneknya. Perlahan mata itu meredup, menutup dan terlelap.
"Tidurlah nak ... Nenek akan menjagamu dan akan membuatmu jadi sangat hebat suatu hari, hingga tak ada yang bisa menyakitimu," janji Retno dalam hati.