MALAM MENAKUTKAN

1070 Words
Pagi menjelang, semua di rumah itu tetap dingin. Tapi Amira kini memegang kendali. Dapurnya ia ambil alih setelah seharian kemarin Delisa yang menguasai. "Biar saya bantu, Mba," ujarnya lirih. "Tidak perlu, anda tamu. Silahkan duduk di tempatnya!' tolak Amira dingin. Delisa menelan saliva pelan, ia duduk di kursi makan. Fadlan belum turun. Tak lama, laki-laki itu hadir, suasana tegang di ruangan itu makin kuat. "Selamat pagi, Mas. Sarapannya sudah siap," sapa Amira manis dan Fadlan mendadak tercenung. Padahal hal itu biasa istrinya lakukan setiap hari. "Loh, kok bengong, Mas?" tanya Amira melihat suaminya mendadak diam. "Ah, maaf. Aku sedikit terkejut. Kupikir kamu masih marah," sahut Fadlan sedikit terbata. "Ah, tidak ... maaf ya. Semalam hanya shock aja. Tapi ya udah!' jawab Amira tersenyum. Fadlan menggeser kursinya, Delisa berdiri bersiap ingin melayani laki-laki itu. Baru saja tangannya hendak menyentuh tempat nasi goreng. "Mas, ini sarapannya," ujar Amira yang memberikan piring berisi dua telur mata sapi dan roti panggang. Anak laki-laki Delisa datang dan langsung ingin minta pangku, Fadlan. "Ayah ... pangku!" "Nak, bisa duduk di bangku sendiri ya. Kan sudah besar!" ujar Amira lembut lalu menarik kursi dan menuntun anak laki-laki itu duduk di sana. Delisa melirik Fadlan, tetapi pria itu fokus pada sarapannya. "Selamat pagi, Ayah ... Ibu. .. Ada ibu lagi ... horee!" seru Abila yang baru datang. "Selamat pagi, Anak manis!" Amira membalas sapa putrinya dengan ceria. Fadlan tengah mengunyah makanan, ia tersenyum hangat pada sang putri. Abila senang, suasana kembali seperti sedia kala. Ia duduk di kursi khususnya, memakan sarapan telur orak-arik dan kentang yang dilumatkan. Amira duduk dan mengambil nasi goreng yang masih hangat. "Ayo, silahkan!" ujarnya pada Delisa. Delisa menahan semua emosinya, ia mengambil nasi goreng dan memberinya pada Adlan, putranya. "Mama, gak suka nasi goreng!" keluh Adlan. "Makan apa yang tersedia, Adlan!" perintah Fadlan tegas. Adlan langsung menunduk, matanya berkaca-kaca. Biasanya pria yang baru ia kenal beberapa waktu lalu itu begitu peduli dan hangat. Kini, Fadlan bahkan tidak meliriknya sama sekali. Lalu matanya menatap gadis kecil yang makan dengan lahap. Tangan Adlan mengepal kuat-kuat, napasnya tersengal kecil. Ia tidak mengerti kenapa laki-laki yang kemarin begitu memanjakan dirinya, hari ini berubah seperti tak mengenalnya. Matanya beralih ke Abila—gadis kecil yang makan dengan lahap, duduk manis di kursi khusus, wajahnya cerah seolah dunia kembali aman. Ada rasa asing di d**a bocah itu. Pahit. Seperti ia baru saja direbutkan sesuatu yang belum sempat ia miliki. Amira memperhatikan semuanya tanpa sepatah kata. Senyum kecil tetap menghiasi wajahnya, tapi dinginnya menusuk seperti belati. Delisa gelisah. Tangannya bergetar saat menaruh sendok di piring. “Mas… kamu tak apa-apa?” tanyanya sangat hati-hati. Fadlan mengangguk datar. “Aku baik.” Jawaban pendek itu saja sudah cukup membuat Delisa menunduk. "Mas, nasinya cepat dimakan," ujar Amira lembut—terlalu lembut, hingga Fadlan kembali menatapnya dengan bingung. Ada sesuatu dalam tatapan istrinya hari itu… sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Seperti permukaan air laut yang tampak tenang, padahal badai sudah menunggu di dasar. Abila mengunyah makanannya sambil memandang ayah dan ibunya bergantian. “Ayah kelihatan senang,” gumamnya polos. Fadlan tersenyum tipis. “Tentu, Sayang.” Tapi bahkan anak kecil pun bisa merasakan: senyum itu tidak seperti dulu. Usai sarapan, suasana makin aneh. Amira berdiri dan mulai merapikan meja—sendirian. Delisa refleks ingin membantu, tapi Amira hanya berkata tanpa menoleh, “Tamu tidak perlu bekerja.” Nada itu membuat langkah Delia terhenti. Hatinya seperti diremas. Fadlan bangkit, hendak mengambil tas kerja. “Mas,” panggil Amira. Fadlan menoleh. Amira tersenyum… senyum yang indah, tapi bukan senyum yang dikenalnya. “Kamu jangan lupa makan siang. Jadwal mu padat hari ini, kan?” katanya lembut. “Ehm… iya.” Fadlan mengangguk, masih canggung. “Aku berangkat dulu.” Amira berjalan mendekat. “Hati-hati, Mas.” Ia menyentuh lengan suaminya pelan… lalu membukanya kembali. Begitu Fadlan keluar rumah, Delia menelan ludah. “Mba Amira… saya—” “Silakan duduk di ruang tamu, Delisa,” potong Amira. “Saya hanya ingin rumah saya kembali rapi.” Kata “rumah saya” itu menusuk lebih keras dari apa pun. Adlan memeluk kaki ibunya. Bocah itu ketakutan, tapi Delisa bahkan tak bisa menenangkan dirinya sendiri. Di luar, suara mobil Fadlan menjauh. Dan di balik tirai kamar atas, sebuah bayangan bergerak. Amira baru saja menutup jendela setelah memastikan suaminya benar-benar pergi. Tangannya sedikit bergetar ketika gorden kembali menutup. Ia menatap cermin di depannya. Mata sembab itu tersenyum. “Selesai,” bisiknya pada pantulan dirinya. “Sekarang giliran Ibu yang bertindak.” Hari ini… bukan lagi hari di mana Amira hanya menangis. Hari ini adalah titik balik. Dan tidak ada satu pun orang di rumah itu yang menyadari… badai yang selama ini merayap diam-diam—baru saja bangun. Tak terasa, malam tiba. Semua makhluk telah tidur. Delisa masih gelisah di ranjangnya. Sementara Adlan sudah terlelap. 'Tidak ... Mas Fadlan adalah milikku!" ujarnya bergumam. Lalu ia turun ke dapur mengambil minum. Tenggorokannya sedikit panas akibat pikirannya yang kalut. Ia kembali ke lantai tiga di mana kamar Fadlan dan istrinya berada. Begitu berani, ia mengusap pintu kayu jati. "Pasti di dalamnya hangat," gumamnya lirih. Tangannya terus mengusap kayu yang tetap berwarna aslinya. Hingga tangannya menyentuh handle pintu. Sedikit gemetar, ia mencoba memutar benda itu. Klik! Tidak bergerak, tanda terkunci. Mendadak hatinya panas, berbagai adegan terlintas di pikirannya. Ia panik, lalu hendak menggedor pintu dan tiba-tiba. ... Kriet! Pintu terbuka, wajah Fadlan masih mengantuk, ia haus dan ingin minum. "Mas!" seru Delisa lalu tiba-tiba memeluk pria itu.. "Hei!" Fadlan terkejut. "Mas! Hiks ... hiks!" Delisa menarik tubuh Fadlan makin erat ke dalam pelukannya. Pria itu sampai harus menyeretnya sedikit menjauh, ia takut istrinya terganggu. "Ada apa?" tanyanya lembut. "Aku mimpi buruk ...," jawab Delisa terisak. "Apa yang kalian lakukan?" sebuah suara mengejutkan keduanya. Mata Amira membelalak, Delisa memeluk Fadlan dan suaminya itu tampak sekali mengelus punggung wanita itu penuh perasaan. "Apa yang kalian lakukan!" teriak Amira. "Amira ... aku ...," Fadlan hendak melepas pelukan Delisa, tetapi wanita itu kukuh memeluknya. "Mas ... aku takut,' ujarnya lirih. "Mas!" teriak Amira, airmatanya langsung menetes. Amira berjalan pelan, Delisa makin memeluk erat Fadlan. Amira mendekat pagar pembatas lantai. "Amira ... jangan ..." Lalu tubuh itu melayang di udara dan jatuh ke lantai dengan keras. "Amira!" teriak Fadlan masih dipeluk Delisa kuat-kuat. Pria itu menatap tubuh istrinya yang sudah bersimbah darah. Di sana. .. di lantai itu ada Abila, putrinya yang memeluk boneka. Abila menatap ayahnya yang berpelukan dengan wanita asing. "Ayah ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD