Arga merebahkan tubuhnya di atas single bad, menatap langit-langit kamar dengan punggung tangan yang bertumpu di atas dahinya. Nafasnya memburu karena kelelahan, diliriknya jam dinding yang jarumnya mengarah ke angka sembilan. Sudah biasa laki-laki itu selalu pulang malam.
Pulang kuliah seharusnya sekitar jam dua atau jam tiga sore, tapi laki-laki itu tak pernah sehari pun pulang tepat waktu. Saat selesai kuliah, Arga akan menjelma menjadi seorang driver ojek online baik orang maupun makanan. Hal ini sudah ia lakukan sejak awal kuliahnya, untuk sedikit meringankan beban orangtua katanya. Laki-laki itu terlahir dari keluarga yang tidak terlalu kaya, tapi tidak miskin juga. Ayahnya seorang PNS di kantor pemerintah, ibunya menerima orderan menjahit.
Saat selesai kuliah nanti, cita-citanya banyak. Ingin punya usaha sendiri atau bekerja di perusahaan elite milik negara adalah target yang harus ia capai kelak.
"Arga, makan dulu, Nak." teriak ibunya dari dapur yang terdengar sedang menyiapkan makanan di atas meja makan.
"Ibu masak?" tanya Arga masih di dalam kamar.
"Masak, Nak."
Laki-laki 23 tahun itu beranjak dari posisinya, membuka pintu dan memeluk ibunya dari samping. Kebiasaan laki-laki itu, tak peduli usianya yang sudah dewasa ia masih sangat manja dengan ibunya. Maklum, dia adalah anak semata wayang Keluarga Aliftian.
"Hmmm mulai deh manjanya." ucap ibunya menahan senyum.
Arga tak memperdulikan kalimat ibunya, justru ia semakin mendekap wanita berusia 45 tahun itu semakin erat.
"Memang ibu sudah baikan?" tanyanya sambil menatap hidangan di atas meja makan. Ada ayam goreng, tumis jamur, sambal kentang serta tempe mendoan kesukaannya.
"Ibu sudah sehat, kok."
Semenjak kerasukan kala itu, ibunya memang mengeluh tentang kesehatannya. Pusing, mual serta sakit badan. Arga sendiri selama 23 tahun ia hidup, jujur baru pertama kali ini melihat ibunya mengamuk tidak jelas seperti itu. Seperti bukan dirinya saja. Sebagaimana yang orang bilang, bahwa ibunya kerasukan. Tapi sekali lagi, Arga selalu berpikir logis seperti ayahnya. Segala sesuatunya ada penjelasan ilmiahnya.
Mengingat kejadian malam itu, membuat Arga penasaran, apa yang sebenarnya ibunya rasakan sampai mengamuk dan teriak-teriak penuh marah? Padahal setahunya, ia ataupun ayahnya tidak ada melukai hati wanita satu-satunya dalam hidupnya itu.
"Bu, jujur Arga masih penasaran. Malam itu ibu kenapa teriak-teriak begitu? Apa ibu memendam kekesalan sesuatu sampai meluaplah segala emosi jiwa ibu?" tanyanya penasaran.
Terdengar helaan nafas ibunya, ia menatap anak semata wayangnya.
"Siapa yang marah-marah si, Nak?" balasnya dengan menggelengkan kepala, lalu tersenyum meledek.
"Malam itu ibu marah-marah, kayak bukan ibu."
"Itu memang bukan ibu."
"Terus siapa?"
"Kalau ibu cerita kamu gak akan percaya!" sahut ibunya malas lalu kembali tersenyum.
Gen Arga 100% mengambil dari ayahnya. Dari perawakan, kepribadian, kecerdasan bahkan prinsip hidupnya. Ayahnya adalah penentang keras segala hal-hal yang berbau mistis. Tidak ada roh gentayangan, tidak ada hantu ataupun makhluk halus sejenisnya. Tapi ia tetap meyakini dengan sepenuh hati bahwa ada Tuhan Allah yang harus ia sembah.
Mengingat hal itu, Andini -ibunya Arga- merasa percuma jika berbicara tentang hal-hal di luar nalar seperti itu kepada anaknya. Yang ada bisa-bisa Andini dikira membual, sama seperti ayahnya dulu yang mengatakan seperti itu.
Dulunya, Andini adalah perempuan yang bisa melihat hantu. Pocong, kuntilanak, tuyul, genderuwo, semuanya pernah ia lihat. Frekuensinya tidak sering, hanya sesekali. Kalau sudah melihat hal seperti itu, maka bisa dipastikan ia akan langsung pingsan.
Setelah menikah dengan ayahnya Arga, frekuensi melihat hal-hal di luar nalar itu semakin sering. Sedangkan ia harus dihadapkan dengan suaminya yang berwatak keras dan kukuh, tidak percaya dengan hal mistis tersebut. Apa yang Andini ucapkan mengenai keberadaan mereka selalu ditentang oleh ayahnya Arga dan wanita itu selalu dianggap sedang berhalusinasi.
Karena hal itu, Andini jadi enggan untuk bercerita lagi dengan suaminya. Puncaknya, saat kehamilan Arga wanita itu menjadi lebih lebih sensitif dari sebelumnya. Setiap pulang kerja, tidak jarang suaminya mendapati istrinya sudah terkapar pingsan. Karena hal itu, akhirnya Andini dibawa ke rumah ibunya -Nenek Arga- dulu untuk bisa dipantau kesehatan dirinya juga janinnya. Karena ayahnya Arga berangkat pagi dan pulang selalu malam saat itu, lembur tiada habisnya. Keluarga Andini yang tau wanita itu sering bersinggungan dengan makhluk halus akhirnya dibawa ke orang pintar. Di sana, Andini diobati dengan cara ditutup mata batinnya, sehingga ia tidak perlu lagi terus menerus berhadapan dengan makhluk tak kasat mata tersebut.
Semenjak saat itu hidupnya damai, ia tak lagi diganggu oleh mereka yang tak terlihat. Sementara suaminya, masih sangat kuat dengan prinsipnya, bahwa tidak ada makhluk halus karena sekali lagi segala sesuatu itu ada penjelasan ilmiahnya. Dan prinsip itu ia wariskan pada anak semata wayangnya, Arga.
"Cerita dulu, Bu. Siapa tau aku percaya." ucap Arga yang begitu penasaran dengan apa yang terjadi dengan ibunya beberapa hari lalu.
"Yang jelas apa yang terjadi pada ibu itu bukan ibu yang melakukan tapi sosok lain, Nak."
"Sosok lain siapa?"
"Itu penunggu kebun kosong yang sekarang mau dibangun jalan raya."
"Yang di belakang komplek perumahan kita ini?"
"Iya."
"Apa itu artinya ibu sedang menceritakan setan?"
"Iya, makhluk halus. Makhluk yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu aja."
"Sosoknya seperti apa?" Arga masih terus bertanya, baru kali ini ia ingin mendengar banyak dari ibunya. Sebelumnya, kisah seram apapun yang orang lain ceritakan, laki-laki itu hanya berpikir, mana ada hal seperti itu!
"Perempuan, rambutnya panjang, bergaun putih. Dia gak terima tempatnya digusur, rumahnya ditebang. Sebab di pohon besar itu tempat tinggalnya."
Arga terdiam, jujur ia masih sulit mencerna hal tersebut, masih sulit mempercayai ibunya.
"Jadi ... ibu melihat mereka?"
Kali ini ibunya mengangguk.
"Memang ibu bisa melihat mereka?
Andini kembali mengangguk, sampai detik dimana ia melihat Arga yang memasang wajah 'tak percaya' itu akhirnya ia berucap.
"Dasar anak ayah! Kalau kamu gak percaya ucapan ibu, yowess. Yang penting ibu gak bohong." ujarnya, lalu menggelengkan kepala.
Mendengar segala penuturan Andini yang menurutnya aneh itu, ingatan Arga langsung teralih pada Rinda. Gadis cantik yang selalu ingin ia jahili tapi selalu bersikap aneh. Aneh sekali.
"Bu, ada mahasiswi baru di kampusku. Entah kenapa orangnya itu aneh banget. Aku sering mergokin dia ngomong sendiri di tempat sepi. Setiap istirahat selalu menyendiri. Menurut ibu, dia itu gila atau gimana?"
Pertanyaan Arga kali ini sukses membuatnya ditimpuk serbet dapur oleh ibunya.
"Ish, ibu malah nimpuk. Salahku di mana, Bu?" tanyanya kebingungan, ia memasang wajah tanpa dosa pula. Membuat ibunya gemas saja.
"Salahnya di mana, salahnya di mana. Kamu itu ya ngomong pakai rem, dong!"
"Rem depan apa belakang?" goda Arga hingga ibunya kini sampai melotot. Arga tertawa menyadari bahwa dirinya mungkin saat ini terlihat sangat menjengkelkan di mata ibunya.
"Ampun Bu, ampun!" ucapnya saat melihat ibunya itu sudah siap-siap menjewer kupingnya.
"Gadis yang kamu ceritakan itu gak gila, Nak. Tapi dia sama seperti ibu. Dia bisa melihat sesuatu yang gak bisa orang lain lihat."
Arga terdiam seketika.
"Itu artinya, kalau dia lagi bicara sendiri berarti dia lagi bicara sama makhluk lain?"
"Iya."
Entahlah, Arga masih belum bisa mempercayai hal itu. Sebab selain ayahnya yang selalu mengajarinya untuk tidak mempercayai adanya hantu, laki-laki itu pun memang belum pernah sekali pun melihat mereka yang orang-orang sebut sebagai makhluk halus. Dia pun tidak pernah mengalami kejadian aneh, misal melihat bangku melayang atau apapun itu, Arga tidak pernah punya pengalaman itu.
"Siapa nama temanmu itu yang suka bicara sendirian?"
"Ehemmm, namanya ... Rinda."
"Nama yang cantik."
"Iya, orangnya juga cantik." ucap Arga yang kini menyendok nasi ke dalam piring. Mata ibunya membulat seketika,
"Ehemmmm ...."
Ibunya berdehem sambil menahan senyumnya, sedangkan Arga langsung salah tingkah, tanpa sadar ia mengusap tengkuknya. Jujur, laki-laki itu juga baru menyadari, apa yang sudah ia katakan barusan?
Sedangkan Andini, selama Arga mulai puber dan mendewasa, baru kali ini melihat anaknya itu berbicara tentang kecantikan seseorang. Biasanya kalau Andini menyinggung seorang gadis yang menurutnya cantik, anak tetangganya misalnya maka Arga selalu bersikap biasa saja sambil bilang,
"Biasa aja ah, Bu."
"Ibu jadi penasaran banget sama dia. Orangnya kaya gimana sih, Nak?"
Arga mengunyah makanannya sambil mengerutkan kening. Kenapa ibunya jadi antusias begini?
"Mana aku tahu, Bu. Dia 'kan mahasiswi baru. Baru bertemu empat kali aja. Pokoknya itu cewek aneh banget, nyebelin juga."
"Loh, nyebelin kenapa?"
"Masa dia panggil aku kating rese, aku balas aja panggil dia cewek jadi-jadian, karena emang itu cewek aneh banget."
"Pfffttttt ...." Andini terlihat menahan tawanya, lalu menggeleng pelan.
"Emang anak ibu ini rese banget. Ibu gak habis pikir deh, dia yang baru mengenal kamu aja udah bisa bilang kamu kating rese. Tepat banget penilaiannya."
"Yahh ibu malah belain anak orang masa." ujarnya pura-pura memasang wajah sebal.
"Hahaha, pokoknya ibu penasaran banget sama gadis itu."
"Kenapa ibu jadi penasaran sama dia, sih?"
Andini menghela napasnya.
"Kamu tau, Nak? Bisa melihat mereka dan bersinggungan dengan makhluk halus itu sangat sulit, Nak. Ibu aja dulu sering pingsan, itu baru melihat aja. Bagaimana ceritanya kalau sampai bisa berbicara dan berinteraksi dengan mereka? Ya ampun ibu gak habis pikir. Ilmu apa yang dia punya sampai bisa berkomunikasi dengan mereka."
Kembali Arga terdiam. Memangnya hal seperti itu membutuhkan ilmu kah?
"Lain kali bawa temanmu itu ke sini ya, ibu mau kenalan. Pasti gadis itu sangat istimewa."
"Uhukkk!!!" Kali ini Arga sampai terbatuk-batuk mendengar ucapan ibunya. Buru-buru dia menenggak air putih yang sudah tersedia di atas meja.
"Kenapa jadi batuk begitu, sih?"
"Keselek, Bu."
"Makannya biasa aja atuh jangan buru-buru begitu, nasinya juga gak akan kabur ini."
Mereka tertawa dengan candaan ringan Andini, sedangkan Arga terus memikirkan kata istimewa yang dikatakan ibunya.
***
Di ruangan lain, Rinda yang sedang menikmati pemandangan malam hari di balik balkon kamarnya sambil menikmati sepotong brownies itu tiba-tiba langsung terbatuk-batuk.
"Uhukk, uhuukkkkk!!!"
"Ahhh air ... airr ...." Buru-buru ia masuk ke kamarnya dan mengambil air di atas meja nakas di samping ranjang tidurnya, lalu menenggaknya hingga tandas.
"Hahhh ... kenapa jadi batuk-batuk sih." gumamnya sendirian.
"Ada yang membicarakanmu, Rinda." Susi dari atas lemari sambil uncang-uncang kaki itu memberikan pendapat.
"Membicarakan apanya?"
"Ada seseorang yang sedang membicarakan kamu, makanya kamu sampai terbatuk-batuk begitu."
"Ish, gak nyambung ah! Aku itu keselek karena lagi makan, kenapa malah jadi ada yang membicarakanku?"
"Itu namanya isyarat alam, Rinda."
Rinda hanya mencibir lalu duduk di atas ranjangnya. Ia tidak percaya dengan hal seperti itu, mitos baginya. Kini pandangannya fokus memperhatikan Susi yang gemar sekali uncang-uncang kaki hingga selalu menimbulkan bunyi 'duk' karena berbenturan dengan kayu lemarinya.
"Susi, jangan begitu dong!"
"Apanya?"
"Kau, jangan uncang-uncang begitu."
"Kenapa?"
"Berisik, selain itu lemariku lama-lama bisa rusak karena ulahmu itu."
"Heh dasar kau manusia pelit."
"Bukannya pelit, aku hanya waspada supaya tidak rusak."
"Tidak, kau memang pelit."
"Enak aja! Engga ih."
"Iya kau pelit."
"Enggak!"
"Iya!"
"Enggak!!!"
"IYAAAA!!!"
"Ish, dasar Susi nyebelinnn!!!!"
***